
Setelah dari batu batikam mereka pun melanjutkan perjalanan menuju Istano Basa Pagaruyung, Salah satu icon Batu sangkar yaitu istana kerajaan Minang terakhir di Minangkabau.
"kayak rumah Gadang ya ma"
" iya memang begini lah istana orang Minang"
" bangunan nya dari zaman Raja terakhir ini ma"
" bukan, ini bangunan baru, dulu zaman mama sekolah pernah hangus terbakar, kalau nggak salah di sambar petir dulu nya."
mereka pun masuk kedalam rumah Gadang, seorang pemandu menceritakan dan menjelaskan tentang sejarah dari istano basa ini.
" maaf mbak mau nanya, yang berderet itu apa ya"
" oh itu Rangkiang mas, kalau zaman dulu orang minang menyimpan padi dan hasil bumi lain nya di dalam Rangkiang ini mas"
Tak terasa waktu sudah sore mereka pun bersiap untuk pulang ke Payakumbuh.
hari pun berganti saat ini mereka berencana ke kampung halaman Antan, yaitu pesisir selatan. sebelum nya mereka mau singgah ke objek wisata puncak mandeh, yang juga menjadi salah satu teman wisata terkenal di sumbar.
" wah nggak rugi kita ikut ya bi, bisa cuci mata kita di sini" kata Radha
" iya Mi, ini belum semuanya kita kunjungi"
" yang di Payakumbuh nanti saja kita pergi nya, masih ada Harau, Batang tabik, Kapalo banda,Ngalau Indah dan yang lainnya."
" Bukit tinggi jangan lupa ma" sambar Glenca
" iya iya nanti kita kesana"
mereka pun tertawa melihat wajah antusias Glenca dan Rindi.
" Rin gimana mau nggak sama Langit?, Ntar kamu jadi sering lo kesini liat pemandangan indah" tanya Ayumi
Rindi pun langsung salah tingkah mendengar pertanyaan Ayumi.
" aku ikut mas Rendi dan mbak Radha aja tante, mereka wali aku sekarang".
" nah gimana Ren? kamu setuju nggak?"
" kalau aku setuju aja mak dang, biar mereka saling mengenal dulu, kalau cocok ya kita lanjutkan, gimana mas, mbak?" tanya Rendi pada Dion dan Rhada.
" mas sama Ren yang penting mereka saling mencintai, sekarang Elang dulu yang nikah, habis itu baru kita bicarakan lagi tentang Rindi dan Langit". jawab Dion
mereka semua setuju dengan pendapat Dion. sementara dua orang yang sedang di bicarakan hanya tersenyum malu.
Perjalanan begitu menyenangkan karena diwarnai dengan berbagai canda tawa.
" Ayah benar izinkan mereka dekat?" tanya Elsa sambil melihat Rindi dan Langit.
__ADS_1
" iya Bun, Langit pemuda yang baik kok, sejak kita datang sampai sekarang belum ada minus Langit yang Ayah liat, malah yang ayah liat Langit itu memuliakan ibu nya, itu adalah poin penting buat ayah bun, laki laki yang memuliakan ibu nya pasti tidak akan pernah menyakiti perasaan wanita, mungkin ada sebagian kecil yang lebih mementingkan ibu nya dari istri tapi yang mas liat Langit bisa menempatkan diri di tengah. mudah mudahan penilaian Ayah ini nggak salah".
" iya yah, semua laki laki di keluarga bunda cuma Elang yang nggak di didik langsung oleh Antan yah, mereka di didik kers sama antan buat menghargai perempuan, karena mereka lahir dari rahim perempuan."
*
Jam 7 pagi mereka semua sudah sampai di puncak mandeh, mereka memang sengaja berangkat malam hari agar pagi hari bisa sampai di pantai.
" wah ada laut" celoteh Tiara, " Rheyna ayo kita main pasir" ajak Nya lagi
" kita sarapan dulu ya sayang baru main pasir nya" kata Radha
" baik Umi"
mereka pun langsung mencari tempat yang menjual sarapan pagi.
Setelah selesai sarapan mereka pun langsung bermain di pantai. keadaan pantai yang masih sepi membuat mereka lebih leluasa untuk bermain.
"ma kampung Antan masih jauh ya"
" iya mungkin ada sekitar lebih kurang tiga atau empat jam lagi, mama juga kurang tau"
" wah jauh juga ya, Dulu Antan sama Andung ketemu dimana ya?, tanya Elang
" kenapa memang nya" tanya Vanes " kalau nggak salah dulu kata Andung di jam Gadang bukit tinggi".
setelah puas bermain di sana setelah makan siang mereka pun melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman Antan.
'' belum yah, kan ini pertama kali Bunda pulkam ke sini".
'' jauh juga ya, kalau nggak salah ini udah perbatasan dengan Bengkulu kan Bun"
" iya yah, sama kayak di Payakumbuh jadi perbatasan dengan Riau".
karna kelelahan mereka banyak yang tidur, terutama anak anak. hingga tak terasa Mereka pun hampir sampai.
" wah ada pasar malam ma"
" iya biasanya tiap tahun memang ada pasar malam di sini"
" nggak sampai sejam lagi kita sampai, nanti malam kita kesini rame rame" kata Vanes
" boleh tuh ma, biar ada kenangan kita pulang ke kampung Antan".
" nio main ka situ beko ajak sanak kalian yang di siko" kata Antan
" Iyo pa, beko kami ajak yang lain". kata Fahmi
" mi beko ang langsung agiah kaba tentang Elang ka dunsanak kito nan di siko".
__ADS_1
" Jadih pa,"
Tak lama pun bus mereka sampai di salah satu pasar yang ada di sana.
" Rik parkir di dalam sakola SD tu" kata Antan
" jadi Ntan" jawab Erik salah satu sopir bus yang bekerja dengan Langit.
Mereka semua pun turun, keadaan pasar yang masih rame membuat mereka menjadi pusat perhatian.
" wan Usman.." teriak salah satu wanita paruh baya
" Mai ba a kaba"
" Alhamdulillah lai sehat Wan," Wanita itu pun menyalami Antan dan yang lain nya.
" mari pulang wak sadonyo, Anes lah lamo wak batamu yo"
" Iyo ni Mai, terakhir sarobok waktu Anes nio ka Jakarta"
Mereka pun jalan kerumahnya keluarga Antan ysng ada di sini. Antan ada Empat saudara tiga diantaranya perempuan. dan yang masih hidup tingal dua yaitu Antan dan adik bungsunya.
**
Tangis haru terjadi saat pertemuan Antan dengan adik bungsunya Niar. Antan pun mengenal keluarga Anes pada keluarganya di sini. mereka Akhirnya senang bisa bertemu dengan Suami dan anak cucu dan menantu Anes.
Sedangkan yang lain mereka semua sudah saling kenal.
" ko Anes kok bisa dapek anak kamba? di keluarga kito ada Da yang kamba?" tanya nenek Niar
" mintuo Anes nan padusi kamba Nte" jawab Anes.
" tu Elang ko bilo Rencana nyo ko?."
" Rencana siao rayo aji Ni Mai"
" tu si Ibra bilo?" maso iyo di langkahi lo dek adiak ciek lai"
" Saba lu nte, insyaallah tahun baru, nyo pindah tugas ka Jakarta bulan sambilan ko"
" urang mano Ib?, lai urang awak?,"
" Ndak nte, urang Banduang"
Mereka pun terus bercerita berbagi kisah dan pengalaman.
" nte berarti rumah ini masuk pasar ya?" tanya Elsa
" iya sa, rumah kita ini masuk pasar, besok pagi kamu lihat banyak yang jualan besok di sini" kata salah satu ponakan Antan.
__ADS_1
" bang Ari beko malam anta kami ka pasa malam" celetuk Zahra
" jadi beko malam ka pasia putiah wak rami rami".