Impian Keluarga Bahagia

Impian Keluarga Bahagia
Keputusasaan Bagian Dua


__ADS_3

Truk pickup melaju hingga larut malam. Pada saat mereka tiba di kota Swampville, waktu sudah hampir jam sepuluh malam!


Ada tempat sampah di samping pintu belakang hotel di belakang jalan yang ramai. Seorang pria lumpuh yang kotor dan tampak sangat babak belur sedang mengais makanan di tempat sampah itu. Dia lapar. Sangat lapar sampai perutnya tak bisa mengalah.


Baru saja dia melihat seorang staf hotel membuang beberapa sisa makanan ke tempat sampah. Pria itu kemudian menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit sebelum dia bisa mencapai tempat sampah. Butuh sepuluh menit untuk menempuh jarak seratus meter, bergerak lebih lambat dari seekor kura-kura. Kedua kakinya telah patah hingga dia merangkak dengan tangannya.


Pria itu menjatuhkan tempat sampah dan kemudian mengikis sisa makanan untuk dimasukkan ke dalam mulutnya. Dirinya sangat lapar sehingga sisa makanan di sampah yang dia temukan tampak seperti sebuah hidangan pesta baginya.


"Bukankah ini Raja Tinju Swampville, Tyler Lancaster?"


"Anda benar, itu adalah Tyler Lancaster!"


Sekelompok pria bertato mendatangi Tyler dan menendang tong sampah di depannya.


"Haha, siapa yang tahu bahwa Raja Tinju Swampville pada akhirnya akan memakan sampah di jalanan?"


"Sigh, ini terlalu tragis."


Salah satu pria berjongkok dan menjambak rambut Tyler, tetapi wajahnya jelas terlihat seperti menikmati kemalangan yang di alami oleh Tyler.


"Boxing King, apakah sampah itu enak?"


"Lanjutkan santapanmu.”


Salah satu pria menginjak-injak sisa makanan sebelum mengambilnya dan memasukkannya ke dalam mulut Tyler.


"Apakah kau sudah kenyang? Jika tidak, makan lagi. Jika tidak, bagaimana kau bisa memiliki tenaga untuk bertanding ring tinju?" Saat pria itu berbicara, dia menampar keras kaki Tyler, membuat Tyler meringis kesakitan.


"Kau bisa lihat ini? Ini adalah Kong's Legs kami yang terkenal di Kota Swampville. Kaki yang bisa menembus dinding. Bukankah itu keren?"

__ADS_1


"Luar biasa!"


Orang-orang di sekitar mereka mulai tertawa terbahak-bahak, memberinya acungan jempol.


"Tapi betapapun kuatnya Kaki Kong ini, mereka menjadi tidak berguna." Saat dia berbicara, pria itu meninju kaki Tyler, Tyler merasa kesakitan sehingga dia meludahkan semua makanan yang baru saja dia makan,


"Sial! Bukankah Kau dulu sangat berkuasa, Raja Tinju Swampville? Aku telah menghabiskan dua ratus ribu untuk pertandingan tinju itu sebulan yang lalu, bertaruh bahwa Kau akan menang tetapi kau justru kalah dari pertandingan itu! B*ngsat!"


Beberapa pukulan dilancarkan kembali dan saat ini dahi Tyler tengah dibanjiri keringat karena me an rasa sakit, tubuhnya hampir pingsan. Sebulan yang lalu, tidak akan ada orang yang berani mempermalukan Tyler dengan cara seperti ini.


Saat itu, Tyler adalah Raja Tinju yang terkenal di Kota Swampville, menjalani kehidupan yang penuh kemuliaan. Namun, sebulan yang lalu di arena itu juga, dia telah kehilangan segalanya. Uang, otoritas, rasa hormat, dan bahkan wanitanya telah meninggalkan dirinya. Selain itu, kakinya juga telah dipatahkan oleh seseorang sehingga membuat kakinya cacat.


Manajernya yang paling terpercaya telah terjerat hutang sepuluh juta dolar dari perjudian. Untuk melunasi hutang-hutangnya, manajernya berjanji kepada debiturnya bahwa Tyler akan memenangkan pertandingan. Selama pertandingan berlangsung, sang manajer telah bertaruh satu miliar dolar pada lawan Tyler di mana akhirnya dia telah menghasilkan banyak uang setelah Tyler dengan sengaja mengalahkan dirinya sendiri dalam pertarungan itu.


Namun, karena Tyler telah mengkonsumsi obat yang membuatnya lesu sebelum pertandingan, kakinya telah dipatahkan oleh lawannya saat ia berbaring tak berdaya di atas ring.


Setelah pertandingan usai, Tyler kehilangan segalanya. Dia bahkan mengalami kekerasan dari para penjudi yang bertaruh padanya untuk menang di pertandingan ini. Ketika dia menjadi pengemis yang tidak sedap dipandang, tidak ada seorangpun yang pernah mengulurkan tangan untuk membantunya. Bahkan manajernya sendiri memperlakukannya seperti seekor anjing liar.


Tyr menghampiri Tyler dan berjongkok untuk memeriksa kaki Tyler yang patah saat dia berkata, "Pertandingan tinju sebulan yang lalu itu adalah sebuah kerjasama yang dilakukan oleh manajer mu dan orang lain. Dia tidak memiliki hutang. Dia hanya berpikir Kau terlalu lambat dalam menghasilkan uang jadi dia menggunakan metode ini untuk menghabisimu sepenuhnya sehingga mereka bisa menghasilkan satu miliar dolar!"


Tyler menatap Tyr dengan tidak percaya, seluruh tubuhnya gemetar. "Kau siapa?"


"Seseorang yang bisa memberimu kesempatan lagi dalam hidup." Saat berbicara, Tyr menampar keras kaki Tyler yang patah.


Krak! Ah!!!


Terdergar bunyi suara sendi terkilir, bercampur dengan jeritan Tyler terdengar sangat keras di malam yang gelap ini.


"Tulangmu masih bisa disatukan kembali. Kita hanya harus terus mematahkannya dan tulang yang patah akan beregenerasi! Tentu saja, perawatan ini perlu dipasangkan dengan obat pengapuran tulang khusus yang akan aku siapkan untukmu dan semua ini akan memakan waktu sekitar satu bulan."

__ADS_1


Tyler terkejut dan bingung saat memandang Tyr, tidak percaya bahwa semua ini nyata. Bagaimana kaki yang patah ini bisa disatukan kembali? Lelucon macam apa ini?


Meski kedengarannya keterlaluan, untuk beberapa alasan, Tyler memiliki percaya pada pria ini. Dalam waktu setengah jam, Tyler tersadar sebelum jatuh pingsan lagi.


Akhirnya, Tyler memperhatikan bahwa kakinya yang sebelumnya tertekuk sekarang menjadi lurus kembali. Tyr telah mengatur ulang tulangnya dan memperbaikinya letaknya. Tyr melemparkan sekantong obat yang telah ia persiapkan sebelumnya ke dalam pelukan Tyler sebelum berkata, "Satu bulan kemudian, kau dapat bergerak bebas seperti dulu lagi. Setelah itu, Kau bisa membalaskan dendam pada manajer mu. Setelah pembalasanmu selesai, datanglah ke sebuah peternakan anjing di pinggiran Kota Khanh!"


Karena itu, Tyr kembali ke dalam truk pickup dengan Max mengikuti di belakangnya.


Truk pick up itu melaju dengan pesat dan Tyler menatapnya untuk waktu yang cukup lama, tubuhnya kembali tidak bisa sadarkan diri. Semua ini tampak seperti mimpi.


Dalam sekejap mata, sekarang sudah pukul satu pagi! Di sebuah ruangan kecil yang gelap di dalam penjara Kota Swampville, melalui sorot cahaya lampu pijar yang redup, Tyr menatap dengan acuh pada pria botak dan tampak tangguh yang duduk di depannya.


"Martin Jakeman, kau akan mendapatkan hukuman tembak besok pagi. Apakah kau takut? Atau lebih tepatnya, apakah kau menyesal?".


Martin memandang Tyr dengan curiga. Dia tidak tahu siapa sosok pria muda ini dan bagaimana dia bisa memiliki kemampuan untuk bisa memasuki penjara sebesar dan bisa mengunjungi narapidana hukuman mati seperti dirinya pada larut malam seperti ini. Namun, karena besok dia akan mati, Martin tidak dapat menolak ajakannya untuk mengobrol sebelum waktunya tiba.


"Tentu saja, aku takut. Siapa yang tidak? Tapi aku tidak menyesalinya."


"Hmm?" Tyr sedikit mengangguk.


Martin menyeringai dan berkata, "Aku adalah seorang pekerja imigran tidak berpendidikan yang melakukan pekerjaan dengan jujur dan memiliki toleransi yang tinggi. bahkan orang seperti golem pun memiliki emosi, Apakah kau setuju? Kami sekelompok pekerja imigran jujur telah bekerja keras di lokasi selama setahun penuh tetapi akhirnya, tidak hanya kontraktor yang menolak untuk membayar kami, dia bahkan telah mengumpulkan banyak orang dan melumpuhkan saudara-saudaraku. Ia juga telah mempermalukan dan membunuh istriku, jadi katakan padaku, siapa yang bisa mentolerir hal seperti itu?"


Saat dia berbicara, mata Martin menjadi merah dan air matanya berkaca-kaca. "Aku belum terlalu tua, hampir berusia tiga puluhan. Dulu, mereka semua memanggilku Frank Jakeman. Tapi sekarang, Aku telah mendengar bahwa mereka memanggilku Martin Jakeman setelah aku berhasil mengeluarkan kontraktor dan delapan orang karyawannya! Aku cukup suka nama ini hingga sekarang, Martin Jakeman!”


"Apakah begitu? Selama itu dapat membuatmu bahagia, kau dapat menggunakan nama itu seterusnya."


Tyr berdiri dan meletakkan catatan di depannya.


"Ingat alamat ini. Peternakan kandang anjing di pinggiran Kota Khanh. Setelah kau meninggalkan penjara ini, datang dan temukan aku di sana."

__ADS_1


"Meninggalkan?" Martin memandang Tyr, kaget. Sudut mulutnya bergerak-gerak. "Apakah kau bercanda?"


"Apa kau pikir aku bosan karena aku akan datang ke sini di tengah malam hanya untuk bercanda denganmu?" Tyr mengangkat bahunya. "Ingatlah, saat matahari terbit besok, hidupmu ini bukan lagi milikmu. Tapi milikku!"


__ADS_2