
Bel pulang berbunyi. Siswa kelas F siap-siap untuk segera pulang. Hanya saja, mereka harus bertahan lebih lama lagi karena Bu Rinka tiba-tiba saja masuk. Elgan sedikit memalingkan muka ketika tak sengaja bertatapan dengan Bu Rinka. Hah! Sebenarnya egonya sedikit terluka karena pertandingan kemarin. Walaupun ia dapat mencetak poin, tapi poin Bu Rinka lebih jauh darinya. Menyebalkan sekali.
"Tunggu sebentar, anak-anak! Ada yang ingin Ibu beritahu."
Mereka duduk kembali.
"Mulai hari esok, Ibu akan selalu masuk 30 menit sebelum pembelajaran dimulai. Selama 30 menit kita kan berbincang mengenai kelas kita kita kedepannya. Jujur, ada banyak segi yang harus kalian perbaiki untuk dapat lulus."
"Maka dari itu, Ibu minta keseriusan kalian."
"Ibu minta diseriusin?" tanya Dio.
Bu Rinka mengangguk.
"Gak mau ah. Nanti jadi gosip."
Sontak saja yang lain tertawa mendengar jawaban Dio. Bu Rinka hanya bisa menatap tajam pada Dio.
"Iya-iya maaf, Bu Master!"
Bu Rinka menaikkan sebelah alisnya tak kala Dio memanggilnya dengan Bu Master. Ah, sejak pertandingan kemarin, Dio jadi menjulukinya Bu Master. Dasar ...
"Sudah-sudah. Yang kedua, kita perlu merombak kelas. Ibu gak suka lihatnya. Gak manusiawi."
"Yasudah. Ibu tinggal panggil aja OB, suruh beresin," sua Kayla.
"Big, no. Kita sendiri yang akan membereskannya. Ibu pikir hari ini lebih bagus," ucap Bu Rinka.
"APA?!"
***********
Akhirnya mereka hanya bisa menuruti kemauan Bu Rinka. Dalam sesaat, kelas F berjibaku dengan debu dan suadara-saudaranya. Gak ngerti juga kenapa tuh kotoran banyak sekali. Bu Rinka juga tak segan turun tangan untuk membantu para murid.
Bu Rinka menoleh pada Setra. Ia sengaja menciprat wajah Setra dengan air. "Jangan bengong. Kalau kesurupan Ibu gak mau tanggung jawab."
Setra mendelik, "Basah ih. Ibu mau tanggung jawab kalau tiba-tiba jerawat muncul. Itu air kotor, Bu!" sewot Setra.
'"Kayak anak perawan aja. Bantuin tuh temennya masa kamu malah bengong disini."
"Iya-iya saya nurut kali ini," Setra pun beranjak. Benar. Lebih baik dia nurut mengingat wali kelasnya itu jago berantem juga main basket. Duh, egonya terusik kalau mengingat-ngingat kejadian kemarin. Masa dia kalah? Selama ini ia belum pernah kalah kalau urusan basket!
Pekerjaan yang dikerjakan sama-sama memang akan cepat selesai. Beberapa siswa mulai membawa air untuk mengepel ruangan kelas. Salah satunya adalah Citra. Ia menjingjing air dan alat pel-lan. Tapi sebuah tangan merampas begitu saja. Ia ingin protes. Hanya saja urung, tak kala ia tahu yang merampasnya itu adalah Elgan.
"Maaf," ucapnya.
"Ngapain juga minta maaf!" sergah Elgan.
Citra terkesiap dengan nada tidak ramah dari Elgan. Kemarin saja minta ditemenin tidur. Sekarang? Malah ngambek gak jelas. Dasar lelaki, "Ya udah maaf."
Elgan meninggalkan Citra karena kesal. Ghea menepuk pundak Citra, "Kenapa dia?" Citra mengedikkan bahu.
"Kalau berantem ya baikan dong, Cit. Susah amat."
"Kemarin—gak kayak yang Ghea pikir. Aku jujur kok." Ghea hanya tertawa. Sejak kepergok bareng Elgan, Citra terus berkata seperti itu. Padahal iya sudah ingin melupakan kejadian waktu itu. Karena kalau dipikir-pikir, bak menggali lubang kubur sendiri. Kalau dia terus bertanya tentang Elgan saat itu, maka Citra pun akan bertanya kemana ia selama satu jam itu. Belum lagi, sebenarnya Citra sering tak sengaja melihat Dio dan Ghea. Hanya saja memang dasarnya Citra tuh manusia paling tidak peka. Ya susah.
Suara ponsel berdering sesaat memecah fokus mereka. Deringannya terlalu keras, tak lazim. "Bunyi hape lo bukan sih?" tanya Yola.
Kayla menggeleng. Toh ia memang tidak pernah menyeting ponselnya bersuara. Eh tunggu—sepertinya ia menyadari sesuatu. Ia merogoh sakunya. Ternyata benar memang dari ponselnya yang berdering.
Kayla tertawa, "Sorry kayaknya gue lupa setting hape gue." Ketika ia melihat nama diponselnya. Ia terkesiap.
"Gue ke toilet dulu ya," ucap Kayla pada temannya.
Sesampainya di toilet ia langsung menerima panggilan itu, "Iya halo."
"Kamu kemana saja? Kenapa hindari saya akhir-akhir ini." Nada ketus kentara terdengar ditelinganya.
"Iya-iya maaf. Aku lagi sekolah nih."
"Malam ini. Jangan lupa."
__ADS_1
"Sama yang lain dulu dong Om. Lagi sibuk nih mau ujian."
"Saya itu maunya kamu. Bukan yang lain."
Kayla berdecak. "Iya-iya."
"Jangan cemberut, dong. Oh iya, saya sudah transfer. Coba cek."
Kayla tersenyum. "Iya... " nadanya terdengar ramah kali ini.
"Urusan uang aja kamu cepet."
"Haruslah," ucap Kayla seraya tertawa.
"Yaudah. Sampai ketemu nanti malam."
TUT
Wajah Kayla sumringah. Ia keluar dari toilet. Ia terkejut ketika Revan sudah berdiri di depan pintu. Ekspresinya sangat datar. Kayla heran.
"Ngapain lo berdiri di depan pintu?" ketusnya.
Revan tidak menjawab. Ia hanya menatap Kayla.
"Apa sih, Van! Awas gue mau lewat."
Kayla menubruk Revan karena Revan tidak mau memberi jalan. Tepat sebelum Kayla melewatinya ia berbisik, "Murahan."
Tentu saja Kayla marah.
"Maksud lo, apa? Lo tuh—emang ya mulut lo itu harus dibersihin! Hati lo juga harus dibersihin! Perlu gue beli wipol biar kuman-kuman dihati lo itu hilang?"
"Lo yang harus bersih-bersih hati. Jangan main api sama cowok, Kay."
"Siapa juga yang main api!"
"Intinya gue udah peringatin elo," tandas Revan.
*****
Ruangan kelas F bak diganti baru. Semerbak sabun lantai memenuhi ruangan. Beberapa coretan telah dicat ulang. Lemari yang sudah kehilangan gagang pintunya, kini sudah perbaiki. Beberapa hiasan pun ikut mempercantik ruangan. Setidaknya, ruangan kelas F lebih manusiawi.
Beberapa orang asing masuk hingga menjadi pusat perhatian siswa kelas F.
"Bu Rinka, ya?"
"Ya, saya. Kiriman buat saya, ya?"
"Iya. Ini pesanan Ibu.” Laki-laki itu tersenyum ramah. Kemudian berbicara pada temannya. “Ayo simpan disini," ucapnya pada lelaki berkaus hitam itu.
"Terima kasih atas pesanannya."
"Terima kasih kembali."
"Wah ... beli apa tuh, Bu?"
"Oke. Sekarang Ibu akan bagikan kalian pin nama dan atribut lainnya. Cepat ganti dengan seragam putih abu kalian. Ibu kasih waktu 15 menit untuk siap-siap karena kita akan foto kelas."
"Ibu serius?" Ghea terkejut.
"Sejak kapan Ibu suka bohong?"
Kelas F bersorak sorai. Bu Rinka membagikan atribut baru itu. Secepat kilat mereka berbondong-bondong pergi ke toilet. Sedangkan Ghea sedikit memberengut.
"Kenapa Ghe?" tanya Bu Rinka.
"Plis deh, Bu! Kalau mau foto kelas, setidaknya gak sehabis kita olahraga dan bersih-bersih gini. Lihat nih rambutnya gak bagus."
Bu Rinka tersenyum. Ia memberikan sesuatu pada Ghea, "Pakai ini aja."
"Kerudung?" beo Ghea.
__ADS_1
Bu Rinka mengangguk, "Kenapa ada masalah?"
Ghea menggeleng, "Not bad."
Tangan Bu Rinka kembali merogoh di keresek hitam itu. Lalu ia membagikan kerudung itu pada siswi lainnya juga.
"Kenapa, Kay?" tanya Bu Rinka pada Kayla yang nampak tertegun dengan sehelai kain yang terbungkus itu.
"Kerudung ...," ucapnya menggantung.
"Oh itu, Ibu sengaja belikan kerudung juga buat yang perempuan. Rambut kalian gak bagus setelah olahraga dan bersih-bersih? Gak mungkin juga Ibu suruh kalian untuk keramas dulu? Lagian kalian juga sering gak pakai kerudung pas hari jumat! Udah besar juga susah amat pakai kerudung," Bu Rinka tertawa.
"Makasih ...," ucap Kayla. Tapi suaranya kecil hingga tak begitu terdengar jelas oleh Bu Rinka. Belum lagi kelas yang masih saja ramai padahal sebagian besar sudah keluar kelas.
"Hah? Kamu biacara apa, Kay?"
"Saya mau ke toilet dulu."
"Iyakah? Perasaan tadi terdengar pendek kalimatnya."
"Perasaan ibu kali."
"Iyakah?"
Kayla tidak menjawab. Ia pergi ke toilet.
*******
Kelas menjadi riuh. Mereka malah meledek satu sama lain karena berpenampilan tidak seperti biasanya. Belum lagi untuk para siswi yang memang sengaja disuruh pakai kerudung menjadi bahan bulan-bulanan yang lain.
Sebenarnya mereka terkesima sih ... nyatanya wanita itu cantik kalau pakai kerudung. Adem liatnya. Tak berapa lama, Bu Rinka meminta mereka kumpul semua. Siswa-siswa berkumpul membenrtuk formasi yang telah diarahkan oleh fotografer.
"Buat yang bagus ya, Mas!" seru Bu Rinka.
"Jangan lupa wajah saya nanti buat bright, ya!" seru Dio.
"Wajah buluk mah buluk aja kali. Jangan sok-soan mau dikinclongin," beo Setra.
"Sirik aja lu!"
Bu Rinka menatap horror. Dio dan Setra tutup mulut.
"Neng yang di ujung lebih baik disebelah Bu Rinka, ya. Biar lebih bagus formasinya." Shaina yang merasa dipanggil menunjuk dirinya sendiri, "Saya?"
Mas fotografer mengangguk. Mau tidak mau Shaina harus pindah tempat. Padahal ia mati-matian menghindari Setra yang selalu sukses membuat dirinya naik darah. Kalau harus duduk di sebelah Bu Rinka, itu artinya dibelakangnya Setra.
Shaina duduk. Setra kegirangan bukan main. "Wah ... gue deket master-master nih. Berasa tegang." Bu Rinka dan Shaina melirik tajam. Mereka tahu apa maksud panggilan master-master itu.
"Diem lo, Set! Gue keburu gerah nih. Ntar luntur make up tujuh lapis gue," protes Dio. Ghea yang berada di depannya hanya bisa tertawa. Ia menyenggol Citra yang sedari tadi diam saja.
"Kenapa lo, Cit? Tegang karena mau difoto?"
"Eng-gak kok," jawab Citra gugup. Ghea berdecak kini ia tahu yang membuatnya Citra diam saja seperti ini.
"Heh, Gan! Belakangan sono! Lo terlalu depan. Citra gak nyaman. Gak peka banget sih lo!" omel Ghea.
Elgan berdecak. "Eh. Enggak kok. Gak apa-apa," ucap Citra.
"Kalian diem dulu dong. Ini mau mulai difoto," tegur Bu Rinka.
"Oke ... tenang dulu, ya. Sekarang gaya formal. 1, 2, 3!"
CKREK
"Bagus. Sekarang gaya bebas. Terserah kalian mau gaya apa. 1, 2 ,3!"
CEKREK
Pada gaya bebas inilah kelas F kembali rusuh. Citra ekspersinya jadi tegang gara-gara tangan Elgan nemplok diatas kepalanya. Untung pakai kerudung. Dio dengan terang-terangan mencubit Ghea hingga senyumnya lebar sekali. Setra yang bandel berusaha memeluk Shaina. Hanya saja keburu telinganya dijewer oleh Shania. Alhasil ekspresi yang tertangkap oleh kamera adalah wajah kesakitannya. Yang paling normal sih posenya Kayla sama Revan. Emang dah ... dua siswa itu paling cekreable diantara yang lain.
######
__ADS_1
310720, Bdg.