INI KAH CINTA

INI KAH CINTA
Episode 13


__ADS_3

Melihat Adira masih terdiam. Afsar mulai bicara lagi.


"kita sudah terlanjur memulai sandiwara ini, dan kita juga yang harus menyelesaikannya" ucap Afsar tanpa basa basi.


Adira yang masih berdiri. langsung mendelik kearah Afsar.


"bukankah kau yang memulainya tuan" ucap Dira dengan kesal.


Afsar hanya mengangkat bahu cuek. "iya, tapi kau juga mau mau saja tuh. aku seret kedalam masalahku. jadi, apa boleh buat nona, dan aku tidak ingin mengecewakan kakekku" ucap Afsar seduktif.


Adira langsung terdiam mendengarnya. ia tidak boleh gegabah mengambil keputusan. ini bukan masalah sepeleh. Afsar berdiri sambil bicara "aku tunggu jawabanmu besok" ia berjalan mendekati Dira. dira langsung waspada. melihat Afsar mulai mendekatnya.


Lalu Afsar meraih tangannya yang putih gebu. awalnya Adira memberontak. tapi Afsar memaksanya menerima sesuatu yang sepertinya sebuah kartu nama.


Mereka begitu dekat. sampai mereka bisa merasakan nafas masing masing. Afsar dapat mencium wangi yang manis dari tubuh Dira yang membuatnya nyaman.


"Jika kau sampai tidak datang. kau tau akibatnya" bisik Afsar dengan nada mengancam ditelinga Dira. Adira hanya bisa menahan nafas akibat nafas Afsar yang mengenai tengkuknya terasa menggelitiknya.


Adira langsung mendorong dada Afsar dengan kuat. sampai Afsar mundur beberapa langkah. "kau sudah gila ya!" seru Dira sampai mukanya memerah antara malu dan kesal.

__ADS_1


"Hn" Afsar hanya bergumam. ia menyeringai. merasa senang menjahili Adira.


"Adira, suara siapa itu?, kenapa kau membiarkan laki laki masuk kerumahmu?" ucap ibunya Adira khawatir. sedari tadi dia hanya mendengar putrinya seperti bertengkar dengan seseorang. tapi dia tidak bisa mendengar semuanya. dan ketika mendengar suara putrinya berteriak. ia jadi sangat khawatir. kalau ada yang mencoba macam macam dengan putrinya.


Adira dan Afsar langsung menatap ponsel yang berada diatas nakas. rupanya Dira lupa mematikan ponselnya tadi. dengan panik Dira menyambar ponselnya.


"I-ibu, aku bisa jelaskan" Adira memutar otaknya cepat untuk mencari alasan yang logis. yang akan dia katakan dengan ibunya. "ibu, yang ibu dengar itu te" belum habis ia bicara afsar menyambar ponselnya. Adira kaget dibuatnya.


"hn, hai tante, apa kabar?" tanya Afsarb sopan. dan Dira sudah panas dingin dibuatnya. ia ingin menyambil kembali ponselnya tapi Afsar menghindar dan menngangkat ponsel Dira tinggi.dengan perbeda tinggi badan yang sangat jauh membuat Dira tidak bisa menggapainya. sampai Adira melompat lompat ingin menggapai ponselnya pun. ia tidak akan mampu. dan Adira hanya bisa mengutuk pria itu.


"A-aku baik, siapa kau?, kenapa kau bisa berada dirumah putriku?" terdengar suara ibunya Dira. penasaran.


"Ah, ya tante. aku..." ucap Afsar sengaja menggantung ucapannya supaya Dira makin panik dibuatnya.


"aku teman satu kelompoknya Dira dikampus, kami ada tugas bersama makanya aku dirumah Dira. tante" jawaban Afsar seperti oasis ditengah padang pasir bagi Adira. ia sudah takut setengah mati tadi.


"Oh, benarkah?, syukurlah.." ucap ibunya Dira lega.


"Tapi kalian tidak boleh berdua terus dirumah seorang gadis, carilah tempat yang terbuka supaya tidak terjadi yang tidak diinginkan" nasihat ibu Dira.

__ADS_1


"baik tante" ujar Afsar sopan, dan dengan menyeringai ia menyerahkan ponsel itu ke pemiliknya. Adira langsung menyambar ponselnya.


"hallo, iya ibu, iya, aku pasti jaga diri kok, ok, dah ibu" klik. Adira mematikan ponsel. ia langsung mengelus dadanya dengan tangan kanan. yang sedang tidak memegang ponselnya. ia lega sekali. karena kali ini ibunya percaya dengan ucapan mereka.


Adira menatap Afsar garang. "apa?" tanya Afsar karena ditatap sedemikian rupa.


tanpa berkata lagi. Adira langsung mendorong Afsar menghadap pintu keluar.


"hei!, apa apaan ini?, hei!" ujar Afsar tidak terima karena ia diusir keluar. sebelum ini. belum ada yang berani bicara kasar dengannya selain Adira saja. apa lagi mengusirnya seperti saat ini.


Blam!.


Afsar membeku sesaat karena Dira menghempas pintu tepat didepan wajahnya. ia menghela nafas lalu pergi dari depan pintu Adira. ia tersenyum tipis. sekurang kurangnya ia sempat terhibur tadi dengan tingkahnya Adira.


Sementara Adira masih ngos ngosan dibelakang pintu sambil bersandar. "dasar pria menyebalkan!" ujar Dira kesal sendiri.


Adira melihat jam dipergelangan tangan kirinya yang berwarna hitam. terlihat kontras sekali dengan warna kulit putihnya. ia kaget melihat jam. yang hampir pukul delapan.


Dengan terburu buru ia bergegas mengambil tas selempangnya. lalu ia menutup sarapannya yang tidak sempat ia habiskan. dan pergi tak lupa mengunci pinta rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2