Istri Kecil Milik Gengster Kejam

Istri Kecil Milik Gengster Kejam
part 13


__ADS_3

#ISTRI_KECIL_MILIK_GANGSTER_KEJAM


part 13


"Kalau bukan kalian berdua, terus siapa!" bentak Raskal dengan emosi.


"Udah gue bilang, Aska pelakunya." teriak Gian lantang.


"Hahah, gue ya percaya." ucap Raskal.


----


Setelah kejadian itu, Revan di nyatakan tidak selamat lantaran dua peluru menembus bagian kepalanya. Semua orang tutup mulut atas kejadian yang menimpa Revan.


Kedua, orang tua Revan sudah mengetahui siapa pelaku penembakan itu. Sedangkan Aska, dirinya di penjara dan orang tuanya hanya acuh melihat anaknya, tinggal di jeruji besi untuk menanggung akibat perbuatannya.


Untuk anggota Servion, mereka pergi entah kemana dan untuk Raskal, dirinya tidak mengetahui bahwa Aska yang telah menembak Revan. Lantaran Raskal sudah pergi ke luar negeri sebelum jauh penangkapan Aska.


--------


"Huek, Huek!"


Dari tadi Zara terus saja bulak-balik ke kamar mandi, lantaran terus saja muntah.


"Aku, kenapa yah." ucapnya.


Sedangkan Albi ..., dirinya sedang menyusun rencana di ruang tengah bersama teman-temannya. Dan untuk Bella, Difa dan Gea, mereka izin pulang dulu untuk mengambil baju-bajunya. Mereka bertiga termasuk Zara sudah mengetahui apa yang terjadi. Maka dari itu, mereka memutuskan untuk menginap demi keselamatannya.


-----


Kini jam menunjukkan pukul 19:12, dimana semua orang tengah berkumpul di ruang tamu. Orang tua Zara dan Albi pun turut hadir dalam rangka menyusun rencana.


"Oke, rencana kita akan di mulai ketika orang itu memulai aksinya." ucap Dito tegas.

__ADS_1


"Dan ingat! Kalian harus tetap waspada dimana pun kalian berada." ucap Dito dan di angguki semua orang.


"Mamah ko jadi takut, ya." ucap Mia dan di angguki Winda.


"Tante tenang aja, karena ada kita yang bakalan ngejagain kalian." ucap Tio dan di balas anggukan semua orang.


Kini Zara tengah bermanjaan dengan mamahnya. Sedari tadi dirinya terus saja memeluk mamahnya dengan erat di hadapan semua orang.


"Sayang, badan kamu ko panas, kamu sakit?" tanya Mia khawatir.


"Enggak, aku cuma kangen aja sama mamah." ucap Zara.


Sementara Difa yang melihat interaksi anatara anak dan ibu itu, lantas saja matanya berkaca-kaca. Dirinya juga merindukan mamahnya yang jauh darinya. Difa juga ingin merasakan di perhatikan, di manja, di sayang oleh kedua orang tuanya, namun apa daya, orang tuanya berada di luar negeri untuk bekerja dan sesekali pulang hanya 1 thn 3 kali.


Difa hanya tersenyum tipis melihat itu. Dirinya tidak boleh cengeng, Difa ingat, dirinya sudah besar. Namun dalam hatinya, dirinnya tetap merindukan mamahnya apakah itu salah?


Gian yang melihat Difa tersenyum tipis, karena melihat interaksi ibu dan anak itu hanya menahan sesak di dadanya. Apa boleh Gian jujur, dirinya kecewa kepada orang tua Difa yang hanya mementingkan pekerjaannya di bandingkan anaknya. Gian berusaha untuk menjadi abang yang baik untuk Difa, dirinya tidak mau adik satu-satunya itu terluka.


"Dif, lo kenapa? Ko matanya merah, lo habis nangis?" tanya Gea beruntun, lantas saja semua orang mengalihkan tatapannya ke arah Difa.


Difa gelagapan mendapatkan pertanyaan dari Gea. Dirinya bingung harus menjawab apa. Dengan terpaksa Difa tersenyum manis layaknya dirinya tidak apa-apa.


"Gue, hanya kelilipan ko." ucap Difa tersenyum tipis dan di balas anggukan Gea.


Bolehkah Gian, berkata bahwa Difa itu pembohong. Pembohong besar yang menyembunyikan sejuta lukanya dari semua orang. Dan menutupinya dengan senyuman palsu.


"Oh, ya nanti kita tidur dimana Al?" tanya Tio.


"Disini Ada 5 kamar, terserah mau pake yang mana." sahut Albi sambil memakan cemilannya.


"Gue, Bella, Difa sama Gea, tidurnya di kamar bawah aja." ucap Zara.


"Difa, tidur sama gue." ucap Gian, dirinya tau bahwa Difa butuh ketenangan.

__ADS_1


"Ehh, buset, mana ada aturannya gitu, lo kan laki terus Difa cewek." ucap Tio menatap aneh kepada Gian.


Angga menoyor kepala Tio, hingga mendapatkan ringisan dari Tio.


"Gian, abangnya Difa kalau lo lupa." ucap Angga menimpali.


"Eh, iya gue lupa." sahut Tio menyengir tidak jelas.


"Zara tidur sama gue, gaada penolakan." ucap Albi.


"Hahahah, abis lo Zar." ucap Tio tertawa terbahak-bahak.


"Udah sana, kalian pada tidur gih, kan besok ada ujian." ucap Mia dan di balas anggukan semua orang.


-----


Di dalam kamar, Difa terisak di pelukan Gian.


"Abang, mamah bakalan datang ga ya, pas acara kelulusan aku nanti." ucap Difa pelan.


"Bakal dong, masa anaknya lulus tapi ga hadir." ucap Gian sambil mengelus kepala Difa. Jujur dirinya juga tidak yakin dengan perkataanya.


"Tapi, kalau ga datang gimana?" tanya Difa.


"Kan, ada orang tua gue yang bakalan ngwakilin kalau seandainya orang tua lo ga bakal hadir." ucap Gian.


"Bang, kalau seandainya nanti Difa pergi duluan gimana?" tanya Difa.


"Lo, gaakan pergi kemana-mana." ucap Gian sambil mencium pucuk kepala adiknya itu.


"Bang, besok aku izin beli buku ya." ucap Difa dan di balas anggukan oleh Gian. Difa, bohong dirinya akan pergi membeli buku, padahal dirinya akan pergi ke suatu tempat.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2