
"ANJAY, GAN!"
"AING GEUS GEDE CACINGNA!" (Gue udah gede cacingnya)
"MANEH MAH NYA!" (lo mah ya)
Elgan memutar bola mata. Kesal karena sedari tadi memanggil Dio, tak ada hirauan. Maka dari itu, ia dengan entengnya mengambil ponsel milik Dio. Tidak tahunya ternyata sedang main cacing. Dio sepertinya marah besar. Tetapi Elgan tidak peduli sama sekali.
"Berisik, lo. Ikut gue."
Dio menghembuskan napas kasar, "Mau apa sih lo! Kesel nih cacing gue udah gede lu main ambil aja. Kan mati."
"Cepetan," ucap Elgan. Akhirnya dengan berat hati Dio menuruti permintaan Elgan.
Elgan membawanya kebelakang sekolah. Ia mengambil sesuatu di bawah kursi rusak. Ternyata kotak P3K. Tentu, Dio heran. Apalagi tiba-tiba saja Elgan membuka bajunya.
"Eh ... eh ... ngapain lo malah buka baju! Sorry gue masih normal, Gan."
"Berisik. Obatin gue cepet." Elgan bebalik memunggungi Dio. Sontak saja, Dio terbelalak karena luka yang berada di pundak Elgan.
"Kenapa lo sampai kayak gini? Duel sama siapa lagi, hah? Gak ngajak-ngajak lo, ya! Sok jago ya lo! Kualat nih karena gue gak diajak partisipasi. Ngeremehin banget gue ya, lo!" Dio yang tak berhenti ngoceh malah membuat Elgan sakit kepala. Tapi hanya Dio yang bisa ia mintai tolong. Tidak bisa ke Revan karena akhir-ahir ini anak itu suka menghilang. Tidak juga ke Setra karena sering mengomel tujuh hari tujuh malam kalau dia terluka. Sudah lama tidak bersama, ternyata wataknya masih sama.Hanya saja minta pertolongan ke Dio juga sama ternyata. Bikin kesel. Bikin panas telinga.
Elgan hendak memakai bajunya lagi. Tapi di tahan oleh Dio, "ngapain lo malah pakai baju? Jangan sok ngambek gitu! Ini harus diobatin. Kenapa gak ke rumah sakit? Kan sayang kalau anak Sultan ada bekas luka."
"Mau ngobatin gue gak nih?" Elgan mulai tidak sabar.
"Hehehe ... sorry, Gan. Lu kalau ada masalah cerita sama kita-kita dong. Jangan ditelan sendiri. Kita kan temen lo. Sahabat lo. Masa gak ada peran nya banget kita-kita di hidup lo," ternyata Dio masih tidak mau mengerem bibirnya.
Elgan kembali hendak memakai baju. Tapi Dio menahannya kembali dan tak sengaja malah menepuk pundak yang luka.
"Bang*at!" rutuk Elgan.
Dio meringis. "Maaf-maaf, gak sengaja."
"Cepet obatin gue!" ketusnya.
*******
Bukannya ke kelas, Elgan dan Dio malah ke kantin. Padahal waktu istirahat 5 menit lagi sudah habis. Mereka malah dengan santai siap menyantap dua mangkuk mie baso yang sudah tersaji didepan mereka berdua. Hanya saja, sedari tadi tidak ada yang mulai percakapan. Bahkan, Dio lebih diam dari tadi seperti ada sesuatu hal yang dipikirkannya.
"Tumben amat lo anggurin makanan gitu. Tadi melas-melas minta gue traktir," ucap Elgan tak kala melihat Dio yang tidak segera menyantap mie baso itu. Padahal kalau urusan makanan, Dio paling nomor satu.
"Gan ...."
Elgan tidak menjawab. Ia hanya menaikkan alisnya.
__ADS_1
"Gue mulai bosen hidup kayak gini."
"Hidup kayak gimana yang lo maksud?"
"Ya ... gini. Sekolah cuman numpang duduk doang dikelas. Padahal bunda gue kerja banting tulang buat hidupin gue. Belum lagi tanggungan beberapa anak di panti. Gue merasa jadi anak paling berdosa di muka bumi."
Mendengar itu, serasa ada yang menusuk di hati Elgan.
"Dua bulan ini gue belum bayar SPP. Gue gak tega minta sama Bundanya. Gue tahu 4 bulan terakhir ini lagi krisis. Belum lagi beberapa anak panti juga ada yang Bunda sekolahin. Bunda emang sering tanya dan kasih uang SPP, tapi gue tolak. Gue ngomong aja kalau gue punya duit sendiri. Hasil tabungan gitu. Padahal gue bohong. Soalnya, kalau gak gitu, kasihan gue sama anak-anak panti yang lain. Setidaknya bunda punya cadangan duit buat kedepannya kalau ada apa-apa."
"Cepetan habisin makanan lo. Mienya udah gede mirip sama cacing piaraan lo!"
"Iya. Btw, boleh nambah gak gue?"
Elgan mengerjapkan mata. Gak ngerti lagi sama temannya yang satu ini. Tadi mellow sekarang ngeselin. Maunya apa sih?
"Terserah."
Dio sumringah. Ia mulai lahap makan. "Eh Woy!"
"Jangan teriak-teriak kalau makan!" sergah Elgan.
"Itu Setra ngapain dia melengos begitu. Dia lihat kita, kok malah pergi gitu aja?"
"Ditolak Shaina kali ya tuh orang?"
Elgan hanya mengedikkan bahu.
*********
Elgan masih teprikir denga tingkah Setra yang seperti menghindari dirinya. Bahkan saat pulang sekolah, Setra tidak berbicara padanya. Tidak ikut kumpul juga di markas. Belum lagi, Revan juga yang menghilang seharian ini tanpa kabar beritang. Untungnya, barusan ia telpon Revan dan dijawab. Setidaknya ada satu kelegaan didalam hatinya.
Elgan Perwira
Kenapa lo?
Ia mengirimkan pesan itu 3 jam yang lalu. Tapi belum ada tanda dibalas oleh Setra. Sudah pukul Sembilan malam, kantuk mulai menyerang. Tapi rasa meriang ini tidak hilang-hilang juga. Lima belas menit kemudian, saat hendak tertidur ponselnya berdering. Tanda kalau ada yang mengirim whatapps padanya.
Setra Kolam Renang
Diem lo. Gue masih mode cemburu sosial.
Elgan berdecak. Sesuai firasatnya, Setra tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Setra marah karena ia tidak mau terus terang. Kebiasaan seorang Setra dari dulu.
Elgan
__ADS_1
Lo udah tahu?
Setra Kolam Renang
Muak gue sama lo yang selalu nutup-nutupin masalah.
Ternyata benar. Setra marah karena ia tidak memberi tahunya soal masalahnya. Elgan menghembuskan napasnya. Lalu membaca pesan teks dari Setra.
Setra Kolam Renang
Dah lah pergi ke rumah sakit sono!
Setra Kolam Renang
Gue tempe lo meriang.
Elgan Perwira
Jijay
Elgan Perwira
Berasa diperhatiin pacar
Elgan Perwira
Gue gak kenapa2
Setra Kolam Renang
Halah!
Setra Kolam Renang
Bahasa lo pacar. Pernah juga kagak.
Setra Kolam Renang
Pengecut.
Tak ada niatan lagi untuk Elgan membalas pesan Setra. Gak ngobrol langsung, gak chat-an, orangnya memang suka sekali membuat orang lain naik darah. Akhirnya Elgan bangun, ia meraih kunci motornya dinakas. Ia berniat untuk pergi ke rumah sakit karena meriangnya mulai tidak bisa ia tahan.
#######
310720, Bdg.
__ADS_1