
Laki-laki dengan lengan kemeja tergulung itu memandang lurus berkas ditangannya. Hembusan napas terdengar dari mulut Bu Rinka. Ya, baru saja ia menyerahkan berkas yang selama ini ia kumpulkan. Memang bukan hasil yang menarik. Itu kenapa laki-laki itu semakin berekspresi datar saat membaca lembar demi lembarnya.
"Seperti yang di duga sebelumnya, bahkan ini lebih dari dugaan awal," sua Bu Rinka memecah keheningan.
Laki-laki itu mendongak, "Hanya saja kita butuh lebih dari ini." Ia menutup berkas itu.
"Aku pikir begitu. Butuh yang lebih besar dan tepat agar bisa kita cabut sampai ke akarnya. Tapi masalahnya ...," ucapan Bu Rinka menggantung.
Laki-laki itu tersenyum tipis, "Banyak yang akan terluka karena ini. Aku tahu. Tapi, sebisa mungkin kita menyelamatkan dulu anak-anak. Karena jika sampai terkuak maka bukan kita lagi yang memutuskan. Bahkan sentimen publik akan menjadi hakim yang paling mengerikan."
Bu Rinka menyenderkan punggungnya ke kursi. Rasanya semakin berat saja apa yang harus ia lakukan kedepannya. Matanya mengedar ke arah langit-langit. "Apakah kita akan lakukan secara diam-diam lagi?"
Laki-laki itu tidak langsung menjawab. Ia meneguk air yang disuguhkan. "Kita harus siap untuk terbuka. Karena banyak variabel yang tentunya tidak bisa kita kendalikan."
Mendengar itu, Bu Rinka menghela napas berat. Ada banyak kekhawatiran yang melintas di pikirannya. "Semoga saja berakhir dengan baik."
"Eh? Kenapa Pak Direktur ada disini?"
Pertanyaan itu membuat Bu Rinka dan lawan bicaranya menoleh. Laki-laki di ambang pintu tak lain adalah kepala sekolah. Ia nampak terkejut dengan kehadiran atasannya itu.
"Kenapa Bapak tidak menunggu di ruang tamu saja? Bapak kenal dengan Bu Rinka ini?" tanyanya.
"Tentu saja kenal," ucapan lugas itu membuat Bu Rinka sedikit terkejut. Ia menoleh cepat pada laki-laki di sampingnya. "Dia guru BK di sini kan?" lanjut laki-laki itu.
Bu Rinka menghembuskan napas. Hampir saja. "Kalau begitu mari Pak kita ke ruangan saya?" ajak Kepala Sekolah.
"Lain kali saja. Saya sibuk. Cukup lama juga menunggu kehadiran Bapak sejak tadi." Sindiran keras itu sukses membuat kepala sekolah kikuk sedangkan Bu Rinka nyengir kuda. Pasalnya ia tahu bahwa yang dikatakan laki-laki itu adalah kebohongan. Hanya saja, aktingnya cukup bagus. Setidaknya sedikit menutupi kebohongannya.
********
Langit hari ini begitu sejuk untuk dipandang. Matahari seakan mendukung dengan menyinari secara lembut. Tidak terik. Shaina memejamkan mata menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Rasanya damai sekali.
HOSH
Shaina mengerjap. Ia terpaksa membuka mata karena semilir angin yang menerpa wajahnya tadi itu dingin tapi sekarang panas. Seperti bukan udara dari alam tapi dari manusia. Benar saja, Setra sudah ada disampingnya dengan wajah tak berdosanya.
"Usil banget sih lo!" Shaina beranjak. Setra pun ikut beranjak.
"Mau kemana lo?" tanya Setra.
"Bukan urusan lo."
Setra malah tertawa. Shaina menaikkan alisnya sebelah. Tak mengerti dengan apa yang dilakukan Setra. "Lo emang Elgan versi cewek," ucap Setra. Shaina yang mendengar itu , semakin gagal paham saja.
"Gak peduli."
"Dingin. Kasar. Suka memendam masalah sendiri."
Deg.
Mengapa Setra tahu kalau dia sedang ada masalah?
Shaina berbalik, "Terus kalau gue punya masalah harus banget cerita sama lo? Lo siapanya gue emang?"
__ADS_1
Setra gelagapan. Iya juga. Dia siapa Shaina memangnya.
"Temen lo—mungkin."
"Harus banget temenan sama lo yang usil?"
Setra berdecak. "Sudahlah. Ngomong sama lo bikin emosi jiwa. Sama kayak kutu kupret itu." Shaina memutar bola matanya. Jengah mendengar Setra yang terus menyamakan dirinya dengan Elgan. Lalu, Setra malah meraih tangannya dan memberikan sebuah roti. "Makan. Akhir-akhir ini, gue lihat lo jarang makan kalau istirahat. Gak punya duit ya, lo?"
Dosa tidak kalau Shaina melempar Setra ke Laut Merah? Biar gak nyebelin terus.
"Gak usah berterima kasih. Gue tahu, gue emang pengertian orangnya. Gue pergi dulu," ucap Setra. Shaina tidak menjawab ia hanya meremas roti itu saking kesalnya. Niatnya ngasih, apa ngeledek ya? Masalahnya egonya sedikit terusik.
Baru beberapa langkah, Setra berhenti dan berbalik. Shaina masih ditempatnya "Eh, lo kalau suka sama seseorang suka diam-diam juga, gak? Soalnya Elgan kayak gitu. Gemes gue lihatnya."
"Harus gue kasih tahu sama lo!" sergah Shaina.
"Terserah sih. Toh gue masih mikir perihal dosa gak ya kalau gue pacarin lo," ucap Setra dengan santainya. Ia tidak sadar bahwa ucapanya itu membuat jantung Shaina berdetak lebih cepat.
"Ya—dosa ****!" jawab Shaina. Ia segera pergi seraya membuka roti lalu memakannya dengan rakus.
"Makannya sambil duduk, dong. Rotinya dihabisin setan baru tahu rasa lo!" tegur Setra.
Shaina hanya menatap tajam ke arah Setra. Tapi akhirnya, ia duduk juga di tribun lapangan dan menghabiskan rotinya. Setra tertawa melihat tingkah Shaina yang seperti itu. Sama seperti Elgan, responnya menunjukkan tidak suka tapi akhirnya dilakukan juga.
******
Mr. X
Mr. X
Atau jadi pengusaha aja biar duitnya banyak?
Mr. X
Eh jadi presiden aja kali ya ...
Ghea
Jadi imamku cocok juga.
Ghea
Deleted messages
Mr. X
Telat. Dah dibaca berkali-kali juga.
Mr. X
*tawa jahat*
Ghea tak ingin membalasnya lagi. Sudah cukup ia mempermalukan dirinya. Wajahnya bahkan memanas. Hal itu diketahui oleh Citra yang berada disampingnya. "Kamu kenapa, Ghe? Wajah kamu merah."
__ADS_1
"Hah? Ah—enggak kok. Perasaan lo aja, Cit."
"Tapi—"
Ghea menarik lengan Citra, "cepet ah. Gue kebelet nih."
Citra melangkah lebar-lebar karena Ghea yang menariknya lumayan kuat. Saat hendak masuk, mereka berpapasan dengan Kayla. Sekilas mereka melihat wajah Kayla yang pucat.
"Kay ...," Citra menahan lengan Kayla. "Kamu baik-baik aja, kan?"
"Gue baik. Lepas dong gue mau pergi," ucap Kayla ketus. Ghea mencibir dalam hati karena respon Kayla itu. Citra masih memandangi Kayla yang pergi.
"Gak usah perduli sama dia, Cit."
"Dia kan temen kita, Ghe."
"Temen apanya nyebelin gitu!" ucap Ghea seraya masuk toilet.
Setelah keduanya selesai. Citra dan Ghea bercermin untuk merapihkan seragamnya.
"Ghe ...," panggil Citra.
"Kalau aku jadi koki cocok, gak?"
Ghea menegang. Pertanyaan Citra mengingatkannya pada Dio. Rasa malu mulai merayapi hatinya lagi.
"Kamu kenapa? Sakit? Wajah kamu merah," tanya Citra.
Ghea gelagapan. Tangannya langsung menyentuh wajahnya, "Enggak kok. Perasaan lo aja kali."
"Masa? Sini aku coba periksa suhu tubuh kamu," ucap Citra. Tangannya mencoba meraih dahi Ghea tapi langsung ditepis oleh Ghea. "Gak usah, Cit. Gue baik-baik aja. Btw, kenapa lo tanya kayak gitu? Menurut gue ya cocoklah lo jadi koki. Lo kan jago masak."
"Aku keingetan ucapan Bu Rinka tadi pagi."
Ghea nampak berusaha mengingat perkataan Bu Rinka yang Citra maksud, "Manusia itu harus punya cita-cita untuk bisa bertahan hidup. Gue setuju sih sama perkataan Bu Rinka itu." Ia merogoh sakunya mengeluarkan kertas kuning yang diberikan Bu Rinka ke setiap siswa untuk menuliskan cita-citanya.
"Kalau cita-cita kamu apa?"
"Cita-cita gue? Gue mau bikin film Cit."
"Wah bagus tuh. Kamu mau jadi sutradara?"
Ghea mengangguk, "gue mau bikin film. Terus yang mainnya Ji Chang Wook, Song Joong Ki, Lee Min ho, Lee Seung Gi, Le Jong Suk, Oh Sehun, Cha Eun Woo, Kris Wu, Yo Seung Ho, Kim Woo Bin, Gong Yoo, Park Seo Joon, Park Hyung Sik. Tentunya cuman gue satu-satunya cewek yang jadi pemeran utamanya. Gimana? Keren kan ide gue? Gue yakin ini bakalan jadi film yang spektakuler!"
"Aku tanya cita-cita kamu lho, bukan kehaluan kamu," ucap Citra.
"Itu emang cita-cita gue, Cit." Ghea tetap kukuh.
"Gak jadi nanya deh," sahut Citra menyudahi percakapannya dengan Ghea.
########
310720, Bdg.
__ADS_1