
Kami lalu melanjutkan perjalanan hingga sampai di Production Platform. Gagan langsung muncul dan memelukku. Aku bertanya padanya di mana laki-laki Arab itu. Gagan langsung menujuk ke arah jembatan Well-head Platform.
Di jembatan Well-head Platform terlihat seorang Pretni tengah menggeliat di lantai jembatan, ia kemudian berubah menjadi sosok yang mirip laki-laki Arab itu. Pretni itu bangkit dan menraung keras menatap kami berempat. Lim dan Julia terlihat ketakutan melihat perubahan itu, perubahan wujud yang sama yang aku saksikan pada Abeba tadi. Laki-laki itu pasti tidak percaya dengan ucapanku, ia pasti memilih untuk menghampiri Well-head Platform karena terdengar suara gemuruh orang berkumpul disana. Dasar bodoh… aku mendengkus kesal dalam hati.
Julia lantas membidik pistol kearah pertni itu, tetapi aku menahanya. Pretni itu nampak hanya meraung-raung keras, tanpa bergerak sedikitpun kearah kami. Memanfaatkan hal itu, aku segera berlari menuju pintu gerbang Production Platform dan menutupnya. Bahkan dari situ aku masih bisa mendengar sayup-sayup gemuruh keramaian di dalam Well-head. Aku sudah tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi didalam sana. Yang aku pikrikan sekarang adalah semoga kunci speed-boat kecil milik laki-laki Arab itu tidak ditelan oleh Pretni itu.
Setelah pintu gerbang tertutup, kami berempat langsung berlari ke dermaga Production Platform. Disana ada sebuah kapal Speed-boat kecil, berwarna putih. Aku segera melompat kedalam kemudinya, mengecek apakah kunci Speed-boat itu ada. Aku tersenyum bahagia…
“It’s here! let’s g… AHHHHH!!” (Ada! Ayo semu… AHHHH!!)
BRUAAK BYUUUURRRR
Aku lengah… sesuatu muncul dari air dan menarik bajuku dari belakang hingga aku terjatuh masuk kedalam laut. Aku menjerit meronta-ronta dalam air, berusaha melepaskan diri, namun cengkraman makhluk itu begitu kuat. Aku berusaha memutar badanku, hendak menghajar Pretni yang menarikku. Namun ketika aku berhasil memutar, yang kulihat justru kabut putih yang menyeruak keseluruh badanku. Kini aku tidak lagi bisa menahan nafasku, air laut masuk kedalam hidung dan mulutku perlahan-lahan. Pandanganku mulai gelap…
…..
Badanku terasa begitu dingin, seperti bersentuhan oleh es. Dingin itu menjalar dari kaki dan perlahan merambat hingga ke ubun-ubun. Apa ini rasanya mati? Aku ingin sekali membuka mata tetapi aku tidak bisa. Aku sungguh sudah mati, ya? Ya Tuhan, kalau memang ini takdirku aku pasrah, Aku sudah berujang semampuku… setidaknya aku berhasil menyelamatkan Lim, Gagan… dan Julia. Tuhan tolong selamatkan mereka yang masih hidup disana, jagalah mereka, teman-temanku…
Tiba-tiba sesuatu yang hangat menyentuh pundak kananku. Kehangatan itu menyebar keseluruh tubuh, seraya menghapus rasa dingin yang menyelimut tadi, hingga membuatku membuka mata…
“HAHHHHH!!!!”
__ADS_1
Aku berteriak sekencang-kencangku, nafasku tidak beraturan seolah seperti habis dicekik. Ya… aku tadi memang seperti dicekik, tidak bisa bernafas karena tenggelam ke dalam laut. Tapi di mana aku sekarang?
Dihadapanku, langit biru luas membentang dengan cahaya matahari pagi yang bersinar terang. Mataku terasa begitu lega, setelah beberapa jam bercumbu dengan kegelapan Anjungan, kini aku melihat cahaya terang. Lantas aku menengok kebawah… kakiku tidak menapak! aku melayang diatas udara. Dibawahku, aku dapat melihat Anjungan begitu kecil, aku sedang melayang diatas langit, sepertinya aku benar-benar sudah mati.
Kemudian pundak kananku seperti disengat listrik, oh, rasa hangat yang tadi… aku langsung menoleh kearah kanan. Aku terperanjat kaget, ada seorang laki-laki, yang juga melayang, tengah menempelkan tangan kirinya pada bahu kananku.
Laki-laki itu begitu tampan, dengan mengenakan baju kerajaan dan mahkota berwarna serba emas. Karena warna emas itu, cahaya matahari memantul padanya dan membuatnya seperti bercahaya. Kulitnya kuning langsat begitu bersih, badannya lebih besar dan tinggi daripada aku. Tangannya yang mengenakan gelang emas menyentuh bahuku, seolah memberikan energi hangatnya pada badanku.
Laki-laki itu tersenyum padaku, tetapi aku tidak. Jelas-jelas itu adalah malaikat mautku. Aku langsung berusaha melepaskan tanganya yang menempel pada bahuku. Namun aku tidak kuat mengangkat tangannya meski dengan kedua tanganku. Padahal, telapak tangannya hanya menempel saja pada bahuku, tidak mencengkramnya. Laki-laki itu tetap tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, mengisyaratkan agar aku tidak menarik tangannya.
Wajahku cemberut sedih, aku sudah mati. Rasanya aku ingin menangis tetapi tidak bisa, Jadi begini rasanya mati? Aku lalu menduduk kebawah, mengamati Anjungan yang terlihat hanya sebesar buah jeruk dimataku, sambil membayangkan bagaiman nasib mereka sepeningalku, Lim, Gagan… Julia…
Kemudian laki-laki itu berbicara padaku. Suaranya begitu lembut dan merdu, namun dalam bahasa India. Apakah karena aku mati di India makanya malaikat mautku juga berbahasa India? Aku sungguh tidak paham apa yang ia ucapkan. Tangan kanannya lalu menujuk kearah depan. Aku menoleh kearah yang ditunjukknya, samar-samar aku dapat melihat pulau utama, kota Dwarka lengkap dengan keramaiannya.
Kemudian aku dibawanya terbang maju kedepan, melintasi pantai dan kota Dwarka yang sudah berubah itu. Aku dapat merasakan badanku terbang, diatas pemukiman itu. Semakin aku melesat kedepan semakin berubah pemandangan yang aku lihat. Tiba-tiba aku dihadapkan oleh hutan dengan segala macam binatangnya, padahal aku tidak pernah ingat ada hutan disana sebelumya, entahlah… aku seperti berada di dimensi waktu yang berbeda. Apa aku sedang dibawanya menuju neraka?
...............
Beberapa menit berlalu, kami terus terbang melesat. Mungkin sekarang aku sudah berada ditengah-tengah Negara India, aku tidak tahu. Kemudian aku melihat sebuah bukit besar, lebih mirip seperti gunung kecil menjulang. Di kaki bukit itu terdapat sebuah desa penduduk sederhana yang rumah-rumahnya terbuat dari bambu dan kayu. Lalu kami mendarat disana, akhirnya aku menyentuh tanah setelah sekian lama.
Laki-laki itu lalu menunjuk kearah bukit besar itu.
__ADS_1
“Govardan” ucapnya dengan tersenyum.
Namun aku tidak memahami apa yang ia maksud, aku tidak tau maksud dan tujuannya membawaku kemari. Laki-laki itu lalu mengajakku berjalan menuju ke desa. Aku aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi mengikutinya, Laki-laki itu seolah menggendalikanku dengan terus menempelkan tangan kirinya ke bahu kananku.
Kami berdua sampai di dekat sebuah rumah di tepi desa. Di jalanan dekat rumah itu ada banyak sekali anak kecil dan warga desa yang berlalu lalang, dan dirumah itu terlihat ada seorang anak kecil berambut keriting yang tengah bermain dengan ibunya.
Sepintas terlihat begitu damai suasana saat itu, namun tiba-tiba awan mendung menyelimut diatas mereka. Hujan turun, bersamaan dengan ribuan bayangan hitam yang turun dari langit. Bayangan-bayangan itu turun ketanah dan berubah menjadi sesosok makhluk…
“PRETNI??!!!!” Jeritku begitu keras.
Aku lantas menutup mulutku, aku tidak menyangka ternyata aku bisa berbicara. Aku lalu menoleh kearah Laki-laki itu, kini ia terlihat sedikit murung.
Ribuan pretni itu lalu mulai memangsa dan membunuh warga desa yang berkerumun dijalanan. Anak kecil maupun orang tua ia makan hidup-hidup, dengan cara yang sama seperti yang aku lihat di Anjungan, seperti yang kita alami. Kemudian, mereka mulai berubah bentuk menyerupai penduduk, dengan kaki yang terbalik, dan masuk kedalam desa. Mereka menggunakan penyamaran itu untuk mengelabui penduduk desa yang lain dan membunuh mereka. Pretni-pretni itu mengetuk pintu setiap rumah, dan tentu sang pemilik rumah akan membukakannya karena ia menyerupai salah satu warga uang dikenal. Begitulah cara mereka menghabisi satu persatu warga desa itu.
Beruntung saja, anak kecil berambut keriting tadi segera dibawa masuk kedalam rumah oleh ibunya. Dan meski pretni itu sudah menyamar menjadi salah satu warga, ibu itu tidak mau membukakan pintunya. Ketika pretni-pretni itu hampir saja menghabisi seluruh warga desa, tiba-tiba anak kecil berambut keriting itu keluar dari rumahnya. Dengan ajaib ia berhasil mengalahkan salah satu pretni yang mengetuk-ngetuk pintu rumahnya tadi. Anak kecil berambut keriting itu memukul Pretni dengan tangan mungilnya, mengubahnya kembali menjadi bayangan hitam lalu ia menelan bulat-bulat bayangan itu kedalam mulutnya. Aku sampai mengusap-ngusap kedua mataku melihat fenomena itu.
Anak kecil berambut keriting itu lalu berlari masuk kedalam desa dan mengalahkan satu-persatu Pretni hingga tidak ada yang tersisa, dengan cara yang sama. Setelah semua Pretni telah dihisapnya, ia lalu berjalan keluar desa.
Mulutku melongo hebat melihat apa yang dilakukan anak sekecil itu, aku menoleh kembali pada Laki-laki itu, nampaknya ia tertawa kecil melihat kebingunganku. Laki-laki itu tidak lagi berbicara, mungkin kali ini ia paham bahwa aku tidak mengerti bahasa India. Kali ini aku sedikit paham apa yang Laki-laki ini mau, ia hendak menceritakan padaku asal usul pretni, dengan membawaku berjalan ke masa lalu.
__ADS_1