
"Itu artinya kamu membutuhkan teman, iya kan"kata Daneil tersenyum puas
"Gak juga"kata Avi sangat santai
"Gimana kalau kita berteman"kata Daneil mengulurkan tangannya
"Gak perlu"kata Avi
"Apa aku orang pertama yang banyak mengobrol denganmu disekolah?"tanya Daneil
"Apa itu pertanyaan?"tanya Avi
"Ya"kata Daneil
"Kalau begitu iya, jadi pergilah karena aku tidak mau mengobrol lebih banyak lagi"kata Avi
"Kenapa, kamu bahkan tidak pernah senyum sedikitpun, ekspresi wajahmu terlalu datar sehingga orang lain tidak tahu apa yang kamu rasakan"kata Daneil
"Aku tidak mengerti kenapa orang lain harus mengerti apa yang dirasakan orang lain"kata Avi
"Tidak hanya mengerti tapi memahami, apa perkataan orang tersebut menyinggung perasaan si pendengar atau tidak"kata Daneil
__ADS_1
"Tidak penting sih, tapi aku terima saranmu sekali lagi aku bilang padamu aku membencimu, jangan sok kenal denganku setelah ini, karena ini percakapan kita yang terakhir"kata Avi pergi menuju kelasnya
"Kamu membenciku tapi aku menyukaimu apa kamu tidak punya perasaan mengatakan yang seharusnya dipikir-pikir terlebih dahulu, apa kamu tidak memikirkan perasaan orang yang mendengarnya, apa kamu tidak punya hati untuk mencerna itu semua karena yang selalu kamu gunakan adalah logika"kata Daneil bicara keras
"Ya, aku tidak punya perasaan untuk memikirkan apa yang orang lain dengar dan tidak punya hati untuk mencerna perkataan seseorang bahkan logika pun kugunakan saat tidak ada jalan keluar lagi"kata Avi membalikkan badannya kehadapan Daneil
Daneil terdiam mendengar perkataan Avi yang tidak mungkin terucap olehnya
"Kenapa diam?"tanya Avi
"Masih kurang, kamu tahu aku bahkan tidak bisa menangis dan marah pada orang lain karena sudah mati rasa"kata Avi
"Masih kurang,..."kata Avi
"It's okey"kata Avi membalikkan badannya untuk pergi menuju kelas
Rifde yang sedari tadi mengikuti Daneil mendengar semuanya dengan jelas, dia juga tidak percaya orang yang diam saja selama ini bukan orang introvert biasa tapi orang yang mati rasa.
"Mati rasa? mati rasa kenapa?"tanya Rifde pada dirinya sebdiri
Avi melihat Rifde dan menghampirinya...
__ADS_1
"Apa kamu mendengarnya?"tanya Avi
"Kenapa diam saja, saat orang bertanya bukankah baiknya dijawab jika tahu jawabannya"kata Avi muak
"Kau mendengarnya Rifde Fajoka"kata Avi sangat muak
"Biklah aku anggap kau mendengarnya, jangan ada satu orang pun yang tahu, jika ada yang tahu aku akan langsung menuduhmu"kata Avi sembari pergi meninggalkan Daneil dan Rifde yang masih mematung
Rifde menghampiri Daneil...
"Kenapa kamu menyukainya?, apa yang spesial darinya?"tanya Rifde pada Daneil
"Kenapa?, apa tidak boleh menyukainya?"tanya Daneil balik
"Kamu dengar yang dia bilang, dia tidak punya hati untuk mencerna sebuah perasaan"kata Daneil
"Dia berbohong"kata Daneil
"Tahu dari mana kalau dia berbohong? dari hari pertama masuk sekolah semua cewek-cewek saling berkenalan tapi dia hanya diam saja membaca buku, saat ada seseorang yang menghampirinya dia merasa gelisah dan cepat-cepat ingin menyelesaikan percakapan jika semakin lama ia pergi begitu saja meninggalkan orang yang mengajaknya mengobrol, saat istirahat dia sudah tidak ada lagi di kelas bahkan di kantin, kamu tahu apa? aku yang teman sekelasnya dari kelas 1 saja baru tahu sekarang"kata Rifde panjang lebar
"Aku udah kenal dia sebelum kamu"kata Daneil
__ADS_1
"Apa, gimana bisa"kata Rifde bingung