IF CLASS

IF CLASS
CHAPTER 19: JANGAN PERGI


__ADS_3

Pagi itu masih sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Burung berkicau menyambut sinar matahari yang kian meninggi. Siswa-siswa mulai berbondong-bondong masuk sekolah. Kendaraan yang dibawa siswa satu persatu memenuhi lahan parkir yang disediakan pihak sekolah.


Semuanya tetap sama seperti hari-hari sebelumnya. Setidaknya bagi mereka seperti itu. Walau dunia terus berubah seiring berjalannya waktu. Hanya saja, dua diantara mereka menyadari suatu perbedaan yang tidak akan membuatnya sama seperti hari-hari sebelumnya.


“Ghe, kamu kayaknya sakit deh. Pulang aja gimana?” Citra menatap Ghea yang menempelkan kepalanya di meja. Ia menyentuh bahu Ghea. Panas. Itulah yang dirasakan Citra saat menyentuh Ghea.


Ghea menggeleng, “Gak mau. Ngapain juga dirumah. Gak ada siapa-siapa juga,” ucap Ghea berbohong. Padahal dirumah ada ibunya. Hanya saja, ia sedang berusaha menenangkan diri dengan cara sedikit menjauh dari mereka.


“Ke UKS kalau gitu.” Citra mencoba menawarkan opsi lain.


Lagi, Ghea menggeleng. “Gak mau. Horror di UKS tuh.”


“Ngawur kamu. Ayo ke UKS aku temenin, Ghe. Badan kamu panas banget,” Citra masih memaksa Ghea.


“Gak mau, Cit!” suara Ghea meninggi, “udahlah gue mau tidur dulu! Bangunin kalau gurunya udah dateng,” tandas Ghea. Ia membalikkan posisi tidurnya ke arah kanan. Hingga ia membelakangi Citra. Citra hanya menggelengkan kepalanya. Keras kepalanya mulai muncul dan kali ini … sedikit menyebalkan.


Ghea mulai memejamkan matanya. Sebenarnya ia tidak bisa benar-benar tertidur. Rasa tidak enak dari badannya mulai menggangu. Ghea tidak memungkiri kalau akhir-akhir ini badannya itu tidak seperti biasanya. Bahkan ia sampai sering pusing dan muntah. Sehingga nafsu makan pun hilang.


Tiba-tiba saja, Ghea menegakkan badan. Citra pun menoleh. Tapi Ghea tidak berkata apa-apa. Ia hanya memandangi Dio yang melewati mejanya tanpa niat menyapa. Dio yang semula duduk di meja sampingnya, pindah ke meja paling belakang. Terlihat sekali kalau mereka sedang punya masalah.


Ghea menatap nanar Dio. Tapi Dio tidak berniat menoleh sedikitpun. Padahal ia tahu kalau Ghea sedang menatapnya. Sudah beberapa hari ini, Dio terus tak acuh dengan Ghea. Seakan ia menganggap Ghea tak pernah ada lagi setelah kejadian besar dirumah Ghea.


Sebenarnya, Ghea pun masih tidak percaya dengan apa yang terjadi dengan keluarganya. Tapi inilah kenyataannya. Dio dan Ghea itu ternyata bersaudara. Kakak dan Adik.


“*Bilang sekali lagi sama Ghea, Mah! Apa yang dikatakan Tante ini benar?”


“Iya, Ghea … Dio itu Kakak kamu* ….”


Ghea menggelengkan kepala. Ia masih terngiang-ngiang dengan pengakuan ibunya tentang Dio. Hanya saja, walaupun Ghea sama terpukulnya dengan Dio. Tapi Ghea tidak ingin di diamkan seperti ini. Ghea ingin bicara baik-baik. Seperti yang Dio selalu ajarkan kepadanya.


Ghea mengeluarkan ponselnya. Ia membaca sebuah pesan yang sudah berkali-kali ia baca.


Mr. X


Gue masih mencerna apa yang barusan terjadi sama hidup gue. So, lo gak usah hubungin gue lagi. Jangan nyapa gue. Anggap aja kita gak kenal.


“Kalian ada masalah?” tanya Revan. Ghea sedikit berjengit. Buru-buru ia memasukkan ponselnya ke bawah meja.


“Maksud lo siapa?”


“Lo sama Dio lah. Siapa lagi emang?”


Citra mengerjap mendengar ucapan Revan, “Kamu ada masalah Ghe, sama Dio?”


Ghea tidak menjawab. Ia hanya menyentuh tangan Citra pertanda bahwa Citra jangan bertanya atau menyahut apapun dulu. Ghea menatap Revan. Matanya sedikit menyipit, “Sedikit ….”


Revan menaikkan alisnya, “Gue rasa gak sedikit. Soalnya tuh anak akhir-akhir ini suka pulang malam dari warung Bi Anah. Gak biasanya. Dio itu walaupun bandel, tapi gak pernah pulang telat.”


“Iya kah?” ucap Ghea. Ia baru tahu tentang Dio yang satu ini. Revan mengangguk. Kemudian mengedarakan pandangannya ke arah belakang. Nampak Dio tertidur di meja belakang.


“Jadi … sebenarnya lo sama Dio itu ada hubungan apa sih? Pacaran gak ngakuin. Tapi seringnya jalan berdua. Baru putus lo sama Dio? Tumbenan amat lo jauh-jauhan sama dia.”


Ghea melotot dengan ucapan Setra yang tiba-tiba nimbrung itu. Jantungnya berdegup kencang karena secara tidak langsung Setra sudah membongkar rahasianya.


“Lo mau gue sumpel mulut lo sama tumbler gue, hah? Lemes amat mulutnya,” sembur Ghea. Ia menoleh sebentar ke arah Citra. Nampak ia terkejut dan akan mengungkapkan sesuatu tapi ditahan oleh Ghea.


Setra merapatkan bibirnya, “Yaudah lo cerita sama kita-kita. Ada apa sama kalian berdua. Gue kasihan sama dia. Akhir-akhir ini dia keseringan planga-plongo. Takut jadi gila, Ghe!”


“Yang gila itu elo, tahu gak!”

__ADS_1


“Kok lo nyolot, Sih! Dibaikin juga. Kenapa sih kalian berdua? Senengnya naikin urat terus.” Setra jadi mengingat Dio yang sering tersulut emosi akhir-akhir ini.


Setra sedikit terhuyung kesamping karena dorongan seseorang. Ia menoleh dan mendapati Shania dengan wajah datarnya. “Ikut gue.”


“Eh, Shai …,” Setra yang kesal tiba-tiba tersenyum manis pada Shaina. “Gak, bisa, Shai. Urusan ini lebih penting.”


“Lo ikut gue baik-baik atau gue seret?”


Setra menghembuskan napas secara kasar. Lama-lama Shaina ini memang semakin mirip dengan Elgan. Cara bicaranya, pikirannya, tingkah lakunya. Apa jangan-jangan Shaina itu ternyata sauadara Elgan? Setra menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran ngawur itu.


******


Bu Rinka nampak berjalan ke arah belakang sekolah. Sesekali matanya melihat kesana-kemari seperti mencari seseorang. Tak berapa lama, ia berhasil menemukan orang yang dicarinya. Bu Rinka menghela napas lalu menghampiri orang itu.


“Ternyata kamu disini ya …,” ucap Bu Rinka. Ia menarik sebuah kursi usang dan memosisikannya di depan Dio.


Dio memalingkan muka, “Saya lagi gak mau di ganggu, Bu!” ucap Dio dengan nada tidak ramah.


“Saya gak lagi gangguin kamu, kok. Lihat, Ibu cuman duduk di depan kamu aja.”


Dio mendengus kesal. Ia tidak berkata apa-apa lagi. Cukup lama mereka terdiam. Sampai Bu Rinka memulai percakapan lagi.


“Dio … boleh Ibu pinjam gitar kamu?” Bu Rinka menoleh pada gitar yang berdiri di samping Dio. Dio yang tak kunjung berbicara, akhirnya sedikit menoleh saat Bu Rinka mengambil gitarnya. Sesaat, ia tertegun dengan potret yang menghiasi lubang gitar. Potret keluarga Dio. Ada ibunya yang sangat cantik memakai jilbab biru dan Ayahnya yang telrihat sangat bijaksana.


“Dulu juga Ibu pernah belajar gitar. Tapi sekarang ingat-ingat lupa,” ucapnya. Bu Rinka mulai memetik gitar. Terlihat sekali kalau tangannya itu sangat kaku dalam memetik gitar. Nada yang dihasilkan pun terdengar acak-acakan.


Dio merebut gitarnya itu dengan kasar. “Kalau tidak bisa. Jangan dipaksa. Rusak telinga saya,” ucap Dio ketus.


Bu Rinka mendesis. “Ish! Jahat sekali kamu sama Ibu.”


Dio tidak menjawab. Ia malah memalingkan muka. Lama mereka terdiam lagi. Sampai Bu Rinka membuka suara. “Dio … boleh saya usap rambut kamu, gak?” tanya Bu Rinka. Dio hanya menatap heran pada wali kelasnya itu.


Tanpa menunggu jawaban, tangan Bu Rinka terulur ke arah puncak kepala Dio. Ia mengusap-ngusap kepala Dio. Bu Rinka menatap nanar pada Dio. Seakan-akan ia tahu apa yang dirasakan oleh muridnya yang satu itu.


Tangan yang semula berada di puncak kepala, kini turun memegang bahu Dio. Dio masih keheranan dengan tingkah Bu Rinka. “Ibu datang kesini … bukan sebagai wali kelas kamu saja. Tapi Ibu datang sebagai teman kamu. Kalau kamu butuh sesuatu atau ingin cerita apapun. Datang ke Ibu, Dio. Jangan sungkan,” ucap Bu Rinka.


Dio tidak merespon apapun. Ia hanya menunduk sebentar dan kembali memalingkan muka. lagi, mereka terdiam cukup lama. Sampai akhirnya Dio membuka suara. “Salah kalau seseorang membenci karena apa yang telah diterimanya itu sangat buruk?”


“Wajar kalau seseorang itu membenci sesuatu. Tapi tidak wajar kalau orang itu terus-terusan membenci. Ada kalanya dia harus memaafkan dan menganggap semuanya tidak pernah terjadi.”


Dio tertawa hambar nan sinis, “Seburuk apapun itu?”


Bu Rinka tidak langsung menjawab. Ia menatap dalam, “Karena pada kenyataannya orang yang hidup dengan penuh kebencian tidak pernah bahagia. Walaupun dia masih bisa hidup biasa-biasa saja seperti orang kebanyakan. Tetapi jauh di dalam lubuk hatinya orang itu tidak pernah bahagia seutuhnya. Bukankah hidup ini berbicara tentang bagaimana kamu menikmati setiap kesempatan yang diberikan Tuhan?”


Dio tidak menjawab. Ia hanya tersenyum sinis. Lalu ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel yang bergetar. Nama Elgan terpampang di layar ponselnya.


“Halo ….”


“Dio! Lo dimana?! Ghea pingsan di depan toilet!”


********


Ghea berjalan sedikit terhuyung-huyung karena sakit kepalanya. Ia hendak ke toilet. Kali ini tidak ada Citra disampingnya karena temannya itu pergi ke perpustakaan dan belum balik lagi. Tak berapa lama, ia sampai di ambang pintu.


Hanya saja, matanya mulai mengabur.


Ghea terkesiap tak kala tiga orang keluar bersamaan dengan dirinya yang akan masuk. Ghea terhuyung dan tak bisa menyeimbangkan posisi tubuhnya.


“Woy lihat-lihat kalau jalan!”

__ADS_1


GEDEBRUK


Tubuh Ghea terbentur. Matanya semakin mengabur. Lalu ia tidak bisa melihat apa-apa lagi dan kesadarannya terputus begitu saja.


“Eh dia pingsan, Ly!”


“Masa sih? Gue kan gak terlalu keras nubruknya,” ucap Lily. Ia mendekati Ghea yang teduduk lemas dilantai.


“GHEA!”


Teriak Elgan. Ia melangkah lebar.


“Lo apain dia, hah?”


“Gu—gue gak apa-apain dia. Suer. Gue gak sengaja nubruk dia, tapi gak keras kok!”


Dari kejauhan Kayla nampak menyipitkan mata karena melihat Elgan didepan toilet siswi. Disana ada musuh bebuyutannya, Lily. Semakin penasaran saja ia melihat kerumunan itu. Kayla pun menghampiri.


Wajah Kayla menegang tak kala melihat Ghea tergeletak lemas dilantai.


“Kenapa Ghea, Gan?”


“Pingsan. Minggir lo!” sergah Elgan pada Lily yang menghalangi akses untuk membopong Ghea. Lily menyingkir. Baru saja, Elgan akan membopong Ghea, satu tangan Elgan dicekal oleh seseorang.


“Biar gue aja.”


Orang itu, Dio. Dio melepaskan cekalan tangannya pada Elgan. Ia langsung menggendong Ghea dan membawanya pergi. Elgan mengusap wajahnya kasar ketika Dio membawanya mengarah ke parkiran.


“Bawa dia ke UKS dulu!" bentak Elgan.


“Gue mau bawa ke RS! Badannya panas banget! Lo gak ngerasa, hah?”


Mereka yang berdebat dengan suara keras, membuat Citra yang sedang membawa buku di persimpangan lorong menoleh. Ia tidak bisa melihat wajah orang yang digendong tapi ia ingat betul gelang yang dikenakan orang itu.


“GHEA!”


Citra melepaskan bukunya begitu saja. Ia berlari menyusul Elgan dan Dio yang mengarah ke parkiran.


“Kenapa sama Ghea! Kok bisa pingsan?”


Dio tidak mejawab. Ia malah mempercepat jalannya. Citra yang dari dulu memang tidak bisa berlari cepat mulai ngos-ngosan. Elgan berhenti sebentar. Ia menoleh ke belakang.


“Ghea kenapa bisa pingsan, Gan? Kenapa gak bawa ke UKS dulu? Dio mau bawa Ghea kemana lagi!” Citra memberondong Elgan dengan pertanyaan. Tapi Elgan tidak berniat menjawabnya. Ia hanya menarik lengan Citra seraya berkata, “lo ikut gue ke rumah sakit.”


Sebuah mobil berhenti tepat di depan Dio yang membawa Ghea. Pintunya terbuka, “Ayo cepetan masuk!”


Dio melirik mobil itu ternyata Bu Rinka yang membawa mobil. Tanpa menunggu lama lagi, Dio masuk membawa Ghea dalam dekapannya.


******


“Untung segera dibawa kerumah sakit. Trombosit dan leukositnya sangat rendah. Dia harus dirawat. Mungkin dia kena tifus atau DBD. Saya belum bisa memastikan. Kita harus menuggu beberapa hari kedepan untuk memastikan.”


Bu Rinka mengangguk lalu mengantarkan dokter yang menangani Ghea keluar. Sedangkan Dio menatap lurus pada Ghea. Ada rasa bersalah yang menghinggapinya karena telah mengabaikan Ghea beberapa hari ini. Hanya saja, ia terlalu sakit hati hingga tak sanggup memandang Ghea.


Dio membalikkan tubuhnya. Ia berniat untuk pergi. Tapi sebuah suara membuatnya tidak bisa pergi begitu saja.


“Ja—ngan pergi.”


“Kak …,” ucap Ghea lirih. Matanya masih terpejam. “Dio …,” lanjutnya.

__ADS_1


######


310720, Bdg.


__ADS_2