
Suasana warung itu ramai karena hampir seluruh penghuni kelas F datang—kecuali yang perempuan. Pemilik warung, Bi Anah, baru saja meletakkan gorengan yang masih panas lalu sekejap saja diburu oleh anak-anak.
“Fix! Kemarin hari keberuntungan gue! Eh kayaknya gara-gara gue sholat tahajud deh. Lo-lo pada harus cobain juga. Terutama lo, Set. Kali aja setelah sholat tahajud Shaina jatuh hati sama lo.” Dio masih saja bercerita masalah hari kemarin yang sudah seperti hari keberuntungannya.
Setra berdecih, “Emang bunda lo dapet berapa?”
“Satu milyar, elah! Budeg amat sih lo,” jawab Dio.
Bukan. Bukannya Setra mau berprasangka tapi roman-romannya dia tahu siapa yang ngirim uang sebanyak itu. Setra memicingkan matanya ke arah Elgan. Tapi Elgan seperti tak peduli ia malah kembali mencomot gorengan Bi Anah.
“Kalau lo dapat rezeki … berarti hari ini lo traktir kita dong,” usul Revan.
Dio berjengit, “Rezeki apa? Kan yang dapet bunda gue, bukan gue. Mana itu khusus buat panti. Bukan buat gue atau bunda. Lo gak ngerti hukum amanah?” jelas Dio.
“Aish … jadi ustadz sono! Lagian yang gue maksud bukan duit yang itu tapi duit dua ratus ribu yang lo ceritain,” jelas Revan.
Dio menaikkan alisnya. Ia pura-pura tidak pernah mengucapkan hal itu. “Yang mana? Kapan gue ngucapinnya? Lo mah ngarang aja.”
“Ngeles aja lo! Awas rezeki yang lo terima itu selalu ada milik orang lain,” ucap Revan mengingatkan.
“Iya gue paham tapi milik orang yang dimaksud itu bukan untuk kalian yang kelebihan harta. Lebih baik dikasih sama yang lebih membutuhkan. Gimana sih lo,” jelas Dio tak mau kalah.
“Halah bilang aja lo gak mau traktir,” sahut Setra.
“Tuh tahu," ucap Dio enteng. Lalu Revan menghadiahinya sentilan tepat di dahinya. Dio mengaduh kesakitan dan membuat rusuh suasana. Tapi hal itu sepertinya tak membuat Setra bisa mengalihkan fokusnya terhadap percakapannya semalam dengan Elgan. Kalau kejadian kemarin itu ada sangkut pautnya dengan Elgan. Maka … Setra nampak menghitung jari-jarinya. Lalu menatap tajam pada Elgan.
“Kenapa sih lo? Heran gue sama lo,” ucap Elgan. Tangannya masih memegang gorengan. Lalu memasukkan ke mulutnya.
“Gue yang heran sama lo. Beda ya kalau anak Sultan.”
Elgan melotot pada Setra. Ia tahu apa yang akan Setra katakan. Tidak. Mereka tidak boleh tahu.
******
Elgan Bgsd
Set
Elgan Bgsd
P
Elgan Bgsd
P
Setra
E wo ey
Setra
Salam dulu ****
Setra
Kebiasaan lo
Elgan Bgsd
Assalamualaikum ya ahli kubur
Setra
Mau gue timpuk pakai toa masjid?
Elgan Bgsd
Bagi seorang muslim ucapan salam itu wajib dijawab.
Setra
Lagi ceramah pak haji?
Elgan Bgsd
Gue serius.
Elgan Bgsd
Mau ngomong.
Setra menegakkan tubuhnya. Ia penasaran perihal apa yang akan disampaikan Elgan. Jarang sekali Elgan seperti ini. Ia segera mengetik pesan lalau mengirimnya.
Setra
Tumben. Mau ngomong apa emangnya.
Setra
Waalaikumsalam deng.
Elgan Bgsd
Gue mau nyumbang ke panti nih
Setra
Terus
Elgan Bgsd
__ADS_1
Gue gak tahu mereka butuhnya berapa.
Setra
Ya tanyalah. Susah amat.
Elgan Bgsd
Gak bisa
Setra
Ya lo ikhlasnya ngasih berapa
Elgan Bgsd
Berapapun yang mereka butuhkan.
Membaca balasan Elgan, Setra jadi gemas. Gemas karena anak sultan itu beda. Enteng banget kalau masalah uang.
Setra
Syalan lo anak sultan.
Elgan Bgsd
Gue serius.
Setra
Tanya Pak Andre aja. Jangan lupa kasih tahu papah lo juga.
Elgan Bgsd
Iya
Elgan Bgsd
Tapi temen gue lagi butuh duit.
Setra
Ya lo kalau punya uang, ya bantu. Gue sih bokek. Lagi marahan juga sama mamah. Uang jajan gue dipotong. Gue minta duit dong, Gan.
Elgan Bgsd
Najis. Enak aja lo.
Setra
Eh, bangsoel. Giliran ke gue aja …
Elgan Bgsd
Setra
Ya lo bantu semua orang ajalah. Susah amat. Lo kan anak sultan
Elgan Bgsd
OK.
Percakapan malam itu, Setra tidak pernah menyangka kalau yang dimaksud ‘teman’ oleh Elgan itu adalah Dio. Ia juga tidak menyangka bahwa ternyata Elgan juga membayar SPP yang lain sesuai balasan pesan dirinya. Entah berapa banyak uang yang telah dikeluarkan Elgan. Setra tak mau menebaknya, tak mau tahu juga. Soalnya pasti akan membuatnya sesak.
********
“Iya … iya pokoknya nanti gue kerjakan tugasnya. Nanti gue kirim hasilnya ke elo, Cit,” ucap Ghea. Ia sedang menerima telepon dari Citra.
“Jangan ngaret lagi,” ucap Citra.
“Iya, enggak. Udah dulu ya … soalnya gue ada urusan.”
“Ya udah. Assalamualaikum.”
“Walaikumsalam Citraku sayang …”
TUT.
Ghea memutuskan panggilan. Ia meraih sweaternya yang tergantung lalu memakainya. Raut wajahnya nampak berseri-seri. Iyalah, hari ini kan hari sabtu. Hari dimana Ghea akan pergi jalan-jalan.
Ia turun dari kamarnya dan mendapatinya kedua orang tuanya sedang sarapan.
“Mau pergi kemana kamu?” tanya Ayahnya.
“Mau jalan dong, Pah. Ini kan hari sabtu.”
“Sarapan dulu, Ghe. Baru boleh pergi,” ucap Ibunya.
Ghea mengerucutkan bibirnya, “Nanti Ghea juga makan disana kok, Mah. Gak makan dulu di rumah. Nanti kekenyangan.”
Ayahnya menghela napas. Ia menatap Ghea dengan tatapan sedikit mengintimidasi, “Makan, Ghea.”
Ghea memutar bola matanya, “Iya-iya.”
Ghea pun duduk di kursi. Ia mengambil piring dengan malas. Lalu menyantap makanannya. Beberapa menit kemudian. mereka telah selesai menyantap sarapan. Ghea hendak pergi tapi Ayah menahannya.
“Jangan pergi dulu, Papah mau bicara.”
“Bicara apalagi sih, Pah. Ghea udah ditungguin nih sama temen-temen.”
“Ghea …,” tegur Ibunya.
__ADS_1
“Iya. Ghea gak akan pergi dulu. Emang Papah mau biacara apa sih?”
Papahnya itu tidak langsung menjawabnya. Ia menatap Ghea sedikit lebih lama.
“Pah ...,” tegur Ghea.
“Sudah Papah putuskan. Kamu kuliah diluar negeri jurusan perhotelan.”
Ghea terkejut, “Pah! Kok Papah gitu sih main putuskan-putuskan aja. Yang ngejalanin hidup aku kedepannya itu aku ya, Pah! Bukan Papah. Papah tahu kan aku gak suka sama perhotelan.”
“Kalau kamu gak mau ngurusin hotel Papah, terus siapa yang mau nerusin bisnis Papah itu?”
“Ya, kita bisa atur nanti. Pokoknya Ghea gak mau kerja di hotel!”
“Kalau kamu gak mau di hotel, terus hidup kamu mau seperti apa? Selama ini kamu hanya main-main sama hidup kamu! Gimana kalau kedua orang tua kamu ini tiba-tiba gak ada? Bisa kamu hidup tanpa Mamah-Papah kamu ini?”
“Pokoknya aku gak mau di hotel. Aku bisa mandiri, Pah! Jangan khawatir.”
“Gimana Papah gak khawatir kalau kamu gak bisa serius sama hidup kamu sendiri. Kamu pernah bilang sama Papah mau jadi dokter tapi apa? Naikin nilai kamu waktu SMP aja gak bisa. Terus kamu bilang mau jadi seniman lukis. Papah ikuti, papah les kan kamu. Tapi apa? Kamu gak konsisten. Akhirnya gak mau melanjutkan.”
“Yang ini Ghea serius, Pah.”
“Apa? Kamu mau jadi apa lagi? Cukup main-main sama khayalan kamu yang gak jelas itu! Hidup harus realistis.”
“Papah itu gak ngerti aku!”
“Bukan Papah yang gak ngerti kamu, Ghe. Tapi kamu yang gak ngerti sama diri kamu sendiri.”
“Pah …,” ucap Ghea. Matanya berkaca-kaca. Kalau seperti ini, Papahnya itu semakin merasa bersalah. Tapi kalau tidak dipaksa, anaknya itu akan senang bermain-main saja.
“Keputusan Papah sudah final.”
“Tapi Ghea gak suka kerja di hotel, Pah! Papah ngerti gak sih? Ghea mau coba jadi sutradara!”
Papahnya tertawa sinis, “Coba lalu menyerah seperti yang sudah-sudah?”
Ghea cukup tersinggung dengan ucapan Ayahnya itu. Memang benar, ia tipikal orang yang mudah bosan. Mudah berganti haluan. Mudah menyukai dan mudah membenci dalam sekejap mata. Tapi, setidaknya ia sudah pikirkan hal ini baik-baik.
“Ghea mau jadi sutradara, Pah. Titik. Gak ada penolakan.”
“Papah gak ngizinin kamu kalau pada akhirnya hanya untuk main-main saja. Kamu pikir sekolahin kamu itu murah? Les kamu murah? Papah gak mau buang-buang uang lagi.”
“Pah!”
“Pokoknya keputusan Papah sudah final.”
“Ghea janji. Beri Ghea kesempatan satu kali aja. Kalau Ghea gagal, Ghea mau turutin keinginan Papah.”
Papah Ghea mengernyitkan dahi, “Gak bohong kamu?”
Ghea mengangguk mantap.
*****
Dio mempercepat langkahnya. Ia menaiki eskalator ke lantai 2. Ia mengedarkan pandangan mencari seseorang. Tak berapa lama, ia menemukan orang yang dicarinya. Orang itu sedang berdiri di sebuah toko. Tak sengaja, tatapannya beradu. Dio melempar senyum. Orang itu pun melempar senyum.
Dio berlari menghampiri orang itu. Dengan jarak yang dekat, ia baru sadar kalau wajah orang itu sedang kesal.
“Kenapa? Kok kayak yang kesal?” tanya Dio.
Yang ditanya mengerucutkan bibir, “Papah nyebelin pagi ini.”
Dio tertawa mendengar jawaban yang dilontarkan. Tangannya terulur untuk menyentuh puncak kepala. Berniat untuk menenangkan orang yang dihadapannya agar tidak kesal lagi. Hanya saja, waktunya itu lho ... tidak pas.
“Lo sama Ghea ngapain berduaan di mall?”
Ucap seseorang sehingga membuat Dio menurunkan kembali tangannya. Orang yang ditemui Dio itu—Ghea—segera menjauh dari Dio. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah. Sedangkan Setra yang menginterupsinya masih menunggu jawaban dari Dio atau Ghea. Heran sekali melihat mereka bisa berduaan di mall seperti ini. Apakah mereka terlibat sesuatu?
“Lo yang nagapain disini, Set? Lo juga, Gan?” Dio balik bertanya.
“Gak usah balik nanya,” sahut Elgan.
“Iya, gak usah ngeles lu. Lo juga Ghe, kita ada disini. Jangan terus ngelihat ke arah lain. Emang mata lo juling?” perkataan Setra membuat Ghea semakin kikuk.
“Gue gak ada apa-apa kok sama Dio. Kebetulan ketemu aja. Iya gak?” ucap Ghea. Ia melotot pada Dio agar menjawab iya juga.
“I-iya. Kalian jangan pikir macem-macem.”
Elgan menghela napas, “siapa juga yang macem-macem.”
“Btw, Gue duluan ya … bye,” ucap Ghea. Ia hendak pergi tapi malah ditahan oleh Setra.
Setra tersenyum jahil pada Ghea, “Mau kemana? Emang kita sebodoh itu apa? Udah lo ikut kita aja.”
Dio berjengit. Ia tidak suka Setra memegang tangan Ghea seperti itu, “Mohon maaf nih. Tuh tangan dikondisikan dong. Gue bilangin ke Shaina juga baru tahu rasa lo!”
Setra menatap Dio, “Sensi amat ya, Pak?”
Tak berapa lama, Revan datang. Ia heran dengan kehadiran Dio dang Ghea. Padahal ajakan semalan hanya bertiga yaitu dirinya, Elgan dan Setra. Dio katanya tidak ikut karena tidak ada kabar.
“Lo kok ada disini? Katanya gak ikut?” tanya Revan pada Dio, tatapannya beralih pada Ghea, “Lo juga?"
“Kita nontonyya berlima. Udah ah cepetan,” ucap Elgan seraya berjalan lebih dulu. Disusul Setra yang mengerling jahil pada Dio. Lalu Revan pun menyusul. Dio dan Ghea masih saja tidak beranjak. Mereka jadi bingung harus berbuat apa.
“Gue balik aja, ya?” tanya Ghea.
“WOY! AWAS LO PADA GAK IKUT SEMUA! LIHAT AJA PAS DISEKOLAH!”
Teriak Setra yang membuat perhatian pengunjung mall melihatnya. Revan membekap mulut Setra agar tidak teriak terus. Tapi sepertinya, ia tidak akan berhenti kalau Ghea tidak ikut.
“Udah Ghea ikut aja! Setra gak mau diem kalau lo gak ikut. Malu nih kita,” ucap Revan. Ghea menatap Dio untuk meminta jawaban, tapi nihil Dio malah tidak mau menatap Ghea.
__ADS_1
######
310720, Bdg.