Istri Kedua Sang Dokter

Istri Kedua Sang Dokter
Makan siang bersama.


__ADS_3

Aku menemani bu Nadira cukup lama, beliau bercerita tentang banyak hal, terutama tentang keluarganya, kebiasaan - kebiasaan suami dan anak - anaknya, Amar dan Sarah setia mendengarkan , sesekali wajah mereka nampak tersenyum lalu berganti sendu, aku sangat kagum melihat ketegaran kakak beradik itu, tidak mudah terlihat tegar ketika kita tahu bahwa orang yang paling kita sayangi sedang menanggung sakit yang parah.


"Permisi," seorang perawat masuk keruangan membawa nampan berisi beberapa suntikan.


"Silahkan suster," Aku menggeser posisiku memberi ruang padanya untuk melaksanakan tugasnya. Perawat itu menyuntikkan obat melalui selang infuse bu Nadira.


" Saya permisi, " perawat itu selesai menunaikan tugasnya.


"Terima kasih sus," kami serempak mengucapkan terima kasih.


Tak lama setelah perawat keluar ruangan bu Nadira tertidur, mungkin pengaruh obat yang tadi disuntikkan.


"Assalamualaikum.. " seseorang mengetuk pintu kamar.


"Wa'alaikum salam, Silahkan masuk. " jawab Amar.


Bi Uti masuk lalu disusul oleh dokter Damar, rupanya tadi dokter Damar pulang kerumah untuk mandi dan berganti baju. Beliau terlihat lebih segar, rambutnya sudah rapi tak lagi acak - acakan seperti tadi pagi, dan sepertinya beliau juga menyempatkan diri mencukur brewok tipis sekitar wajahnya. Aku sekali lagi melirik kearahnya ..netra kami bertemu, detik kemudian aku memalingkan wajah kearah jendela.


"Ayah, Kami akan keluar sebentar.. " Ujar Damar lalu meraih kunci mobil dari nakas.


"Kemana,? tanya dokter Damar.


"Mau makan siang dulu Ayah, tante Akira juga pasti sudah lapar, iyakan tan?" Kini Sarah yang menjawab lalu menoleh padaku.


"Hmm..tidak apa kalian makan saja, nanti tante akan makan dirumah saja, " jawabku.


"Aduh.. Maaf bu, tadi saya tidak masak karena Den Amar sudah meninggalkan pesan katanya mau makan siang diluar saja," Bi uti terlihat menyesal karena tidak menyiapkan apa - apa dirumah.


"Baiklah..Tante ikut, " Aku beranjak menyusul Amar dan Sarah yang sudah berdiri didekat pintu kamar.

__ADS_1


"Kami berangkat yah, " pamit Damar.


"Loh..Tuan ga ikut makan ?" tadi kan ga sempat makan apa - apa," bi Uti tiba - tiba menyela, Kami semua menoleh pada dokter Damar.


"Tidak usah bi, nanti saja" beliau menolak.


"Ikut saja yah, kan ada bi Uti yang menemani ibu," Ajak sarah.


"Hmm.. Baiklah, tapi bi Uti jangan kemana - mana yah," pesannya pada bi Uti.


" Siap tuan," jawab bi Uti.


Kami beranjak keluar rumah sakit, Damar berjalan lebih dahulu karena harus mengambil mobil diparkiran.


"Ayah saja yang menyetir, Kamu pasti lelah menyetir dari kemarin" ujar dokter Damar pada anaknya, ia melangkah kedepan menggantikan posisi Amar.


"Silahkan tante," Sarah membuka pintu depan, aku bingung, kulirik dokter Damar yang sudah duduk dibalik kemudi.


"Tante yuk naik, lapar nih." Amar memegang perutnya , memasang wajah memelas.


"Eh..baik," Aku mendudukkan tubuh dengan canggung.


Kami berkendara dalam hening, dokter Damar fokus dengan kemudinya, aku menengok kebelakang karena dari tadi tak terdengar suara dari sana, kulihat Amar dan Sarah sedang tertidur, kepala mereka saling bersandar.


"Mereka mungkin kelelahan," tiba - tiba dokter Damar mengeluarkan suaranya.


"iya, mereka memang kurang istirahat dari kemarin, " Aku menanggapi beliau.


"Eh..Anda mau makan apa?" tanyanya dengan bahasa yang terdengar sangat formal ditelingaku.

__ADS_1


"Terserah dokter saja, saya bisa makan apa saja," jawabku.


"Kalau begitu kita ke restoran favorit anak - anak saja," lanjutnya dengan mata yang fokus kedepan.


Aku cukup terkejut saat dokter Damar menyebut kata " Anak - anak " ah, kenapa rasanya aneh mendengarnya mengatakan itu.


Mobil memasuki sebuah Pusat perbelanjaan, Aku segera membangunkan Amar dan Sarah, setelah dokter Damar memarkir mobil kami berempat menuju sebuah restoran yang terletak dilantai dua, sebuah restoran bergaya jepang.


Amar dan Sarah sudah masuk dan duduk disebuah meja yang terletak didekat jendela kaca, mereka duduk berdampingan. Aku masih berdiri kikuk , bingung harus duduk dimana karena kursi yang tersedia adalah sejenis sofa yang muat untuk untuk dua orang saja.


"Hmmm..silahkan," dokter Damar yang berdiri dibelakangki berdehem, lalu menunjuk sofa didepanku, seolah menyuruhku untuk duduk disana.


"Tante..tante Akira ga mau duduk,?" tanya Sarah yang terlihat bingung dengan sikapku.


"Amar kita tukeran yah.. Tante duduk disitu saja dengan Sarah," aku menatap Amar meminta pengertiannya.


"Tante , ini tempat favorit Amar.. sejak pertama kali kesini Amar ga pernah pindah tempat duduk," jawab Amar santai lalu kembali asik memandang keluar jendela kaca.


Aku menarik nafas lalu mendudukkan tubuh disofa, bergeser kesamping rapat dengan jendela kaca, kulirik dua anak didepanku mereka terlihat menahan senyuman, sepertinya mereka sengaja ingin mengerjaiku.


"Nah.. sekarang kan klop," celoteh Sarah saat dokter Damar sudah ikut duduk disampingku.


"cheerss...." Sarah mengarahkan kameranya pada kami berdua, aku yang tak siap hanya melongo.


"Ah..tante Akira, mata tante tertutup..ayo sekali lagi, " ujar Sarah ,tangannya menggeser bahu dokter Damar mendekat kebahuku.


"Oke..senyum.." aku memasang senyum terpaksa.


Kami makan siang dengan tenang, Amar dan Sarah tak henti berceloteh, saling melemparkan candaan , aku beberapa kali terbahak karena ulah mereka yang saling menjahili.

__ADS_1


Setelah makan siang kami pulang kerumah sedang dokter Damar memilih kembali ke Rumah sakit menggunakan taksi online.


__ADS_2