IF CLASS

IF CLASS
CHAPTER 18: RAHASIA KITA


__ADS_3

"Keluar."


Anak berusia 5 tahun itu menoleh pada ibunya. Nampak bekas tangisan di wajah ibunya telah mengering dan menjadi perusak riasan wajah. Ibunya itu menatap lurus kedepan. Anak itu bingung, kenapa ibunya menyuruhnya keluar.


"Mah ...," lirih anak itu.


"Keluar! Kamu gak ngerti apa yang saya bilang!" bentak ibunya. Anaknya itu menangis karena bentakan ibunya.


"Diam!"


Anak itu menangis lebih keras. Ibunya keluar lalu membuka pintu mobil dengan kasar. Ia menyeret anaknya keluar. Anak itu hanya bisa menjerit dan sekuat tenaga mempertahankan posisinya agar tetap di dalam mobil. Tapi usahanya nihil.


"Enggak, Mah! Enggak!"


"Diam!"


"Mah! Enggak!" anak itu menggeleng keras. Ia menarik lengan ibunya. Tangan ibunya menepis dengan keras hingga anak itu terduduk di tanah. Tanpa menoleh lagi, ia meninggalkan anaknya yang terus memanggil-manggil namanya.


BRUMM


"Mah jangan tinggalin Dio!"


"Mamah! Jangan tinggalin Dio!


"MAMAH!"


*****


Keringat bercururan membasahi tubuh Dio yang suhu tubuhnya mulai meninggi. Ia gelisah dalam tidurnya. Kepalanya tak berhenti bergerak kesana kemari mencari-cari posisi yang nyaman. Lama-kelamaan Dio mulai mengingau. Mulutnya tak berhenti menggumamkan sesuatu yang tidak jelas.


Bunda Hanan yang melihat itu cemas. Ia menepuk-nepuk pipi Dio agar bangun. "Dio ... bangun Dio. Kamu kenapa, Nak?" Dio tak kunjung bangun.


"Ayah! Ayah! Dio, Yah!" teriak Bunda memanggil suaminya.


Yang dipanggil datang tergopoh-gopoh. Ia pun langsung mendekati Dio yang mengingau. Ia menepuk-nepuk pipi Dio. Memanggil-manggil nama Dio agar bangun.


"Dio ... Dio bangun, Nak!" panggilnya.


"Ayah, gimana ini? Suhu tubuhnya semakin tinggi."


"Kita bawa ke rumah sakit, Bun!" ucapnya. Bunda Hana menyingkir. Ia memberikan ruang untuk suaminya itu dapat membopong Dio. Hanya saja, baru saja ia menarik lengan Dio, tiba-tiba saja Dio terbangun dan berteriak.


"BUNDA!"


Bunda Hanan terkesiap. Ia langsung memeluk Dio yang tubuhnya bergetar.


"Ini Bunda sayang."


"Bunda ...," lirih Dio. Ia semakin mengeratkan pelukannya.


"Bunda gak akan tinggalin Dio, kan?" tanyanya. Bunda Hanan hanya menggangguk.


********


Ghea menghela napas. Ia menatap Dio yang terbaring di ruang UKS. Wajahnya pucat. Dio sudah mendapat izin untuk pulang lebih awal, tapi ia menolak keras untuk pulang. Alhasil Ghea jadi gemas sendiri.


"Jadi gak mau pulang nih?" tanya Ghea yang entah sudah berapa kali.


"Dibilang gak mau, ya gak mau."


Ghea menatap sinis, "Lo nyebelin ya kalau sakit."


"Bodo."


"Mulutnya ...," walaupun begitu, Ghea tetap setia menemani Dio. Walau harus bohong sana-sini agar bisa masuk ruang UKS di jam belajar ini. Ghea mengulurkan tangannya ke dahi Dio. Masih panas.


Terdengar ada seseorang masuk ke UKS. Buru-buru Ghea beranjak. Ia memalingkan muka ketika didapatinya Revan yang masuk ke UKS.


"Gak usah pergi, Ghe. Gue gak akan ganggu kalian. Gue cuman mau ngasih bubur. Paksa dia makan, ya? Dia belum makan dari tadi pagi. Kalau susah, lemparin aja bubur ke mukanya," ucap Revan seraya tertawa. Dio yang mendengar itu menatap sinis.


"Kenapa mata lo sinis-sinis? Gak berterima kasih banget gue bawain makanan juga," protes Revan.

__ADS_1


"Gak nyuruh tuh."


Revan mengangkat tangannya hendak memukul, "Sensi amat lo kalau sakit. Awas aja lo kalau sembuh."


"Gak takut. Sana lo pergi!" usir Dio.


Revan pergi dengan hati dongkol. Benar-benar, Dio kalau sakit bak induk ayam yang baru menetaskan telurnya. Galak sekali. Sesaat Revan berbicara pada petugas UKS sebelum ia pergi.


"Lo jangan biarin mereka berdua. Lo harus tetap disini. Ngerti gak?"


"Iya, kak."


Ghea hanya terseyum melihat Revan yang berusaha mewanti-wanti penjaga UKS itu. Ia menoleh pada Dio, "Mau dimakan sekarang?"


"Boleh. asal janji dulu."


Ghea mengernyitkan dahinya. "Janji apa?"


"Besok Sabtu, Kita jalan yuk?"


Ghea berdecak. "Jalan-jalan! Lo tuh lagi sakit!"


"Ayolah Ghe ... pengen refreshing, nih."


"Tapi lo lagi sakit."


"Gue besok sembuh kok."


Ghea mendesis. "Terserah lo! Sekarang makan nih." Ghea menyodorkan sesendok bubur. Dio memakannya.


*******


Sebuah mobil BMW hitam parkir dengan mulusnya. Dua orang wanita dewasa keluar dari mobil itu. Hari ini, mereka berniat melepas rindu serelah sekian lama tidak bertemu. Tempat yang mereka pilih memang cukup ramai di hari weekend ini.


"Sri ... kok kamu malah bengong? Ayo masuk."


"Sri …."


"Ta—pi, Sri!" panggilannya tak dihiraukan. Ia melihat ke arah yang dilihat oleh temannya. Nampak sepasang muda-mudi tengah bercanda. Tawa mereka begitu renyah.


Tunggu.


Rinka kenal dengan dua anak muda itu. Tapi, kenapa raut wajah Asri sangat tidak suka?


"Ghea ... Dio ... ada apa dengan kalian sebenarnya?"


Akhirnya ia pun memutuskan untuk menysuul Asri. Cukup lama untuk bisa menemukan Asri. Ternyata, Asri menunggu diluar toilet laki-laki. Tak lama, ia terlihat mencegah seseorang yang baru keluar dari sana. Rinka urung untuk menghampiri temannya itu.


"Dio ...,"


Dio berjengit. Ia menghembuskan napas kasar, "Ada apalagi sih? Apa kurang jelas kalau saya gak suka ketemu Anda?" Dio hendak pergi tapi wanita yang ternyata ibu kandung Dio itu menahan lengannya.


"Dengerin Mamah dulu Dio. Sekali ini saja."


"Tidak penting bagi saya untuk mendengarkan kata Anda. Anda bukan siapa-siapa saya."


Wanita itu menatap kecewa, "Dio ...,"


Dio memalingkan muka. Ia hendak pergi tapi kembali ditahan oleh wanita itu lagi.


"Lepas gak?" bentak Dio.


"Jangan punya perasaaan lebih ke Ghea, Dio...."


Dio menatap sinis. "Itu bukan urusan Anda. Ngerti?"


"Justru itu urusan Mamah Dio!" suaranya meninggi. Wanita itu terisak, menahan tangisnya agar tidak pecah. Ia menatap dalam anaknya, "Dia itu ... adik kamu Dio ... kamu lupa sama anak kecil yang Mamah dorong sampai tangannya berdarah 13 tahun yang lalu?"


Dioa tertawa hambar mendengar ucapan itu. Ia sama sekali tidak percaya. "Gak usah membual lagi. Cukup sudah Anda membuang saya. Cukup urusan kita sampai disitu. Jangan ganggu saya lagi, tolong."


Tangisnya tak bisa ia tahan lagi. Rasanya sakit sekali ditolak seperti ini oleh anaknya sendiri. Wanita itu melepaskan tangan Dio. Tanpa menunggu lama, Dio meninggalkan ibu kandungnya itu.

__ADS_1


"Sri ...,"


Ia mendongakkan kepala. Rinka tersenyum. "Mau kuantarkan pulang?"


Wanita yang dipanggil Sri itu menatap lama Rinka. Lalu ia pun berbicara, "Kamu pernah bilang sama aku, kalau akan selalu banyak kesempatan yang datang. Asal kita mau memperjuangakannya."


Rinka terlihat bingung. Apa memang iya dia pernah berkata seperti itu?


"Aku mau memperjuangkannya, Rin. Aku gak bisa ninggalin dia kayak gini. Aku gak bisa ninggalin dia yang gak tahu apa-apa dan berakhir sakit hati lagi. Gak. Gak bisa."


"Maksud kamu, Sri?"


"Aku pergi dulu, Rin. Maaf, acaranya kita cancel."


*******


Taksi itu berhenti didepan rumah bernuansa coklat pudar. Asri keluar dengan terburu-buru. Ia mengetuk pintu dengan keras.


"Mas Bimo! Mas Bimo!"


Asri terus saja mengetuk dan memanggil pemilik rumah. Lama Asri menunggu sampai pintu terbuka lebar. Seorang wanita yang membuka pintu terkejut melihat Asrilah yang datang.


"Asri? Ngapain kamu disini?" ucap wanita itu dengan nada tidak ramah.


"Mas Bimo dimana, Sin? Aku harus ngomong sama dia."


"Ngapain kamu cari suami orang? Belum puas kamu rebut Mas Bimo dari dulu? Bukannya kamu mau nikah, hah? Kamu mau rebut mas Bimo lagi?"


Asri mengusap wajahnya kasar. Ia merasa tidak mengerti dengan jalan pikiran Sinta yang selau negatif kalau menyangkut dirinya dan Mas Bimo, "Sin! Aku gak mungkin rebut Mas Bimo! Aku kesini mau biacara soal anak mas Bimo!"


"Anak Mas Bimo mana yang kamu maksud?" sengak Sinta.


Sinta yang tidak bisa mengontrol volume suaranya, membuat Bimo menghampiri istrinya itu.


"Kenapa sih Sin ... kamu—Asri?" Bimo terkejut dengan kedatangan Asri.


Asri menatap tajam pada Bimo, "Mas! Kamu gak ngasih tahu ke Ghea kalau dia punya kakak?"


"Maksud kamu apa, Sri?"


"Ghea dekat sama Dio, Mas!"


"Tunggu-maksud kamu Dio anak kita? Bukannya kamu bilang kalau Dio itu sudah meninggal?"


"Apa?" Asri tertawa hambar, "kamu percaya omonganku yang ngelantur itu, Mas! Jadi kamu gak pernah cari Dio, Mas? Kamu menganggap dia mati?" Asri tidak habis pikir, kenapa Bimo menganggap perkataanya serius waktu itu. Padahal dia tahu, waktu itu keadaan dia dalam pengaruh alkohol.


"Dio—anak itu masih hidup?" beo Bimo.


"Dia masih hidup mas. Bahkan dia dekat sama Ghea. Mereka gak tahu kalau mereka itu adik kakak!"


Napas Asri memburu. Ia tidak pernah menyangka kalau Dio memang dilupakan oleh Bimo. Tentu saja Dio sangat membencinya. Dan menganggap orang tua aslinya telah meninggal. Toh dari mereka sendiri tidak ada yang mencarinya.


"Bagaimana ini, Mas? Ghea gak mungkin suka sama kakaknya sendiri?" ucap Sinta.


"Siapa yang suka sama kakak sendiri?" beo sebuah suara dibelakang Asri.


Bimo membulatkan mata tak kala melihat Ghea dam seorang laki-laki yang menatap mereka bergantian.


"Dio ...," lirih Bimo memanggil anaknya.


Dio tertawa hambar. Rasanya semesta memang berencana membawa dia ke masa lalu. Masa dimana ia menjadi korban pernikahan paksa. Dio menatap nanar pria dihadapannya. Entah kenapa walau waktu berselang 13 tahun lamanya, tapi otaknya masih menyimpan dengan baik bagaimana potret Ayahnya. Sehingga ia dengan mudah mengenali pria itu.


Naas ...


Papahnya sangat sehat walafiat tapi tak pernah mencari keberadaanya yang hilang. Lagi, Dio terluka. Begitupun dengan Ghea yang kecewa karena kedua orang tuanya memilih menutupi masalah itu darinya.


Dio pergi tanpa menoleh lagi.


#########


310720, Bdg.

__ADS_1


__ADS_2