Istri Kedua Sang Dokter

Istri Kedua Sang Dokter
Bernegosiasi dengan bu Nadira.


__ADS_3

Setelah pertemuan tempo hari antara Aku dan dokter Damar tak pernah lagi berkomunikasi, aku memilih mengirim pesan lewat Sarah, ini untuk menghindari fitnah dan salah faham yang bisa timbul, selain itu aku juga ingin Sarah dan Amar mengerti dengan jelas tujuanku yang semata - mata ingin membantu kedua orang tua mereka, walaupun belum memutuskan untuk mengiyakan , tapi tawaran itu sedang kupertimbangkan, mengingat kondisi bu Nadira yang semakin lemah.


Hari ini aku mengajukan cuti 3 hari dari kantor dengan alasan menghadiri acara keluarga di kota M, padahal sesungguhnya aku ingin menjenguk dan melihat sendiri kondisi bu Nadira sebelum membuat keputusan yang sangat besar ini, Ziko kutitipkan pada kakek dan neneknya.


Bersama Sarah dan Amar, aku menuju Kota M berkendara dengan mobil C*V milik Amar, bu Nadira dirawat dikota M tepatnya disebuah Rumah Sakit besar, khusus untuk penderita Kanker. Dengan latar belakang dokter spesialis yang mereka sandang tentunya tak sulit mendapatkan informasi mengenai fasilitas - fasilitas kesehatan terbaik untuk menunjang kesembuhan bu Nadira.


Empat Jam perjalanan , kini kami telah sampai disebuah rumah bergaya minimalis, berwarna putih dan abu gelap. Aku dan Sarah melangkah beriringan kedalam rumah sementara Amar masih menurunkan koper - koper dari mobil.


"Tante bisa istirahat dan bersih - bersih dulu besok pagi kita akan menemui Ibu di Rumah sakit," ujar Sarah kepadaku, beberapa hari ini kami memang lebih akrab, aku seringkali mengiriminya pesan untuk menanyakan kabar bu Nadira.


"Baiklah.. sepertinya tante akan mandi dulu," jawabku.


Damar menyusul kami, dibantu seorang pria paruhbaya dia membawa koper - koper itu kedalam rumah.


" Bi, tolong antar tante Nadira kekamar tamu ," titah Damar pada seorang wanita yang baru saja keluar dari pintu sebelah kiri kami.


" Baik den, Mari bu ikut saya," ajaknya padaku, tangannya dengan sigap mengambil koper didepanku.


*******


Pukul. 10.00 wita aku telah selesai sarapan, kulihat Damar dan Sarah masih fokus didepan laptop masing - masing, mengikuti kuliah pagi melalui aplikasi Z**m, " 10 menit lagi," Sarah yang melihatku memberi kode dengan jarinya, kubalas hanya dengan senyuman dan anggukan kepala.


10 menit berlalu, Sarah sudah merapikan laptopnya lalu berjalan menghampiriku , Damar sudah selesai lebih dahulu dan sedang memanaskan mesin mobil di halaman depan . Kami berdua melangkah keluar rumah, disana sudah ada pak Aswin dan istrinya, mereka berdua adalah orang yang bekerja untuk menjaga Sarah dan Damar jika keduanya sedang ada dikota M.


"Pak Aswin , bi Uti, Kami berangkat yah," ucap Sarah pada mereka, aku hanya tersenyum kearah pak Aswin dan bi Uti.

__ADS_1


"Berangkat sekarang?" Damar bertanya dari balik jendela kaca mobilnya.


"Ayo kak," Aku dan Sarah masuk ke kursi penumpang.


Selama perjalanan aku memilih diam, masih menimbang , apakah keputusanku untuk menjenguk bu Nadira adalah keputusan yang benar, apakah tindakanku ini nantinya akan memberi bu Nadira harapan bahwa aku akan menerima tawarannya, membayangkan menjadi istri kedua tentu saja tak pernah terlintas dibenakku, jangankan menjadi istri kedua, menikah lagi saja tak pernah sedikitpun kurencanakan. Setelah kepergian almarhum suamiku aku fokus membesarkan Ziko, mencurahkan segenap cinta dan perhatianku padanya, waktuku hanya terbagi untuknya dan pekerjaan tak sempat lagi berpikir macam - macam.


"Mari Tante," ajak Sarah saat kami sudah tiba digerbang sebuah Rumah sakit dengan nuansa abu dan merah.


Aku masih mematung , kupejamkan mataku sejenak dan mencoba untuk mengusir keraguan yang tiba - tiba datang menyergap, kurasakan jemariku hangat, saat membuka mata kulihat Sarah sudah berdiri disampingku sembari tangannya menggenggam tangan kiriku , sementara Damar memberiku senyuman yang kurasa sangat tulus, ah.. aku terharu melihat dua anak luar biasa ini, mereka terlihat sangat tegar menerima ujian yang sedang menimpa keluarga mereka.


Tok..tok..tok.. Sarah mengetuk pintu putih didepan kami, " Masuk," jawab suara bariton dari dalam, itu pasti dokter Damar, batinku.


Kami bertiga melangkah kedalam, mataku menangkap sosok bu Nadira sedang terbaring lemah, tubuhnya nampak kurus.


Dokter Damar menghampiri kami, beliau juga tampak kurus dan sedikit tak terurus, beliau merentangkan kedua tangannya, Sarah dan Damar menghambur kepelukan Ayahnya, Isak pelan terdengar dari ketiganya, aku memilih menjauh kesudut ruangan, memberi mereka ruang untuk saling melepaskan keresahan dan kesedihan.


"Terima kasih sudah mau berkunjung," dokter Damar berujar pelan padaku.


"Sama - sama dok," jawabku singkat.


"Mari.. Anda bisa menyapanya, beliau dari kemarin selalu menyebut nama anda," dokter Damar mengajakku mendekati bed Bu Nadira.


" Sayang..Sayang.. ada yang mencarimu," dokter Damar menepuk pelan lengan bu Nadira.


ia merespon, matanya terbuka menatap suaminya lalu beralih menatapku, pandangannya kosong, beliau terlihat seperti orang lain, sangat berbeda dengan bu Nadira yang kulihat terakhir kali.

__ADS_1


"Akira..," panggilnya lemah, aku mendekat.


"iya bu, ini aku Akira ," aku mendekati beliau memegang tangannya erat.


"Terima kasih sudah mau menolongku, jadilah istri untuk suamiku, dan ibu titip Amar juga Sarah padamu, " bu Nadira berujar dengan terbata, beliau terlihat kesulitan menyelesaikan kalimatnya.


Aku meneteskan air mata mendengarnya, sebenarnya aku ingin menyela perkataan beliau bahwa diriku belum mengambil keputusan apapun tapi melihat matanya yang semula kosong kini berbinar penuh pengharapan, aku segera mengurungkannya.


"Bu Nadira, jangan berkata begitu, berjanjilah bu Nadira akan sehat kembali, aku tidak akan menjadi istri dokter Damar, satu - satunya istri beliau adalah bu Nadira , jadi ibu harus sehat kembali," kukuatkan beliau dengan segenap hatiku.


"Tidak Akira, aku adalah seorang dokter, aku tahu sampai dimana aku bisa bertahan dan waktuku tidak lama lagi Akira, berjanjilah untuk menikah dengan suamiku, " mohon bu Nadira lagi .


"Tidak..tidak..aku tidak akan berjanji bu, sebelum ibu juga berjanji untuk tetap menjalani perawatan dan berjuang untuk sembuh," aku berusaha meyakinkan beliau.


"Baiklah aku berjanji untuk mengikuti semua prosedur perawatan asalkan kau juga berjanji untuk menikah dengan suamiku," bu Nadira kembali bernegosiasi denganku.


"Aku berjanji menikah dengan suami bu Nadira tapi tidak sekarang, kami baru akan menikah nanti, setelah..." kujeda ucapanku, aku tak sanggup lagi meneruskannya, bu Nadira yang mengerti maksudku tersenyum lalu menganggukkan kepala.


"Aku faham maksudmu Akira, aku cukup senang kau mau berjanji padaku,"


"Sepeninggalku, segeralah menikah dengan pria berumur itu..," bu Nadira melengkungkan senyumnya melirik sekilas dokter Damar yang berdiri membelakangi kami.


"Terima Kasih untuk pengertian ibu, bagaimanapun aku memiliki seorang putra, aku hanya tak ingin putraku salah faham, dia masih terlalu kecil untuk mengerti situasinya, aku tak ingin suatu saat nanti putraku mengira aku menjadi orang ketiga dalam pernikahan bu Nadira dan dokter Damar" Aku menjelaskan keresahan yang dari tadi kupendam, alasan pertama dan utama kenapa aku menolak untuk menikah dengan dokter Damar selama bu Nadira masih hidup.


"Aku mengerti Akira..terima kasih sekali lagi, " bu Nadira menarikku dalam pelukannya.

__ADS_1


********


Yuhuuu..readers, semoga tetap sehat dan bahagia, jangan lupa memberi like dan dukungan... Selamat Membaca guys.. 😘


__ADS_2