IF CLASS

IF CLASS
CHAPTER 9: KESEPAKATAN


__ADS_3

Tring!


Raka added +62813xxxxxx


“Anjir si Raka ngasupkeun saha ieu?” (***** si Raka masukin siapa ini?) sahut Dio tak kala ia melihat notifikasi di grup kelasnya. Revan hanya menaikkan alisnya kemudian berlanjut memainkan kembali permainannya bersama dengan Elgan.


Warung yang biasa ditempati anak-anak F kumpul ini, nampak sepi. Jarum jam mulai menunjukkan pukul setengah enam sore, jadi wajar saja kalau sebagian besar anak-anak lebih memilih pulang kerumah. Setor muka katanya biar uang jajan tetap ngalir setiap harinya. Di warung tinggal Elgan, Dio dan Revan.


Tring!


+62813xxxxxx


Assalamualaikum anak-anakku. Maaf mendadak gabung dengan grup kelas kalian. Sayangnya … Ibu yang menggantikan posisi Bu Asti sebagai wali kelas kalian. Pastikan kita bisa bekerja sama untuk ditahun terakhir ini, ya! Fighting! 🤗


PLUK!


Dio menjatuhkan ponselnya.


“Kenapa, lo?” tanya Revan. Tidak ada sahutan. Dio terlihat shock hingga tak mampu berkata-kata.


Elgan penasaran dengan notifikasi whatsapp. Ia membuka aplikasi whatsapp-nya. Setelah paham apa yang terjadi. Ia mengumpat dengan lirih. Menyebalkan sekali rasanya. Revan semakin dibuat heran dengan perilaku kedua temannya yang tak jelas berkata-kata.


“Apa sih? Lo juga kenapa, Gan?” mulut Revan komat kamit karena dihiraukan kedua temannya. Ahkhirnya ia pun memilih membuka whatsapp karena penasaran juga dengan notifikasinya yang terus menerus bermunculan.


“Demi naon ieu?! *****--hoax bukan sih?”


Grup kelas F geger. Karena pengumuman Bu Rinka yang tentunya membuat kelas F yang notabene-nya kelas paling bebas merasa dikebiri kebebasannya. Bagaimana tidak? Setelah beberapa bulan ini, mereka kurang bisa eksis dengan keonarannya karena Bu Rinka selalu dapat menaklukkan kelas F. Entah itu dengan mudah mendapatkan barang selundupan atau dapat dengan mudah memergoki anak-anak yang mabar alias mabal bareng-bareng.


Tapi tak disangka juga bakal diangkat sebagai wali kelas mengantikan Bu Asti yang harus berhenti selama setahun karena kecelakaan yang dialaminya. Tidak tahu deh bagaimana kedepannya jika Bu Rinka memang benar jadi wali kelas.


Revann


Jangan hoax lu ajig


BenoJr


(2)


Feri


(3)


DioKeyyen


(6)


MarVen


(10)


SetraBukanSetan


(10000+++)


+62813xxxx


Jaga ucapan kalian …


+62813xxxx


Send a photo


Maka terputuslah semua keraguan penghuni kelas F ketika Bu Rinka mengirmkan isi kesepakatan antara dirinya, Bu Asti dengan Kepala Sekolah. Inti dari kesepakatan itu tidak lain ialah menyerahkan kelas F pada pengaturan Bu Rinka sepenuhnya. Artinya Bu Rinka berhak melakukan apa saja pada kelas F tanpa menunggu persetujuan kepala sekolah.


Melihat itu, Revan segera menghapus pesannya diikuti dengan yang lainnya. (******)


+62813xxxxx


Besok ibu akan memperkenalkan diri secara resmi. Jadi jangan berpikir untuk tidak masuk kelas. Awas saja kalau pada bolos …


*************


Jadi disinilah mereka. Niat hati ingin bolos karena malas untuk kesekolah—apalagi sekarang Bu Rinka menjadi wali kelas mereka. Hanya saja, entah punya kekuatan cenayang darimana, Bu Rinka dengan mudah menemukan persembunyian mereka. Hmm … tidak bisa diremehkan memang.


Tadi pagi saja, Bu Rinka tahu di warung mana anak-anak kelas F bersembunyi. Pasalnya anak-anak bersepakat untuk tidak masuk kelas. Tapi tak disangka Bu Rinka lebih dulu datang dan malah mentraktir sarapan. Pada akhirnya mereka mau tidak mau ikut ke kelas.

__ADS_1


“Oke … Ibu tidak akan basa-basi. Tapi sekarang, suka tidak suka, mau tidak mau ibu sudah diberi tugas untuk menjadi wali kelas kalian. Jadi mohon kerja samanya sampai nanti kalian lulus dari sekolah ini. Mau lulus tidak?”


“Mauuuuu!” seru anak-anak. Kecuali Elgan yang tidak merespon sedikitpun.


“Siap untuk selalu hadir dan tidak buat onar?” tanya Bu Rinka lagi.


Hanya ada cicitan. Sebagian besar anak-anak hanya tersenyum lebar dan menggaruk tengkuk mereka. Hmm … sudah dipastikan mereka itu—ya gimana ya kalau biang onar.


“Kenapa? Ibu sudah melihat catatan kalian dari kelas 10. Terlalu banyak catatan merah. Hal itu yang akan menyulitkan kalian untuk lulus. Akademik dan sikap. Ibu tidak tahu harus bilang apa ketika melihat bagian itu. Jadi sepakat untuk selalu hadir dan tidak buat onar?”


Mereka nampak berpikir keras perihal jawaban yang harus diucapkan.


“1, 2, 3, karena tidak ada yang menjawab ibu anggap sepakat,” tandas Bu Rinka.


“Yahhhh kok gitu!” protes mereka. Bu Rinka hanya tertawa. Terkadang mereka harus diseperti itukan agar menurut.


“Ibu sengaja buat kita gak bisa milih, ya?” tanya Setra.


Bu Rinka tersenyum. “Syukurlah kalau kalian sadar. Mana mungkin ibu kasih pilihan kalau keadaanya sudah di ujung tanduk.”


“Kita itu penganut free time, Bu! Jangan di waktu-waktu begitulah .…”


“Sayangnya apapun itu, ada waktunya. Tidak ada yang terbebas dari waktu melainkan semua memiliki limit waktu. Contohnya umur kalian. Jadi, berapa lama lagi kalian akan main-main? Kalau satu detik yang kalian lewati sudah pasti mengurangi waktu kalian?”


Dio terkagum-kagum. “Wah … ibu siapanya Mario Teguh?”


PLETAK!


Marven—teman sebangkunya menjitak kepala Dio. Memang dasar Dio itu …


“Neneknya!” sergah Bu Rinka. Seketika itu tawa para siswa memenuhi ruangan itu.


“Oke. Sekian dari ibu—Elgan! Mau kemana kamu?”


Bu Rinka sedikit berteriak tak kala Elgan dengan santainya keluar kelas. Padahal kelas akan baru dimulai. Bu Rinka menghela napas kasar lalu mengikuti Elgan keluar.


“Jangan ada yang keluar kelas. Sebentar lagi guru bahasa inggris akan masuk.” Titah Bu Rinka. Revan, Dio dan Setra yang hendak menyusul Elgan harus rela kembali duduk.


********


Untuk pertama kalinya, Bu Rinka berteriak sekencang ini. Setelah sekian lama walaupun ia sedang jengkel dengan anak-anak yang melanggar, ia tak pernah berteriak sekencang ini.


“Ibu tidak tahu alasan yang mana sehingga kamu membenci Ibu. Entah itu Ibu yang selalu menghukum kamu atau Ibu yang terlalu banyak tahu tentang kamu, Elgan.” Ucapan Bu Rinka sukses membuat Elgan menghentikan langkahnya.


Elgan berbalik, “Urusi saja urusan ibu.”


“Kamu tahu orang seperti apa yang paling menyedihkan di dunia ini?”


Elgan tak menghiraukan.


“Orang yang tak bisa membuktikan diri. Jika kamu di abaikan, jika kamu dianggap remeh. Buktikan bahwa kamu layak untuk tidak diabaikan. Jangan jadi orang yang menyedihkan, Elgan.”


Hanya saja Elgan tetap memilih pergi.


Bu Rinka akhirnya berbalik ke kelas. Tapi baru saja beberapa langkah, terlihat Revan berlari-lari di koridor.


“Mau kemana kamu? Kelas akan segera dimulai. Lupa akan kesepakatan tadi?”


“Maaf ibu, saya harus pulang. Darurat,” ucapnya terburu-buru.


“Kalau bohong, uangmu hilang.”


“Kalau bohong, saya mati keselek pisang, Bu.” Tak mau menunggu balasan perkataan dari Bu Rinka, Revan langsung pergi begitu saja.


Bu Rinka hanya menggelengkan kepalanya. Memang untuk menghadapi kelas F butuh kesabaran. Saat sampai di ambang pintu, terlihat Kayla yang sedang mengamati seseorang.


“Kenapa Kayla? Mau bolos juga?”


“Ish … ibu ini su’udzon mulu ya …”


“Ya sudah masuk.”


“Iya- iya.”


*******

__ADS_1


Mata pelajaran kedua, gurunya berhalangan hadir. Siswa kelas F sangat antusias. Ada yang bisa pergi ke kantin atau kemana saja yang mereka inginkan. Hanya saja, satu hal yang tidak bisa mereka lakukan untuk saat ini. Apalagi kalau bolos sekolah? Ya … itu menjadi hal yang tidak memungkinkan setelah Bu Rinka hadir di sekolah ini, kecuali Bu Rinka sendiri yang mengizinkan atau yang melakukannya adalah siswa yang bernama Elgan. Jadi kalau ingin pergi, ya lebih baik tidak masuk sekolah sekalian karena apabila sudah di sekolah susah untuk keluar.


Dari sebagian besar yang memilih kegiatan unfaedah. Hanya Citra dang Ghea yang berniat mengisi waktu luang untuk ke perpustakaan. Ya, walaupun cuman baca novel setidaknya kegiatan mereka ada manfaatnya.


“Cit … lo harus baca novel yang waktu itu gue baca. Seru banget, Cit!” mata Ghea berbinar-binar.


“Iya, Ghe,” ucap Citra.


“Iya-iya aja, tahunya lo malah baca buku tentang masakan.” Ghea mencibir mengingat kebiasaan Citra yang membaca buku yang tidak ada menarik-nariknya. Iyalah kan tidak punya tangannya (Oke, skip it).


“Hehehehe ….”


“By the way tuh orang gak ke rumah lo lagi kan, Cit?” tanya Ghea. Ia khawatir apalagi kejadian waktu itu membuat ia suka mimpi buruk.


Citra menggeleng. “Alhamdulillah sih enggak. Ibu aku juga sekarang udah dapat kerjaan baru. Setidaknya ada buat bayar kontrakan. Oh, iya aku sekarang udah pindah kontrakan.”


“Baguslah. Lo emang harus pindah ke lingkungan yang lebih aman, Cit. Gue aja masih ngeri sama para dept collector itu. Mana luka gue sampai sekarang masih berbekas. Luka lo juga berbekas ya? Gede, ya? Luka lo kan lumayan parah.”


“Enggak apa-apa, Ghe.”


Citra memang satu diantara sekian orang yang memiliki kehidupan yang kurang beruntung. Rumahnya yang disita rentenir karena hutang ayahnya, kini ia dan ibunya harus sering pindah kontrakan untuk menghindari para penagih hutang. Hanya saja, kadang takdir mempertemukan Citra dengan para penagih hutang. Waktu itu saja tak sengaja bertemu ketika Citra sedang bersama Ghea. Alhasil Ghea terkena imbasnya karena penagih hutang itu menggunakkan kekerasan dalam menagih hutang.


“Sorry ya, Cit. Gue gak bisa bantu banyak.”


“Enggak apa-apa. Aku malah bersyukur kamu masih mau temenan sama aku.”


“Ish … siapa juga yang gak mau temenan sama lo. Lo ‘kan baik. Udahlah cepetan masuk.”


Citra dan Ghea masuk ke perpustakaan. Ia disambut Pak Dadang sebagai penjaga perpustakaan. Suasana perpustakan yang nyaman semakin menggugah Ghea untuk mengeksplor novel-novel yang terjajar rapi. Ditambah tidak terlalu banyak pengunjung karena masih jam pelajaran, membuat suasananya semakin pas saja.


“Eh si bangsoel. Gue kira dia beneran bolos. Tahunya malah tidur disini.” Beo Citra tak kala melihat Elgan dengan damainya tidur di meja paling belakang.


“Elgan?” cicit Citra.


“Udah, ayo kita kesana Cit. pokoknya lo harus baca.” Ghea menarik tangan Citra untuk segera mencari novel.


Tak berapa lama, mereka datang dengan setumpuk buku. Tentu saja Ghea dengan tumpukan novelnya. Sedangkan Citra lebih suka buku-buku tentang masakan atau yang berbau tumbuh-tumbuhan.


“Tuh kan bener … lo mah gitu, Cit. Malah bawa buku yang begituan. Apa asiknya coba?” protes Ghea. Ia duduk tepat di dua meja di depan Elgan. “Udah disini aja, Cit. Si Elgan sih! Meja itu kan favorit kita, ya.” Ucapnya seraya melirik meja paling belakang yang biasa dipakai dia dengan Citra.


“Iya, Ghe. Gak apa-apa.”


Akhirnya mereka pun larut dalam untaian-untaian kata yang dibaca. Ghea yang notabene nya pencinta dunia fiksi sejati tak bisa diam tak kala novel yang dibaca semakin mengarah ke klimaks. Sayangnya saat adegan puncak, ponsel Ghea berdering. Ia melirik sedikit untuk melihat siapa yang menelepon. Saat tahu siapa yang menelepon, sektika itu ia kelabakan.


BUK


PLUK.


Citra yang sedang menggeliat karena badannya pegal, tersenggol oleh Ghea yang tiba-tiba saja berdiri kelabakan. “Yah … pulpen aku jadinya jatuh, kenapa sih, Ghe?” sorot mata Citra terpaku dengan pulpennya yang menggelinding ke belakang.


Ghea nyengir, “Sorry, Cit. Sakit ya? Duh … gimana ya—anu gue ke toilet dulu. Kebelet.” Ghea akhirnya pergi begitu saja.


Citra merasa heran tapi ia tidak.ambil pusing. Akhirnya mau tidak mau Citra yang sudah merasakan zona kenyamanan, harus rela beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil pulpen yang menggelinding yang tahu-tahu sudah berada di meja belakangnya. Bahkan jika dilihat dengan baik sudah hampir mau masuk ke bawah meja yang ditempati Elgan.


“Aish … kenapa disitu, sih? Kan bingung ngambilnya.” Citra mengigit bibirnya. Bingung harus mengambil pulpen itu atau tidak. Kalau mengambil takut mengganggu Elgan yang sedang tidur. Malas sekali apabila dia melakukan kesalahan dan membuat ia berurusan dengan Elgan. Tapi, kalau tidak diambil, itu pulpen satu-satunya. Masih baru lagi. Sayang kalau tidak diambil.


Citra menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir kerumitan dikepalanya. Ia beranjak untuk mengambilnya pulpennya. Berhasil. Ia mengambil pulpen tanpa melakukan kesalahan. Buktinya Elgan tetap santai di alam mimpinya.


Setidaknya itu awal pemikirannya. Karena berikutnya, ketika ia hendak beranjak pergi, ia tidak bisa melangkah sedikitpun karena ada orang yang menarik bajunya.


“E—Elgan?” ucapnya terbata-bata.


“Jangan pergi. Temenin gue tidur.”


Tubuhnya menegang. Entah harus berbuat apa. Mau melangkah takut dicubit. Kalau diam saja, gak enak. Masa harus berdiri terus sih? Cangkeul.


“A—anu … El—”


“Jangan ngebantah.”


Mendengar itu, Citra kembali duduk. Ia duduk dengan tegap tak berani melakukan pergelakan apapun kecuali ia memegang pulpennya erat-erat. Elgan yang memerintah Citra tetap memejamkan matanya. Setelah itu, ia melepaskan tangannya lalu tersenyum miring. Rasanya mudah sekali membuat perempuan ini menurut padanya.


######


300720, Bdg.

__ADS_1


__ADS_2