IF CLASS

IF CLASS
CHAPTER 20: JIKA AKU JADI ... MAKA KAMU?


__ADS_3

Seseorang yang muncul dari persimpangan lorong itu membuat beberapa siswa yang terlibat percakapan serius, seketika berhenti. Mereka berusaha menormalkan roman wajahnya yang terlihat tidak baik. Tangan-tangannya sibuk menyembunyikan sesuatu sebelum orang itu menyadari.


"Kalian kenapa masih diluar?" tegurnya.


"Eh, enggak. Ini mau masuk kok Bu," sahutnya. Tak lama siswi-siwi itu langsung masuk kelas begitu saja. Melihat hal itu, seperti ada sesuatu yang mereka tutup-tutupi. Entah apa itu. Tidak mau terlambat masuk kelas, ia lebih memilih mengabaikan permikiran itu, mungkin hanya perasaannya saja. Ia melangkah ke kelas yang berada di ujung lorong. Sesaat ia hanya bisa menggelengkan kepala karena suara gemuruh di kelas itu sampai bisa terdengar sejauh ini.


"Woy ... woy! Ada Bu Rinka!" sahut orang di dalam kelas yang berusaha menenangkan kelas.


"Bu Rinka ajig! Awas aing deuk diuk!" (Awas aku mau duduk!)


"Bu Rinka udah mau masuk? Alah can di cukur ieu buuk." (Aduh rambut belum di cukur)


"Bisa santai gak sih kalian?" seru yang lain.


Orang itu—Bu Rinka—menghela napas dalam lalu ia masuk ke dalam kelas. Sekejap, kelas menjadi sunyi karena Bu Rinka masuk. Ia mengedarkan pandangannya. Ia memastikan bahwa hari ini tidak ada yang bolos. Hanya ada 3 kursi yang kosong dan hal itu sesuai dengan surat izin yang diterimanya hari ini. Bu Rinka tersenyum, ada rasa bangga karena tidak ada yang mencoba bolos lagi. Walau masih banyak yng sering izin tiba-tiba.


"Assalamualaikum warramtullahi wabarakatuh."


"Waalaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh."


"Sebelumnya Ibu mau berterima kasih sama kalian sejauh ini kalian sudah bisa berkomitmen untuk berusaha masuk kelas terus. Walaupun masih banyak yang sering izin tiba-tiba. Tapi sudah jarang yang menghilang tiba-tiba di kelas.


Tapi, masih banyak catatan yang harus kalian ubah. Nilai akademik kalian masih jauh. So, 3 minggu kedepan fokuskan untuk UAS. Semoga ujian nanti kalian tidak mengecewakan."


"Kenapa angka selalu menjadi tolak ukur?" sua Revan. Ia merapatkan bibirnya ketika sadar bahwa pertanyaan yang semula hanya terbersit dikepalanya kini tanpa sadar ia ucapkan sendiri. Semua pasang mata tertuju pada Revan. Tapi yang bertanya malah mengalihkan pandangan.


"Menurut kalian kenapa?" tanya Bu Rinka, "ada yang mau mengungkapkan pendapatnya?" Hening. Tak ada yang mau menjawab. Ah, atau mereka tidak pernah peduli? Bu Rinka masih memberikan waktu.


"Hanya angka yang bisa mengungkapkan mana yang pintar dan yang bodoh. Mana yang baik dan yang buruk. Kenyaatannya manusia memegang tolak ukur itu."


Kini tatapan seisi kelas beralih pada Elgan. Nampaknya mereka terkesima pada Elgan yang mau menjawab pertanyaan itu. Biasanya ia tak mau peduli. Lebih memlih diam dan mendiamkannya.


Bu Rinka tersenyum, "Sayangnya memang kita berada di dunia dimana angka dapat menentukan mana yang pintar dan yang bodoh. Mana yang baik dan yang buruk. Seperti kata Elgan. Tapi, setiap angka yang muncul tidak selalu dapat mencerminkan seratus persen.


Misal ketika seorang siswa dapat nilai 100 di ujiannya. Apa dia benar seseorang yang pintar? Tidak pasti. Karena bisa jadi di ujian berikutnya ia mendapat nilai yang lebih kecil. Kenapa bisa? Karena manusia itu tidak sempurna. Angka hanya ungkapan prediksi bukan suatu yang mutlak. Maka dari itu Ibu tidak menekankan seberapa bagus nilai yang harus kalian dapatkan. Tapi seberapa keras kalian berusaha. Seberapa serius dengan hidup kalian sendiri. Karena pada faktanya kalian semua adalah manusia yang hidup. Maka hiduplah sebagai manusia yang menempatkan angka sebagai prediksi dan hati sebagai sesuatu yang mutlak"


"Kenapa hati harus berada di dalam suatu yang mutlak?" tanya Setra.


"Karena sebenarnya sesuatu yang mutlak adalah Tuhan. Dan hati satu-staunya yang bisa dekat dengan Tuhan."


Bu Rinka kembali mengedarkan pandangannya. Ia berusaha memahami raut-raut wajah anak didikya itu apakah mengerti atau tidak dengan apa yang ia katakan. Yang jelas, tatapan mereka memang tertuju padanya tapi kenapa kesannya taapan itu tatapan kosong? Dah lah tak perlu dijelaskan lagi.


"Oke. Kita masih punya waktu 15 menit sebelum mata pelajaran pertama dimulai. Untuk mendinginkan otak kita, ada satu permainan untuk kalian. Petunjuknya adalah kalian cukup melanjutkan kata-kata dari Ibu, oke?"

__ADS_1


Tanpa menunggu lama. Bu Rinka mendekati meja Agus, "Lets start! Agus ... jika aku jadi milyader, maka kamu?"


Mata Agus berbinar, "Oalah ... permainan ini toh.. jika ibu jadi milyader maka aku jadi brangkasnya dong. Bisa melindungi uang Ibu dari para tikus." Agus tertawa karena jawaban ngawurnya.


"Mata duitan sekali ya Anda ...," sahut Kayla. Ia pun tertawa.


"Oke Agus pilih temen kamu untuk melanjutkan permainan ini."


"Emmm ... aku pilih ... Elgan!" ucapnya bersemangat.


Elgan mengerjapkan mata. Ia kaget juga dipilih tiba-tiba. Pandangan Bu Rinka tertuju pada Elgan. Hanya saja Elgan malah berdecak daripada langsung menjawab tantangan ini.


"Kenapa saya?" Elgan nampak tidak suka.


"Kamu sudah dipilih Agus, ayo lanjutkan permainannnya. Kamu gak cemen kan?" Elgan menatap tajam pada Bu Rinka yang sengaja menggodanya ini. Setra yang melihat itu menutup mulutnya karena tak kuasa menahan tawa.


Elgan menghembuskan napas kasar, " Jika aku jadi gunung, maka kamu jadi?" Mata Elgan tak mengarah pada siapa-sapa. Bu Rinka menaikkan alisnya, "Siapa yang kamu tunjuk untuk menjawab?"


Elgan menatap sekilas pada Bu Rinka. Lalu ia mengedarkan pandangan untuk menemukan siapa yang harus menjawab pertanyaannya ini. Ah, ada satu orang yang ingin ia tanyakan. Tapi rasanya tidak mungkin. Setra sedikit rusuh di bangkunya, ia mencoba memberikan kode pada Elgan untuk memilih siapa orang yang harus ia pilih. Tapi Elgan malah mengabaikannya.


"Setra."


Ucapan Elgan itu membuat Setra duduk dengan kecewa. Memang susah membuat Elgan terbuka dengan perasaanya sendiri. "Jadi mau gue yang jawab nih? Bukan yang lain?" pertanyaan itu ditanggapi tatapan tajam oleh Elgan. "Oke, oke. Gue jawab nih. Kalau kamu jadi gunung maka aku akan jadi pendaki. Biar bisa mendaki dan tahu apa yang sebenarnya ada di puncak kepala lo."


Beberapa siswa tertawa karena jawaban dari Setra. "Oke lanjut. Pilih orang selanjutnya, Setra."


"Sakarepmu."


Setra tertawa. Ia mulai berpikir pertanyaan apa yang akan ia lontarkan. Seiring dengan itu, Shania membenahi tempat duduknya. Ia pun sedikit mendehem. Seakan-akan tahu kalau dia pasti dipilih oleh Setra. Tentunya jika iya, ia harus memikirkan sesuatu untuk bisa membalas Setra.


"Cit! Gue mau lo yang jawab!" seketika itu, Shaina menoleh pada Setra. Sedangkan Setra tidak tahu akan hal itu.


"Boleh Set," ujar Citra.


"Cit, jika aku kasih tahu—"


DUK


Elgan berdiri tiba-tiba. Otomatis, permainan harus terhenti sejenak. "Kenapa Elgan?" tanya Bu Rinka. Elgan tidak langsung menjawab. Ya tidaklah! Mana mungki ia bicara terus terang kalau Setra sengaja mengungkapkan sesuatu yng tidak seharusnya ia ungkapkan.


“I—tu …," perkataan Elgan tergantung. Sedangkan Setra terkikik di bangku belakang. Revan yang tahu maksud Setra pun terkikik juga. Ingin rasanya Elgan menyeret temannya itu agar tidak terus-terusan merecoki hidupnya.


"Permainan ini kan, jika aku jadi. Masa, jadi jika aku kasih? Gak bisa seperti itu." Papar Elgan. Bu Rinka mengangguk-ngangguk. Setra menatap tidak suka, "Bebas dong ah. Kita itu butuh untuk kreatif. Jangan monoton terus," balas Setra tak mau kalah.

__ADS_1


Bu Rinka kembali menganguk-ngangguk setelah mendengar ucapan Setra, "Baik, kalau gitu lanjutkan."


Elgan beranjak dari mejanya membuat Bu Rinka menoleh, "Mau kemana, Elgan?"


"Toilet," jawab Elgan singkat.


Revan dan Setra semakin puas saja melihat Elgan yang kelabakan seperti itu. "Cit!" panggil Setra. Ia sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Elgan. "Jika aku kasih tahu ada uang satu milyar di tas kamu, maka kamu?"


Langkah Elgan terhenti tak kala mendengar pertanyaan Setra itu. Ia berbalik dan menatap Setra yang curi-curi untuk tertawa. Ingin rasanya ia menghilangkan Setra saat ini juga. Benar-benar rese! rutuk Elgan dalam hati.


"Ya bakalan aku ambil, dong. Masa iya aku buang," jawab Citra dengan entengnya.


"Eh ... kamu sudah beres? Cepat amat ke toiletnya," ucap Bu Rinka ketika Elgan kembali ke dalam kelas.


"Hm," sahut Elgan. Ia pu kembali duduk di bangkunya. Setra dan Revan yang tahu maksud dari reaksi Elgan yang seperti ini tak kuasa menahan tawa. Mereka mati-matian menutup rapat bibir mereka agar tidak tertawa.


"Oke ... lanjutkan," ucap Bu Rinka.


"Gue pilih ... Revan lo aja yang lanjutin."


Revan menunjuk dirinya sendiri, "gue?" Setra mengangguk.


"Oke. Jika aku jadi perahu, maka kamu?" Revan menunjuk Kayla dengan telunjuknya. Sesaat, Kayla terkesiap. Ia mencebikkan bibirnya. Ia menoleh pada Revan dengan nada yang mantap ia menjawab, "Maka aku akan jadi badai. Biar bisa menghempaskan perahu jelek kayak lo!"


Revan hendak membalas perkataan Kayla. Hanya saja, Bu Rinka lebih dulu mencium bau pertengkaran akut sehingga ia menginterupsi, "Oke, lanjutkan. Kita cuman punya waktu kurang dari 3 menit lagi."


Kayla tersenyum puas karena Revan tidak punya kesempatan untuk membalsanya. "Ghe! Gue mau lo yang lanjutin!"


Ghea terlihat bingung. Di hari pertamanya setelah seminggu izin sakit, ia nampak belum sadar sepenuhnya. Mukanya masih sedikt pucat. Ia pun terliaht tak seperti Ghea yang biasanya. Cukup lama dia untuk menjawab. Terlihat, ia menghela napas panjang.


"Kalau aku jadi adikmu, maka kamu?"


Ucap Ghea dengan nada mantap. Ia memang tidak menyebutkan siapa orang yang harus menjawabnya. Tapi, sorot matanya yang tertuju pada Dio membuat beberapa orang terkejut. Bu Rinka yang membulatkan matanya nampak kikuk. Elgan seperti tak mau mendengar jawaban Dio. Setra yang menepuk jidat tak bisa berkata apa-apa lagi. Revan memejamkan mata, tak kuasa melihat kenyataan yang akan terjadi. Sedangkan Citra menatap Ghea. Tangannya terulur pada tangan Ghea lalu mengusap lembut punggung tangan Ghea. Selebihnya, mereka yang tidak tahu masalah antara Ghea dan Dio nampak kebingungan.


"Eh, masih ada Bu Rinka, ya?" sahut Bu Yuli. Bu Rinka yang kikuk, segera menoleh dan mempersilahkan Bu Yuli untuk memulai pelajaran.


"Tidak. Saya sudah selesai," ucap Bu Rinka.


Bu Yuli hanya tersenyum lalu berjalan mendekati meja guru. Bersamaan dengan itu Dio membuka suara.


"Jika kamu jadi adikku. Maka aku jadi kakakmu."


Ucapan Dio itu sukses membuat mereka tertegun.

__ADS_1


#######


310720, Bdg.


__ADS_2