Iblis Kaki Terbalik

Iblis Kaki Terbalik
Pekerja yang Melompat


__ADS_3

Kami semua keluar dari ruang Mr.Teigl dengan wajah pucat. Lebih-lebih Julia, matanya terlihat begitu sembab. Sebenarnya aku hendak menyapa dan menenangkannya, tetapi ia keburu pergi berlalu bersama Kepala Divisinya itu. Sepertinya Julia menghindariku, apa ia benar-benar mengira aku yang mendorong jatuh Mr.Dennis?


“Just give the rest to police …” (Serahkan urusan ini pada Polisi …) Ucap Lim sambil menepuk pundakku. Sepertinya ia menyadari kegalauan hatiku ketika melihat Julia berjalan menghindar tadi. Aku hanya bisa menatap sahabatku itu sambil mendengkus kesal.


Aku dan Lim kemudian kembali ke ruang kerja kami seperti biasanya. Nampaknya, tidak ada yang curiga dengan keterlambatan kami. Abeba terlihat tengah sibuk dengan pekerjaanya, ia sudah seperti robot yang terus menerus mengetik didepan laptop. Kemudian beberapa staf Mr.Teigl masuk setelah kami. Mereka langsung melotot, seolah memberi kode agar tidak menceritakan apa yang terjadi hari ini. Aku menunduk, mengalihkan pandanganku dari mereka. Tentu aku paham sekali apa yang harus dirahasiakan.


…………………………………………………………………………………….


Aku harus mengintrogasi Gagan, gumamku dalam hati. Ia pasti tau sesuatu! Gagan pasti melihat ketika Mr.Dennis melompat dari jembatan ketika aku lengah dengan serpihan bohlam. Bagaimana bisa Mr.Teigl dan pekerja-pekerja lain mengabaikan ucapannya? Memang dia masih kecil, bahasa Inggris nya juga tidak begitu cakap. Tetapi ia adalah saksi kunci kejadian kemarin sore, menurutku. Apa yang dia teriakkan? Apa yang dia takutkan hingga berlari? Aku harus menanyainya.


Ketika jam kerja kami akan berakhir, aku memanfaatkan waktu itu untuk berkeliling ke meja kerja pegawai lain. Aku menanyai mereka satu-persatu tentang Gagan. Aku ingin tahu di mana dia tinggal di Anjungan ini. Lim mengamatiku dari kejauhan, ia langsung paham dan bergegas membantuku, dengan bertanya pada pekerja lain yang belum sempat kutanyai. Kami berdua akhirnya berkeliling ruang monitor ini. Dari kejauhan, Abeba terlihat mengamati gerak gerik kami yang aneh.


“What’s wrong with you guys? Suddenly looking for that Hindi boy …” (Kalian kenapa sih? Tiba-tiba mencari anak India itu…)


“We miss his coffee … Hahaha!” (Kita kangen kopi buatannya … Hahaha!) kelit Lim dengan santai.


Kami berdua mengabaikan Abeba dan kembali menanyai pekerja-pekerja di ruang monitor. Pada akhirnya, usaha kami tidak sia-sia. Ada salah satu pekerja yang mengetahui tempat tinggal Gagan. Pekerja itu juga salah satu pekerja yang ada diruangan Mr.Teigl tadi siang. Ia sedikit meledek kami, karena repot-repot mau percaya dengan ucapan Gagan. Pekerja itu kemudian bercerita bahwa ketika dua pekerja itu hilang, Gagan mengucapkan hal yang sama 'Pretni'. Oh ya, tadi aku sempat punya ide untuk search di google apa itu 'Pretni'. Segera aku mengeluarkan Smartphone dari kantong celanaku dan mulai berselancar di Internet.


“So that means, Gagan was also there when that two dissap …” (Jadi, Gagan juga ada disana ketika dua orang itu menghila ….)


“SSSSSHHHHHH!!” Desis pekerja itu, menghentikan kalimat Lim.


Hampir seluruh pegawai di ruangan menatap kami bertiga karena suara Lim yang begitu keras. Aku menatap mereka semua dengan kikuk sambil tersenyum, lalu menendang kaki Lim, agar membuatnya ikut tersenyum.


“Watch your mouth, Kid! Not all people here know the missing case of Mr Brad and Miss Dunn!” (Jaga mulutmu, Asia! Tidak semua orang disini tau kasus menghilangnya Mr.Brad!)


Oh! Akhirnya aku tau siapa nama Insinyur yang aku gantikan, Mr.Brad! Tidak hanya itu, aku kini tau, bahwa hilangnya dua orang itu tidak diketahui oleh seluruh pekerja. Menurutnya, pekerja lain menganggap Mr.Brad kabur dengan Miss Dunn dengan menggunakan kapal pengangkut minyak dari Production Platform. Semua berkat perkataan Mr.Teigl, padahal sebenarnya  ia tidak tau kemana kedua Insinyur itu menghilang hingga saat ini. Kasus mereka pasti akan diselidiki juga oleh polisi nanti.


“If you look for that Hindi boy… Take a look at Generator-Compressor Platform” (Kalau kalian mencari anak India itu… Coba tengok di Generator-Compressor Platform)


...............................

__ADS_1


“Hindi’s Myhtical Ghost …” (Hantu Mitologi India …)


“Hindi … what?” (India … apa?)


“Pretni… The thing that Gagan said … The one that I mention before” (Pretni… Yang Gagan ucapkan kemarin… yang aku sebutkan saat rapat tadi)


“A Ghost?” (Hantu?)


“A Female … ummm” (Perempuan … umm) aku men-scroll kebawah laman website yang aku browse itu “Long-haired and …” (Rambut panjang dan…)


“Hah … You believe in such thing, Dima?” (Hah … Kamu percaya begituan, Dima?)


Kami berdua berdiskusi, sepanjang perjalanan menuju Generator-Compressor Platform. Kami tidak membuang-buang waktu, setelah mengetahui tempat tinggal Gagan, sore itu juga seusai kerja kami bergegas pergi menuju sana.


Untuk menuju Generator-Compressor Platform, kami harus memutar jauh melewati Living Platform kami. Hal itu dikarenakan jembatan penghubung Well-head Platform dengan Generator-Compressor Platform ditutup sementara, tentu untuk mengamankan jejak kaki berdarah itu, bukti otentik yang akan dilihat pihak kepolisian besok. Aku yakin, tidak banyak orang yang tau alasan penutupan jembatan itu, hanya orang-orang yang mengetahui kasus mengerikan ini yang tahu alasanya.


Kabut tebal menghalangi pandangan ketika kami sudah sampai di jembatan Living Platform. Lampu penerangan di Anjungan seketika dinyalakan, karena memang hari mulai petang. Seharian ini, matahari sama sekali tidak menampakkan diri, seolah takut akan sesuatu. Begitu juga seluruh orang yang mengetahui kasus ini, Sebenarnya apa yang sedang terjadi?


“Sigh … My brain is twisted” (Duh… Otakku lelah)


“Hah … whatever it is, only Gagan can answer” (Hah … apapun itu, hanya Gagan yang bisa menjawab)


Ucapan Lim barusan benar sekali, hanya dia yang tau.


Langkah kami akhirnya sampai di jembatan penghubung antara Living Platform dan Generator-Compressor Platform. Dari kejauhan, aku bisa melihat seorang perempuan cantik berdiri menatap kosong lautan.


“Julia!”


Merespon sapaanku, Julia langsung menoleh. Kukira ia masih marah padaku, namun sepertinya ia merespon sapaanku dan bahkan hendak menghampiri kami. Namun langkanya terhenti, saat ada seorang laki-laki Afrika yang tiba-tiba melintas dari arah Generator-Compressor Platform. Laki-laki itu berbadan besar, saking besarnya sampai-sampai Julia harus menepi sedikit saat ia melintas. Laki-laki itu berkulit hitam, berwajah negro dan berambut tipis, sepertinya ia orang negro amerika atau Afrika. Pria itu berjalan pelan dan terus menundukkan kepalanya ke jembatan. Aku dan Lim pun sampai ikut menepi, menunggu laki-laki itu melintas.


Laki-laki itu berjalan terseok-seok begitu lambat. Ia melangkah dengan begitu kaku, karena ia memakai sepatunya secara terbalik dengan kap sepatu yang menghadap belakang. Kami bertiga mengamati tingkah anehnya dengan seksama. Wajah laki-laki itu begitu pucat dan biru, terus menunduk menatap lantai. Nampaknya ia tidak sehat. Entah mengapa, wajah pucat sakitnya itu mengingatkanku pada seseorang. Oh!

__ADS_1


“Hey sir! Are you okay?” (Hey Tuan! Kamu tidak apa-apa?) Sapa Julia dari belakang. Ia bahkan maju beberapa langkah, hendak menyentuh badan laki-laki Afrika itu, namun tidak jadi.


“Hey … You got a lot of bruises down there, Bro” (Hey … Banyak sekali lebam dikakimu, Bro…) ucap Lim spontan ketika laki-laki itu mulai mendekat.


Bruise? (Lebam?) Merespon ucapan lim, mataku yang tadi menatap wajah pucatnya langsung melirik kembali kearah kaki laki-laki itu. Aku melihat kulit kakinya yang sedikit tercincing itu –karena memakai sepatu tanpa kaus kaki- dipenuhi lebam. Kemudian aku kembali melirik kearah wajahnya. Seketika aku menyadari, bahwa warna biru pucat di wajahnya juga adalah lebam, wajahnya dipenuhi lebam?


Pandangannya, yang daritadi menunduk itu, kemudian tegak menatap Lim. Ia melotot kearah kami berdua. Tentu, Lim merespon pelototan itu dengan garang, seolah menantangnya berkelahi. Kemudian, laki-laki Afrika itu menunduk kembali, memandang kearah lebam-lebam dikakinya. Ia lalu membungkuk dan mulai melepas sepatu terbaliknya itu.


Sepatu itu terbalik itu terlepas perlahan, dengan menampakkan bentuk kakinya yang juga terbalik. Kedua kakinya terpelintir kebelakang. Telapak kaki yang harusnya berada di depan itu, berputar kebelakang, berikut jari-jemarinya. Justru tumitnya-lah yang berada di depan, begitu juga mata kaki yang tulang-tulangnya menonjol. Telapak kaki itu terbalik…


Julia berteriak histeris, sambil menutup kedua matanya dengan tangan. Lim yang tadinya memasang kuda-kuda garang langsung mundur beberapa langkah dan hampir terjatuh. Berbeda dengan mereka, aku justru bergegas menghampiri laki-laki Afrika itu.


“What the hell! Sir! You’re Injured!” (Gawat! Tuan! Kamu terluka!)


Laki-laki itu hanya menatapku kosong. Kali ini aku bisa dengan jelas melihat lebam-lebam di seluruh wajahnya. Dengan cepat, aku segera menarik tangannya, aku berniat membawanya ke ruang kesehatan di Living Platform. Ternyata, tangan laki-laki itu juga dipenuhi lebam.


“WAAAAA!!!! PRETNII!!!”


Dari arah gerbang Generator-Compressor Platform tiba-tiba muncul Gagan. Ia berteriak sekencang-kencangnya, persis sama seperti yang ia teriakkan padaku kemarin sore. Kami semua menoleh kearahnya, termasuk laki-laki itu.


Tetapi, laki-laki itu menoleh kearah Gagan dengan badan yang masih tetap menghadap padaku. Kepalanya berputar 180 derajat dengan leher yang terpelintir. Bunyi ‘krek’ tulang yang patah terdengar jelas dari lehernya itu. Aku yang pertama kali melihat itu langsung jatuh terduduk kebelakang. Tanganku bergemetar hebat, berusaha menahan badanku, sedangkan jantungku seperti disengat listrik. Mulutku tidak bisa berteriak meski ingin, alih-alih yang berteriak adalah Gagan dan Julia.


Kepala yang terpelintir itu menoleh kearah membuat patahan di lehernya semakin menjadi. Julia lantas menjerit semakin keras. Aku langsung merangkak mundur, menyadari bahwa yang dihadapanku ini bukan manusia. Kepala itu kemudian menoleh kembali kearahku, sesaat ia terlihat kembali normal.


Laki-laki itu bangkit dan kemudian mulai tertawa melengking. Kaki-kakinya yang terbalik itu berusaha menumpu badannya yang besar dengan susah payah. Kembali, bunyi ‘krek-krek’ tulang yang patah terdengar disetiap kaki-kaki itu bergerak. Kami berempat hanya bisa mematung dan berteriak, badan kami kaku dicengkram oleh ketakutan. Lalu, secara mengejutkan, laki-laki itu melompat dari jembatan, dan terjun bebas kelaut.


Kami semua tidak percaya melihat apa yang terjadi, aku juga belum bisa percaya apa yang barusan aku lihat itu. Tetapi Lim, bergegas melirik kearah laut memastikan apakah yang kami lihat tadi nyata. Ia terlihat begitu ketakutan, keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Lim kemudian menoleh kembali kearah kami.


“What the FCK was that?!*” (Apa itu barusan?!)


 

__ADS_1


 


__ADS_2