IF CLASS

IF CLASS
CHAPTER 5 : PENYERANGAN


__ADS_3

Angin berhembus kencang, langit sudah mendung. Tanda hujan akan turun tak akan lama lagi. Elgan dan kawan-kawannya sedang berkumpul di sebuah warung yang sudah menjadi basecampnya. Beberapa dari mereka sedang melontarkan candaan bahkan tak urung pemilik warung pun tertawa karena celoteh absurd dari anak-anak yang tak lain adalah penghuni XII-F ini. Sedangkan Elgan, Revan, Dio dan sekarang ditambah Setra serius sedang merundingkan sesuatu.


“Terlalu panjang kalau diceritakan. Intinya sekarang Elgan dijebak mukulin anak orang dan sampai bawa-bawa hukum segala,” jelas Revan yang disertai anggukan oleh Dio.


“Pokoknya cari si bang*at Angga sampai ketemu. Enak aja dia lempar batu sembunyi tangan!” ucap Elgan.


“Kalau orangnya belaga, ya memang harus dikasih pelajaran,” timpal Setra.


“Dia menghilang. Gue udah tanya keberadaan dia ke temen. Gak masuk selama seminggu ini,” ucap Revan.


Wajah Elgan nampak menegang. Ia marah dengan trik receh seperti ini. Lempar batu sembunyi tangan. Angga yang melakukannya, Elgan yang harus menaggungnya. Elgan berpikir keras untuk mencari cara agar ia tahu dimana keberadaan Angga.


Hanya saja, pikiran itu harus terputus begitu saja, manakala dari kejauhan David—teman sekelas mereka—datang tergopoh-gopoh. Ada darah yang mengucur dari hidung David. Hal itu membuat keriuhan yang sedari tadi berdengung, diam seketika.


“Siapa yang berani mukul lo, hah?” teriak Elgan. Ia tak terima temannya dipukuli seeprti itu.


“Angga—Gan … Dia ada di jalan belakang sekolah. Dia … bawa banyak orang …,” napasnya terengah-engah.


Amarah yang terpendan, mencuat. Elgan menatap David, “Kabari anak-anak yang masih ada di sekolah.” Tanpa menunggu waktu lama, Elgan dan kawan-kawannya pergi.


Dijalan belakang sekolah, Angga dan kawan-kawannya pun sudah stand by. Mereka membawa personil yang lumayan banyak. Lebih banyak daripada yang dipunyai Elgan. Walapun kondisinya begitu, Elgan tak gentar sama sekali. Ia bertekad untuk membereskan masalahnya ini.


“Bang*at! Pengecut!” teriaknya.


“Santayyyy, bos! Lo harusnya nikmati permainan gue ini. Hahahahha … gimana? Apa gue perlu buat anak nyokap ini …,” Angga menampakkan anak yang menuntut Elgan ke depan. Wajahnya babak belur lagi.


“Buat sekalian lo ditahan seumur hidup?”


“Ban*sat! Penuh drama hidup lo! Anj***” Elgan tak bisa menahan amarahnya lagi. Ia langsung merangsek maju dan memberi beberapa pukulan pada Angga. Anak-anak lain pun mulai menyerang. Seketika jalan sunyi yang jarang dilalui orang itu pun ramai dengan teriakan, umpatan dan batu-batu yang melayang-layang di udara. Kericuhan yang terdengar, membuat perhatian bagi warga sekitar. Sontak saja suasana semakin ricuh.

__ADS_1


Shaina ada disana.


Tak sengaja. Ia penasaran dengan warga sekitar yang berbondong-bondong ke jalan ini, tapi kembali lagi dengan terbirit-birit. Dilihatnya, Elgan dan kawan-kawannya sedang tawuran. Awalnya tak mau peduli, tapi lama kelamaan ia tidak bisa pergi begitu saja ketika teman-temannya mulai kewalahan karena kalah jumlah.


Akhirya Shaina ikut tawuran itu.


“Apa-apa-an lo, Shai?!” teriak Setra yang menyadari kehadiran Shaina.


“Lo yang apa-apaan!”


DUK!


GEDUBRAK


BUGH!


Dengan lihainya Shaina menendang para lawan. Seketika Setra takjub dengan keterampilan Shaina bertarung. Ia tersenyum miring lalu semakin bersemangat menyerang lawan. Suasana semakin mencekam. Ternyata pihak lawan membawa senjata tajam. Sedangkan Elgan dan teman-temannya tidak membawa apa-apa hanya balok kayu saja yang di bawa karena serangan dadakan ini.


Sebuah samurai mengenai tangan temannya. Hal itu semakin membuatnya marah. Ia merangsek maju. Ia yang sedari tadi bertarung dengan Angga, kini Angga hilang entah kemana. Elgan mencari Angga. Hingga matanya tertuju pada keberadaan Angga yang membawa sebuah pisau.


“Ban*sat!” umpat Elgan. Sedangkan Angga tertawa dan kemudian berlari mendekati Elgan.


“Mati lo sialan!” teriak Angga dengan tangan yang mengacungkan pisau pada Elgan. Semakin mendekat, Elgan tidak ada pilihan lain selain menhindar.


SAT


DAK!


GEDUBRAK!

__ADS_1


Angga jatuh terkapar. Elgan terbelalak. Karena bukan dirinya yang menyerang Angga seperti itu. Ia tidak sempat untuk menyerang setelah menghindar tadi. Ia menoleh kesamping dan didapatinya seorang perempuan.


“Aish! Anak zaman sekarang! Gak pernah mikir panjang!” perempuan itu menoleh pada Elgan yang menatapnya. “Apa?! Seneng kalau udah tawuran gini? Ngerasa hebat, iya?”


Elgan masih terdiam cukup lama. Ia baru sadar kalau pihak lawan sudah mulai mundur. Sebuah sirine mobil polisi membuat para siswa lari terbirit-birit. Setra menghampiri Elgan yang malah diam bukan kabur.


“Gan! Kabur! Polisi!” teriak Setra seraya mearih tangan Elgan.


“BURUAN!!!!” teriak seseorang dibelakang Setra.


“Tunggu, Shai!” jawabnya.


Elgan menggelengkan kepalanya. Ia tersadar. Ia harus kabur sekarang juga. Hanya saja, tangan perempuan itu lebih cepat untuk dapat menahan Elgan.


“MAU KEMANA KALIAN? TIDAK MAU BERTANGGUNG JAWAB, HAH?”


“Maaf, Ibu. Kita harus pulang, mamah menunggu di rumah,” ucap Setra seraya menarik tangan Elgan sekuat tenaga agar terlepas dari perempuan yang seperti guru itu.


“Dia—guru?” beo Elgan.


“Mungkin. Ah udahlah … cepetan polisi itu!!” Setra yang hendak menambah kecepatan larinya harus ngerem mendadak karena polisi sudah ada di depan mata dengan gagahnya.


Tamat.


Riwayat.


Mereka.


#####

__ADS_1


300720, Bdg.


__ADS_2