INI KAH CINTA

INI KAH CINTA
Episode 16


__ADS_3

"Kau ingin membawaku kemana?." Tanya Adira panik.


Afsar tidak menghiraukan perkataan Dira. Dan hanya fokus menyetirkan mobil mewahnya.


Adira merasa kesal karena Afsar tidak peduli dengannya. Ia ingin membuka pintu mobil itu tapi Afsar menguncinya.


"Apa maumu..?" Kata Adira dan menatap pria itu tajam. Ia merasa putus asa tidak bisa berbuat apa-apa.


Afsar masih diam dan menatap lurus ke depan tanpa menoleh kearah Gadis itu. Dengan rahangnya yang masih mengeras.


Mobil Afsar berhenti disebuah apartmen yang terlihat mewah. Dan berwarna silver.


Afsar keluar dari mobilnya dan menyeret Adira untuk masuk ke apartmennya. Adira memberontak tapi itu tidak sebanding dengan tenaga pria itu.


"Untuk apa kau membawaku kesini?" Tanya Adira mulai was-was. Ia takut kalau pria itu macam-macam padanya.


Afsar mendudukkan Adira disofa ruang tamunya. Dan mengurung gadis itu dengan kedua tangan kekarnya. Sampai Adira tidak bisa kemana-mana.


Adira kaget dan menciut melihat tatapan Afsar yang mengimindasinya.


Ia sudah terpojok dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


"J-jangan m-macam-macam sama aku ya.. Atau aku akan-"


"Akan apa?" Tantang Afsar. Ia sangat marah saat ini tapi masih menahannya.


Adira hanya bisa terdiam dan menatap tepat dikedua mata pria itu. Adira memejamkan matanya sejenak. Untuk menenangkan detak jantungnya yang sedari tadi berdegup kencang.


Adira mendongak kembali untuk menatap mata pria itu lagi. "Baiklah, Apa yang kau inginkan?" Tanya Adira pada akhirnya.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak datang kekantorku?" Ucap Afsar geram.


Adira baru teringat dengan pembicaraan mereka kemarin. dan Afsar yang menyuruhnya datang kekantor pria itu.


"Jawab!" Bentak Afsar mulai hilang kesabaran.


"Jangan membentakku!" Bentak Adira kembali sambil memelototi pria itu.


"Aku berhak untuk tidak datang!" Seru Dira lagi.


Mereka begitu dekat saat ini sampai mereka bisa merasakan hembusan nafas mereka masing-masing.


"Oh ya?, Dan kau akan lari dari masalah ini?" Ucap Afsar tajam.


"Dengarkan aku baik-baik, Kalau sampai kau lari dari masalah ini.. Maka kau harus siap-siap berhadapan denganku. Atau yang lebih buruknya lagi kau akan berhadapan dengan kakek. Dan kau bisa bayangkan bagaimana kehidupanmu selanjutnya setelah itu.., aku bisa saja dengan mudah membuat hidupmu menjadi tidak tenang." Ancam Afsar tanpa memberi kesempatan untuk Adira.


Adira hanya bisa membeku ditempat duduknya. Ia tidak ingin hal itu sampai terjadi padanya. Ia hanya ingin kuliah dengan tenang tanpa beban seperti itu. Dan sepertinya dia tidak punya pilihan lain.


Afsar menyeringai licik. "Menikah lah denganku." Ucapnya tanpa basa basi.


Adira kaget mendengarnya. "Tidak, Aku masih ingin bebas dan kuliah." Ucap Adira cepat. Tidak dapat dia bayangkan bagaimana nanti jika pria Arogan itu menjadi suaminya. Pasti hidupnya menjadi tidak tenang.


"Aku tidak memintamu nona. Tapi ini perintah dariku" Ucap Afsar tidak ingin dibantah.


"Kau tidak bisa seenaknya memerintahku!" Marah Adira. Wajahnya jadi bertambah merah sampai dikupingnya akibat kesal.


"Kau tidak punya pilihan" ujar Afsar. Ia beranjak dari posisinya saat ini.


Adira hanya bisa melototi punggung lebar pria itu disaat pria itu membelakangi dan berjalan menjauhinya. Pria itu seperti mengambil sesuatu dari laci yang terletak diruang tamu itu.

__ADS_1


Adira melihat sebuah surat ditangan Afsar sambil mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan pria Arogan itu.


Afsar menghempaskan surat yang berada ditangannya keatas meja. tepat didepan gadis itu.


"Apa ini..?" Tanya Adira curiga.


"Bukalah, dan aku ingin kau menandatangani surat itu." Jawab Afsar dingin.


Dengan ragu-ragu dan rasa penasaran. Ia mulai membuka surat itu dan membacanya seksama.


Surat Pernikahan. Begitu lah yang tertulis jelas diatas surat itu.


"Jangan bercanda tuan..!" Kata Adira kaget. Ia menatap pria itu tidak percaya. Kenapa harus secepat ini. Dia merasa belum siap untuk menikah.


"Setidaknya, Biarkan aku lulus dulu.." Ucap Adira frustasi.


"Apa kau tuli..? Kau tidak punya pilihan." Ujar Afsar tanpa perasaan kasihan sedikit pun kepada gadis itu.


Rasanya Adira ingin melempar surat itu kewajah pria sombong itu. Ia geram, kesal dan ia ingin menangis saja saat ini juga. Karena sudah tidak berdaya lagi. Tapi ia berusaha untuk menahan semua perasaannya itu.


"Tapi bagaimana dengan kedua orang tuaku?." Tanya Adira dengan suara sedih.


"Kau tidak perlu khawatirkan soal itu, Tandatangani saja dan soal itu biar aku yang urus." Jawab Afsar. Meyakin gadis itu.


"Tapi aku masih ingin kuliah dan mengejar cita-cita ku." Ucap Adira dan menatap pria itu dengan penuh harap. Ia berharap pria itu memberinya sedikit keringanan.


"Baiklah, Kau masih boleh kuliah. Dan aku juga akan menanggung semua biaya kuliahmu. juga segala yang kau perlukan, " ucap Afsar.


Adira lansung tersenyum senang mendengar hal itu. Ia seperti mendapat oasis ditengah padang pasir yang tandus. Ternyata pria itu masih peduli dengan perasaannya.

__ADS_1


Tanpa bicara lagi Adira dengan cepat menandatangani surat nikah itu. Ia sudah bertekad. Kalau dia akan berhasil suatu saat nanti. Supaya dia tidak begitu bergantung dengan pria Arogan itu.


__ADS_2