Istri Kecil Milik Gengster Kejam

Istri Kecil Milik Gengster Kejam
part 16


__ADS_3

#ISTRI_KECIL_MILIK_GANGSTER_KEJAM


part 16


"t---terus, sekarang keadaannya gimana, Dok,?" tanya Albi dengan mata yang memerah.


"Syukurlah, sekarang keadaanya sudah membaik. Perlu di perhatikan lagi pola makan nya, jangan kecapean, karena itu akan berakibat patal nantinya." jelas Dokter Amel.


"Baik Dok, makasih." ucap Albi.


"Kalau begitu, saya permisi." ucap Dokter Amel dan melenggang pergi dari hadapan Albi.


Albi masuk ke dalam ruangan Zara di rawat, dirinya melihat Zara yang tengah tersenyum ke arahnya.


"Maafin gue ya, karena gue gabisa ngejaga lo dengan baik." ucap Albi memeluk Zara dengan erat.


"Ini bukan salah kakak, ini udah takdir, yang penting kan sekarang aku sama dedek bayi nya ga papa." ucap Zara.


"Iya."


Tak lama kemudian, pintu terbuka dan tampaklah anak-anak ajaib berada.


"Zar, lo ga papakan?"


"Zara, ko, lo tadi keluar darah, kenapa?'


"Al, Zara kenapa?"


Zara bingung harus menjawab pertanyaan dari teman-temannya.


"Zara lagi ngandung anak gue," ucap Albi.


Dan seketika keadaan pun hening ... Dengan pemikiran masing-masing yang masih mencerna ucapan Albi.


"WHAT!" berarti gue bakalan jadi Tante, Dong!" teriak Difa, Bella dan Gea.


"OMG!" gue bakalan jadi Om, padahal kan masih muda." celetuk Tio.


"Nanti anak lo, gue ajarin naik motor deh." celetuk Angga.


"Cewek, apa cowok, ya," ucap Bayu menimpali.


"Semoga deh, kalau cowok sifat bapaknya ga nurun ke anaknya." celetuk Tio. Dan mendapatkan tatapan tajam dari Albi.

__ADS_1


"Canda, Al, hehe," ucap Tio cengengesan.#


Satu bulan berlalu, kini hari senin, tepatnya hari kelulusan kelas 12. Dimana para orang tua mulai berdatang ke sekolah untuk mengambil raport anak-anak mereka. Termasuk orang tua Zara dan Albi.


"Selamat ya, sekarang kamu udah lulus." ucap Nis kepada Zara.


"Makasih mah." ucap Zara memeluk erat mamahnya.


Semua orang tengah berbahagia bersama keluarga mereka untuk merayakan hari kelulusan anak-anak mereka. Tetapi berbeda dengan Difa, dirinya sekarang menyendiri di taman belakang sekolah.


"Ternyata, mamah sama papa beneran ga datang, ya," ucapnya menatap sendu ke arah langit.


"Hai, kamu ngapain disini sendiri, hem." ucap Bayu sambil menduduki dirinya di samping Difa.


"Bosen," ucap Difa tersenyum tipis.


"Kamu mau kuliah?" tanya Bayu.


"Mau sih, tapi gimana menurut takdir aja," ucap Difa tersenyum tipis.


"Emang kenapa?" tanya Bayu.


"Enggak papa." ucap Difa.


"Gak janji, maaf," ucap Difa.


"Oh, ya, aku punya sesuatu buat kakak." ucap Difa sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tas nya.


"Nih, buat kakak," ucap Difa mengeluarkan kalung yang berliontin bintang.


"Kenapa harus bintang?" tanya Bayu.


"Karena bintang, bakalan terus nemenin kakak di waktu gelap, dia bakalan nerangin cahaya nya." ucap Difa tersenyum tipis.


"Aku cuma mau bilang, kalau aku udah nggak ada, dan kalau kakak kangen sama aku, kakak cukup pake kalung itu aja." ucap Difa.


"Kenapa lo ngomong gitu?" tanya Bayu.


"Mastiin," ucap Difa.


#


Kini Albi dan teman-temannya sedang berkumpul di kantin sekolah. Sedangkan Zara, Difa, Bela dan Gea, mereka tengah membeli permen kapas yang ada di sebrang jalan.

__ADS_1


"Lo, mau kuliah di mana, Gi,?" tanya Tio.


"London," ucap Gian.


"Sama Difa?" tanya Bayu dan di balas anggukan oleh Gian.


"Yah, virtual dong," ucap Bayu dengan wajah sesedih mungkin.


"Mampus!" ucap Tio.


"Gue, gabakal kuliah, tapi nerusin perusahaan bokap!" ucap Angga.


"Oh, ya, anak cewek mana sih, ko pada belum balik?" ucap Angga.


"Iya nj*r, lama banget!" ucap Tio prustasi.


---


"Udah semua kebagian, kan,?" tanya Zara pada ketiga temannya.


"Udah, kalau gitu kita ke kantin, pasti anak cowok pada nungguin kita." ucap Gea dan di balas anggukan oleh Bella.


"Kalian, duluan aja, gue mau beli boba dulu." ucap Difa pada ketiga temannya itu.


"Yaudah, kalau gitu, kita duluan." ucap Gea dan di balas anggukan oleh Difa.


"Udah! Ayo kita nyebrang," ucap Gea.


"Oke, pada hitungan ketiga kita jalan!" ucap Gea dan di balas anggukan Zara.


Mereka kini tengah berjalan, dengan Gea memimpin di depan. Mereka sangat berhati-hati karena takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


Zara, Bella dan Gea, mereka kini sudah sampai di pinggir jalan gerbang sekolah. Sedangkan Difa, kini dirinya sedang berdiri di pinggir jalan untuk menyebrang.


Difa kini tengah berjalan di tengah jalan. Kendaraan kini tidak terlalu ramai. Tiba-tiba kepalanya mendadak pusing dan berjalan mulai sempoyongan. Dengan sekuat tenaga, Difa menguatkan dirinya untuk berjalan, lantaran ada sebuah mobil yang melaju dengan kencang.


Difa tidak bisa menahan dirinya lagi, dia melihat mobil itu melaju sangat kencang ke arahnya dan semakin mendekat.


Hingga .....


"Brakk!"


Tubuh mungil itu tergeletak di tengah jalan dengan darah yang bercucuran. Gea dan ketiga temannya itu yang hendak melangkah masuk ke dalam sekolah, karena menunggu Difa lama seketika mereka menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2