
Sesibuk-sibuknya kelas F, pasti mereka tidak pernah serius. Buktinya walaupun suasananya toilet, mereka tetap bisa bercanda. Bau toilet jadi bahan candaan katanya itu parfum orang jomblo, tulisan macam vandalism diketawain katanya media sosial abadi—dan malah dibalas oleh mereka. Duh ampun. Sampai bercak kotoran—yang tak sengaja tak terbersihkan katanya itu mirip seni yang ratusan dollar harganya, wajib diabadikan. Lalu mereka dengan senangnya memfoto setiap bercak itu dan membagikan di grup kelas. Gak ngerti lagi. Sumpah.😱
Begitu pun dengan kelompok yang membersihkan mushola masih terdengar tuh teriakan-teriakan seorang Kayla yang adu mulut dengan Revan. Disuruh bersihin karpet malah ngadem dan bobo nyantai kayak di pantai. Disuruh misahin mukena dan sarung yang kotor malah main pocong-pocongan. 😔
Untungnya selalu ada warna putih diantara warna hitam dan selalu ada yang benar diantara yang salah. Benar begitu, bukan? Nah, yang kebagian di toilet cewek yang agak khusyu mengerjakan tugasnya. Bagian itu dikerjakan Citra dan Gheanza, yang harus berduet dengan Setra dan juga Shaina. Ini nih yang membuat sedikit rusuh. Setra yang selau caper dengan Shaina. Oh, iya satu lagi, Elgan juga.
Padahal Shaina itu kalem orangnya. Bahkan sedari pembagian tidak pernah berebut kekuasaan seperti yang lainnya. Ia tetap memilih kelompok kiri walaupun ia bisa dengan mudah mendepak siapa saja dengan keahlian bela dirinya. Kalau di pikir-pikir Shaina itu seperti Elgan versi cewek. Gak banyak bicara, dingin. Tapi mampu membuat semua orang terkesima. Bedanya jika Elgan dengan kekayaan orang tuanya yang melimpah sehingga ia dengan mudah terhindar dari masalah. Kalau Shaina dengan keahlian bela dirinya yang membuat orang terkesima.
Setra yang melihat Shaina sedang fokus dengan mengepel, seketika ada ide yang melipir di otaknya. Ia sengaja mengendap-ngendap di belakang Shaina. Hanya saja …
DUG.
“ANJAY PAHA AING!”
Shaina sudah tahu dan ia sengaja menusukkan ujung pegangan pel ke paha Setra. Gelak tawa terdengar dari yang lain. Shaina berbalik, “Makanya gak usah macam-macam. Bersyukur gak gue arahin ke yang lain.” Shaina pergi begitu saja.
“Woy! Tanggung jawab, Shai!”
Dio yang baru datang dari toilet sebelah mengangkat alisnya. Ia heran kenapa Setra meringis seraya memegang pahanya.
“Kenapa lo?” saat akan dijawab, Dio malah mengarah ke Elgan yang tak banyak bicara mengerjakan pekerjaanya. Otomatis Setra semakin misuh-misuh “Anjayyy … anak sultan bersihin toilet cewek. Porno ***** ih. Kade* pikiran lo gak usah kemana-mana.” (Kade \= awas)
“Ngomong lagi gue—” Elgan tidak melanjutkan perkataanya. Tapi ia mengangkat kain pel yang ada di tangannya. Dio meringis. Citra dan Ghea tertawa melihat Dio yang ketakutan. Setra yang mendekati mereka, masih meringis merasakan ngilu dipahanya.
“Gue keluar dulu. Gila tuh cewek!” rutuk Setra.
“Lo nya sih tipe-tipe tusukable,” sergah Dio.
“Keluar gak lo? Ganggu aja.” Elgan jengah dengan kedatangan Dio.
“Jadi lo gak mau ke luar? Bu Rinka lagi ngitung mundur. Waktunya udah habis, ***!”
Mendengar itu, Ghea dan Citra grasa-grusu melihat jam di ponsel mereka. Benar saja. Satu jam berlalu begitu cepat. Sontak saja mereka melemparkan segala peralatan kebersihan yang dipegangnya. Termasuk Elgan. Mereka berlari-lari menuju tempat kumpul.
“Tiga!”
“Dua!”
Citra masih di belakang sedangkan Ghea sudah berlari lebih dulu dengan Dio. Tak disangka Elgan menarik lengan Citra dan berlari. Suasana cukup rusuh karena banyak yang masih mengerjakan. Alhasil tidak ada yang sadar dengan apa yang dilakukan Elgan.
“Satu! Stop!” ucap Bu Rinka.
Napas Citra terengah-engah. Akhirnya ia bisa masuk barisan tepat waktu. “Makasih, Elgan,” ucapnya. Elgan menangkap Citra yang memegangi pergelangan tangan kirinya. Ada darah yang mengalir.
__ADS_1
“Kenapa lo?” tanya Elgan.
Citra menggeleng, “Engga apa-apa kok.” Padahal, lukanya kembali terbuka gara-gara tarikan lengan Elgan saat lari tadi. Intinya, nolong iya, nyakitin iya. Gak ngerti maunya apa. (Skip it).
Elgan berdecak. Ia mengeluarkan plester luka dari saku celananya dan memberikannya pada Citra. “Makasih, Elgan.”
Tak lama Ghea datang dan menepuk Citra. “Gue kira lo dimana, Cit. Eh kenapa lo? Luka lo berdarah lagi?” Ghea cemas.
“Gak apa-apa, Ghe. Ini ada plester kok.”
Ya begitulah, barisan masih rusuh walaupun Bu Rinka sudah mulai berbicara. Matahari semakin terik saja membuat mulut tidak bisa diam. Kayla yang kepanasan dari tadi mengomel membuat Revan jengah padahal dia berbaris dibagian yang lumayan teduh.
“Maju.,” ucap Revan pada teman yang di depannya.
“Kenapa, Van? Lo kesempitan?” tanyanya.
“Udah gak usah Tanya. Kedepanan dikit,” ucapnya seraya mendorong temannya kedepan. Alhasil temannya itu dapat membentengi sinar matahari yang mengarah pada Kayla.
Kayla yang merasakan perubahan suhu, langsung merilik kesebelahnya. “Nah gitu dong. Yang peka jadi cowok tuh.”
Kayla yang mulai merasakan kedamaian dari suhu yang panas harus terusik lagi gara-gara Setra yang menerobos barisan. “ Apa sih, lo!” sergah Kayla.
“Ish! Geser! Gue mau lewat,” ucap Setra.
Kayla memukul punggung Setra.
“Sakit! Gila lo, ya!” Setra mengelus punggung yang dipukul Kayla.
“Lo yang sakit! Gak bisa diem lo ya!” ucap Kayla.
“Makanya awas! Gue mau lewat,” Setra tetap kukuh.
Akhirnya lama kelamaan Kayla mengalah juga. Setra pun bisa melalui barisan padat itu dan berdiri disamping Shaina. Shaina hanya bisa mendelik saat Setra kembali mendekatinya. Ia tidak mengerti lagi harus berbuat seperti apa pada Setra agar menjauhi dirinya.
“Gue mau minta tanggung jawab,” ucap Setra yang membuat Shaina ingin menendangnya saat itu juga.
“Gak denger. Sana lo pergi.”
Bukannya pergi, Setra malah memiting leher Shaina dan mengunci di ketiaknya.
“Setra! Lepasin, gak?” teriak Shaina.
“SETRA!” teriak Shaina lebih keras lagi. Otomatis Bu Rinka sadar dengan keributan yang dilakukan Setra.
__ADS_1
“Itu yang ribut mau Ibu tambah hukumannya?”
Seketika itu, Setra langsung melepaskan Shaina. Suasana mulia tenang. Hanya tak berapa lama kembali riuh karena kedatangan orang yang membawa donat dan minuman dingin.
“Whoa!!! Ini buat kita, Bu?” Dio antusias ketika Bu Rinka mengiyakan.
“Ibu tahu kalian pasti lapar dan haus. Bagikan ke teman-temannya,” ucap Bu Rinka.
Secepat kilat tumpukan donat dan minuman dingin itu beralih ketangan siswa. Beberapa kali, mereka melempar pujian pada Bu Rinka karena baru pertama kali setelah di hukum dapat makanan gratis. Bu Rinka hanya tersenyum.
“Kalau kayak gini terus, gak apa-apa di hukum terus!” seru Dio yang di setujui yang lain.
DUK.
“Siapa sih ini yang rese!”
Ada yang menendang Dio. Otomatis dia berbalik ke belakang. Tapi tidak ada yang mencurigakan. Temannya yang di belakang hanya menaikkan alisnya tanda ia tak tahu apa-apa. Ia melirik ke samping kanan. Ia mendapati Ghea. Hmm … sudah dipastikan.
“Kenapa?” ucap Ghea nyolot.
Dio tidak menjawab. Ia merogoh ponselnya dan mengetik pesan dengan cepat. Tak berapa lama ponsel Ghea bergetar. Ia membuka ponselnya. Ada sebuah pesan masuk.
From : Mr. X
Jangan marah dong … <3 <3 <3
Ujung bibir Ghea tertarik karena membaca pesan tersebut.
“Oke. Silakan kalian makan. Tentunya gak sambil berdiri. Silakan duduk di area yang teduh. Asal jangan ada yang kabur. Awas saja kalau ada yang kabur karena hukuman kalian belum beres. Dan juga jangan berterima kasih ke Ibu toh makanan itu ibu dapat dari hasil penukaran barang sitaan dari kelas kalian.” Bu Rinka tersenyum bangga.
Tiba-tiba mereka tersedak. Kemudian rasa hambar merayapi lidah mereka. Kayla bahkan misuh-misuh karena banyak alat make up dia yang disita. Mana mahal lagi.
“Setidaknya barang kalian tidak terbuang percuma, bukan?” jelas Bu Rinka.
“Langsung saja untuk hukuman selanjutnya kalian sholat dhuha. Ibu akan absen satu persatu jadi jangan pikir kalau kalian bisa kabur. Awas saja kalau kabur.”
Mereka pucat.
Sejak kapan kelas F suka sholat?
####
300720, Bdg.
__ADS_1