
Guru BK baru itu bersidekap. Ia memandang barang sitaan yang sungguh membuat ia tidak habis pikir. Mulai dari seperangkat alat rias wajah yang sudah seperti kepunyaan para MUA, sampai rokok dan pemantiknya. Ah, bahkan ditemukan satu boks plester luka yang masih tersegel, entah untuk apa. Belum lagi hampir semua siswa kelas XII-F ini tidak memakai seragam yang dianjurkan sekolah.
“Kalian tahu apa saja hal-hal yang tidak boleh dilakukan di sekolah ini, bukan?”
“Rambut gondrong atau diwarnai,” ucap Guru BK itu yang diketahui bernama Rinka. Tangannya menyentuh rambut gondrong milik Feri yang duduk di seberang meja Kayla—yang hari ini ketahuan rambutnya di warnai. “Tidak boleh juga, seragam kekecilan apalagi celana potongan pensil.”
Revan pura-pura melihat kearah lain tak kala Bu Rinka membahas mengenai celana berpotongan pensil. “Kalian juga diwajibkan menggunakkan pin nama. Tapi ini semuanya tidak ada yang menggunakkan pin nama satu pun.”
Bu Rinka berjalan ke arah belakang. Lebih tepatnya ke arah lemari tempat plakat atau penghargaan kelas yang berubah fungsi menjadi tempat bola dan kaos kotor. Dio yang melihat Bu Rinka membuka lemari itu mulai menepuk jidat. Ia curi-curi pandang dengan Elgan dan Revan yang berada di belakangnya.
SRAP
Bu Rinka mendapati sebuah bungkus rokok ada di atas lemari itu. Ia segera berbalik dan berjalan ke depan kelas. Ia melempar rokok yang baru saja ia dapati bersama rokok-rokok lain. “Apalagi bawa make up sama rokok. Ayolah ... kalian itu pelajar. Harusnya bawa barang-barang wajar ke sekolah.”
Tidak ada yang ingin menyahuti ucapan Bu Rinka. Walaupun guru itu tak marah-marah seperti guru BK sebelumnya dan guru lainnya yang selalu memarahi kelas mereka. Bu Rinka menyobek boks plester. Elgan terkesiap.
“Kenapa Elgan? Sepertinya kamu tidak suka?” nyatanya Bu Rinka itu sangat peka.
“Itu bukannya barang wajar?” ucap Elgan.
“Apakah menurut kamu seperti itu?” tanya Bu Rinka. Tangannya malah semakin merusak boks plester. “Nih ibu kembalikan. Minta saja dua untuk temanmu yang luka itu.” Akhirnya boks plester itu ia taruh dihadapan Elgan. Dua plester yang berada ditanganya, ia berikan pada Ghea dan Citra.
“Pakai.”
“Maksud Ibu?” tanya Citra.
“Tangan kalian pada luka ‘kan? Pakai. Nanti infeksi.”
“Makasih Bu,” ucap Ghea. Sedangkan Citra hanya mengganguk saja.
Bu Rinka mengedarkan pandangannya. “Pelanggaran hari ini terlalu banyak dan berat. Hanya ada dua pilihan. Pertama, kasus ini dilaporkan ke kepala sekolah yang tentunya beberapa dari kalian yang kedapatan membawa rokok akan di skors. Atau ibu sendiri yang akan menghukum. Tapi, ibu akan sama ratakan hukumannya baik yang kedapatan rokok ataupun yang hanya melanggar hal kecil saja. Bagaimana?”
“Pilihan pertama, Bu!” ucap yang perempuan.
“PILIHAN KEDUA BU!” ucap yang laki-laki.
Bu Rinka tersenyum. “Oke. Karena suara yang memilih pilihan kedua lebih banyak. Jadi, untuk yang perempuan mau tidak mau harus mengikuti suara terbanyak. Sekarang, kalian ikuti Ibu.”
“Kemana, Bu?” tanya Dio.
“Ikuti saja dulu. Nanti kalian juga tahu.”
__ADS_1
Beberapa siswa kelas F ini tersenyum sumringah. Ya, di depan mereka adalah toilet. Tidak. Kalian tidak salah baca. Mereka sudah bisa menebak, paling hukumannya bersihin toilet. Ini lebih baik daripada harus dilaporkan ke kepala sekolah yang berujung kerumitan.
“Jadi kita harus bersihin toilet, Bu?” tanya Kayla. Nampaknya Kayla ‘lah yang sangat keberatan.
“Ya. Tapi tidak hanya toilet. Mushola juga.”
“Oke! Tidak apa-apa, Bu,” teriak Dio.
Dug.
Dio berjengit karena ada yang menendangnya. “Siapa yang berani nendang gue?!” teriaknya seraya berbalik kebelakang dan didapatinya Citra dan Gheanza di belakangnya. Tidak mungkin mereka kan? Melihat Dio memandanginya, ia menaikkan alisnya, “Apa?” Dio meneguk salivanya dan beralih pada siswa yang berada di samping Citra.
“Lo yang nendang gue, ya?”
“Apa sih lo! Gak jelas banget. Lihat kedepan, Bu Rinka ngeliatin lo dari tadi,” ucap siswa itu.
Benar saja. Bu Rinka memandanginya, “Bagaimaa sudah beres ngobrolnya?”
“Oh … sudah dong, Bu. Jadi kapan kita mulainya?”
Bu Rinka tidak menjawab. Ia segera berbicara mengenai peraturan untuk hukuman kali ini. “Sekarang kalian dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok untuk mushola dan kelompok untuk toilet. Ayo langsung saja di bagi sebelah kanan barisan untuk kelompok mushola dan di sebelah kiri untuk yang toilet.”
Seketika itu para penghuni kelas F mulai rusuh. Ada yang cepat-cepat berlari kesebelah kanan karena ingin menghindari membersihkan toilet. Kayla dan kedua temannya sudah berada di barisan kanan. Kemudian beberapa siswa lain termasuk Elgan disusul Citra dan Gheanza yang berhasil memasuki kawasan barisan kanan setelah melewati rintangan keabsurdan teman-temannya. Dio, Revan dan Setra masih bergumul dan saling berebut posisi di kelompok kanan.
“Gue!” Revan melangkah lebih maju tapi kerah bajunya di tarik Setra.
“Lo berdua—minggir. Gue duluan.” Setra yang mendekap Dio dan Revan di kedua ketiaknya, tertahan akibat gelitikan keduanya. Akhirnya Revan bisa terlepas dari Setra. Ia langsung melangkah seribu dan sampai di barisan kanan.
“Anjir … curang lo!” teriak Setra. Dio menggeliat dan langsung berlari ke arah Elgan.
“Stop. Waktunya habis.”
“Kok diwaktu sih?” protes Setra.
Bu Rinka menghembuskan napas, “Kalau tidak diwaktu kapan berhentinya? Kamu ke kelompok kiri cepat.” Setra hanya bisa pasrah menerima nasib.
“Setelah Ibu hitung, ternyata kelompok yang kiri masih kurang 5 orang. Otomatis dari kelompok kanan harus ada yang keluar. Ayo … Ibu hitung sampai lima. Kalau tidak ada yang mau, Ibu tambah hukumannya,” tandas Bu Rinka.
Perhitungan berjalan, suasana kembali rusuh. Mereka saling menjerumuskan. Hanya Elgan yang tetap tenang karena memang tidak ada yang berani menyentuhnya. Revan dan Dio kembali saling mendorong untuk mempertahankan posisinya. Ah, selalu saja … jika mengenai posisi, manusia itu cenderung agresif. Benar begitu, bukan?
Kayla tiba-tiba terjatuh. “KAYLA!”
Citra yang berada disebelahnya kaget. Ia langsung saja mendekati Kayla yang terjatuh.
__ADS_1
“Kamu gak apa-apa?” tanya Citra.
Kayla tidak langsung menjawab. Ia malah berdiri dan berkata, “Nah lhoo … lo udah keluar dari garis kekuasaan. Maaf, tapi lo harus keluar dari kelompok kita.” Ucapan Kayla sukses menyulut emosi Gheanza.
“Eh, maksud lo apa? Kok main curang?” Gheanza menatap Kayla tidak suka.
“Daripada gak ada yang mau terus kita hukumannya nambah? Gak apa-apa 'kan Cit?”
“Gak apa-apa mata lo minus! Gak gini juga caranya!” Ghea berteriak.
“Lo tuh marah-marah terus ya Ghe … Citra aja biasa-biasa aja,” ucap Kayla santai.
Yola mengangguk tanda membenarkan ucapan Kayla, “Iya. Kenapa sih lo sensi amat.”
“Gimana, Cit? Lo mau kan?” tanya Diana to the point. Ghea melotot mendengar pertanyaan itu. Tak sadar Ghea sudah ingin melabrak Kayla dan teman-temannya. Hanya saja, Citra menahannya.
“Udah, Ghe. Aku kesana aja. Gak apa-apa.”
“Gue ikut!” seru Ghea.
“Semangat Citra!” ucap Kayla.
“Lima! Stop.” Seru Bu Rinka. Tapi tetap saja dikelompok kiri masih kurang satu orang. “Ini masih kurang satu. Bagaimana ini apa Ibu tambah saja hukumannya?”
Tiba-tiba saja. Tidak ada angin atau pun gledek bahkan awan colomunimbus juga tidak ada. Elgan berjalan ke arah kelompok kiri. Semua takjub melihat itu. Apa Elgan kerasukan?
Bu Rinka hanya mengangguk-ngangguk ketika melihat Elgan dengan sukarela masuk ke golongan kiri. “Oke. Kelompok kiri sudah jelas apa saja yang harus dilakukan ‘kan?” Kelompok kiri merespon posistif.
“Nah sekarang untuk kelompok kanan, kalian tidak hanya membersihkan lantainya saja, tapi bersihkan karpetnya juga, bersihkan kacanya dan pisahkan sarung dan mukena kotor. Semuanya harus bersih dan kinclong. Kalau asal-asalan awas saja. Terakhir, Ibu kasih kalian waktu 1 jam untuk pengerjaannya dan harus beres. Kalau lebih, ada hukuman selanjutnya.”
“Kok gitu sih, Bu?” protes Kayla.
“Bukankah kita sudah sepakat kalau pilihan kedua itu semuanya Ibu atur? Lagian kalau tidak diwaktu, kalian nantinya akan main-main, bukan?”
Benar juga.
“Oke. Dimulai dari … sekarang!”
Seketika itu mereka bergegas melakukan tugasnya masing-masing.
######
300720
__ADS_1