
Dio pulang dengan sumringah. Setelah mendengar pengumuman dari Bu Rinka tadi, beban yang membuatnya pusing itu terangkat sudah. Tidak sia-sia ia melakukan shalat tahajud yang sering dilakukan Bundanya ketika punya masalah. Hasilnya sangat memuaskan! Kalau begini caranya dia harus sering-sering sholat malam! Eh … sholat wajib aja masih sering bolong-bolong.
Dio menghentikan motornya. Padahal rumahnya terhalang 3 rumah lagi. Ia menundukkan kepalanya kebawah. Ada sebuah benda yang sedari kejauhan terlihat oleh Dio. Alhasil ia memilih berhenti. Benda itu ternyata sebuah dompet. Mana dompetnya tebal lagi, Dio kan jadi tergiur.
“Duh dompet siapa lagi ini,” ucap Dio. Ia mengedarkan pandangannya mencoba mencari-cari pemilik dompet. Tapi jalanan ini sepi. Dio menstandarkan motornya. Ia turun dari motor dan kembali mengedarkan pandangannya. Kali aja ada orang yang sedang jalan lalu tak sadar dompetnya jatuh. Tapi nihil. Akhirnya Dio berinisiatif mencari identitas pemilik di dalamnya. Hanya saja, mata Dio sedikit terbelalak dengan isi dompet yang didominasi warna merah itu.
“Astagfirullahaladzim …”
Dio menggelengkan kepalanya. Mencoba mengusir pemikiran-pemikiran yang negatif. Saat hendak mengambil KTP di dalam dompet itu, sebuah suara menginterupsinya. Dio langsung menutup dompet itu.
“Itu dompet saya Mas,” ucap seorang laki-laki dengan napas tersenggal-senggal.
Dio menaikkan alisnya. Ia tidak bisa percaya begitu saja. Bagaimana kalau ternyata orang dihadapannya ini berbohong?
“Cek KTP-nya saja, Mas kalau tidak percaya,” usul laki-laki itu. Dio setuju. Ia kembali mengambil KTP di dalam dompet itu. Benar saja. Fotonya sangat mirip dengan laki-laki yang didepannya itu.
Dio menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Hehee ... maaf, Mas. Takut Masnya nipu. Ini saya balikin.”
Laki-laki itu tersenyum lalu menerima dompetnya dari Dio. “Gak apa-apa. Malah saya berterima kasih sama Masnya. Udah nemuin dompet saya ini. Saya udah 5 kali bolak-balik ke jalan ini tapi gak ketemu.”
“Alhamdulillah kalau gitu. Masih rezeki Masnya,” ucap Dio. Ia menaiki motornya.
“Eh, Mas jangan pergi dulu.”
Cegah laki-laki itu. Dio hanya menaikkan alisnya. “Ini diterima sebagai ucapan terima kasih. Jangan ditolak lho, Mas. Saya gak biasa nawarin dua kali soalnya.” Laki-laki itu mengulurkan dua lembar seratus ribuan. Dio buru-buru mengambilnya.
“Aduh, Mas. Terima kasih banyak. Sering –sering aja kayak gini, Mas.”
BHAK!
Tidak tahu malu memang.
Laki-laki itu hanya tertawa kemudian pamit pergi pada Dio.
“Alhamdulillah … nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan!”
*******
Rumah Dio itu sepi kalau sore begini. Maklum Bunda Hanan masih sibuk dipanti, ayahnya masih kerja. Mereka berdua akan pulang sekitar jam 5 sore. Hanya saja kebetulan ayahnya sedang dinas di luar kota. Sehingga rumahnya akan semakin sepi. Sedangkan Dio pulang jam 4 hari ini. Tumben sekali memang, padahal biasanya dia akan pulang mengikuti Ayah dan Bundanya. Dio menoleh ke ruang tamu. Ia heran dengan kehadiran Bundanya.
“Bunda gak ke panti?” tanya Dio. Tapi Bundanya itu tidak menjawab. Dio semakin heran. Ia pun mendekati Bundanya yang fokus melihat layar lapotop. Sesekali telunjuk Bunda Hanan menyentuh layar laptop. Dio duduk disamping Bunda Hanan. Ia dengan sengaja merapatkan duduknya agar bisa melihat apa yang sedang dikerjakan Bundanya itu.
“Ish! Dio ngangetin aja! Ucap salam kalau masuk rumah!”
Dio mengabaikan teguran ibunya. Ia terlalu kaget dengan deretan angka di layar laptop Bundanya itu.“Siapa yang transfer satu milyar ke yayasan, Bun?”
Pertanyaan Dio sudah seperti teriakan karena saking terkejut dengan angka nol yang berderet di rekening yayasan milik Bundanya itu.
“Bunda juga enggak tahu. Gak ada pemberitahuan sama sekali. Gak ada yang datang ke panti juga,” ucap Bunda.
__ADS_1
Matanya berkaca-kaca karena terharu dengan rezeki yang tidak disangka-sangka ini. Momennya pas sekali dengan keadaan yayasan yang sedang krisis. Bunda Hanan memeluk Dio. Dio pun membalas pelukan Bundanya itu. Rasanya hari ini penuh dengan kejutan.
“Dio … sekarang Bunda bisa sekolahin semua anak-anak panti ….”
*******
Dio menghempaskan tubuhnya ke kasur. Lega di hatinya berefek pada bibirnya yang terus tersenyum. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan surat peringatan SPP-nya. Tanpa menunggu lama, ia merobeknya dengan senang hati.
"Bye-Bye SPP!" gumamnya.
Ponselnya berdering. Satu pesan masuk di aplikasi whatsappnya. Senyumnya mengembang tak kala pesan itu dari orang yang selama ini ia tunggu. Pesan itu menanyakan kepastian hari esok. Ah, tentu saja harus jadi! Dio pun segera membalas pesan itu dengan kalimat kepastian.
Dio beranjak dari kasurnya ketika mendengar suara-suara dari lantai bawah. Ia melongok dan terlihat ibunya seperti sedang buru-buru. Dio kembali tersenyum tak kala melihat rona wajah ibunya yang sumringah. Hari ini benar-benar penuh kejutan.
Ah, ia ingat kalau Bundanya pernah berkata bahwa Allah tidak akan menelantarlan hamba-hamba-Nya. Allah akan menguji dengan kesusahan, kelaparan, kemiskinan bukan berarti itu kebencian. Sebaliknya itu tanda bahwa Allah sedang mencintai hamba tersebut dan ingin mendengar untaian doanya. Sepertinya Dio setuju dengan ucapan itu. Walaupun dia bukan seorang yang alim. Bahkan cenderung sering lalai dalam beribadah, tapi Allah selalu mencukupi segala kebutuhannya dan menyelamatkannya selama ini. Ah jadi malu deh. Malu karena Allah terlalu mencintai sedang ia sendiri terlalu abai.
"Dio? Lagi ngapain?" tanya ibunya yang baru sadar bahwa sedari tadi anaknya itu sedang memerhatikannya di lantai atas.
Dio menaikkan alisnya lalu ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Rupanya, ketahuan juga ia yang memerhatikan ibunya itu. Terlihat ibunya merapatkan bibirnya.
"Kenapa belum ganti baju juga? Ayo cepat ganti! Bunda mau ke panti dulu. Jangan lupa makan." Sembari berbicara, tangan ibu Dio meraih toples yang tak jauh darinya. Otomatis, Dio membulatkan matanya.
"Ngapain Bunda bawa kue itu?" protesnya.
"Mau ada tamu di panti."
"Ish! Kamu ya ... udah Bunda berangkat dulu. Jaga rumah. Jangan keluyuran! Assalamualaikum."
Tanpa menghiraukan Dio yang merajuk karena kuenya diambil. Bunda Dio mengambil kunci kendaraannya yang tergeletak di meja. Kemudian ia pergi.
"Waalaikumsalam. Bun! Kuenya jangan di bawa!"
*****
Ting nong!
Bel rumah Dio berbunyi. Baru saja ia menyelesaikan sholat magrib dan hendak berbaring, ternyata ada tamu. Dio turun dengan sarung masih menempel di tubuhnya.
"Siapa sih? Orang mau rebahan juga...," gumamnya.
Dio membuka pintu. Nampak ada Revan yang sedang memunggunginya. "Ngapain lo magrib masih keluyuran? Disapa kalong wewe baru nyaho lu!"
Revan tidak menjawab. Ia sedikit keheranan dengan sarung yang menempel di tubuh Dio. "Sejak kapan lo sholat?"
BHAK
Dio merapatkan bibirnya. Agaknya dia sedikit tersinggung dengan ucapan Revan. "Sholat dhuha di sekolah aja lo banyak alesan," lanjut Revan dengan tawanya yang mengejek.
"Kalau mau ngeledek. Balik aja lo."
__ADS_1
"Hehe ... jangan gitu dong. Sensi amat."
Dio tidak menjawab. Ia membuka lebih lebar pintu rumahnya. Tanda jika Dio menyuruh Revan untuk masuk.
"Kemana yang lain? Kok sepi amat?"
"Ayah lagi dinas. Bunda ke panti. Mau apa sih lo? Magrib bukannya sholat."
"Udah lah gue."
Dio menaikkan alisnya, "Gak percaya gue. Lo kan al-fatihah aja belum lancar."
"Mulutnya ...."
"Emang iya kan?"
"Sembarangan. Lo kira gue masih orok? Al fatihah aja enggak hapal? Lo kali yang sholatnya modal 3 Qul."
"3 Qul?"
"Qul huwallohu ahad, Qul 'audzu birobbil falaq, Qul 'audzu birobbinnas."
Dio sewot. "Eh sok tahu banget lo."
"Emang iya kan?"
"Iya juga sih," jawab Dio seraya tertawa. "Ya mending hafal dikit tapi di amalin daripada hafal banyak tapi dicuekkin."
"Halah! Ngeles aja kayak bajaj. Yang bagus itu lo hafal banyak lo juga ngamalin semuanya."
"Sendiko dawuh Gusti ...."
"Gue nginep disini ya malam ini," ucap Revan.
"Tumben amat lo. Kenapa? Lo berantem lagi sama kakak lo?"
"Bukan gitu ...," Revan mengelak.
"Sepertinya sih gitu," tebak Dio. Revan hendak mengatakan sesuatu tapi urung karena ponselnya bergetar tanda ada panggilan yang masuk. Revan menerimanya. Tak berapa lama, Revan malah pamit pulang pada Dio.
"Gue pulang dulu."
Dio beranjak, "eh mau kemana lo? Katanya mau nginep?" pertanyaan itu tak terjawab karena Revan terlanjur pergi.
"Datang gak salam. Pulang gak salam. Setan memang."
########
310720, Bdg.
__ADS_1