IF CLASS

IF CLASS
CHAPTER 10: PESAKITAN


__ADS_3

Revan berlari tergesa-gesa. Lorong rumah sakit itu nampak semakin sepi. Beberapa orang keluar dari sebuah ruangan dengan seragam yang didominasi warna putih itu. Saat sampai, Revan hendak memasuki ruangan ibunya. Hanya saja, Kakaknya menatapnya tidak suka.


"Ngapain lo kesini? Mau nambah kesakitan mamah?" sembur Kakaknya.


"Maksud lo apa, sih? Awas gue mau lihat mamah." Revan masih bersikukuh.


"Pergi lo sana! Ini semua gara-gara lo tahu gak?"


"Gue tahu! Gue gak sepinter lo, Kak! Gak sehebat lo, kak! Tapi gue juga tetap anaknya mamah!"


"Kalau lo emang anak mamah, lo gak mungkin malu-maluin keluarga terus! Lo tahu? Kenapa mamah bisa kayak gini? Karena dia itu tahu kalau lo itu pernah dipenjara! Lo tuh bikin malu keluarga aja tahu gak?"


Pertengkaran tak terelakkan lagi. Suster yang tak sengaja melihat pertengkaran itu, menghela napas berat. Sudah pasien banyak, harus diwarnai pertengkaran pula. Lengkap sekali cerita hari ini. Alhasil, mau tidak mau sang suster melerai Revan dan kakaknya.


Ada tiga pasang mata lagi yang tak sengaja melihat pertengkaran itu. Mereka hanya bisa tertegun. Entah harus bereaksi seperti apa, rasanya ia tidak perlu untuk ikut campur. Tapi ...


BRUKK


Salah satu orang yang melihat itu menubruk seseorang saat hendak pergi.


"Aish!" ia mendongak.


"Lo—ngapain lo disini? Ngikutin gue, ya?" Shaina terkesiap saat tahu orang yang ditabraknya itu adalah Setra. Namun sepertinya, Setra juga terkejut melihat orang yang didepannya adalah Shaina.


"Siapa bilang? Lo yang ngikuti gue kali!" sergah Setra.


"Gak usah, mutar balikkan fakta! Lo tuh kenapa sih cari gara-gara terus! Gue gak tertarik ya sama lo! Gue mohon jangan bikin ulah lagi! Sebelum gue kelepasan bunuh lo! Ngerti gak?"


PLAK!


Suara tamparan keras mengisi lorong rumah sakit yang sepi itu. Bukan. Bukan dari pertengkaran Shaina dan Setra. Tapi dari arah pertengkaran Revan dan Kakaknya. Mereka berdua terkejut melihat sikap kakak Revan yang tak segan-segan menampar Revan. Galak juga ya ...


"Pergi sana! Gue gak sudi liat muka lo!" usir kakak Revan. Revan hanya tertawa setelah sadar bahwa kakaknya itu berani menampar. Sebegitu bencinyakah kakaknya itu? Dia sudah biasa dimarahi oleh kakaknya, tapi selama ini kakaknya itu tidak pernah bermain tangan. Kali ini ... rasanya sakit sekali. Menusuk sampai relung hati.


"Menyedihkan lo, Kak," ucap Revan lalu pergi.


Revan berjalan dengan emosi yang membara tapi ia masih waras untuk tidak meluapkannya di tempat umum seperti ini. Apalagi didepan kakaknya yang mau dilihat dari berbagai segi pun, kakaknya tetap seorang perempuan. Ia berjalan mendekati dimana Shaina dan Setra sedang bersembunyi. Mengetahui hal itu, otomatis Shania dan Setra segera pergi.


CEKLEK


Seseorang keluar dari sebuah ruangan pasien setelah Revan pergi. Ia menatap punggung Revan yang menjauh. Tanganya yang masih menggenggam pegangan pintu, semakin mengeras saja. Seperti ia sedang menyalurkan gejolak emosinya pada pegangan pintu itu.


************


Alunan musik gitar yang lirih selaras dengan semilir angin yang tak terlalu kencang. Cocok sekali menjadi pengantar tidur. Susdut-sudut bibir Dio terangkat melihat damainya wajah Ghea yang tertidur. Ia terus saja memetik gitar. Setengah jam telah berlalu dan permainannya harus terhenti karena dering ponselnya.


Dio berdecak. Kesal karena disaat-saat langka seperti ini, ada saja yang mengganggunya. "Iya, halo," ucap Dio tidak ramah.


"Dio ... ini Mamah."


Mendengar itu, jantungnya berdegup kencang. Napasnya memburu. Darahnya mendidih. Ada rasa sesak yang menelusup dalam hatinya. Mengapa harus sekarang?


Brakk


Ia melempar ponselnya. Ghea terperanjat bukan main. Ia bangun dari tidurnya karena suara benda terbanting itu.


"Suara apa itu?" Ghea kaget. Ia memegangi dadanya. Rasanya seperti akan ada yang copot di dalam sana.


Dio yang melihat Ghea terkejut juga, merasa bersalah karena harus mengganggu tiudrnya. "Gak ada apa-apa. Tidur lagi aja."


Ghea menghembuskan napas. Ia berusaha mengendalikan degup jantungnya yang tidak beraturan karena terkejut. Tak sengaja, ia melihat ponsel Dio yang sudah hancur. "Ponsel kamu kenapa?"


"Gak. Gak kenapa-kenapa."


"Gak kenapa-kenapa apanya! Ponsel kamu hancur, Di!" Ghea memungut ponsel Dio.


"Aku bilang juga gak apa-apa."


Ghe mendelik. Ia memberikan ponsel yang hancur itu pada Dio. Hanya saja, ia teringat akan sesuatu, "Jam berapa sekarang?"


"Apa sih, Ghe?"


"Berapa lama aku tidur?" ucapnya dengan pertanyaan berbeda.


Dio tampak berpikir "Emm ...."


Ghea menggerutu. Ia merogoh ponselnya. Ia terbelalak tak kala melihat jam diponselnya sudah menunjukkan pukul 12. 23. Itu artinya sudah 1 jam ia pergi. ******. Citra pasti heran kenapa dia bisa pergi selama ini hanya untuk sekedar ke toilet.


"Hampir setengah satu! Kamu sengaja ya gak bangunin aku?" Ghea kesal.

__ADS_1


Dio terkehkeh. "Salah siapa juga tidurnya pulas banget. Kan aku jadi gak tega banguninnya."


"Rese! Rasain, nih!" Ghea mencubit Dio.


"Aw! Aw! Aw! Sakit Ghe! Udah dong!"


"Gak! Makanya jangan rese! Gimana kalau Citra curiga sama kita!"


"Iya-iya. Maaf, Ghe! Janji gak gitu lagi."


"Bodo! Aku marah!" Ghea melepaskan cubitannya. Ia pergi begitu saja kemudian di susul Dio yang tidak lupa mengambil coklat yang tergeletak di tempat Ghea tertidur.


"Tunggu, Ghe!"


Ghea tidak mengindahkan panggilan Dio. Otaknya terlalu sibuk memikirkan Citra, duh, bagaimana dia bisa sampai kebablasan pergi sampai sejam lamanya. Apa yang harus dia katakan pada Citra? Dia ‘kan izin ke toilet sebentar. Masa iya ke toilet 1 jam?


Saat dipersimpangan, Ghea lebih memilih ke perpustakaan. Sebenarnya ia ragu apa Citra masih diperpus menungguinya atau tidak. Pas sekali. Ketika Ghea tinggal dua langkah lagi masuk ke perpustkaan. Citra keluar.


Ghea terkejut, tak kala melihat seseorang yang berada di belakang Citra. Elgan. Ya, Elgan yang berada di belakang Citra. Otomatis saja, jiwa kekepoan Ghea mencuat. Pasalnya mereka keluar dengan ekspresi ... awkward?


Dio yang berada jauh di belakang Ghea terkejut pula. Ia berhenti. Sebenarnya bukan karena Citra dan Elgan yang keluar bersamaan. Tapi, karena coklat yang ia pegang. Buru-biru ia memasukkan coklat ke saku celananya. Kemudian ia menghampiri mereka.


"E-eh Ghe. Kamu udah dari toiletnya? A-aku juga mau ke toilet juga." Citra pergi. Ingin sekali Ghea menyusul hanya saja entah kenapa ia malah menatap Elgan penuh curiga.


Elgan memalingkan muka dari tatapan Ghea. "Ngapain lo diperpus?" tanya Dio. Ia masih belum paham dengan keadaan yang sebenarnya.


"Gue balik dulu," ucap Elgan.


"HEH MAU KEMANA LO?" Ghea geram bukan main. Hanya saja, Elgan itu udah wataknya ngeselin. Ia tidak menghiraukan suara Ghea yang sudah seperti toa rusak.


*********


Dari sekian banyak tempat yang dapat Elgan kunjungi. Ia malah memilih tempat ini. Entahlah ... anggap saja suasana hatinya sedang bagus. Sudah lama juga ia tidak pernah menginjakkan kaki ke tempat ini.


"Nak Elgan?" sapa seseorang. Elgan berbalik. Ia meleparkan senyum.


"Pak Agus."


"Mau ketemu bapak, ya?"


Elgan hanya mengangguk. "Kebetulan baru saja bapak pulang dari rapat. Tapi kurang tahu agendanya apa lagi. Mungkin, tanya saja sama Mbak Rena resepsionis."


Pak Agus tertawa, "Harusnya Nak Elgan sering-sering kesini. Bapak orangnya sibuk. Kalau nunggu di rumah gak akan ketemu terus."


Elgan tersenyum sinis, "Bisa roboh kalau saya sering-serung kesini. Ini pun entahlah ... semoga saja tidak mengamuk."


"Gak boleh gitu. Coba saja."


"Saya pergi, Pak."


Elgan pergi. Ia menghiraukan untuk bertanya pada Rena. Ia langsung saja naik lift. Setelah sampai, ia melirik pada sekretaris ayahnya itu. Raut wajahnya ditekuk.


"Elgan?"


"Papah ada?"


"Duh gimana, ya? Jangan temui Bapak dulu, ya? Please ... Bapak lagi gak ramah."


"Telpon."


"Hah?"


"Cepat. Saya bilang telpon."


Sekretaris itu akhirnya melaukan panggilan dengan takut-takut.


"Kenapa kamu telpon terus? Saya bilang saya gak mau di ganggu!" saking kerasnya suara itu, sekretaris menjauhkan gagang teleponnya. Elgan merebut gagang telepon itu.


"Papah ...."


"Kamu juga! Kenapa malah dikantor? Sudah! Papah gak bisa diganggu!"


Elgan tertawa hambar.


********


Matahari masih terik saja. Padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Elgan, Dio, Revan dan Setra menelentangkan tubuhnya di pinggir lapang. Pelajaran olahraga sebagai mata pelajaran terakhir sudah selesai sejak dua jam yang lalu.


Hanya saja mereka enggan untuk ganti baju dan pulang ke rumah masing-masing. Mereka malah melanjutkan olahraga dengan tanding sepak bola. Tapi tanding sepak bola sudah selesai setengah jam yang lalu. Mereka masih saja tidak mau pergi.

__ADS_1


Tidak ada percakapan. Atau canda tawa. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Rasanya pesakitan mereka semakin menjadi saja. Bu Rinka memandang dari jauh. rasanya ada rasa sakit yang menyelusup di dalam dadanya. Ia tahu. Mereka dengan pesakitannya.


BRANG!!


Bu Rinka sengaja melemparkan bola basket ke tiang. Sontak saja mereka berempat bangun dari tidurnya.


"Bangs*t! Saha maneh?!" umpat Dio. (Siapa kamu?)


"Siapa sih?! Elah! Lagi enak-enak gue tidur!" Revan menggerutu. Wajah Elgan tidak keruan dan semakin tidak keruan ketika Bu Rinka datang.


"Kalian gak tahu kalau tidur di jam segini itu bawa penyakit?" ucap Bu Rinka.


Setra terkesiap. "Wah iya kah? Penyakit apa?"


"Penyakit pemalasan! Bangun! Temani Ibu main basket."


Tunggu.


Mereka tidak salah dengar kan?


"Kenapa kalian malah bengong? Laki-laki itu gak boleh jadi pengecut, lho ...."


"Ibu yakin?" tanya Dio.


"Kenapa? Kalian negeremehin Ibu, nih?"


Elgan beranjak. "Oke. Jangan nangis kalau kalah."


"Kalau Ibu menang. Kamu harus nurut sama Ibu, gimana?"


Elgan memutar bola matanya. "Saya gak pernah kalah tuh."


"Ish! Percaya diri sekali Anda ...."


"Pembagian kita gimana nih? Ganjil soalnya," sua Revan.


"Kalian berempat lawan ibu."


"HAH? Gak salah nih? Nanti ibu kalah malah nangis lagi," ucap Revan.


Bu Rinka tidak menjawab. Ia malah memainkan bola basket itu. Lalu ia melemparkan dengan tiba-tiba pada Elgan. Elgan terkesiap, tapi selajutnya ia mengoceh bola basket itu. Pertandingan dimulai begitu saja. Bu Rinka gesit mengambil bola. Baru saja dimulai, ia sudah dapat mencetak poin. 4 sekawan dibuat cengo. Benar-benar tidak bisa diremehkan.


Pertandingan berlanjut. Hanya saja, lama kelamaan pertandingan seperti milik satu orang. Yaitu milik Bu Rinka, nampaknya ia malah tidak mau berbagi bolanya. Dio mulai ngos-ngosan mengejar Bu Rinka yang sangat defensif melakukan penyerangan. Akhirnya ia malah jongkok di tengah lapang. Begitupun dengan Elgan dan yang lainnya.


"Kalian ngapain malah pada bengong?" tegur Bu Rinka.


"Ya Ibu bagi-bagi dong bolanya!" seru Setra.


"Ibu itu maruk!" protes Revan.


"Teuuuuuuu ngarti! Ka jelema anu sok hayang menang sorangan," (Gak ngerti sama orang yang mau menang sendiri) ucap Dio. Mulutnya sudah seperti video yang viral akhir-akhir ini.


"Main aja sendiri, Bu!" sergah Elgan.


Bu Rinka tertawa. Lucu sekali melihat mereka kesal seperti ini. "Ya ... rebut dong. Larinya lebih gesit lagi. Masa kalian berempat kalah sama Ibu yang satu orang?" ejek Bu Rinka.


Elgan merasa terusik egonya. Ia bangkit mendekati Bu Rinka. Dio tersenyum penuh kemenangan tak kala ide tak terduga nemplok di kepalanya. Ia mengkode Revan untuk mengikutinya.


"Kali ini jangan sampai lolos lagi ya ...," ucap Bu Rinka. Ia mendrible bola. Memantulkan kesana-kemari.


GREP!


Bukannya merebut bola. Dio malah memeluk kaki Bu Rinka.


"Gan! Ambil bolanya!" seru Dio.


"Kamu ngapain Dio? Lepasin kaki ibu!" sengit Bu Rinka.


"Enggak!"


Tangan Bu Rinka hendak meraih pundak Elgan tapi tangan Revan meraih lebih dulu tangannya dan malah sun tangan.


"Assalamualaikum, Ibu. Izin kita masukin bola ya!" ucap Revan seraya tertawa. Bu Rinka hanya bisa tertegun melihat aksi 4 sekawan ini. Sungguh penuh dengan tipu muslihat.


SLURP! BRANG!


Elgan mencetak poin. Sontak saja mereka bersorak sorai. Bu Rinka hanya bisa tertawa seraya geleng-gelang kepala melihat kesenangan mereka yang setelah sekian usaha dapat juga mencetak poin. Elgan dan Setra berpelukan. Langka sekali melihat Elgan seperti ini. Disusul Dio dan Revan yang ikut berpelukan. Lagaknya sudah seperti menang pertandingan FIFA saja.


Dasar ...

__ADS_1


#####


__ADS_2