
Aku duduk berhadapan dengan dokter Damar, rasa penasaran sudah tak bisa lagi kutahan. Vanilla latte yang terhidang bahkan belum kucicip sama sekali.
"Dok, ceritakan apa sebenarnya yang terjadi ?" tanyaku pada dokter Damar.
"Apa yang ingin kamu ketahui?" tanyanya balik.
"Semuanya, kenapa dokter dan bu Nadira bisa kenal dengan Mas Refan?" pesan apa yang dimaksud bu Nadira?? " kenapa kalian tidak jujur sedari awal?" Aku tak bisa lagi mengontrol diriku, daripada bertanya satu persatu lebih baik kuajukan saja semuanya, hemat waktu.
Dokter Damar kembali menyesap Kopi hitam pekat dari gelasnya.
"Hmm.. Sebenarnya Refan adalah anak dari pamanku" jelasnya membuatku semakin penasaran.
"Tapi aku tak pernah melihat dokter Damar hadir di acara keluarga besar Mas Refan " Ujarku.
"Orang tuaku meninggal saat aku masih SMP, setelah itu aku tinggal dengan keluarga ibuku di Malaisya " balasnya.
"Lalu, sejak kapan dokter dan Mas Refan bertemu? "
" Aku adalah salah satu Tim dokter yang menangani Refan saat ia dirawat di Rumah Sakit, tanpa sengaja aku bertemu dengan Paman Nando, ayah Refan . Dari situ aku tahu bahwa ternyata Refan adalah adik sepupuku.
"Lalu pesan itu?" fakta demi fakta mulai terkuak , ternyata sedari awal kami sudah memiliki keterkaitan.
"Sebelum operasi Refan sempat menitipkan pesan padaku, jika sesuatu terjadi padanya aku harus menjaga dan... " Kalimat dokter Damar terjeda, ia menatap mataku dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Dan apa dok??"
"Dan menikahi istrinya serta menyayangi anaknya seperti anakku sendiri" pungkas dokter Damar.
Seperti ditimpa batu besar, lagi - lagi dadaku sesak menerima fakta baru , Bagaimana bisa Mas Refan menitipkanku pada orang yang baru saja dikenalnya, walaupun mereka bersepupu tapi mereka baru berkenalan saat di Rumah sakit, apa benar Mas Refan mempercayai dokter Damar, lalu kenapa harus meminta dokter Damar menikahiku, ah... Aku seperti akan kehilangan kesadaranku.
"Kenapa dokter baru menemuiku sekarang?" kenapa tidak 4 tahun lalu?" tanyaku lagi.
"Saat itu aku dan beberapa dokter ahli lainnya ditugaskan ke daerah konflik di negara P, setahun lebih kami menetap disana, kesibukan membuatku lupa dengan amanah dari Refan " jelas dokter Damar lagi.
"Lalu, kenapa sekarang menemuiku? maksudku apa karena sekarang dokter membutuhkanku jadi dokter baru ingat tentang amanah Mas Refan,?" Aku menahan isakku, entah kenapa aku merasa kecewa pada dokter Damar . Seandainya bu Nadira tidak sakit keras dan butuh pertolongan mungkin dokter Damar akan terua mengabaikan amanah Mas Refan.
"Bukan begitu Akira, saat kembali dari sana aku beberapa kali berusaha menemuimu , tapi sikapmu yang sangat tertutup membuatku mundur, beberapa kali aku menelpon tapi tak sekalipun telponku kamu angkat" Kilah dokter Damar, kini matanya memerah. Mungkin beliau tidak terima dengan tuduhanku.
__ADS_1
"Dokter Damar bisa menemui orang tua Mas Refan dan meminta bantuan mereka untuk menyampaikan pesan padaku," Aku masih kekeh dengan kesimpulanku bahwa dokter Damar sama sekali tak pernah berusaha untuk menyampaikan amanah Mas Refan.
"Lalu, jika kau sudah mendengar pesan dan amanah Mas Refan dariku apa yang akan kau lakukan? kau mau menikah denganku ? atau setidaknya apa kau mau menerima bantuanku?" Kau begitu tertutup Akira, Kau menutup semua akses orang - orang yang ingin mendekatimu," Dokter Damar berujar dengan nada yang tegas dan berat, sepertinya beliau sedang menahan emosinya.
Aku terdiam, menyadari bahwa hal ini terjadi mumgkin karena sikapku yang memang sangat tertutup dan menghindari dunia sekitar, setelah kepergian Mas Refan aku seperti kehilangan duniaku, aku sama sekali tak tertarik untuk berinteraksi atau membuka diri pada siapapun, kecuali pada Ziko, Anakku.
"Akira, walaupun aku tak hadir secara langsung mrnjagamu dan Ziko tapi, aku selalu mengawasi kalian, " jelasnya kini suaranya mulai melembut.
"Apa kau tak penasaran, kenapa Ziko bisa dengan cepat menerimaku?"
"Maksud dokter?"
"Sebelum mengenalmu aku sudah mengenal Ziko, beberapa kali Aku menemui Ziko disekolahnya, Kau bisa bertanya padanya setelah ketemu nanti " Dokter Damar kembali menyesap kopi hitamnya yang hampir habis.
huhhh..kuhela nafasku, aku tak tahu lagi harus berkata apa, setiap fakta semakin membuatku bingung saja.
Dokter Damar menggeser gelas Vanilla latte kearahku, "Minumlah dulu, apapun keputusanmu kelak akau akan menerimanya, setidaknya kau sudah tahu tentang pesan Refan"
"Terima Kasih dok, aku butuh waktu untuk memikirkan semuanya" ujarku " Maaf telah menuduh dokter Damar yang bukan - bukan " lanjutku lagi.
Aku dan dokter Damar duduk cukup lama di cafe, beliau bahkan memesan satu porsi roti bakar dan salad buah.
Kami baru beranjak saat Sarah menghubungi kami bahwa bu Nadira akan dibawa ke ruang laboratorium untuk melakukan beberapa pemeriksaan.
*******
Pukul 21.00 Aku, Ziko dan dokter Damar memutuskan beristirahat dirumah, selain karena lelah kami juga merasa gerah, kami belum membersihkan diri sejak tiba sore tadi.
Ziko sudah terlelap setelah mandi dan makan malam yang sedikit terlambat.
Aku menyusun pakaian kami kedalam lemari, ternyata pakaian Ziko lebih banyak dari perkiraanku, selain itu ia juga membawa satu tas penuh mainan.
tok..
tok..
tok..
__ADS_1
"Akira, boleh aku masuk " teriak dokter Damar dari arah pintu.
"Silahkan dok, pintunya tidak terkunci"
dokter Damar melangkah masuk, ia mengambil tempat ditepi ranjang , memperbaiki selimut Ziko dan mengusap kepalanya pelan.
" Ada apa dok?"
"Tidak ada apa - apa, Kenapa belum tidur?"
"Belum ngantuk dok, aku juga baru saja selesai merapikan pakaian kedalam lemari " jawabku.
"Hmm.. Maaf sudah membuatmu dan Ziko lelah seperti ini," Ujarnya.
Aku menyunggingkan senyum, aku percaya bahwa apapun yang terjadi diantara kami bukanlah suatu kebetulan, ini semua adalah takdir yangbtak bisa dielak.
"Tidak masalah dok, aku melakukan ini dengan ikhlas, Ziko juga nampak menikmatinya, bahkan tadi dia terlihat sangat senang bisa bermain dengan Amar dan Sarah ".
"Hmm..Akira, kira - kira kapan kau akan mengambil keputusan?" tanya dokter Damar.
" Maksud dokter ?"
"Maksudku, keputusan untuk menikah denganku atau tidak , jujur saja aku hanya pria biasa Akira, terkadang aku tidak bisa menahan perasaanku sendiri " dokter Damar menatapku, netranya berkabut.
"Aku...mungkin sebulan dok atau .." kalimatku terjeda karena dokter Damar mengubah posisinya mendekat padaku.
"Seminggu Akira, cukup seminggu " aku tidak bisa lagi menahan diri padamu," dokter Damar meraih pipiku lalu merapatkan dahinya di dahiku, aku bahkan bisa merasakan nafasnya yang hangat menerpa wajahku.
"Hmm.." Aku lagi berani membuka mulutku, kini netra kami bertemu dan entah bagaimana bibir Kami sudah saling tertaut, semakin lama semakin dalam hingga kesadaran kembali menguasaiku, kudorong dada dokter Damar dengan keras, tubuh kami menjauh tapi masih bisa kudengar degup jantungnya yang tak beraturan, pun sama denganku . Aku berusaha sekuat tenaga mengatur nafasku yang terengah, rasa manis itu masih melekat dibibirku, rasa yang beberapa detik lalu membuatku sempat kehilangan akal sehatku.
"Aku keluar Akira, Selamat beristirahat," Dokter Damar melangkah keluar dari kamar tanpa menoleh padaku,"
"Ah...Hampir Saja, " gumamku.
*****
Hai readers, jangan lupa like dan komentar positifnya, selamat menikmati. Stay Save and healthy. 😘
__ADS_1