
Keduanya naik ke atas truk pickup Max yang digunakan untuk mengangkut barang, dan meninggalkan Kota Khanh, mengejar matahari terbenam.
"Tuan Summers, tujuan pertama kita adalah Kota Riverville! Saya telah menemukan tiga orang untuk Anda dan mereka semua tinggal di Provinsi Riverdale. Satu di Riverville City, dua di Swampville City! Beri saya sedikit waktu lagi. Dengan jaringan yang saya miliki saat ini, bahkan mungkin saya dapat menemukan banyak hal di seluruh wilayah selatan!"
"Tentu saja." Tyr mengangguk dengan pelan. "Kau harus mencari seorang pria yang sedang dalam keadaan frustasi dan putus asa. Untuk setiap orang yang berhasil kau temukan, maka aku akan memberimu komisi sebanyak satu juta dolar. "Saat Tyr berbicara, dia mengeluarkan ponselnya untuk mentransfer tiga juta tambahan ke dalam kartu debit yang dia berikan kepada Max melalui internet banking.
Max terus mengemudi. Dia telah menerima sejumlah uang uang dari Tyr, itu tandanya dia harus melakukan pekerjaannya dengan baik.
"Tuan Summers, maafkan saya karena telah bertanya tetapi mengapa Anda mencari orang yang putus asa dan frustasi?"
Bibir Tyr sedikit melengkung ke atas dan pria itu segera menjawab, "Hanya orang yang putus asa frustasi yang dapat bangkit dari keterpurukan dan merasa dilahirkan kembali. Dan kesempatan kedua mereka dalam hidup ini akan diberikan olehku!"
Di dalam rumah sakit di Riverville City, seorang gadis muda berwajah pucat dengan fitur nya mencolok, mengenakan gaun pasien berdiri di jendela, diam tidak bergeming. Ekspresi wajahnya terlihat kosong dan matanya yang tanpa jiwa memancarkan keputusasaan. Dia menatap matahari terbenam dari kejauhan seperti dia tengah melihat hidupnya sendiri. Saat matahari terbenam, dia merasa bahwa hidupnya juga akan mencapai akhir yang sama!
Namanya Vanessa Harris. Itu adalah nama yang indah dan memiliki nilai keindahan. Seperti Vanessa yang artinya adalah gadis yang menarik dan paling populer di sekolah. Dia dulu memiliki keluarga yang hangat beranggotakan empat orang, bersama dengan orang tua dan adik laki-lakinya. Meski mereka tidak kaya, namun kehidupan mereka berjalan dengan harmonis.
Namun, sekitar dua bulan yang lalu, semuanya berubah.
Dua bulan sebelumnya, Vanessa jatuh sakit. Tumor kompleks telah tumbuh di otaknya dan untuk menyembuhkan penyakitnya mereka harus membutuhkan banyak biaya. Awalnya, orang tuanya akan membayar tagihan medisnya dan datang untuk merawatnya. Tapi setelah beberapa waktu, mereka menghilang. Mungkin saat ini mereka telah meninggalkan Vanessa dan meninggalkan kota ini bersama adik laki-lakinya!
Vanessa berdiri di depan jendela. Saat dia menyaksikan matahari secara perlahan mulai terbenam di balik cakrawala, air matanya yang jernih mulai mengalir di sudut matanya. Langit semakin gelap seperti bagaimana hidupnya yang juga akan segera terjatuh ke dalam kegelapan, mencapai titiknya yang terakhir. Dia membuka jendela dan melihat ke luar.
Dia sedang berada lantai enam. Gadis yang sedikit takut akan ketinggian merasakan jantungnya menggigil Namun, dia sudah siap secara mental untuk melompat keluar dari jendela ini dan dia harus menaklukkan rasa takut akan ketinggian ini
Vanessa tidak takut mati. Dia hanya merasa kesepian dan tertekan. Dia tidak dapat memahami keputusan orang tuanya karena dia hanyalah seorang gadis muda, hampir berusia dua puluhan Mustahil baginya untuk dapat berpikir ke depan seperti orang dewasa pada umumnya
__ADS_1
"Bahkan jika kau tidak mau mengobati kesembuhanku, setidaknya mereka bisa tetap menemaniku pada saat saat terakhir didalam hidupku. Aku tidak takut mati, aku hanya kesepian dan tertekan!"
Air matanya tidak bisa lagi ditahan dan mengalir dengan deras dari kedua bola mata Vanessa seperti air kristal yang jernih. Dia menjambak rambut hitamnya yang indah dan panjang, tapi ternyata itu hanya wig rambut palsu. Dia menarik wig itu untuk memperlihatkan kulit kepalanya di mana semua rambutnya telah rontok. Di kulit kepalanya, ada bekas luka merah sepanjang jari, seperti seekor lipan yang merangkak diatas kepalanya.
Gadis yang awalnya cantik sekarang terlihat sangat mengerikan. Vanessa berbalik untuk melihat bayangannya di jendela dan tersenyum dengan pahit. Dia menutup matanya, membiarkan air mata mengalir di pipinya dan dia memanjat ambang jendela!
"Aku bisa menyelamatkanmu".
Namun, tepat sebelum dia melompat, pintu bangsal telah dibuka. Tyr masuk diikut dengan Max di belakangnya.
Vanessa berbalik untuk melihat Tyr dengan ekspresi datar.
Tyr berkata, "Penyakitmu bukanlah sesuatu yang serius, Hanya sedikit rumit sehingga para dokter tidak dapat menemukan obat yang tepat." Saat berbicara, Tyr mengeluarkan sederet jarum perak. "Turunlah. Aku bisa memberimu hidup yang baru!"
Vanessa tidak mengenal Tyr sehingga dia merasa bingung dengan kemunculan sosok pria ini dengan tatapan yang datar. Namun, sepertinya Tyr memiliki pesona yang unik sehingga, tanpa disadari, gadis itu turun dari pintu jendela.
"Tuhan mu." Saat dia berbicara, Tyr telah selesai meletakkan barisan jarum. Kemudian dia bertanya kepada Max, "Apakah persiapannya sudah selesai?"
Max mengangguk. Rumah sakit telah diberi tahu sehingga tidak ada yang akan datang untuk mengganggu kita.
"Baik. Tunggu aku di luar."
"Iya!"
Max pergi dan hanya Tyr dan Vanessa yang tersisa di dalam ruangan.
__ADS_1
"Berbaring. Aku perlu melakukan operasi kecil padamu. Namun, operasi ini akan terasa menyakitkan dan tidak menggunakan obat anestesi karena aku ingin kau sadar dan memberikan informasi tentang kondisimu."
Vanessa masih bingung saat memandang Tyr. Ekspresi wajah yang ketakutan mulai melintas di matanya.
Tyr tertawa. "Kau tidak takut mati tapi takut sakit?"
"Saya tidak takut." Ketakutan didalam sorot mata Vanessa seketika menghilang dan dia berbaring dengan patuh diatas tempat tidur.
Dia tidak mengenal pemuda yang hanya beberapa tahun lebih tua dari dirinya. Tapi dia juga telah memberikan rasa aman pada dirinya.
Tyr mengeluarkan sebuah jarum, dan dengan teknik yang luar biasa, dia menusuknya ke otak Vanessa. Jarumnya sedikit gemetar, itu benar-benar membingungkan. Hanya dengan satu jarum, Vanessa bisa merasakan sakit yang tak tertahankan di dalam tengkoraknya.
"Jangan berteriak, tapi kau bisa bersenandung dengan lembut." Saat Tyr memasukkan jarumnya, dia berkata kepada Vanessa, "Jika semuanya berjalan dengan baik, akupuntur dapat menyembuhkan penyakitmu. Tetapi jika terjadi sedikit kesalahan karena ulahmu, mungkin aku perlu membuka sedikit kepala tanpa menggunakan obat bius juga. Namun, bagi seorang gadis yang memiliki daya tahan seperti dirimu, itu benar-benar mengagumkan!"
Vanessa berbaring di tempat tidur, menggenggam dengan erat sprei. Tubuhnya sudah dibasahi oleh keringat.
Dua jam kemudian, Tyr turun. Max membuang rokok di tangannya dan menghampirinya.
"Bagaimana, Tuan Summers?"
Senyuman tipis muncul di bibir Tyr. "Kau cukup diandalkan dalam pekerjaanmu. Aku sangat puas dengan Vanessa Harris. Perawatannya berhasil dan aku akan memberinya alamat perkebunan. Setelah dia selesai memulihkan diri dan dipulangkan, dia akan datang ke tempatmu!"
"Baik." Max mengangguk dengan berat. "Saya sudah mengurus semuanya dengan pihak rumah sakit. Mereka akan memberi Vanessa perawatan yang terbaik."
"Baik."
__ADS_1
Tyr menoleh untuk melihat ke jendela di lantai enam dan menarik napas dalam-dalam. Ayo pergi, ke Swampville!