
Setelah penolakan Rendi malam itu sifat Randi dan Lastri kembali seperti dulu. bahkan tambah menjadi jadi. bahkan Randi pun meminjam sertifikat rumah orang tuanya untuk di gadaikan. awalnya pak Hendra tidak mau tapu melihat wajah sedih sang anak bu Salma jadi tak tega ia pun membujuk sang suami.
" ini uang nya, besok rumah nya sudah harus di kosongkan"
" terima kasih juragan" jawab Lastri, ia pun tersenyum menerima uang 300 juta dari tangan juragan tanah di desa sebelah.
" Sekarang aku kaya, terimakasih suamiku , maakan aku ya mertua ku, ini adalah balasan untuk kalian karna selalu membela dan memihak Elsa" kata Lastri dalam hati sambil tersenyum licik
" ayo mas kita harus siap siap dan pergi ke kota, aku yakin hidup kita pasti akan lebih bahagia."
Randi dan Lastri pun langsung pulang dan membereskan semua pakaian mereka.
" maaf kan aku pak buk ini adalah salah Rendi coba dia mau ngasih aku uang itu pasti aku tidak akan menjual rumah ini" kata Randi dalam hati sambil memperhatikan sekeliling rumah orangtuanya.
" kamu liat aja Ren aku akan membalas kamu nanti nya, setelah usahaku berhasil akan ku beli kesombonganmu dan Istrimu itu".
Randi pun keluar dari kamar dan bertemu dengan sang ibu" gimana Ran apa sudah dapat uang nya?"
" b..belum bu, kata orang bank seminggu lagi uangnya cair" jawab Randi gugup
" kamu kenapa nak? kok keringatan gitu"
" nggak da apa apa kok bu, cuma panas aja di kamar, maka nya aku keluar"
" oh ya sudah, semoga nanti apa pun usaha kamu, ibu doa kan semoga berhasil ya nak"
" Terima kasih bu, maaf Randi jadi membebani bapak sama ibu"
" Tidak nak sudah seharusnya kami sebagai orang tua mendukung apa pun ke putusan kalian selagi itu di jalan yang benar dan tidak merugikan orang lain."
Degh
Randi terdiam mendengar jawaban sang ibu, ia pun merasa bersalah karna sudah membohongi orang tua nya. tapi karna rasa iri nya terhadap sang adik membuat mata hati Randi menjadi buta.
Malam hari di saat semua orang tertidur, Randi dan Lastri pun keluar dari rumah, begitupun dengan keluarga Lastri. mereka pun langsung masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu mereka dari tadi.
" Jalan pak"
Mobil itu pun pergi meninggalkan kampung semakin jauh. Randi menatap ke belakang memandang rumah orang tua nya yang sudah jauh tertinggal di belakang.
keesokan harinya Rindi sudah berangkat bekerja begitupun dengan Elsa,Rendi dan Dion. Sementara Radha sudah memulai memasak di bantu oleh 4 orang pekerja nya dari mulai selesai shalat subuh tadi.
Sementara di rumah pak Hendra sedang duduk minum kopi di teras sambil melihat bu Salma menyiram tanaman nya.
" ibu bangga pak sama anak anak kita, terutama Rendi yang bisa mengayomi kedua saudara perempuan nya".
" iya bu mudah mudahan Randi juga seperti itu ya pak, masa tua kita pasti akan lebih bahagia kalau ke empat anak kita bisa akur"
" iya pak, tapi ini tumben Randi dan Lastri belum bangun"
" Lah iyo buk, itu rumah nya Randi juga tutup buk, kayak tidak ada orang" kata pak Hendra sambil memperhatikan sekeliling rumah Randi yang di huni oleh mertuanya Randi.
tak lama datang tiga orang menghampiri pak Hendra dan bu Salma yang sedang sibuk melihat ke arah rumah Randi.
" Permisi.."
" iya, ada yang bisa di bantu Juragan?" tanya pak Hendra
" Oh tidak pak Hendra saya datang untuk mengingat kan saja untuk segera mengosongkan rumah ini"
Degh
" maksud nya apa ya juragan"
__ADS_1
" Loh pak Hendra ini gimana sih, kan semalam sudah saya sampaikan kepada anak bapak untuk segera mengosongkan rumah ini, kan saya sudah membayar lunas rumah ini kepada anak dan menantu pak Hendra".
" bayar lunas maksudnya?" tanya bu Salma
" kan pak Hendra sudah menjual rumah ini kepada saya melalui Randi dan Lastri istri nya kepada saya"
" ini tidak mungkin"
" buk panggil Randi dan Lastri" pinta pak Hendra, bu Salma pun masuk kedalam dan langsung mencari Randi dan Lasmi, dan betapa kagetnya dia saat melihat kamar anak pertama kosong dan isi lemari nya pun kosong. bu Salma pun merasa sakit di dadanya.
" pak mereka sudah pergi pak" kata bu Salma menahan sakit di dadanya.
" apa?, jadi benar mereka menjual rumah saya"
" benar, jadi silah kan pak Hendra kosong kan rumah hari ini besok saya datang la.." belum selesai juragan Tedi bicara bu Salma dan pak Hendra sudah jatuh tak sadarkan diri.
" astaga, pak buk.. bangun," heboh juragan Tedi
Tiara, Cano dan Rheyna yang sedang bermain di halaman pun langsung menghampiri sang Eyang.
" Eyang...." teriak ketiga batita itu
" nak ibu kamu mana?, panggil ke sini ya"
" iya kek," lalu Tiara pun langsung lari menuju rumahnya untuk memanggil Radha.
"Umi... umi..." teriak Tiara
" Dha bukan nya itu suara Tiara ya" tanya Siti salah satu yang membantu Radha memasak.
" iya mbak, ada apa ya?, apa anak anak lagi berantem ya"
" umi... eyang jatuh..." teriak Cano
" bapak... ibu..." Radha langsung menghampiri ke dua orangtuanya." pak.. bu..."
Radha pum menoleh ke arah juragan Santo, " maaf juragan ini ada apa ya?" tanya Radha sambil menangis
" saya mau rumah ini segera di kosongkan"
Degh
" mm.. maksud nya juragan?"
" kakak kamu Randi sudah menjual rumah ini ke pada saya kemarin, jadi saya mau rumah ini di kosongkan segera".
" a..apa?, ini nggak mungkin"
" itu lah kenyataan nya"
" Dha nanti saja kita urus itu, kita bawa bapak sama ibu dulu ke rumah sakit"
Radha di bantu oleh pak Rt dan beberapa tetangga membawa pak Hendra dan bu Salma ke rumah sakit,dan langsung masuk UGD. tak lamaElsa dan Rindi datang.
" mbak..."
" Rin bapak sama ibu.." kata Radha terbata
" tenang mbak semoga bapak sama ibu baik baik saja"
" Amien.."
tak lama dokter pun keluar.
__ADS_1
" dok bagaimana orang tua kami"
" pak Hendra dan bu Salma mengalami serangan jantung, saat ini pak Hendra sedang kritis sementara untum bu Salma kami sudah berusaha tapi tuhan berkehendak lain,"
" maksud dokter" tanya Elsa
" bu Salma sudah meninggal dunia, sejak sampai tadi bu Salma sudah tidak ada"
" innalilahi wainna ilaihi Raji'un"
" ibu..." teriak Rindi dan Radha, bersamaan dengan datangnya Rendi dan dion.
" dok pak Hendra sadar"
Dokter pun masuk lagi ke dalam UGD. Rendi pun memeluk adik nya begitu pun dengan Dion yang memeluk sang istri.
*
" Ren ba..pak.. ti..tip a..dik.. mu, ju..al ke..bun ki..ta ba..gi..3 de..ngan.. ka..kak..dan a..dik..mu.ka..lau.. Ran..di.. da..tang.. bi..lang..ba..pak.. su..dah.. me..maaf..kan.. me..re..ka, ja..ga..a..dik..dan.. ka..kak..mu..Ren.."
" iya pak Aku akan menjaga adik dan kakakku, bapak cepat sembuh ya aku akan mengurus soal rumah bapak"
" ti..dak..u..sah..nak..bi..ar..kan..sa..ja.. ru..mah..i..tu..ba..pak..ma..u..ti..dur.. du..lu..ya..Ren.." mata pak Hendra pun tertutup.
" pak..bapak..bapak.." panggil Rendi sambil histeris, dokter pun masuk mendengar teriakkan Rendi dan langsung memeriksa pak Hendra.
Kedua tangannya terkepal kuat, ia sungguh tak menyangka sang kakak pertamanya berani menjual rumah urang tua mereka. ia pun mencoba menghubungi no Randi tapi no nya tidak bisa di hubungi.
" maaf pak, pak Hendra sudah tidak ada" kata dokter.
Rendi pun mematung mendengar informasi dari dokter. Rendi pun langsung terduduk di bawah brankar pak Hendra. tak lama Elsa dan yang lainnya pun masuk.
" Tidak... bapak..." teriak Rindi dan Radha histeris saat melihat jasad sang ayah yang sudah terbujur kaku.
" bangun pak, jangan tinggalin aku pak, tadi ibu sekarang bapak" kata Rindi sambil memeluk tubuh pak Hendra.
" semua ini karna mas Randi, aku nggak akan maafin dia, bangun pak" kata Radha.
Elsa pun memeluk sang suami yang sedang terpuruk." yah..."
" Bun.."
" yang sabar yah iklas kan bapak sama ibu, kamu harus kuat demi mbak Radha dan Rindi"
Tangis yang sejak tadi di tahan oleh Rendi pun akhirnya keluar juga," keluar kan semua nya Yah, setelah ini jadi lah tonggak yang kokoh untuk menopang mbak Radha dan Rindi" kata Elsa yang juga sudah menangis.
" Kejam sekali mereka bun, demi uang tega membunuh orang tua sendiri".
*
Jasad pak Hendra dan bu Salma sudah di bawa pulang ke rumah Rendi untuk di semayam kan. dari tadi banyak omongan miring tetangga tentang meninggal nya orang tua Rendi.
Tentang rumah Dion sudah mengurus nya, dan mereka di beri waktu seminggu untuk mengosongkan rumah itu. Juragan Tedi juga meminta maaf karna kejadian ini dan keluarga pun sudah memaafkan karna ini juga bukan salah dari juragan itu, tapi salah dari Randi dan Lastri.
"saya minta maaf mas, karena kedatangan saya membuat mereka kaget akhirnya serangan jantung dan meninggalkan kita semua"
" tidak apa juragan, ini mungkin takdir kedua mertua saya, lagian ini juga bukan salah juragan kok,tapi untuk masalah *rumah saya minta waktu juragan"
" baik mas seminggu lagi saya datang, karena anak saya yang akan tinggal di rumah itu nantinya."
" Terima kasih juragan".
" sama sama mas, sekali lagi saya minta maaf mas*".
__ADS_1