
Jam lima petang Adira pulang dengan keadaan lesu. ia lelah secara fisik dan psikis. ini juga salahnya tidak mendengar nasihat ibunya. jadi ia tidak boleh mengeluh dan berputus asa.
"Huh.., rasanya aku ingin cepat lulus" lirih Dira entah pada siapa. sambil berjalan dengan kepala menunduk lesu. bibirnya mengerucut lucu.
Bruk!.
"Aduh!" kerana tidak fokus berjalan. ia menabrak sesuatu. hampir saja ia terjungkang kebelakang. tapi lengannya ditarik seseorang.
"Hn, dasar ceroboh" ucap orang yang ditabrak Adira. Adira mendongak keatas. wajahnya langsung berubah kesal lagi.
"Astaga, kenapa hidupku tidak bisa tenang walau sejenak saja" ucap Dira dengan diri sendiri. Afsar mengerutkan keningnya. melihat Dira mengeluh entah pada siapa. ya ternyata Afsar lah yang Adira tabrak.
"Apa kau sakit nona" ejek Afsar dengan wajah juteknya. Adira langsung melototi Afsar. ia ingin marah tapi masih ditahan. karena ia sedang lelah sekali.
"Minggir, aku mau pulang" ucap Dira cuek. ingin lewat tapi Afsar bergeser kedepannya. ia menatap Afsar kesal dan melangkah kekiri tapi Afsar bergeser kekiri juga.
Setelah beberapa kali mereka bergeser kekanan dan kekiri bersamaan. Adira semakin kesal dibuatnya. "apa maumu?" tanya Dira dengan wajah memerah menahan kesal. karena lelah dipermainkan terus.
Tanpa bicara Afsar menarik lengan Dira dengan paksa. "H-hey!" seru Adira kaget. entah mau dibawa kemana oleh pria itu.
"Lepaskan, kau mau membawaku kemana?, aku mau pulang!" Seru Dira kebingungan sambil memukul tangan Afsar yang memegang lengannya.
Afsar tetap tidak bergeming dan tetap menarik Adira masuk lagi ke restoran Adijaya. dan mendudukkan Adira disalah satu kursi yang berjumlah empat kursi. dengan meja kaca tebal persegi ditengahnya. Afsar mendudukkan diri didepan Adira dengan tenang sambil membuka buku pesanan. lagi lagi mereka jadi pusat perhatian.
seorang pelayan menghampiri mereka. sambil mengerutkan kening. yang ternyata Riska. teman satu kerja Adira sebagai pelayan disitu. ia mengira Adira sudah pulang. tapi ternyata malah duduk dengan tuan muda Afsar Riyanto. Riska merona. Melihat tuan Afsar yang begitu mempesona. apa lagi sedekat ini.
Adira ingin protes kepada Afsar tapi kata katanya tertelan karena Riska datang menghampiri mereka. "Adira?, kukira kau sudah pulang?" tanya Riska heran sambil tersenyum segan kepada Afsar.
__ADS_1
"Ehehe" Adira hanya bisa cengengesan. karena dia tidak tau mau menjawab apa. ia kan diseret kesini oleh pria menyebalkan didepannya.
"Aku ingin daging asap dan minuman anggur" pesan Afsar. dan membuat kedua wanita itu menoleh padanya.
"Dan, kau, pesanlah sesuatu" perintah Afsar masih memasang wajah datarnya. dan meletak buku ditangannya. Riska langsung mencatat pesanannya.
"H-hah?" Adira hanya mengkedipkan matanya. karena Afsar menyuruhnya memesan juga.
"Tidak usah tuan, aku ingin pulang saja" ucap Adira berusaha bersikap sopan. Ia sudah ingin berdiri sambil memegang tas selempangnya. Tapi.
Afsar menatapnya tajam "Duduk" perintah Afsar tajam. tanpa disuruh dua kali. Adira langsung duduk lagi. entah kenapa Afsar jadi menakutkan. jika sudah menatapnya seperti itu.
Riska hanya terdiam melihat mereka. karena dia tahu siapa pria itu. jadi dia cari aman saja.
"Ehem" Adira berdehem mengusir rasa takutnya.
"Karena kau memaksaku, baiklah aku akan pesan, aku ingin steik, ayam panggang, dan cumi krispi, minumannya apokat dan air putih, dan desertnya aiskrim vanilla" pesan Adira tanpa melihat buku pesanan. karena ia memang sudah hafal menu makanan disitu. Riska hanya melongo sebentar mendengar pesanan Adira yang terlalu banyak. Dengan cepat ia langsung mencatatnya "b-baiklah tunggu sebentar ya" ucap Riska tergagap. ia cepat cepat pergi dari tempat berdirinya.
"Ternyata kau kuat makan juga ya" ujar Afsar masih menyeringai.
"Huh, kenapa?, Kau takut aku membuatmu bangkrut tuan?" Sindir Adira jutek.
Afsar menahan tawa mendengar sindiran Adira. Karena ia tidak mungkin bangkrut hanya soal pesanan gadis itu.
"Dalam mimpimu nona" ucap Afsar masih menahan tawa.
Adira memutar bola matanya mendengar perkataan fakta dari pria sombong itu. Ya. Ia pasti bermimpi melihat Afsar bangkrut. Karena harta pria itu sangat banyak.
__ADS_1
Bosan dalam keheningan. Akhirnya Adira bicara. "Kenapa kau membawaku kesini?" Tanya Adira tanpa menatap Afsar.
"Temani aku makan" jawab Afsar to the point. Adira mengerutkan keningnya menatap Afsar.
"Aku lupa makan siang tadi" ucap Afsar. Mengerti arti tatapan Adira.
"Heh, sejak kapan kita jadi akrab" ujar Adira jutek.
"Hn, hanya ingin saja" ucap Afsar mengangkat kedua bahunya sesaat.
Pelayan membawa pesanan mereka. Yang terlihat banyak. lezat dan wangi. Membangkitkan selera makan mereka.
"Silakan dicicipi tuan dan Adira" ucap Riska dengan senyum malu malunya karena melihat Afsar.
"Ya, terima kasih Riska" ucap Adira sambil tersenyum melihat Riska. Lalu menatap Afsar kesal.
Afsar langsung makan tanpa bicara lagi. Ia terlihat lapar sekali. Adira pun mulai makan.
"Selamat makan" ucapnya sambil tersenyum girang lagi.
Afsar menatap Adira makan dengan lahap tanpa menawarkan makanan dengannya. Ia hanya menahan tawa melihat pipi gadis itu bergembung lucu seperti bayi.
"Makanlah perlahan. Aku tidak akan merebutnya darimu" ucap Afsar masih menahan tawa. Sepertinya mengajak gadis Barbar itu makan. Bukan ide yang buruk. Ia merasa terhibur dengan tingkah alami gadis itu.
Adira hanya merespon dengan mendelik kearahnya. Ia tidak bisa bicara karena mulutnya penuh makanan.
Biasanya gadis lain jika diajak makan oleh seorang pria. Mereka pasti makan dengan anggun. Tapi berbeda dengan Adira yang tanpa sungkan dan malu malu kepadanya.
__ADS_1
Adira menelan makanannya "apa pedulimu?" Ucap Adira kesal. dan melanjutkan makan lagi.
Afsar hanya mendengus geli Melihatnya.