
Hari senin yang menyebalkan.
Itulah yang terlintas dari pikiran seorang Ghea.
Bagaimana tidak? Setra yang terus-terusan meledeknya dengan tatapannya itu membuat ia risih. Semua ini gara-gara hari Sabtu itu. Kencan yang tidak disengaja menjadi acara reuni. Hah kencan? Bagaimana itu bisa disebut kencan kalau Dio pun sampai saat ini, belum menyatakan cinta padanya. Ghea pun sudah lupa bagaimana mereka bisa dekat. Dia dan Dio mengalir begitu saja sejak awal masuk kelas tiga. Entahlah, tapi ketika dekat Dio ia merasa aman dan nyaman.
“Ghe …,” panggil Citra.
“Apa?”
“Kamu ada apa sama Setra?” tanya Citra. Ia merasa aneh juga dengan Setra yang tiba-tiba menyapa Ghea, merangkul Ghea seperti sudah akrab sebelumnya. Padahal Citra yakin, sebelumnya Ghea dan Setra hanya biasa aja.
“Gak ada apa-apa, Cit. Udah jangan dipikirin. Setra kan emang sok kenal sok dekat orangnya. Ke Shaina aja gitu.”
Citra mengangguk. Ia kembali membaca bukunya. Setelah itu, nampak Ghea sedang membuka ponselnya setelah sebelumnya ponselnya itu bergetar. Citra yang teralihkan fokusnya karena hal itu, merasa ingin tahu juga. Pasalnya ada beberapa hal yang ia ingin tanyakan pada Ghea. Tapi, Citra memilih diam. Mungkin nanti Ghea sendiri yang akan bercerita.
Mr. X
Masih marah?
Mr. X
Coba lihat di bawah meja lo.
Sebenarnya malas untuk menanggapi Dio. Ia memang marah perihal hari sabtu itu dimana Dio pun tidak mengelak ketika ditanya perihal hubungan mereka. Dio sudah melanggar janji untuk tidak mengumumkan kedekatan mereka. Tapi ia penasaran juga apa yang telah disimpan Dio di bawah mejanya itu. Entahlah, semarah-marahnya dia kepada Dio, ia tidak bisa berdiaman lama-lama dengan Dio.
Ghea merogoh ke bawah mejanya itu. Setelah menemukan sesuatu, ia mengeluarkannya dari bawah meja itu. Ternyata, sebatang coklat.
“Coklat? Kapan kamu beli coklat?” tanya Citra polos. Tidak tahu saja kalau pertanyaan itu sukses membuat Ghea kikuk.
“Hah? Oh—ini? Ta—di sebelum berangkat, Cit. Kamu mau?” tawar Ghea.
Citra menggeleng, “Aku gak suka,” jawabnya.
Elgan yang sedang menulis mendadak berhenti ketika tak sengaja mendengar jawaban Citra itu. Ia menatap lama Citra. Hanya saja Citra tak sadar kalau sedang diperhatikan Elgan.
“Gan, gue mau ramal sesuatu nih,” sahut Revan tiba-tiba.
Elgan mengerutkan dahinya, “Apa?”
“Detik ini ada yang bakalan jatuh cinta.”
“Maksud lo, apa?” Elgan tidak mengerti dengan arah pembicaraan ini. Ia menegakkan tubuhnya, memijat tengkuknya yang pegal karena terus menunduk untuk menulis. Lalu ia meraih minuman botol yang bertengger di mejanya itu.
“Lo jatuh cinta sama Citra.”
UHUKK
Seketika itu, Elgan yang sedang minum langsung terbatuk. Sedangkan Revan tersenyum ke arah Elgan lalu menepuk bahu Elgan.
“Ban*sat,” rutuk Elgan disela-sela batuknya.
“Hush! Jangan ngomong kasar. Dosa,” ucap Revan yang membuat Elgan melotot.
******
Ghea sengaja keluar kelas lebih dulu saat bel jam pulang berbunyi. Ia masih ingin menghindari Dio dan kawan-kawannya. Terutama Setra yang terus menggoda dirinya. Ia jadi paham bagaimana Shaina yang kalem itu berubah jadi buas kalau dekat Setra. Emang anak itu bikin kesel sampai kedasar hati.
Saat berjalan diparkiran , dikejauhan ia melihat seorang wanita cantik. Mungkin salah satu orang tua murid siswa sini. Wanita itu mengedarkan pandangannya kesana-kemari. Seperti sedang mencari seseorang. Sesaat, Ghea terpesona dengan kecantikan wanita itu. Rambutnya yang pirang, wajahnya yang putih berseri, bajunya yang terlihat pas sekali ditubuhnya. Sepertinya sih bukan orang Indonesia.
Ghea sedikit terkejut tak kala wanita itu menghampirinya.
“Dek boleh tanya?” ucap wanita itu. Pikiran kalau wanita itu bukan orang Indonesia, gugur sudah setelah mendengar ucapannya yang sangat fasih.
“Y—ya? Bo-boleh kok, Bu.” Ghea jadi gugup.
Wanita itu tersenyum. Ia lega karena bisa bertanya, “tahu ruang kelas 12 dimana?”
“Oh, Ibu mencari ruang kelas 12? Ibu masuk saja kedalam, nanti ada bangunan yang paling besar, nah ruang kelas 12 ada di lantai 3.”
“Oh disana ya. Oke, terima kasih anak manis,” ucapnya seraya mengelus pipi Ghea. Sosoknya yang keibuan membuat Ghea ingat pada ibunya dirumah.
__ADS_1
“Mau saya antar, Bu?” tawar Ghea.
Wanita itu menggeleng, “Tidak usah. Saya bisa sendiri kok.” Bibirnya masih mencetak senyum untuk Ghea.
Ghea pun tersenyum. Tapi tiba-tiba ia disenggol seseorang, sehingga tubuhnya sedikit terhuyung kedepan. Untung saja wanita itu sigap mendekap Ghea agar tidak jatuh. Sweater abu yang ia sampirkan ditangan kanan, terjatuh.
“Eh sorry-sorry, Ghe. Gue gak sengaja beneran.”
Ghea memutar bola matanya saat tahu yang menabraknya adalah Setra. Laki-laki itu memang harus diberi pelajaran. Ghea melotot pada Setra. Tapi yang dipelototi malah senyam-senyum gak jelas.
Setra mengalihkan pandangannya pada wanita dihadapan Ghea. Ia tersenyum lalu meraih tangan wanita itu, “Eh ada Tante. Assalamualaikum, Tan. Mamahnya Ghea, ya?”
“Mau apa lo tanya-tanya. Gak penting banget. Sana pergi!” sembur Ghea. Ia kesal beneran sama Setra. Wanita itu tertawa melihat Setra yang diusir oleh Ghea. Mungkin anaknya akan tinggi seperi Setra, pikirnya. Selagi berdebat, wanita itu mengambil sweater Ghea yang terjatuh.
Tiba-tiba Shaina datang dan menghampiri Setra. Langsung saja ia menjewer Setra. Karena memang, sedari tadi Shania mencari-cari Setra. Ada urusan yang harus diselesaikan tanpa baik-baik saja dengan Setra.
“Oh … lo disini ya? Ikut gue!”
“Jangan dijewer dong, Shai! Malu!”
“Halah malu-malu! Lo tuh udah putus urat malunya! Permisi, Tan, Ghe. Saya pinjam Setranya dulu.”
Tanpa ampun, Shaina menyeret Setra yang terus meronta untuk dilepaskan. Lagi, wanita dihadapan Ghea itu tertawa. “Kalian lucu sekali,” ucapnya seraya menyerahkan sweater Ghea.
Ghea menerima sweaternya itu, “Aduh terimaksih Tan—Bu” Ghea meralat panggilannya. Wanita itu tertegun tak kala melihat bekas luka di tangan kanan Ghea yang telah memudar. Ia teringat akan sesautu di masa lalu.
“Bu?” panggil Ghea pada wanita itu yang terdiam.
“ Hah? Panggil Tante saja. Biar lebih akrab.”
“Hehe iya … Bu—Tan?”
Wanita itu tersenyum lagi, “Tante duluan ya …,” Ghea menggangguk. Lalu wanita itu pergi. Ghea pun melangkahkan kakinya. Ia mendekati sebuah mobil yang sudah siap mengantarnya pulang. Sebenarnya ada rasa bersalah yang Ghea rasakan karena mendiamkan Dio. Ia tahu sekali kalau Dio itu tidak suka kalau didiamkan seperti ini. Dio selalu mengajarkan untuk bicara sekesal apapun.
“Jalan Pak,” ucap Ghea pada supirnya. Lantas saja supirnya itu menghidupkan mobil. Sesaat setelah mobil Ghea berjalan, Dio berlari ingin menghampiri Ghea. Tapi sayang, usahanya sia-sia.
“GHEA!!!”
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Bu Rinka. Wanita berbalik. Ketika itu mereka sama-sama terkejut.
“Asri?”
“Rinka?”
Ucap mereka bersamaan.
********
Hujan masih mengguyur bumi. Hawa yang dibawanya semakin membuat dingin kulit manusia. Tapi dasar manusia, hawa dingin itu tidak menyurutkannya untuk membuat semarak dunia ini. Buktinya, saat hujan kendaraan masih menyesaki ruas-ruas jalan. Saat hujan, warung-warung pinggir jalan penuh dengan orang baik yang membeli ataupun sekedar numpang meneduh.
Dio memarkirkan motornya digarasi rumah. Ia melepaskan jas hujan yang dipakainya lalu masuk rumah. Saat memasuki rumah, aroma masakan Bunda tercium. Bunda ternyata sudah pulang. Tumben sekali, gumamnya dalam hati.
“Assalamualaikum,” ucapnya.
“Waalaikumsalam,” sahut Ayahnya. Dio berjengit, perasaan ini masih jam 4. Tapi kenapa Ayahnya sudah dirumah. Begitulah pikiran Dio.
“Eh Ayah udah pulang?” tanya Dio. Ayahnya hanya mengangguk. Dio meraih tangan Ayahnya itu lalu menciumnya. Ia melirik ke arah dapur, Bundanya itu tengah sibuk menyiapkan makanan. Salah satu kue yang bertoples itu berlabel Qu-kita. Setra menelan ludahnya.
“Mau ada siapa, Bun?” tanya Dio. Tangannya mencoba meraih kue Qu-kita itu. Hanya saja ditepis tangan Bundanya.
“Tamu. Ish tangan kamu kotor,” jawab Bunda.
Bibir Dio membentuk huruf ‘o’. Lalu ia mengambil kue itu dengan cepat dan pergi ke kamarnya. Tentunya, mana mungkin seorang Dio dapat melewatkan kue kesukaannya. Melihat itu, Bunda ingin mengumpat, hanya saja urung karena ia tahu akan sia-sia saja.
Tak berapa lama, Dio kembali ke ruang tamu dimana Ayah dan Bundanya berada. Sebelum menghampiri mereka, Dio merasa heran dengan raut wajah Ayah dan Bundanya yang terlihat serius membicarakan sesuatu.
Dio menghampiri mereka, “Eh mohon maaf Bosku.” Dio duduk diantara mereka berdua. Sengaja membuat mereka terpisah. Ayahnya berdecak karena perilaku Dio itu. Dari kecil tidak pernah berubah. Selalu dengan sengaja duduk ditengah-tengah mereka kalau lagi berduaan sepeti ini.
“Ck. Ganggu aja kalau orang tua lagi mesra-mesraan.”
“Eh mohon maaf Bosku, dilarang romantis-romatisan di depan anaknya. Nanti anaknya mau gimana hayo?” Dio terkehkeh melihat wajah Ayahnya yang masam. “Lagian mesra-mesraan tapi raut wajahnya serius banget. Aneh,” lanjut Dio.
__ADS_1
“Pandai sekali bicaramu Nak,” sahut Ayahnya.
“Iya dong. Kan diajarin sama Bosku.” Dio memang keseringan memanggil ayahnya itu dengan ‘Bosku’ karena Ayahnyalah yang paling mudah dimintain uang jajan.
“Di …,” panggil Bunda.
Dio menoleh, “Kenapa Bun?”
“Anu—itu …,” Bunda menggantungkan ucapannya. Ia malah melirik pada suaminya itu. Ayah Dio hanya menggaguk pada istrinya itu.
Bunda Dio menggigit bibir bawahnya. Ia tiba-tiba saja memeluk Dio. Dio semakin heran saja dengan Bundanya ini, “Kenapa sih Bun? Ada masalah apa? Cerita sama Dio.” Ucapnya seraya membalas pelukan Bundanya itu. Tubuh Bundanya itu bergetar, menandakan bahwa dia menangis. Dio merasakan juga usapan tangan Ayahnya dikepala. Dio semakin tidak mengerti dengan tingkah laku mereka.
Bel rumah bebrunyi. Bunda melepaskan pelukannya. “Kenapa sih, Bun?” tanya Dio lagi. Nadanya sudah terdengar gemas ingin dijawab.
“Buka pintunya dulu. Tamunya sudah datang.” Perintah Ayahnya. Nadanya terdengar serius. Sehingga Dio tak berani membantah. Dio beranjak lalu berjalan ke arah pintu. Ia membukanya. Nampak seorang wanita berambut pirang yang seumuran dengan Bundanya tersenyum. Tapi matanya berkaca-kaca entah karena kemasukan air hujan atau benar-benar terharu.
“Dio …,” panggil wanita itu.
Dio melangkah mundur. Raut wajahnya menegang. Ia tertawa dengan nada mengejek, “Hahaha ... tamunya spesial sekali, Bun!” Dio berbalik. Ia mengambil kunci motornya yang tegeletak diatas meja.
“Dio …,” panggil wanita itu. Ia hendak memeluk tapi ditepis oleh Dio. Dio menatap tidak suka.
Dio menoleh pada kedua orang tuanya, “kalau Ayah sama Bunda gak bisa nganggap aku anak lagi, bilang! Jangan gini caranya!” bentak Dio. Tatapannya menyiratkan kekecewaan.
“Dio! Mau kemana kamu?” teriak Ayahnya ketika Dio hendak pergi.
Wanita itu menyusul Dio, “Dio! Maafin Mamah! Mamah tahu Mamah yang salah Dio!”
Tapi pengakuan kesalahan itu tak juga membuat Dio tetap dirumah. Ia sudah kecewa. Ia tidak bisa berdiam di rumah untuk saat ini. Dio menaiki motornya, ia memakai helm. Saat hendak memasukkan kunci motor, tangannya dicekal.
“Ayah gak suka kalau kamu terus begini,” ucap Ayahnya.
Dio menatap tajam. Napasnya memburu, “Dio juga gak suka kalau Ayah terus maksa Dio buat ketemu sama wanita itu!” ucapnya penuh penekanan.
“Tapi dia itu ibu kamu!” bentak Ayahnya. Dio berjengit. Rasanya sakit hati sekali dibentak oleh Ayahnya ini. Dio tertawa hambar. Ia melepaskan cekalan tangannya.
“Dio kecewa sama Ayah.”
Dio pergi meninggalkan Ayahnya yang terdiam. Wanita itu menghampiri Dio. Ia kembali mencoba menyentuh Dio, tapi lagi-lagi Dio menepis.
“Jangan sentuh saya!” bentak Dio. Matanya menatap tajam pada wanita itu.
“Dio … maafin Mamah. Tolong …,”
Dio tak peduli. Ia terus saja berjalan. Rintik hujan mulai membasahi tubuhnya. Hawa dingin mulai merasuk ke dalam pori-pori kulitnya. Hanya saja, amarah yang ada dalam dirinya tetap panas. Dio tidak tahu harus bagaimana sekarang ketika Ayah dan Bundanya lagi seakan sudah tak menginginkannya lagi.
“Dio!”
Teriak seseorang memanggilnya. Tetap, Dio tidak peduli.
Hap!
Seseorang memeluknya.
“Jangan pergi, Nak. Maafin Bunda ….”
Seketika itu, tubuh Dio bergetar. Ia berbalik lalu memeluk Bundanya dengan erat. Seakan-akan tidak ada kesempatan lagi untuk memeluknya . Dio menangis. Ia menumpahkan segala kekecewaannya.
“Bun—da to—long jangan paksa Dio—lagi.”
Melihat Dio yang menangis seperti itu, wanita itu semakin merasa bersalah. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi. Rasa penyesalan dan kerinduan bercampur menjadi satu dan menimbulkan ketidaknyamanan yang menyesakkan dada. Ah, smeuanya sudah terlambat. Tak ada kesempatan lagi.
“Don’t cry honey. We can try next time. I believe your son will come to you soon.”
“No, Steve. I don’t wanna try again. Enough. Actually I haven’t chance to take his. He is really hate me.”
Laki-laki yang dipanggil Steve itu menghela nafas panjang. Ia meraih tubuh wanita yang di hadapannya lalu membawanya kedalam pelukan.
#####
310720, Bdg.
__ADS_1