
#ISTRI_KECIL_MILIK_GANGSTER_KEJAM
part End
"Eh, Zara tadi itu suara apaan, ya?" tanya Gea.
"Mana gue tau," ucap Zara.
"Lebih baik kita lihat aja. Kayaknya dari arah sana!" ucap Bella sambil menunjuk ke arah kiri.
"Yaudah ayo," ucap Gea. Mereka pun pergi untuk melihat asal suara keras tadi.
----
Sesampainya disana ..., mereka langsung saja di hadapkan dengan orang-orang yang berkerumun.
"Maaf Bu, ini ada apa ya?" tanya Gea.
"Ini toh Neng, ada yang ketabrak mana parah lagi." ucap Ibu-ibu tersebut.
"Terus kenapa belum di bawa ke rumah sakit?" tanya Zara."
"Ini juga lagi nungguin Ambulance." ucap Ibu-ibu tersebut.
"Ko, perasaan gue jadi ga enak, ya," ucap Zara.
"Iya, sama gue juga!" ucap Bela dan Gea bersamaan.
"Tapi kira-kira siapa ya, yang ketabrak?" ucap Bella.
"Kita lihat aja!" ucap Gea.
"Ayo!"
"Permisi, maaf kita mau lihat!" ucap Gea, Zara dan Bella menerobos kerumunan tersebut. Seketika tubuh mereka langsung terdiam kaku setelah mengetahui siapa yang ketabrak.
"DIFAAAA!" teriak mereka bertiga dan langsung saja menjatuhkan dirinya di hadapan Difa yang terbaring lemah dengan darah yang memenuhi kepalanya.
"H--hiks, Dif, bertahan ayo," ucap Zara.
"L--lo, anak kuat kan, Dif, ayo bertahan!" ucap Gea dengan pipi yang sudah basah oleh air mata.
"B--bertahan oke, sahabat gue kuat!" ucap Bella.
Tak lama kemuadian .., mobil Ambulance pun datang. Petugas pun langsung saja membawa Difa untuk di bawa ke rumah sakit. Zara, Bella dan Gea pun mereka ikut masuk kedalam mobil Ambulance.
__ADS_1
Zara kini sedang menghubungi Albi dengan tubuh yang gemeteran. Dirinya benar-benar syok dengan apa yang terjadi barusan. Dirinya takut akan keadaan sahabatnya.
---
"Ck, lama banget sih para cewek." ucap Tio menggerutu.
"Iya nj*r, lumayan nih," ucap Angga.
"Lo kenapa Gi?" tanya Bayu pada Gian.
"Perasaan gue tiba-tiba ga enak." ucap Gian.
"Drrtt! Drrtt!"
Mendengar HP nya berbunyi, langsung saja Albi mengangkatnya. Dan seketika tubuh nya diam terpaku.
Kini semua orang tengah berada di luar ruangan Operasi. Albi yang mendapatkan telepon dari Zara langsung saja memberitahukan Gian, dan menyusul Zara ke rumah sakit.
"Gi, orang tua Difa balik ga?" tanya Bayu dengan suara parau.
"Engga, makanya sekarang orang tua gue yang ambil surat kelulusannya!" ucap Gian dengan suara yang bergetar.
Setibanya di rumah sakit, Difa langsung di larikan ke ruang Operasi. Lantaran benturan yang sangat kuat itu, mengakibatkan pembuluh darah nya pecah.
4 jam berlalu, namun Operasi nya belum selesai. Semua orang kini tengah melafalkan do'a untuk keselamatan Difa.
"Gi, gimana keadaan Difa?" tanya Resta, Ibu dari Gian.
"Belum ada kabar, Mah," ucap Gian dengan mata yang memerah.
"Ayah, mana?" tanya Gian.
"Ke Bandara, jemput orang tua Difa." ucap Resta mengelus kepala anaknya itu.
"Mah, aku takut kalau Difa pergi ninggalin Gian sendiri!" ucap Gian dengan suara yang bergetar.
"Difa ga mungkin ninggalin Gian. Gian itu kan abangnya Difa, orang yang Difa sayang." ucap Resta dengan mata yang memerah menahan tangis.
"Hiks, Difa pasti kuat!" ucap Zara.
"Difa, lo, kuat!" ucap Gea.
"Lo, pasti sembuh, Dif," ucap Bella.
---
__ADS_1
Di ruangan Operasi, kini para Dokter tengah menangani Difa.
"Dok, detak jantungnya, berhenti!" ucap seorang suster. Dokter itupun langsung saja bergerak cepat untuk memeriksa detak jantung Difa.
Hingga Dokter itupun menatap ke arah suster dengan gelengan kepala. Tidak ada harapan lagi untuk kita, mungkin ini sudah jadi takdirnya. Sudah cukup Difa berjuang untuk melawan penyakitnya sendirian.
"Selamat jalan anak baik." ucap Dokter itu, dengan mencium kening Difa.
-----
"Ceklek!"
Pintu di buka hingga mengalihkan perhatian semua orang. Dokter itu menatap sendu ke arah semua orang. Bagaimana pun kabarnya, dirinya harus memberitahukan kabar yang sebenarnya.#
"Kami sudah melakukan yang terbaik untuk pasien. Tetapi ini sudah jadi takdirnya. Dia pergi untuk selama-lamanya." jelas Dokter itu sebut saja namanya Dokter Gesya.
"E--enggak, Dokter pasti bohong kan?" ucap Gian dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipinya.
"Ini sudah takdir. Kamu ikhlaskan kepergian Adik kamu." ucap Dokter Gesya.
"ENGGAK, GAK MUNGKIN DIFA NINGGALIN GUE!" ucap Bayu sambil menerobos masuk ke dalam ruangan Difa dan di susul oleh yang lain.
"Dif bangun? Kamu kuat kan ayo bangun?"
"Hiks, Difa bangun katanya mau pergi main sama kita." ucap Zara menangis di pelukan Albi.
"Katanya mau main ke pasar malam sama Abang, ko malah pergi?"
"Lo bohong, lo bilang mau kuliah bareng, nyatanya lo pergi Dif!"
Dua orang paruh baya masuk ke dalam ruangan Difa. Ya, kedua orang tua Difa datang, namun terlambat. Orang tua Difa hanya bisa menangis memeluk anaknya yang sudah menutup matanya untuk selama-lamnya.
"Maaf, kemarin Difa nitipin surat untuk kalian semua." ucap Dokter Gesya, sambil memberikan surat tersebut kepada Gian.
Gian membuka isi surat tersebut dengan tangan yang bergetar.
Isi surat itu ...
Hai .., ini Difa. Aku sengaja nulis surat ini buat kalian semua. Aku disini cuma mau bilang terimakasih untuk kalian semua yang sudah mewarnai hidup aku yang sunyi ini.
Untuk Abang .., Difa cuma mau minta maaf sama Abang karena Difa selalu ngerepotin, dan makasih udah ngejaga Difa dengan baik. Abang maafin Difa, Difa bohong kalau waktu itu Difa cuma sakit biasa tapi nyatanya Difa divonis sakit Kanker Hati stadium akhir. Maafin Difa karena Difa ga bilang sama Abang soal penyakit Difa.
Untuk semua teman-teman Difa. Makasih yah untuk tiga tahun nya udah mau nerima Difa sebagai teman kalian. Zara maafin Difa yah, karena Difa ga bisa ajak main anak kamu nanti. Untuk Bella dan Gea, maafin Difa yang gabisa nepatin janji aku ke kalian untuk kuliah bareng karena waktu aku udah ga banyak.
Difa .....
__ADS_1
end...