IF CLASS

IF CLASS
CHAPTER 6: ANAK SULTAN


__ADS_3

"FIX!!! Kali ini pasti mereka dikeluarin!!!" Lily bahagia tak terkira tak kala di hari kedua ini, ia tak mendapati Elgan dan kawan-kawannya di sekolah. Tentunya kabar Elgan dan kawan-kawannya yang tertangkap saat melakukan tawuran sudah tersebar.


"Ah bahagianya ... sekolah kita bakalan jadi sekolah beneran nih! Gak ada tuh siswa-siswa g*b**k macam mereka," lanjut Lily dengan suara yang keras. Ia sengaja berkata begitu sehingga dapat terdengar oleh Citra dan Gheanza yang berada di meja sebelahnya. Kedua teman Lily tertawa. Mereka pun lega mendengar Elgan ditangkap polisi.


"Kualat dari kita semua itu! Kelakuan yang gak pakai otak, ya begitu."


Lily semakin gencar saja memaki-maki kelas XII-F. Gheanza sampai panas mendengar ocehan Lily. Ingin rasanya ia meninju muka songong Lily yang sok benar dan pintar itu. Eh tapi, beneran pintar kok Lily itu, beda jauh dengan dirinya. Tapi tetap saja tidak bisa seenaknya bukan? Akhirnya Gheanza hanya bisa diam dan kembali memakan sarapannya itu. Daripada ia melawan pada saat ini tentunya ia kalah telak.


"Ngomong apa lo, barusan?!"


Deg.


Citra dan Gheanza terkejut dengan pertanyaan itu. Yang lebih terkejut lagi adalah Lily. Ia menggigit bibirnya, mengingat maki-makian yang sudah ia lontarkan barusan. Mati sajalah Lily!


"Gue tanya. Ngomong apa lo barusan, hah?"


Itu Elgan. Nampaknya hari ini ia tidak mau beramah-tamah. Suasana kantin pun menjadi tegang. Beberapa siswa yang melihat itu berusaha untuk abai, tapi sayangnya segala hal yang dilakukan Elgan dan kawan-kawannya tidak patut untuk dilewatkan.


Lily mengerjapkan mata. "Eng-gak kok. Gue gak ngomong apa-apa." Kedua teman Lily cemas dan hanya bisa saling menyikut. Suasana semakin tegang tak kala sorot mata Elgan menajam pada Lily. Lily yang tadi masih berani menatap Elgan kini tertunduk juga. Hanya saja bukan Lily namanya kalau dia mengakui kesalahannya sekalipun kondisinya ia ketahuan.


"Apa sih lo, Gan. Awas gue mau masuk kelas," ucap Lily yang segera menerobos barisan teman-teman Elgan. Siapa lagi kalau bukan Setra, Revan dan Dio. Lily rasa, pergi adalah cara yang tepat.


Namun, Elgan mencengkal tangan Lily. Ia sengaja mendekatkan mulutnya ke telinga Lily. "Sekali lagi gue denger lo ngejelekin temen-temen gue. Gue jamin hidup lo bakal susah." Ucapanya lirih, tapi penuh dengan penekanan.


"Aws! Sakit, Gan!" rintih Lily.


"Denger gak gue bilang apa?!" teriak Elgan tepat ditelinga Lily. Rasanya gendang telinga Lily mau pecah. Untungnya buatan Allah swt, tidak akan mudah pecah begitu saja.


"Iya, gue denger! Puas lo!" Lily pergi tak kala Elgan melepaskan cekalannya. Hatinya luar biasa dongkol ditambah tak sengaja tatapannya bersiborok dengan Kayla, si musuh bebuyutannya. Kayla tertawa melihat Lily yang dipermalukan oleh Elgan.


"Cewek itu—mulutnya bener-bener ... gak ngerti lagi gue," ucap Dio. Ia duduk begitupun dengan ketiga temannya. Suasana berangsur reda. Beberapa siswa yang semula pura-pura abai tapi memasang mata dan telinganya untuk menyaksikan ulah Elgan kini mulai bubar perlahan.


"Ah ... akhirnya gue bisa bebas juga dari penjara. Gak nyangka banget gue, Gan. Bokap lo emang T.O. P. B. G. T. Gue jadi penasaran sebarapa kayanya bokap lo bisa nyewa pengacara sehebat itu." Revan masih takjub dengan aksi pengacara itu ketika di kantor polisi. Padahal kasus itu sudah dianggap serius karena adanya senjata tajam.


Tapi dengan lihainya pengacara itu membalik keadaan sehingga membuat pihak Elgan tak bersalah sedikit pun. Revan pun masih ingat bagaimana Pak Polisi yang kalah argumen dan akhirnya membebaskan mereka. Yang lebih penting ialah mulusnya siasat untuk membuat orang tua masing-masing tidak tahu sedikit pun bahwa anak-anaknya itu masuk penjara.


"Yoi, bro. Yang terpenting bokap-nyokap kita gak tahu kalau selama dua malem ini kita nginep di penjara. Kalau Bunda gue tahu, bisa habis hidup gue. Gak kebayang *****." Setra merentangkan tanggannya sambil menguap. Tidak tidur di kasur kesayangannya selama dua malam, sangat menyiksa dan membuat dia terus mengantuk. Ia pun masih tidak percaya bahwa dua malam ini dirinya itu masuk penjara.


Elgan mencebik, "Jadi lo pada sangar di jalan meliuk di rumah?"


"Bukan gitu. Jangan macem-macem lo pada sama orang tua, dikeluarin dari kartu keluarga baru nyaho lu!" ucap Setra seraya tertawa.


"Ngomong-ngomong gimana nasib si Angga? Masih di kantor polisi kah?" tanya Dio.


Elgan mengedikkan bahu, "Gak tahu. Yang penting sekarang dia tahu sama siapa ia berurusan."


"Berarti masalah lo tinggal sama nyokap yang waktu itu?" tanya Revan.


Elgan tidak langsung menjawab. Ia merogoh ponselnya dan menunjukkan sebuah pesan teks pada ketiga temannya. Sontak saja, mereka bersorak sorai.


"Jadi—lo udah terbukti gak bersalah? Bahkan nyokapnya mau minta maaf secara langsung ke elo? Hari ini?" Setra menggelengkan kepala. Ia masih ingat bahwa kemarin-kemarin masih bergulir ini kasus. Bahkan Elgan tidak mau menghadiri pertemuan sehingga kasus terus bergulir.


"Gue kan gak salah. Bangke lo semua!" Elgan mengumpat.

__ADS_1


"Mau dong jadi anak bokap lo, Gan! Kayaknya segila apapun gue, gue bakalan selalu menang. Belum lagi duitnya banyak. Sejahtera hidup gue. Ngomong-ngomong lo ada lowongan jadi sodara gak?" ucap Dio.


"Jadi asistennya Siamang mau, lo?" timpal Setra. Revan terkikik mengingat siamang alias kura-kura besar milik Elgan. Dio bergidik ngeri ketika nama itu diperdengarkan. Bagaimana tidak? Dia yang tidak suka kura-kura sejak dulu, dan kini harus mengurusi Siamang yang badannya udah kayak predator bukan hewan peliharaan.


Elgan terdiam tak kala temannya meributkan soal Siamang. Ada sedikit sembilu yang menusuk hati. Sejahtera? Omong kosong. Karena pada kenyataanya hidupnya penuh derita. Mereka saja yang tidak tahu.


"Kalau pas bangun tidur, pelayannya langsung nyimpen sandal di bawah kakinya. Takut korengan katanya kalau kakinya kena debu lantai." Ucapan Setra itu disoraki takjub oleh Dio.


"Emang anak Sultan lo, Gan." Revan menepuk bahu Elgan. Elgan kebingungan, entah pembicaaran yang mana yang ia lewatkan. Ah, gara-gara luka semua terlewat begitu saja.


"Hahahaha ... apa kita sekarang panggil dia Yang Mulia?" usul Setra.


"Apa sih lo, norak," ucap Elgan.


"Tapi Gan, lo gak mau ngaku kalau lo anak presiden?" pertanyaan Dio mendapat tatapan aneh dari yang lainnya. "Selama gue kenal sama lo, tahu-tahu semua kerusuhan yang kita buat beres tak tersisa. Gue pikir lo bukan anak orang kaya sembarangan."


"Iya gue anaknya Obama, puas lo?" sergah Elgan.


"Kasian dong Obama punya anak kaya lo, Gan. Pantesan rambutnya gak gondrong-gondrong, anaknya bangor gak ketulungan." Tidak hanya Setra dan Revan yang tertawa, tapi siswa-siswa lain yang mendengar lelucon dari Dio. Termasuk Ghea dan Citra. Elgan yang tadinya agak tersinggung dengan lelucon Dio, ketika melihat perempuan itu, entah kenapa dia jadi tersenyum.


"Puas banget lo ngetawain gue. Beli makan sana. Gue laper," ucap Elgan. Dio antusias ia langsung menarik Revan untuk membeli makan.


"Berseri banget muka lo liat cewek itu." Celetuk Setra setelah Revan dan Dio pergi.


"Ngarang," ucap Elgan. Padahal, tenggorokanya tercekat karena ketahuan.


Setra mendekatkan wajahnya ke wajah Elgan. "Gak usah bohong Yang Mulia Elgan Perwira. Gak mempan. Gue udah mafhum gimana lo kalau lagi bohong, lagi ingin boker dan lagi jatuh cinta," beber Setra bangga.


"Gue harap lo bisa selalu bahagia, Gan."


Elgan terbatuk, "Kepentok apa lo pas di kantor polisi?"


Setra menatap tidak suka pada Elgan. "Doa gue itu."


"Lo gak homo, kan? Pergi yang jauh lo kalau iya."


"Gak bisa diajak serius lo mah."


"Ya ... masa iya gue diseriusin sama elo. Naudzubillahimindzalik. Amit-amit tujuh turunan."


Setra tak menggubris Elgan. Ia hanya memenjamkan matanya. Sebuah ide melintas dipikirannya. "Mana plester luka lo? Gue minta." Tangannya terulur ke arah Elgan. Teringat plester yang Elgan beli tadi pagi sampai mau rusuh sama ibu-ibu yang juga nyari plester luka.


"Enak aja lo. Beli sana!"


Setra tak menggubris ia malah merogoh paksa saku Elgan. "Eh, apa-apa an lo? Bang*at! Jangan diambil."


SRAT!


Plester itu sudah berpindah tangan. Setra tersenyum bangga. Elgan kesal.


"Balikin, gak?"


"Tenang, Gan. Segala sesuatu itu harus diperjuangkan. Jangan puas hanya jadi penonton aja. Gue balikin ke pemiliknya ya," ucap Setra. Ia tersenyum jahil.

__ADS_1


Elgan melotot. Ia hendak menghadang Setra tapi nyatanya Setra lebih lincah dari dirinya. Alhasil mau tak mau Elgan harus mengeluarkan jurus ampuhnya. Elgan menatap tajam Setra. Tangannya ia remas-remas agar tak kaku saat beraksi.


GREK


"Bangsul! Ngapain nyubit ketek gue!!!!!"


Kantin gempar. Setra pun terkapar karena cubitan Elgan yang tepat di bagian keteknya. Sedangkan Elgan tersenyum bangga, akhirnya jurus lama itu masih mempan juga bagi Setra. Padahal sudah 5 tahun tidak bersama, tapi nyatanya tidak banyak yang berubah dari diri Setra. Termasuk titik kelemahannya yang berada di bagian sayap alias ketek. Good.


Tak berapa lama, Dio dan Revan datang membawa makanan. Mereka berdua membawakan makanan bak di kerajaan dengan iringan musik dari mulut ajaib Dio. Melihat itu, Elgan hanya bisa meggelengkan kepala.


"Jeng ... jeng ... jeng ..."


"Sarapan sudah siap, Yang Mulia Elgan Perwira!" ucap Dio. Lagaknya sudah seperti pengawal kerajaan.


Revan menaruh nampan berisi 4 mangkuk lontong kari dengan hati-hati. Setelahnya mereka berdua membungkuk di hadapan Elgan untuk menghormatinya.


Elgan memutar bola matanya jengah, "Baru sehari aja masuk penjara, otaknya udah geser semua. Apa gue perlu sewa psikolog, juga?"


Revan, Dio dan Setra semakin terkesima pada Elgan, "Beda ya, kalau anak Sultan mah."


"Cepet makan, gak?" ancam Elgan pada temannya.


Keempatnya menurut pada Elgan. Untuk beberapa detik selanjutnya mereka larut dengan kelezatan lontong kari buatan Mang Maman yang populer seantero SMA Panca Kusuma. Sampai tak sadar ada seseorang yang menghampiri mereka.


"Enak banget, ya?"


"Banget! Ini baru namanya lontong kari," ucap Dio.


"Rumor diluar soal lontong kari bener juga," sahut Setra yang seperti berbicara sendiri.


"Bedanya dengan yang kemarin gimana?"


"Beda lah. Kemarin serasa makan air mata!" ucap Setra berapi-api. Teringat makanan yang disajikan saat ia ditahan. Ia baru menyadari sesuatu, saat Elgan dan Revan yang tak berkomentar apapun. Pertanyaan itu pun bukan dari Elgan atau yang lainnya tapi dari seorang guru yang kini sudah berdiri di hadapan mereka. Bagi Revan dan Dio guru itu asing. Tapi bagi Elgan dan Setra, tidak. Guru itu yang menyelamatkan Elgan dari Angga.


"Selamat sudah bisa bersekolah kembali. Ibu tunggu di kelas 5 menit lagi, oke?"


"Ibu—bukannya yang waktu itu ikut tawuran, kan?" tanya Setra.


"Ingatan yang bagus. Bagaiamana? Bisa kan?"


"Emang ibu siapa, ya?" tanya Revan.


"Kalian belum tahu? Perkenalkan ibu ini guru BK baru kalian. Kebetulan hari ini ibu akan adakan inspeksi ke setiap kelas. Mulai dari kelas kalian tentunya."


Wajah mereka pucat. Teringat akan bawaan-bawaan mereka di tas, saku, kolong meja dan isi ponsel mereka. Begitupun siswa lain yang tak sengaja mendengar ucapan gru BK baru itu, mereka kaget. Satu per satu mulai meninggalkan kantin dan segera mengamankan barang bawaan mereka. Hanya saja tak ada kesempatan bagi Elgan dan ketiga temannya.


"Ujian apalagi ini ya Allah—Dedek capek ...," guman Dio dalam hati.


Sebelum pergi, guru BK itu menepuk bahu Elgan, "Makan yang banyak Yang Mulia ...."


#########


300720

__ADS_1


__ADS_2