
Afkar yang sudah kembali ke Canada. Barusan mendapat telefon dari kakeknya.
Kalau adiknya yang gengsian itu. Memperkenalkan pacarnya kepada sang kakek. Kata kakeknya. Awalnya ia tidak percaya kalau itu pacarnya Afsar.
Karena gadis itu bekerja di restoran Adijaya. Dan kebetulan gadis itu yang melayani kakeknya hari itu.
Afkar pun tidak percaya mendengarnya. Ia pikir adiknya yang sudah menjomblo dari lahir itu. Mempunyai selera yang tinggi. Sampai sampai adiknya betah menjomblo selama itu. Beda dengannya yang sudah beberapa kali berpacaran.
Afkar duduk dikursi kantornya. Masih memasang wajah tidak percaya mendengar kabar tentang adiknya. Karena ia mengenal sekali adiknya itu. tidak mungkin dalam waktu singkat adiknya bisa mendapatkan pasangan.
Terakhir kali mereka duduk bersama di sofa.mereka mendengar kakek mereka bicara soal Afsar harus membawa kekasihnya untuk bertemu kakek mereka. Kalau tidak Afsar harus mau dijodohkan.
Dan Afsar pun hanya terdiam seperti mayat hidup sambil menunduk. tanpa bisa menolak. dan ia bisa melihat. kalau adiknya itu sepertinya belum punya kekasih. atau dia yang tidak tahu ya.
"Aku ingin melihat sendiri gadis itu seperti apa" ujar Afkar dengan diri sendiri. Ia penasaran Ingin melihat tipe Afsar itu.
Lina sedang menatap Adira yang sedang sibuk dengan buku bukunya. Ia tahu kalau Adira tidak serius membacanya. Dan hanya berpura pura supaya bisa menghindar dari pertanyaannya.
Lina merebut buku itu. "Hei, kenapa kau mengambil bukuku?" Seru Adira.
Tapi Lina tidak menghiraukannya. dan memasukkan buku itu kedalam tas Adira.
Lalu menatap Adira dengan mata menyipit. Adira hanya menelan liurnya gugup. Ia tahu apa yang membuat Lina bersikap seperti itu.
__ADS_1
"Bagaimana kau bisa akrab dengan pria itu" tanya Lina dengan nada mengintrogasi.
Adira menghela nafas sebelum bicara. "Dion menyatakan cinta padaku secara tiba-tiba" ucap Adira to the point.
"Oh, benarkah? Lalu apa kau menerimanya? Tapi tunggu dulu. Bukan kah kemarin kau memperkenalkannya kepadaku sebagai temanmu?" Tanya Lina bertubi tubi.
"Huh.., iya karena merasa tidak enak sudah menolaknya. aku jadikan teman saja" jawab Dira santai sambil mengangkat bahunya.
"Ya ampun, aku tidak menyangkah kau begitu kejam kepada para pria itu. Pasti sakit hanya dijadikan teman" ujar Lina pura-pura memasang wajah prihatin.
"Ishh, jangan berlebihan dech, aku kan hanya ingin fokus dengan kuliahku" ujar Adira sambil memutar bola matanya bosan. Menurutnya Lina terlalu berlebihan.
Lina merangkul bahu Adira. "Say, Coba lah terima salah satu dari mereka. Percaya dech punya pacar itu menyenangkan tahu" bisik Lina. Mencoba menghasut temannya yang keras kepala ini.
"Jangan mencoba menghasut ku, aku tahu kalau itu hanya mengganggu pelajaranku" ucap Adira sambil bersedekap dada.
Lina hanya menggeleng kepala saja melihat temannya yang masih betah menjomblo itu.
"Aku curiga kamu suka sesama jenis" ujar Lina mencoba memancing Adira.
Adira langsung menatapnya ngeri. "bosan hidup ya?" Kata Adira jadi kesal. Dibilang begitu.
"Hahaha, maaf-maaf aku hanya berasumsi saja. Habisnya kamu sudah lama banyak yang naksir tapi ditolak terus. Aku kan jadi khawatir" ucap Lina sambil tertawa lepas. Ia merasa lucu dengan perkataannya sendiri.
__ADS_1
"Hei, berhenti tertawa kita jadi pusat perhatian" ucap Adira malu diliatin banyak orang.
Karena mereka sedang berada dikafe dekat kampus mereka.
"Baru Sadar kamu, sedari tadi kita memang sudah jadi pusat perhatian" ucap Lina masih terkekeh.
Adira hanya menghela nafas lalu tersenyum. Ia tidak bisa kesal lama-lama dengan Lina.
Sementara Afsar menunggu Adira dengan perasaan kesal karena gadis itu tidak datang juga.
Ia pun sampai sengaja menunda untuk makan siang hanya untuk menunggu Adira.
Tapi sepertinya gadis itu tidak menghiraukan ancamannya. Ia beranjak dari kursi kebesarannya dengan wajah memerah karena marah. Lalu keluar dari ruangannya. Sekretaris Raditya memanggilnya pun ia tidak menghiraukannya. Dan para karyawan hanya bisa menunduk hormat karena tidak berani menyapanya.
Tapi Afsar hanya cuek dan hanya memasang raut wajah kesal. Membuat para karyawannya jadi takut menatapnya.
"Kurang ajar, gadis itu tidak menghiraukanku rupanya" ucap Afsar sambil menggretakkan giginya menahan kesal.
Sedang Asyik-asyiknya Adira bercanda dengan Lina tiba-tiba seseorang menarik pergelangan tangannya. Ia kaget melihat siapa yang menariknya sampai berdiri dari kursinya.
Dan Lina pun kaget melihat pemandangan itu. ia hanya bisa membeku ditempat duduknya. Tidak percaya bisa menatap Afsar Riyanto dengan begitu dekat seperti ini. Ia terlihat begitu mempesona. Lebih tidak percaya lagi karena pria itu tiba-tiba menarik temannya.
"K-kau" Adira hanya bisa tergagap melihat Afsar sudah berdiri didekat sambil memasang raut wajah marah menatapnya.
__ADS_1
Tanpa bicara Afsar menyeretnya pergi dari kafe itu. Dan Lina baru tersedar dari rasa kagum setelah Afsar membawa Adira pergi dengan Mobil mewahnya.