INI KAH CINTA

INI KAH CINTA
Episode 1


__ADS_3

Afsar Riyanto. Pria berusia 25 tahun dengan tinggi badan 187 cm. Dan seorang konglomerat yang arogan. yang hanya kesehariannya mengabdikan diri dengan bekerja seharian tanpa kenal lelah.


Baginya libur hanya bualan semata saja.


Seorang pria tampan yang sedang sibuk diruang kantornya. Begitu serius dengan laporannya tanpa berkutik sedikit pun dari laptop yang sedang dilihatnya.


Tiba-tiba Seseorang masuk ke ruang kantornya tanpa permisi.


"Hai adik kesayanganku" Ucapnya santai dengan senyuman menawannya. Mereka memang hampir mirip. Hanya saja afkar Riyanto lebih pendek dari sang adik hanya 183 cm saja. Dan murah senyuman.


Sedangkan sang adik justru sebaliknya. Dia dingin tanpa perasaan tapi sialnya begitu menawan. Jika orang lain hanya melihat mereka sekilas saja. Mungkin orang lain mengira mereka kembar tak seiras.


"Bisakah kau mengetuk pintu dulu, Dasar tidak sopan!" Ucap sang adik sadis.


"Ahaha Sejak kapan adikku ini peduli dengan sopan santun?" Ucap Afkar menggoda adiknya.


Afsar menatap kakaknya tajam.

__ADS_1


Tapi Afkar tak menghiraukannya. Karena sudah biasa dengan sikap Afsar.


"Ada apa datang kekantorku?. Bukankah kau sibuk dicanada?" Ucap Afsar ketus kepada Afkar.


"Hey aku kan rindu dengan adikku ini, memangnya kau tak merindukan kakak tampanmu ini?" Ucap Afkar narsis.


Afsar menyeringai "Dalam mimpimu!, Jangan basa basi to the point saja, Kau pasti ada kepentingan untuk jauh-jauh datang kesini." ujarnya


Afkar mendengus melihat adiknya yang tak bisa diajak bercanda "Apa kau tidak persilahkan aku duduk dulu?" lalu Afkar duduk di salah satu sofa yang ada diruang kantor adiknya.


Afsar mendengus "Jangan pura pura perhatian sama aku." Ucapnya ketus.


"Bagi tau ayah aku sudah dewasa dan tak perlu lagi diperhatikan, dan soal pasangan aku belum berminat" Ucap Afsar ketus.


Afkar hanya menatap adiknya sedih karena gara gara ibunya meninggal dan ayahnya pindah ke canada adiknya berubah dingin "Baiklah, jika kau tak ingin kami mencampuri urusanmu aku menghargai privasimu tapi buka lah hatimu sedikit dan libur lah sesekali supaya kau bisa menikmati hidup." Ucap Afkar lagi.


Tapi Afsar tidak menghiraukan ucapan kakaknya. menoleh pun tidak Dan hanya sibuk dengan laporan.

__ADS_1


Melihat adiknya tak merespon ucapannya Afkar hanya menghembuskan nafas pasrah ia berdiri ingin pergi "Aku pergi dulu kalau begitu. jaga dirimu baik baik dan sesekali kunjungi lah ayah di canada dia pasti akan senang melihatmu biar bagaimana pun bencimu kepada ayah. tapi dia tetap ayah kita, aku pamit dulu, dah adikku" Ucap Afkar sambil berlalu pergi.


Afsar hanya termenung di balik meja kerjanya mendengar kakaknya berbicara seperti itu entahlah apa yang ia rasakan kini karena Afsar juga merasa sakit dengan masa lalunya sehingga ia pun susah untuk memaafkan sang ayah.


Ayahnya Afsar yang sudah lama meninggalkan dirinya bersama sang kakek semenjak ibunya meninggal. Afsar menyalahkan ayahnya karena ayahnya hanya sibuk dengan kerjanya. Walaupun ibunya sedang sakit keras saat itu. Ayahnya tidak meluangkan waktu untuk merawat sang ibu. Membuat Afsar merasa marah tapi masih menahan diri dari amarahnya.


Tapi saat sang ibu pergi meninggalkannya untuk selamanya. Ia langsung mengamuk kepada ayahnya tapi kakaknya menahan Afsar yang saat itu hampir saja menghajar sang ayah. Dan membawa Afsar pergi menenangkan diri.


Afsar kembali sadar dari masa lalunya yang buruk itu "Ah sial!, kenapa aku teringat kenangan buruk itu lagi." Kesal Afsar dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


"Tok.Tok.Tok"


"Masuk." Dan masuk lah seorang lelaki yang terlihat sebaya dengan Afsar. Yang ternyata sekretaris Raditya sekaligus temannya sedari SD. "Ada apa?" Tanya Afsar.


"Maaf tuan muda, waktunya rapat." Ucap sekertaris Raditya


O⁠_⁠oO⁠_⁠oO⁠_⁠oO⁠_⁠oO⁠_⁠oO⁠_⁠oO⁠_⁠oO⁠_⁠oO⁠_⁠oO⁠_⁠oO⁠_⁠oO⁠_⁠o

__ADS_1


__ADS_2