
Hari minggu pukul 7:15 menit. Afsar menuruni anak tangga dengan santai. ia memakai kaos hitam dengan memakai jaket kulit berwarna coklat diluarnya dan lehernya bergaris hitam putih. ia terlihat seperti ingin pergi kencan saja.
Kakek Hariyanto sedang bersantai diruang tamu sambil membaca koran dengan air panas berada dimeja bulatnya. ketika mendengar suara kaki turun dari tangga yang terhubung ke lantai dua. ia menolehkan kepala untuk melihat siapa yang turun.
Dan ternyata cucu keduanya. ia langsung terpana melihat cucunya memakai baju seperti itu setelah sekian lama tidak memakai baju model begituan. karena cucunya itu sangat jarang sekali memakai baju seperti itu. dulu ia pun ragu kalau cucunya mempunyai baju dengan model begituan. ia mengira cucunya itu cuma memakai baju kemeja dan jas saja. karena ia jarang sekali cuti walaupun hari minggu sekali pun.
"Kenapa kakek melihatku seperti itu?" tanya Afsar sambil menaikkan sebelah alisnya.
Kakek Hariyanto langsung tersadar dari keterpanaannya. ia tersenyum "mau kemana, Afsar?, kau terlihat seperti ingin kencan dengan gayamu itu, apa kau tidak bekerja?" tanya kakek Hariyanto.
Afsar mendengus kesal "apa kakek ingin aku bekerja terus? bukankah kakek dan Afkar selalu menyuruhku untuk menikmati hidup sesekali?"
tanya Afsar balik dengan memasang wajah kesalnya.
kakek Hariyanto kaget tapi hanya beberapa saat saja. lalu memasang senyumannya lagi "apa kau ingin kencan dengan nak Dira?" tanya lagi kakek Hariyanto.
"menurut kakek?" ucap Afsar sambil menyeringai tampan.
"Ahaha, akhirnya, setelah sekian lama kakek terus berdoa supaya cucu kakek ini mempunyai gadis yang berarti untuknya, dan akhirnya terkabulkan juga" kata Hariyanto senang sambil tertawa berwibawa.
Afsar tersenyum misterius "ya, kakek tunggu saja kabar baiknya, aku pergi dulu" pamit Afsar kepada kakek tercintanya.
"Ya, ya, pergi lah jangan buat seorang gadis menunggu" ujar kakek Hariyanto senang. karena akhirnya cucunya Afsar mau membuka hati untuk seorang gadis.
Afsar langsung bergegas pergi dan memasuki mobil mewahnya. ia sudah membuat rencana dikepalanya. untuk membuat Adira mau mengikuti rencananya. Afsar menyeringai seram. tidak sabar melihat reaksi gadis unik itu nanti ketika melihat lagi.
__ADS_1
Afsar memasang erphon ditelinganya. dan menghubungi sekertarisnya.
"Raditya. hari ini kau urus sendiri dikantor, aku ada urusan" perintah Afsar seperti biasa. langsung mematikan telepon duluan tanpa menunggu orang disebrang sana menjawab.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Adira sedang sarapan sambil menelepon dengan ibunya. "iya ibu, tenang saja aku pasti akan belajar dengan rajin kok, dan soal biaya, ibu jangan khawatir. Dira pasti telepon kok jika butuh biaya" ucap Dira berusaha meyakinkan sang ibu supaya tidak khawatir lagi soal keuangannya. ibunya pasti curiga karena ia sudah jarang sekali meminta uang kepada sang ibu.
"Gadis nakal.., ibu hanya tidak mau kau bekerja disana dan pada akhirnya mengganggu pelajaranmu nanti" terdengar suara ibu Adira berbicara dengan nada khawatir.
"Ibu hanya ingin kau fokus dengan pelajaranmu" ucap ibu Dira lagi.
"Ibu, berapa ka".
Tok. tok. tok.
"Issh, siapa sih?, mengganggu saja" ujar Dira kesal. karena merasa terganggu ia berbicara dengan ibunya.
"Nak, siapa itu?, kenapa kau tidak membuka pintunya?, apa itu ibu kos kamu?" tanya ibu Dira bertubi tubi.
"Ya, enggak lah ibu, kan Dira sudah membayar sampai dua bulan kedepan" ucap Dira juga penasaran. suara ketukannya mulai tidak sabaran.
Tok. tok. tok. tok.
Adira bergegas membuka pintu kosnya. takut pintu kosnya rusak karena orang yang mengetuknya terlalu keras. dengan kesal dia membukanya.
__ADS_1
dan betapa terkejutnya ia. melihat siapa yang mengganggu pagi pagi seperti ini.
"kau, ngapain kamu kesini?" tanya Dira ketus. tanpa meyuruh tamunya masuk terlebih dahulu.
"Sambutanmu manis sekali" sindir Afsar tersenyum mengejek tapi hanya sesaat saja dan memasang wajah datarnya lagi.
"Minggir" perintah Afsar dan langsung main terobos saja. masuk kerumah kosnya Dira. yang sederhana.
Afsar dengan tidak sopan langsung menatap sekeliling ruang tamu Dira. dan menelisiknya, dan ternyata rumah Dira cukup rapi juga. ia mulai merasa nyaman disini.
"Hn, lumayan lah" puji Afsar. dan ia duduk tanpa diperintah. sementara Dira masih melongo melihat sikap Afsar yang tidak sopan kepadanya.
"hei!, kau sungguh tidak tau sopan santun tuan!,dan darimana kau tau aku tinggal disini? " ucap Dira kesal. sampai wajahnya memerah.
"Hn, apa yang tidak bisa aku lakukan" ucap Afsar dengan sombong sambil tersenyum miring kepada Dira.
"sombong sekali dia" ucap Dira dalam hati. dengan memicingkan matanya kesal.
"Kalau begitu, langsung saja, ada perlu apa kau kesini?" tanya Dira to the point. supaya pria itu cepat angkat kaki dari rumahnya. ia sudah muak melihat pria arogan itu.
Afsar menyeringai lagi. "kau fikir masalah kita sudah selesai nona?" ucap Afsar. dan.
Duar!
Adira langsung membeku mendengar perkataan tuan sombong itu. rasanya ia ingin menghilang saja jika mengingat permasalahan mereka.
__ADS_1