
Setelah mengantarkan Bu Nadira aku meneruskan perjalanan menuju kantor, tak butuh waktu lama kurang dari 10 menit aku sudah sampai di parkiran kantorku, apel pagi sudah selesai dari tadi, beberapa teman masih terlihat diarea depan kantor yang digunakan sebagai tempat kami melaksanakan apel pagi dan siang, mereka nampak asyik berbincang - bincang.
Kutepikan mobilku diparkiran, dengan langkah ringan aku masuk Kedalam kantorku setelah tadi melewati pintu besi yang dijaga oleh dua orang petugas penjaga pintu utama, sebelum benar - benar sampai keruangan aku harus melewati berbagai pemeriksaan sesuai dengan Standar Operating Procedure atau S.O.P yang berlaku dikantorku, mulai dari pemeriksaan barang bawaan, tas dan bahkan penggeledahan badan, tentunya semua ini dilakukan secara profesional, bagi pegawai wanita sepertiku yang menggeledah adalah petugas perempuan, sebagaimana berlaku juga bagi petugas pria. Setelah melewati semua tahapan ini dan semua aman, aku akhirnya dipersilahkan untuk masuk kedalam area kantor.. "Silahkan bu Akira, Selamat betugas," Ucap Aditya dan Didik sopan, kebetulan hari ini mereka yang bertugas jaga di area portir pintu utama. " Terima kasih Pak ," balasku sopan sambil melangkahkan kakiku.
oh..iya, Sebelum melangkah jauh, sebaiknya kuperkenalkan dulu diriku pada kalian, biar tambah akrab dan sayang.. hehhe.
Namaku Akira, Aku berumur 34 tahun. seorang single parent, putraku bernama Ziko umurnya tujuh tahun. Aku bekerja disebuah instansi pemerintah, tepatnya disebuah Lembaga Pemasyarakatan ( LAPAS) dikota P, tanah kelahiranku. Mungkin bagi sebagian orang profesi sebagai seorang petugas pemasyarakatan masih begitu asing tapi tidak bagiku, aku sudah bekerja disini selama lebih dari 12 tahun , bekerja dengan para
" Pelanggar Hukum" atau yang kami sebut dengan "Warga Binaan" benar - benar memberiku banyak pangalaman berharga, menghadapi mereka membentuk mentalku menjadi seorang wanita yang sabar, kuat , tegas dan lembut secara bersamaan. Tak ada kata cengeng dalam kamusku, setiap permasalahan hidup harus dihadapi dan diselesaikan, tak peduli seberapa lama waktu yang dibutuhkan, bagiku menyelesaikan masalah dalam waktu lama lebih baik ketimbang menghindarinya, karena masalah yang tak terselesaikan pada akhirnya akan menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
*******
"Selamat pagi bu Akira," Sapa Pak Usman dari balik meja kerjanya, beliau adalah atasan langsungku. Beliau sedang duduk sambil menandatangani beberapa berkas.
"Selamat pagi pak, Maaf saya terlambat ." balasku dengan suara yang lembut dan sopan.
berharap beliau mengerti dan tak akan mempermasalahkannya .
"Hmm..tidak apa - apa, tapi harap jangan diulangi lagi," beliau berdehem kemudian memberi nasehat, atau mungkin itu adalah peringatan.
"Baik pak, terima kasih," kulangkahkan kaki menuju ruang kerja disebelah ruangan beliau, disana sudah ada bu Merry, bu Tiya, Pak Difta dan Pak Rehan.
"Selamat pagi , semua.." Sapaku .
"Selamat pagi ibu Say..." Jawab pak Rehan semangat, dia memang paling suka menggodaku.
"Tumben telat, darimana bu?" tanya bu Merry.
"Tadi nolongin orang dijalan bu Mer, dia pingsan jadi saya antar ke Rumah Sakit dulu," jelasku seraya mendudukkan tubuh pada kursi kerjaku, kunyalakan komputer didepanku.
__ADS_1
"Wah...bu Akira memang Top Bgt, suka menolong dan rendah hati," canda Pak Rehan lagi.
"ih...gombal teroosss.." cicit Tiya yang usianya paling muda diantara kami.
"eh, yang diujung diam - diam bae, sariawan mas?" seloroh pak Rehan kearah pak Difta yang mejanya paling pojok.
"Hmm.." dia cuma berdehem seperti biasa, Kami pun hanya tersenyum, diantara kami memang pak Difta yang paling irit bicara, dia hanya bicara yang perlu - perlu saja, irit energi katanya, hahha...ada - ada saja.
Setelah percakapan singkat itu kami kembali sibuk dengan pekerjaan masing - masing, aku sibuk mengurus data - data Narapidana dengan kasus khusus, seperti : Narkotika, Tindak pidana Korupsi, *******, dan lain - lain, Tiya dan Merry sibuk memeriksa laporan pemeriksaan Bahan Makanan dari Vendor penyedia bahan Makanan bagi para "Warga Binaan", Pak Difta pun nampak serius didepan komputernya, beliau pasti sedang menginput data kesehatan terbaru para "Warga Binaan" Kami. Sedang pak Rehan, entah kemana dia.. sekitar sejam yang lalu dia pamit ketoilet, tapi hingga kini belum juga kembali " mungkin t*inya keras, jadi lama ditoilet," canda tiya mengundang gelak tawa kami.
"bu, bu Akira,bu Akiraaa..., " Aku tersentak mendengar tiya memanggilku dengan suara yang agak keras.
"iya..kenapa tiya?" tanyaku padanya setelah mengontrol rasa kagetku.
"tuh ponselnya , dari tadi berdering," Tiya menunjuk kearah ponselku diatas meja.
"Assalamualaikum.." sapaku kepada orang diseberang sana.
"Wa'alaikumsalam" jawab suara berat dan tegas dari ujung sana. kujauhkan layar ponsel dari telingaku, ternyata nomor baru.
"Dengan siapa yah?" tanyaku lagi.
"Dengan dokter Damar" jawabnya.
"Dokter Damar?? aku mencoba mengingat nama itu, setelah berpikir sejenak akhirnya aku ingat juga, dokter Damar adalah nama suami bu Nadira.
"oh,iya..ada apa dokter Damar ?" tanyaku penasaran.
"begini , tadi ibu titip pesan katanya ingin mengajak bu Akira untuk makan malam sebagai ungkapan terima kasih karena sudah menolong ibu tadi pagi" jelas dokter Damar panjang lebar mengenai maksudnya menelponku.
__ADS_1
"oh..ga usah dok, saya ikhlas menolong bu Nadira, cukup sampaikan salam saya buat bu Nadira, semoga beliau cepat sembuh" ucapku pelan takut menyinggung perasaan beliau.
"Baiklah bu Akira, nanti saya sampaikan kepada ibu , selamat siang bu Akira.
"Selamat Sii...ang..." lagi - lagi sambungan diputus sebelum aku selesai berbicara, sepertinya dokter Damar adalah orang yang tidak sabaran.
Kuletakkan kembali ponselku, mataku kembali fokus pada data - data didepanku, tersisa beberapa lembar lagi, sepertinya hari ini aku bisa pulang tepat waktu.
"Kantin, yuk..lapar nih" ajak Merry dengan wajah lusuhnya.
"yuk..ayuk..." tiba - tiba pak Rehan yang baru kelihatan batang hidungnya menimpali dengan penuh semangat.
"ih.. Pak Rehan nih, emang paling semangat kalau diajakin makan, dasar.." ketus Tiya.
"Iyalah semangat, kan makannya bareng bu Akira yang manis dan baik hati" lagi - lagi pak Rehan melancarkan gombalannya.
"Apaan sih pak, ada - ada aja " ucapku dengan nada yang kubuat sedikit agak keras, biar pun wanita senang dipuji tapi mendengar pujian sesering itu juga membuatku jengah dan sedikit kesal.
"Noh.. Dimarahin bu Akira kan," imbuh Tiya.
"udah - udah..makan yuk," Pak Difta yang daritadi diam akhirnya bersuara.
Kami akhirnya menuju kantin, kudengar ponselku berdering beberapa kali.
"Bu Nadira" gumamku saat kulihat nama bu Nadira tampil dilayar ponselku.
"Kenapa beliau menelpon yah? atau jangan - jangan dokter Damar belum menyampaikan pesanku," batinku.
Aku membiarkan ponselku berdering, nanti akan kutelpon beliau kembali karena sekarang perutku sudah sangat lapar, tak bisa lagi berkompromi dengan keadaan.
__ADS_1