IF CLASS

IF CLASS
CHAPTER 14: REZEKI NOMPLOK (I)


__ADS_3

Dio berjalan kesana kemari. Pikirannya masih berusaha mencari cara untuk melunasi SPP sekolahnya. Ini sudah telat 2 bulan. Surat peringatan sudah ada ditangan. Gini nih kalau belaga kayak punya uang. Ujung-ujungnya sulit sendiri. Dio mengacak rambutnya. Ia merasa kesal sendiri. Ia menoleh ke arah play station yang baru dibelinya 3 bulan lalu.


“Gue jual aja kali yak? Tapi—“ gumam Dio dengan nada lirih. Ia merasa tidak rela menjual play station yang ia beli dengan uang sendiri. Apalagi hampir satu tahun ia mengumpulkan uangnya.


Dio menghembuskan napas dengan keras. Ibunya yang tak sengaja melewati kamar Dio, heran. “Kamu kenapa Dio?” Dio terkejut. Ia segera membalikkan badannya dan menyembunyikan surat pemberitahuan tunggakkan SPP itu.


“Kenapa, Bun?” tanyanya.


Bunda Hanan menghela napas, “Ditanya kok malah balik tanya?” ucapnya seraya masuk ke kamar Dio. Dio menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Gak apa-apa kok, Bun.” Merasa tidak yakin dengan jawaban Dio, Bunda Hanan menaikkan alisnya.


“Jangan ada dusta diantara kita.”


Dio berdecak, “Bunda gak percaya sama anak sendiri?”


“Iya-iya deh. Kamu udah sholat magrib belum?” tanya Bunda Hanan. Dio yang mendengar hal itu malah memperlihatkan giginya. Bunda Hanan tahu apa arti ekspresi itu. Ia membelalakkan mata, “Kamu tuh ya! Ini udah jam setengah tujuh! Masa belum sholat magrib juga! Mau Bunda jewer?” Bunda Hanan mendekati Dio. Tapi Dio langsung terbirit-birit masuk kedalam kamar mandi.


“Iya-iya! Dio sholat sekarang,” ucap Dio seraya mempercepat langkahnya masuk ke kamar mandi.


“Awas kalau enggak sholat lagi! Bunda potong uang saku kamu!”


“Jangan dong, Bun!” teriak Dio di kamar mandi.


“Makanya sholat!” tandas Bunda Hanan. Lalu ia pergi dari kamar Dio. Tak berapa lama Dio keluar dari kamar mandi setelah selesai beruwdhu. Ia pun sholat magrib.



Dio menelungkupkan wajahnya. Disaat jam istirahat telah tiba, dia malah berdiam diri. Tidak seperti biasanya yang selalu paling dulu untuk keluar kelas . Elgan dan Revan yang melihat itu saling melempar tatapan heran. Setra yang datang dari arah belakang pun, merasa terkejut dengan tingkah laku Dio itu.


“Eh bangsoel, bangun lo!” ucap Setra seraya menggoyangkan bahunya.


Dio bangun dengan malas, “apa sih! Gue mau tidur juga.”


“Tumben amat. Lo gak akan ke kantin?” tanya Revan. Dio tidak menjawab. Lalu Revan mengalihkan pandangannya pada Elgan, “kenapa dia, Gan? Sakit kah?” Elgan mengedikkan bahu. Sesaat kemudian, bahu Elgan sudah diperangkap oleh Setra.


“Dah lah … ke kantin yuk, Gan. Gue laper. Traktir okay?”


Elgan menatap tajam, “Traktir pala lu! Emang gue dompet berjalan lo apa?”


“Ya emang bukan. Tapi lo atm berjalan gue, wahai anak sultan!” Setra terkehkeh. Sedangkan Elgan memutar bola matanya.


“Gak akan ikut ke kantin?” tanya Elgan memastikan.


Dio menggeleng pelan, “gak. Gue ngantuk.”


Setra berdecak, “Lo kalau ada masalah, ya cari jalan keluar lah! Jangan ngambek-ngambek kayak gini.”


“Lo gak akan pernah tahu kerumitan hidup rakyat missqueen kayak gue,” ucap Dio.


“Laki itu pantang menyerah sama keadaan, sob!” balas Setra.


Dio menatap Setra, “Jadi Mario Teguh sono!”

__ADS_1


Setra tertawa lalu menarik Elgan keluar kelas. Sedangkan Revan masih anteng duduk disamping Dio. “Lo kalau ada masalah jangan sungkan cerita sama gue.”


Mendengar itu, Dio merasa terkejut. Ia bergidik. Pasalnya suara Revan halus banget tidak seperti biasanya. “Lo gak homo kan, Van?” tanya Dio yang dihadiahi sebuah tendangan kecil di tulang keringnya.


DUK


“Eh *****! Sakit, ****!”


“Makanya kalau dibaikin jangan ngelunjak!” sergah Revan. Dio lega ketika mendengar suara Revan yang seperti biasanya.


Kayla yang sedari tadi ada dimejanya, tertawa karena melihat tingkah laku Dio dan Revan itu. Revan melirik kebelakang, seketika itu Kayla berhenti tertawa. Ia menatap malas pada Revan, “Kenapa lo lihat-lihat?” sergah Kayla.


Disemprot seperti itu, Revan gatal ingin membalas. “Gue punya mata tuh.”


“Ya mata lo dikondisiin dong!” Kayla tak mau kalah. Ia beranjak dari kursinya.


“Heh! Mata gue dari lahir udah ditempatnya ya!” Revan juga beranjak dari kursinya.


“Halah! Sekali mata keranjang ya mata keranjang!” suara Kayla semakin meninggi.


“Maksud lo apa, hah? Sok cantik amat hidup lo!” suara Revan juga meninggi. Kayla sudah berdiri di depan Revan memblokirnya untuk tidak keluar dari meja Dio. Untungnya hanya ada mereka bertiga di kelas itu. Setidaknya tidak ada orang yang mengompori pertengkaran Revan dan Kayla kali ini.


Dio memijit pelipisnya. Merasa pusing dengan Revan dan Kayla yang kalau bertemu pasti saja bertengkar. Gak negrti lagi deh sama mereka. Pertengkaran itu semakin panas, Dio takut kalau mereka kelepasan saling lempar-lempar kursi.


Akhirnya Dio beranjak dari kursinya, berniat melerai pertengkaran dan membawa Revan keluar kelas. Hanya saja kepala Dio masih pusing. Itu kenapa dia tidak mau ke kantin dan memilih tidur di kelas. Alhasil, saat beranjak dari kursinya dan mendekati Revan, ia tersandung dan menubruk Revan yang posisinya sedang berhadapan dengan Kayla.


Bugh!


Sat!


GEDEBRUK!


Dio jatuh tersungkur ke lantai. Mejanya bergeser sedikit jauh kedepan. Sedangkan Revan berhasil menyelamatkan Kayla yang hampir terjatuh dan mengenai kursi dibelakangnya. Tangan kanan Revan menumpu pada salah satu kursi untuk dapat mempertahankan posisinya agar tidak jatuh juga. Karena akan lebih bermasalah lagi kalau seandainya dia jatuh dengan posisi Kayla yang berada di bawahnya. Kayla mengerjapkan matanya. Ia merasa terkejut dengan apa yang menimpanya.


“Astagfirullahaladzim…”


Ucap Citra dan Ghea yang baru saja masuk kelas. Mereka terkejut melihat Dio yang tersungkur dilantai ditambah mereka pun melihat Revan dan Kayla yang posisinya sangat dekat.


Mendengar itu, Kayla melepaskan pelukan Dio. Kemudian kembali ke mejanya. Ah, sial! Jantungnya terus berdegup kencang!


Dio berusahan bangkit. Ghea menghampiri Dio. “Lo gak apa-apa?” Dio menggeleng.


Revan menghampiri Dio juga, “Sorry, gue gak sengaja.”


Dio menatap tajam, “Bang*at banget lo jadi temen!” Dio marah. Ia mendekat ke arah Revan dan memukul gemas. “Ya kan gue udah minta maaf! Aduh!” Revan meringis ketika Dio menendang tulang keringnya.


Ghea tertawa seraya menggelengkan kepala. Begitupun Citra yang berdiri di belakang Ghea. Tertawanya sangat renyah. Hingga tak sadar ada orang yang sudah berdiri disampingnya.


Citra berjengit, “E—Elgan?”


Elgan menaikkan alisnya lalu pergi ke mejanya. Kemudian Bu Rinka dan beserta siswa lain masuk. Citra heran karena jam istirahat masih 20 menit lagi. Tapi, hampir semua siswa masuk ke kelas.

__ADS_1


“Ayok duduk dulu! Kabari juga teman-teman yang lain yang masih di kantin atau di luar kelas. Ada yang harus ibu sampaikan,” ucap Bu Rinka. Ia langsung duduk dimejanya dengan menaruh lembaran kertas putih yang dibawanya.


Tak berapa lama, semua siswa sudah masuk semua. Ya, akhir-akhir ini kelas F jadi sering lengkap. Jarang ada yang bolos ditengah-tengah. Tapi kalau tidak masuk dari pagi masih banyak. Walaupun seperti itu, kemajuan besar bagi kelas F bisa seperti ini.


“Oke Ibu mulai ya … Assalamaualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.”


“Waaalaikumsalam warrahmatullahi wabaraktuh,” ucap anak-anak.


“Ibu akan mengumumkan sesuatu pada kalian. Mungkin ini akan jadi kabar baik untuk kalian.”


Anak-anak bergemuruh. Mereka antusias dengan pengumuman yang akan disampaikan oleh Bu Rinka.


“Tapi kalian harus janji satu hal,” lanjut Bu Rinka.


Setra mencebikkan bibirnya, “Gak bener nih kalau ada syarat-syaratnya.”


“Sayaratnya gampang kok. Pastikan kalian tidak memberitahukan pada orang lain. Cukup kalian dan orang tua kalian saja yang tahu,” ucap Bu Rinka penuh penekanan.


Ana-anak semakin penasaran karena syarat yang diajukan oleh Bu Rinka.


“Emang pengumumannya apa, Bu?” tanya Revan.


Bu Rinka tidak langsung menjawab. Ia mengedarkan pandangannya ke seisi kelas. Hal itu semakin membuat anak-anak kelas F penasaran.


“Aduh Bu, pengumumannya apa ya? Saya lagi gak sehat nih, Bu! Lagi gak bisa diajak bercanda!” sahut Dio.


“Ibu juga lagi gak ngajak kamu bercanda kok,” balas Bu Rinka. Jhonny—teman sebangku Dio—menyenggol Dio agar dia diam saja.


“Ada donatur yang bayarin SPP kalian sampai lunas,” ucap Bu Rinka dengan nada tegas dan cepat. Tapi, cukup jelas untuk dicerna anak-anak. Sontak saja mereka terkejut semua.


Dio membelalak, “Apa bu? Maksud ibu kita semua disini dibayari SPP sampai lunas?” ulang Dio. Ia masih tidak percaya. Coba bilang kalau pendengarannya yang terganggu.


Bu Rinka mengangguk. Seketika itu, seisi kelas bergemuruh dengan ucapan syukur mereka. Bahkan ada yang sampai sujud syukur beneran.


“Alhamdulillah!”


“Yes! Gue bisa sekolah dengan tenang!”


“Allohu akbar! Nikmat mana lagi yang engkau dustakan!”


“Semoga panjang umur, dibanyakin rezekinya buat donatur itu!”


“Semoga dikasih jodoh cepat-cepat buat yang ngasih!"


“Semoga terhindar dari panasnya api neraka!”


“Semoga dijauhkan dari segala serangan negara api!”


Elgan berjengit tak kala mendengar doa-doa yang semakin ngawur dari teman-temannya itu. Bu Rinka yang mendengar itu, hanya bisa tertawa. Ia pun membagikan surat tanda lunas pembayaran ke setiap siswa. Lain dari anak-anak yang antusias karena SPP nya lunas, Setra hanya terdiam melihat surat yang diberikan Bu Rinka. Ia tidak banyak bicara, hanya sesekali menggelengkan kepalanya. Setra menatap Elgan. Pandangan mereka sebenarnya betermu tapi Elgan segera mengalihkan padangannya ke arah lain. Seakan-akan tidak melihat tatapan Setra.


########

__ADS_1


310720, Bdg.


__ADS_2