Istri Kedua Sang Dokter

Istri Kedua Sang Dokter
Menolong dokter Nadira


__ADS_3

Sudah seminggu berlalu sejak Aku mengantarkan bi Darmi ke Rumah sakit, sekarang bi Darmi sudah terlihat sehat dan kembali bersemangat membantuku dirumah. Tak banyak yang terjadi seminggu ini , aku tetap dengan rutinitasku kekantor dan mengurusi putra semata wayangku.


Minggu ini putraku sudah mulai bersekolah tatap muka, setelah tiga bulan lebih bersekolah online atau dikenal dengan sebutan Daring ( Dalam Jaringan ) karena pandemi yang masih berlangsung mau tak mau pihak sekolah mengatur waktu sebaik mungkin agar tak terjadi kerumunan, Ziko anakku mendapatkan jadwal sekolah setiap hari Senin, Rabu dan Jum'at, itupun hanya untuk tiga mata pelajaran tanpa waktu istirahat.


Hari ini tepat hari senin, hari pertama putraku akan menghadiri sekolah tatap muka, dia sudah siap sejak pagi berseragam merah putih lengkap dengan topi dan dasi, ah imutnya..aku tersenyum melihatnya, malaikat kecilku yang kini tingginya sudah hampir mencapai bahuku.


"Sudah siap Nak?" tanyaku sembari memperbaiki letak dasinya.


"Siap ibu" jawabnya bersemangat.


"Ayo , ibu antar kedepan" ajakku sambil menggenggam tangannya.


"oke" ia membalas genggamanku , bibirnya melengkungkan senyum manis


"Ziko senang?" tanyaku lagi.


"Iya, ibu.. Ziko tidak sabar ingin bertemu dengan teman-teman" ia tertawa riang.


"Hehhe.. Semangat belajar ya Nak" aku mengelus puncak kepalanya dan memberinya kecupan dipipi kanan dan kirinya.


Setelah Ziko berangkat aku bersiap kekantor, kulajukan mobilku menyusuri jalanan yang cukup ramai hari ini, maklum anak - anak sudah mulai bersekolah, jarak antara rumah dan kantorku lumayan dekat, hanya 10 menit berkendara menggunakan mobil.


Disalah satu sudut jalan aku melihat kerumunan, beberapa kendaraan terlihat berhenti, orang - orang disana tampak berkerumun. Aku memarkirkan mobilku dan segera turun, penasaran dengan kejadian didepan sana.


"Ada apa bu,?" tanyaku pada seorang ibu yang sudah lebih dulu disana.

__ADS_1


"Ada yang pingsan dek, tapi ga ada yang berani nolong," jawab ibu itu.


"Loh..kok ga ada yang nolong sih," ujarku kesal, bukan apa-apa, belakangan ini saat melihat musibah sebagian orang lebih memilih mengupdate status sosial media ketimbang segera memberikan pertolongan, membayangkannya aku sudah kesal sendiri.


"maklum dek lagi jamannya covid, takut ketularan," jelas ibu itu lagi sambil bergidik.


"ya terus, ngapain pake acara berkerumun segala kalau ga mau ketularan," Aku kembali mendebat ibu itu sambil mengayunkan langkahku cepat menuju kerumunan, saat tiba disana kulihat seorang wanita paruhbaya sedang terkapar dengan ponsel ditangannya yang masih menyala.


"Bu..ibu.." Aku menepuk pipi wanita itu, aku cukup terkejut setelah melihat wajahnya tadi , dia adalah bu Nadira, dokter spesialis interna yang dulu pernah menjadi dosenku.


"tolong bantu saya angkat ke mobil," aku mengedarkan pandangan memohon bantuan orang - orang disana, namun sebagian malah asyik dengan ponselnya, untungnya ada dua orang pemuda yang dengan berani ikut membantu, mereka memasukkan tubuh bu Nadira kemobilku, aku meraih tas dan ponselnya yang tadi tergeletak di aspal, " Terima kasih," ucapku pada dua pemuda itu.


Aku melajukan mobilku cepat menuju Rumah sakit, dari sudut jalan belok kanan kearah Rumah Sakit Umum Daerah , setelah sampai di UGD beberapa satpam membantuku mengangkat tubuh bu Nadira keatas brankar yang segera didorong oleh para perawat, "Dokter Nadira," ujar salah satu perawat ,ia terlihat kaget.


"Yang mengantar siapa,?" tanya perawat yang lain.


"Kenapa dengan dr. Nadira,?"tanyanya lagi.


"Kurang tau sus, tadi kebetulan saya lihat dia pingsan dijalan," jawabku singkat.


"Oh, baik.. Saya akan menghubungi keluarganya," ujar perawat itu segera berlalu keruang tindakan tempat bu Nadira berada, Aku teringat pada ponsel bu Nadira yang tadi masih menyala, aku berjalan cepat menuju mobil dan meraih ponsel diatas dashboard. "masih menyala," gumamku.


"Halo...Halo..," sapaku pada penelpon disana.


"Sayang..Kaukah itu, darimana saja kenapa tidak bicara dari tadi," suara panik terdengar dari seberang.

__ADS_1


"eh, maaf pak, Saya bukan dokter Nadira.., Bu Nadira lagi pingsan pak, " jelasku pada pria di seberang yang kuduga pasti suami bu Nadira.


"Pingsan?" lalu dimana dia sekarang?" tanyanya lagi dengan suara bergetar.


"Bu Nadira lagi di UGD Rumah sakit pak, tadi..." tut..tut.. sambungan sudah terputus sebelum aku menyelesaikan ucapanku.


Aku kembali ke Unit Gawat Darurat ( UGD ) sambil menenteng tas bu Nadira, kulihat seorang perawat sedang serius mengambil sampel darah lalu memasang infus ditangan kiri bu Nadira, setelah itu dia berlalu.. seorang perawat kembali masuk memasang alat - alat disekitar dada dan pergelangan kaki bu Nadira, saat selesai selembar kertas keluar dari mesin itu, perawat tadi juga berlalu, seorang pria berjas putih dengan stetoskop yang tergantung dilehernya mendekat, "Dia pasti dokternya," batinku.


"Dok..Dokter Nadira.. bisa dengar saya," ia menepuk lengan bu Nadira pelan berulang kali sampai kulihat kelopak mata Bu Nadira bergerak, aku mendekat , kugenggam jemarinya.


"Dimana saya,?"tanyanya ketika bisa membuka mata dengan sempurna.


"Dirumah sakit dok, mbak ini yang tadi mengantar dokter kesini," jawab dokter tadi.


Bu Nadira beralih menatapku," Akira," ucapnya lirih, aku hanya mengangguk pelan.


"Terima kasih," imbuhnya.


"Sama - sama bu,". jawabku.


"Sayang...sayang.." seorang pria paruhbaya masuk dengan wajah panik, usianya tidak juah beda dengan bu Nadira, dia pasti suaminya.


"Dokter Damar," dokter muda didepanku menganggukkan kepalanya kearah pria tadi.


"Sayang.." pria itu meraih jemari bu Nadira lalu menggenggamnya erat, bu Nadira hanya tersenyum menatapnya.

__ADS_1


"ah..Sayang, perkenalkan dia Akira, dia yang mengantarku," ujar bu Nadira sambil menoleh padaku.


"oh..hmmm.." Suami bu Nadira hanya ber- oh dan berdehem saja tanpa mengalihkan pandangannya padaku, sebenarnya aku sedikit tersinggung dengan responnya, tapi aku juga mengerti dia sedang mengkhawatirkan istrinya, ia pasti tak ingin terganggu dengan hal lainnya, tadi saja ia tidak membalas sapaan dokter muda didepanku.


__ADS_2