
#ISTRI_KECIL_MILIK_GANGSTER_KEJAM
Part 9
Kini jam menunjukan pukul 22:12, namun kedua sejoli itu masih belum menutup matanya. Saat ini Zara tengah menonton tv, sedangkan Albi dia sedang merokok dan bermain ponsel.
"Huh, kak bosen." ucap Zara sambil berjalan menghampiri Albi dan memeluknya.
"Sana pergi ..., gue lagi ngerokok." ucap Albi.
"Ish, makanya gausah ngerokok." ucap Zara dan langsung saja mengambil rokok dari tangan Albi. Sedangkan Zara dia hanya cengengesan, mendapatkan tatapan tajam dari Albi.
"Balikin ga, rokoknya." ucap Albi.
"Ambil aja, kalau bisa." ucap Zara sambil mengangkat rokok itu ke atas.
"Mulai n*kal, hmm," ucap Albi sambil tersenyum menyeringai.
"Lo, pendek, mending diam aja." ucap Albi dan mendapatkan tatapan tajam dari Zara.
"Pendek itu imut," ucap Zara sambil tersenyum.
"Iya, tapi lo nggak termasuk." ucap Albi sambil tersenyum jahil.
"Aku, imut, cantik," ucap Zara meng pede.
"Lo, jelek." ucap Albi.
"Terus kalau aku jelek, kenapa kakak nikah sama aku?" tanya Zara.
"Karena terpaksa." ucap Albi.
"Berarti kalau gitu, kakak ga nerima aku?" tanya Zara.
"Nggak," sahut Albi.
Zara yang mendengar perkataan itu pun, langsung saja menatap Albi dengan mata berkaca-kaca.
"Yaudah kalau gitu aku pergi." ucap Zara, sambil berjalan menghampiri pintu. Tanpa di duga ...., Zara langsung saja menangis sejadi-jadinya.
"H--hiks, kak Albi jahat." ucap Zara.
__ADS_1
"Katanya mau pergi, kenapa masih disini hmm," ucap Albi sambil tersenyum jahil.
Zara yang mendengar perkataan itupun langsung saja menghampiri Albi dan memeluknya. "Kakak, jahat." ucap Zara.
"Gue, cuma bercanda." ucap Albi, sambil mengusap kepala Zara sesekali ia menc*umnya.
-----
"Kak," ucap Zara, sambil menarik ujung kaos milik Albi.
"Kenapa?" tanya Albi.
"Kenapa di b*d*n kakak, banyak tatonya?" tanya Zara.
"Kenapa lo tau, lo ngintip?" tanya Albi, sambil tersenyum menyeringai.
"Y---ya, enggak cuma nebak, itukan keliatan tangannya ada tatonya." ucap Zara.
...,............................................................. .. . .. ...
Kini jam pelajaran tengah berlangsung. Semua murid kini tengah pokus memperhatikan guru yang sedang menjelaskan materi.
"Prang! Prang!"
"Woy, semua yang ada di kelas, keluar semua sekolah kita di serang." teriak salah satu siswa.
Dan seketika ...., semua murid yang tengah belajar pun berlarian keluar kelas. Termasuk Zara, Bella, Difa dan Gea.
"Hiks, gue takut." ucap Zara.
"Gue juga sama. " ucap Bela.
"Hiks, abang, Difa takut. " cicit Difa.
"Angga, tolongin gue." ucap Gea.
Kini Zara, dan teman-temannya, bersembunyi di dalam gudang sekolah. lantaran ruang lab penuh dengan semua siswa.
"Mau ngapain lo kesini?" tanya Albi pada Gino, musuh bebuyutan Albi.
"Yang pasti mau masih peringatan ke elo, bahwa sebentar lagi orang itu akan datang dan ngancurin hidup lo." ucap Gino tersenyum miring.
__ADS_1
"Terus, urusan nya sama gue apa?" tanya Albi santai sambil menghisapkan asap rokoknya.
"Gatau diri banget, jadi orang." ucap Gino
"Bukannya orang itu ya, yang gatau diri." sahut Albi tersenyum miring.
"Bisanya bawa pasukan doang." celetuk Tio.
"Mending pulang sana, percuma bawa pasukan banyak tapi cuma adu bac*t doang." ucap Bayu.
"Emangnya kenapa kalau gue bawa pasukan, takut lo?" tanya Gino.
"Gue, gatakut sama orang yang bisanya cuma ngomong doang." sahut Albi.
Gino yang mendengar perkataan itupun, langsung saja di buat marah. Dan langsung saja memukul Albi, sedangkan pasukan lainnya melawan inti The Black Lion.
"B*gh!"
Albi m*m*kul, perut Gino, hingga membuat sang empu meringis kesakitan. Gino yang merasa tak terima atas perlakuan Albi, dia langsung saja mengeluarkan p*sau dari saku jaketnya. Albi yang tak menyadari itu, karena dirinya terus saja m*m*kul, wajah Gino. Hingga .......
"Jleb!"
Pisau itu berhasil menggores lengan Albi, hingga darah segar pun mengalir dengan banyaknya. Gino ingin kembali menggoreskan pisau itu, namun suara sirine mobil polisi mengentikan rencananya.
"Cabut," teriak Gino pada anggotanya. Ya, mereka anggota SERVON, yang anggotanya terdiri dari 150 orang. Di ketuai oleh seseorang yang masih menjadi misteri. Dan Gino, dia menjabat sebagai wakil ketua SERVION.
"Lo, nggak papa?" tanya Gian pada Albi.
"Gue, nggak papa." sahut Albi.
"Nj*r, ga papa gimana, itu tangan lo udah jadi warna merah semua." ucap Tio.
"Kalian gaada yang luka parah kan?" tanya Albi.
"cuma bonyok doang." ucap Bayu.
"Abaaang....," teriak Difa, berlari mengahampiri Gian dan memeluknya.
"Lo, nggak papa kan?" tanya Gian, dan di balas gelengan oleh Difa.
"Abang, muka lo jadi jelek." ucap Difa.
__ADS_1
Bersambung......