
Pagi - pagi tadi aku bergegas, setelah mengikuti Apel pagi rutin dikantor, Aku ijin pada atasan untuk mengantarkan seorang tetangga ke Rumah Sakit Umum Daerah, pasalnya Bu Darmi si tetangga yang kumaksud tadi sudah seminggu ini mengeluh sakit dibagian uluhati, sering mual dan muntah, aku sebenarnya sudah menghubungi anak bu Darmi tapi , beralasan sedang sibuk dengan pekerjaan dia tidak bisa mengantarkan ibunya untuk memeriksakan kesehatan lebih lanjut, hingga mau tak mau aku yang mengantar beliau, sebenarnya aku juga memiliki banyak pekerjaan tapi tak tega melihat keadaan bu Darmi yang semakin hari semakin lemah walaupun cuma tetangga tapi bu Darmi berjasa besar padaku, sehari - hari bu Darmi lah yang membantuku menjaga Ziko, buah hatiku yang kini berusia 7 tahun dan sedang bersekolah di Sebuah Sekolah dasar swasta yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah kami, biasanya sebelum aku berangkat kekantor aku sudah mempersiapkan segala kebutuhan putraku, pakaian , tas dan buku - bukunya , jika ia sudah bersiap selanjutnya aku akan menemaninya menunggu bis jemputannya, setelah dia berangkat barulah aku bersiap kekantor, nah tugas Bu Darmi adalah menyiapkan makan siang kami dan menemani Zico saat putra kecilku itu kembali dari sekolahnya, bu Darmi akan menemaninya sampai aku kembali dari kantor, walaupun bu Darmi menerima gaji dariku tapi aku tak menganggapnya orang lain, aku sudah menganggapnya seperti keluargaku sendiri.
Dan sekarang disinilah Aku, duduk menunggu di dalam sebuah gedung di area Rumah Sakit umum Daerah Tempat tinggalku, Rumah Sakit ini lumayan luas dan memiliki fasilitas yang lengkap, untuk ukuran Daerah Provinsi yang baru berkembang Rumah Sakit ini adalah yang terbaik.
Sudah hampir satu jam aku menunggu giliran setelah tadi menyetor surat rujukan dari puskesmas dan salinan kartu Indonesia Sehat ( KIS ) Kepada petugas loket pendaftaran, aku masih harus menunggu sampai surat Jaminan selesai dibuatkan untuk selanjutnya disetorkan lagi pada petugas bagian polik Interna ( Polik penyakit dalam) untuk mendapatkan pemeriksaan dari dokter spesialis.
Gedung ini berlantai 3 , bentuknya memanjang dibagian tengah adalah loket pendaftaran dan informasi, sedang disisi kiri dan kanan adalah ruangan Polik, sebelah kanan ada polik terapi, saraf dan paru sedangkan di sisi kiri ada polik obgyn, bedah dan psikiatri , disamping ruang informasi terdapat lift yang mengarah kelantai dua dan tiga, lantai dua merupakan ruang perawatan khusus kelas I dan VIP sedang lantai tiga adalah ruang perawatan khusus pasien saraf.
sejak pagi suasana sudah nampak ramai dengan orang - orang yang mengantri tak terkecuali denganku, Bu darmi duduk disampingku , kepalanya bersandar di bagian atas kursi besi, ia tampak memijit kepalanya berkali-kali, Aku kasihan melihatnya.
waktu sudah menunjukkan pukul. 10.00 pagi ketika tiba giliran kami, aku menuntun Bu Darmi masuk ke ruang Polik Interna, didalam tampak beberapa perawat yang sibuk dengan berkas serta peralatan - peralatan medis, diujung ruangan duduk seorang wanita berjas putih ia menundukkan kepalanya fokus menatap berkas dimeja, tangannya membolak - balik kertas - kertas tersebut, Bu Darmi melangkah ke meja seorang perawat untuk diperiksa tanda - tanda vitalnya setelah itu ia menuju ke meja dokter yang masih fokus dengan berkas ditangannya, Aku menebak dokter wanita ini berumur kisaran 50 - 55 tahun, aku tak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena tertutupi masker tapi sepertinya aku pernah melihatnya , entah dimana.
" Silahkan duduk ibu " dokter tersebut mengangkat wajahnya menatap hangat kepada Bu Darmi.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
"ini dok, saya selalu merasa mual dan kadang muntah, uluhati juga nyeri bu dokter" Bu Darmi mulai menyebutkan keluhannya.
"udah berapa hari bu?"
"udah semingguan bu dokter"
"Hari ini ibu sudah muntah berapa kali" tanya dokter itu lagi.
"hmmm..3 kali bu dokter, keluarnya cuma air aja" jelas bi Darmi lagi, aku hanya diam berdiri didekat pintu ,sesekali menatap kearah mereka berdua.
"Apa nyeri yang Ibu rasakan menembus sampai kepunggung?"
"oh.. ya sudah nanti saya resepkan obat yah, kemungkinan asam lambung ibu naik, jelas dokter tersebut, ibu harus makan secara teratur walaupun dalam porsi kecil, jangan lupa hindari dulu makanan pedas dan keras.. dokter itu menjelaskan panjang lebar kepada Bu Darmi , Aku pun mencuri dengar penjelasannya.
" terima kasih bu dokter.. nanti saya akan makan dengan teratur" balas Bi Darmi.
__ADS_1
"Baiklah..ibu bisa keluar sekarang, nanti perawat akan memberikan resep obatnya" Kata dokter itu lagi.
Aku mendekat kearah mereka , berniat membantu Bi Darmi berdiri dari duduknya, sedetik kemudian sang dokter menyapaku.
"Akira?" tanyanya, aku mendongakkan kepala mencoba mengingat - ingat siapa gerangan dokter didepanku.
"ini saya Akira, dosenmu dulu" ujarnya sembari melepaskan masker yang menutupi sebagian wajahnya.
"Oh...bu Nadira, Astaga.. apa kabar bu? tanyaku sembari mengulurkan tangan mencium punggung tangannya beliau dengan takzim.
"Baik, Kamu apa kabar?
"Baik bu"
"oh..yah, kita lanjutkan obrolannya nanti yah.. tolong tinggalkan nomor ponsel mu disini " ujar dokter didepanku yang ternyata adalah bu Nadira dosenku saat kuliah dulu, beliau adalah salah satu dosen favoritku dulu, beliau sangat baik dan ramah saat mengajar membuat kami mahasiswa tak pernah bosan mengikuti kuliahnya.
__ADS_1
"oh, iya bu.. Aku mengetikkan nomor ponselku di ponsel beliau lalu pamit keluar ruangan, menuju Apotek rawat jalan yang terletak didekat pintu keluar, tak lupa kupegang lengan Bi Darmi perlahan.
Kami kembali kerumah setelah mengambil obat yang diresepkan, Aku meninggalkan Bi Darmi untuk beristirahat sementara aku melajukan mobilku menuju kantor guna menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda.