
Drrtt...drrtt..dering ponsel mengagetkanku, tadi aku hanya berniat untuk memeluk Ziko sebentar tapi, tanpa sadar aku ikut tertidur disampingnya.
Aku meraih ponselku dari saku celana, "Sarah," Aku berusaha mengumpulkan seluruh jiwa dan raga.
"Assalamualaikum Sarah," Sapaku.
"Wa'alaikumsalam, Tante ibu Sadar, ibu sudah sadar..," kudengar suara serak Sarah dari seberang.
"Alhamdulillah,, bagaimana sekarang kondisinya,?" tanyaku lagi.
"Dokter sedang memeriksa ibu didalam, Tante kesini yah dengan Ayah, tadi ibu memanggil nama Tante Akira terus, bye Tante Akira," Sarah menutup sambungan tanpa menunggu jawabanku.
Aku yang masih setengah sadar segera beranjak menuju kamar mandi, membersihkan diri lalu mengambil setelan casual dari dalam lemari, celana jeans Navy dan baju kaos putih oversize. Kutarik Koper hitam yang seminggu lalu menemaniku ke kota M, dengan cekatan kumasukkan beberapa lembar pakaian kedalamnya, namun sesaat kemudian aku terpaku, " Loh, kenapa aku sudah siap sedia begini, memangnya dokter Damar sudah pasti mengajakku? kenapa aku jadi begitu antusias untuk segera menemui bu Nadira?" Sepertinya ada yang salah denganku, kuletakkan koperku dan berjalan menuju dapur.
Pukul. 19.30 malam, Aku dan Ziko baru saja selesai makan malam, Ziko menuju kamarnya untuk mengerjakan tugas sekolah sementara aku membereskan meja makan. Sampai saat ini belum ada kabar dari dokter Damar, Sarah pun tidak menghubungiku kembali, mungkin dia sedang sibuk menemani Ibunya yang baru saja sadar. Membereskan meja, mencuci piring dan merapikan sisa makanan kedalam kulkas sudah beres. Aku meraih stoples keripik dari rak disamping kulkas dan segelas syrup lychee kesukaanku, Lalu menuju ruang keluarga untuk sedikit bersantai sebelum menyelesaikan beberapa pekerjaan yang kubawa dari kantor.
Dring...dring..bunyi bell dari depan mengagetkanku, tak biasanya ada tamu semalam ini, sejak tinggal berdua dengan Ziko jarang sekali aku menerima tamu dirumah, aku lebih suka bertemu teman diluar rumah itupun siang hari, ini kulakukan untuk menghindari fitnah dari tetangga yang kadang lebih kejam dari pembunuhan.. hehhe, aku terkekeh sendiri, sepertinya aku terlalu sering menonton sinetron Azab sehingga pikiranku sudah negatif berlebihan.
Ceklek..
"Assalamualaikun Akira," Sapa dokter Damar yang berdiri didepan pintu, tangan kirinya menenteng kantong plastik, sedang tangan kanan membawa sebuah kotak yang lumayan besar, aku masih terpaku, menatapnya dari ujung kaki hingga kepala. Celana jeans Navy, baju kaos putih berkerah, jaket kulit hitam dan jangan lupakan topi baseball hitam yang bertengger anteng dikepalanya. "Kuakui selain absurd dia juga tampan,".
"Hmmm..Akiraa,?" dokter Damar berdehem karena melihatku yang masih terpaku.
"Oh..Maaf, silahkan masuk dok," Aku bergeser kekiri memberi ruang padanya untuk masuk kedalam rumah, " Ah..kenapa kusuruh masuk sih harusnya diteras saja," aku merutuki diri sendiri yang sedikit kehilangan fokus.
"Ziko mana Akira,? tadi kami janjian, " Ujarnya saat sampai diruang tamu.
"Ziko sedang mengerjakan tugas sekolah dikamarnya, Silahkan duduk dok" Jawabku agak sedikit kikuk.
Dokter Damar meletakkan barang bawaannya diatas meja , lalu duduk disofa paling ujung.
"Ini untuk Ziko," Tunjuknya pada kotak berwarna biru, " dan ini untukmu," lanjutnya seraya menggeser kantong plastik kearahku.
__ADS_1
"Terima Kasih dok, seharusnya tidak usah repot - repot begini " Aku meraih kantong plastik didepanku lalu membukanya perlahan.
"Itu Tahu Mercon dekat Prapatan, tadi aku sempat bertanya pada Ziko tentang makanan kesukaanmu," jelas dokter Damar, sedikit senyum terbit dibibirnya.
Aku menghela nafas, benar - benar anak itu, padahal dia bisa menyebutkan makanan yang sedikit elite, seperti Spagetti, Steak atau minimal Nasi Goreng Seafood, kenapa yang Ziko ingat justru Tahu Mercon Prapatan.
"Hehhe..iya dok, Makasih yah,"
Aku dan dokter Damar duduk dalam hening, tidak ada yang memulai percakapan, aku yang masih shock dengan kedatangannya yang tiba - tiba dan dia yang sibuk melirik kearah ruang keluarga.
"Oh iya dok, tadi Sarah menelpon katanya bu Nadira sudah sadar, " Akhirnya aku ingat tentang bu Nadira, seharusnya itu kutanyakan dari tadi tapi, entah kenapa aku justru melupakan hal yang paling penting.
"Iya..Alhamdulillah, ibu Nadira sudah sadar dan kondisinya stabil, hanya saja..." dokter Damar menjeda kalimatnya," Dia menolak untuk berobat ke negara S," lanjut dokter Damar.
"Kenapa dok,?" bukannya di negara S lebih canggih daripada disini, bu Nadira pasti tau itu. iya kan,?" tanyaku lagi.
" Dia memang keras kepala sejak dulu, dia beralasan ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan semua keluarga disini, daripada menghabiskannya dengan berobat di negara S, Hm..Hmm.. jelas dokter Damar dengan suara agak serak lalu berdehem.
Aku terkesiap, sadar sejak tadi belum menawarkan minuman untuknya, tanpa bicara lagi aku melangkah kearah dapur, mengambil segelas air putih dan membawanya keluar.
"Ziko yang ajak bu," Suara Ziko terdengar tapi aku bingung karena tak melihat batang hidungnya.
"Bu..ibu. Ziko disini," Ziko yang menyadari kebingunganku mengangkat kepalanya, ternyata anak itu sedang berbaring disofa dan menjadikan paha dokter Damar sebagai bantalnya.
"Ziko, duduk yang manis dong," aku menegur Ziko yang tanpa risih berbaring dipangkuan dokter Damar.
Dokter Damar tersenyum, " Tidak apa - apa Akira, Saya senang Ziko mau bersikap santai terhadap saya," ujarnya.
Aku meletakkan air putih diatas meja dan berlalu keruang tamu mengambil kantong plastik berisi Tahu Mercon Prapatan dan sebuah kotak berwarna biru yang dibawa dokter Damar.
"Ziko, ini ada hadiah dari Om dokter ," kuletakkan kotak itu dimeja, Ziko dengan cepat merubah posisinya, ia membuka kotak dengan perlahan, matanya berbinar meraih benda berwarna biru dari dalam.
" Wow..Monster Truck" Ziko berseru riang, tangannya dengan cepat mengeluarkan mobil truck itu dari dalam kotak.
__ADS_1
"Terima kasih om dokter, semoga om dokter bertambah rejeki dan makin disayang sama ibu Ziko," Tutur Ziko dengan enteng tanpa beban seakan apa yang keluar dari mulutnya adalah hal biasa, sedang Aku sudah kelimpungan, ingin membekap mulutnya tapi kalah cepat, terlambat sudah.
"Aamiin..," dokter Damar mengaminkan ucapan Ziko dengan enteng dan tanpa beban juga.
Aku menghela nafas.. hahh sepertinya semesta memang bersekongkol untuk menjerumuskanku.
Jam sudah menunjukkan pukul. 10 malam, dokter Damar pamit pulang setelah tadi menggendong Ziko kekamar, terlalu asyik bermain Ziko malah ketiduran dengan tangan yang masih menggenggam erat remote Monster Truck pemberian dokter Damar.
Aku mengantarnya sampai kedepan pintu,
" Akira, besok Aku akan menjemput Kalian pagi - pagi," Ujar dokter Damar saat kami sudah diteras.
" Menjemput kemana dok,?"
"Ke Kota M, Kamu dan Ziko, Kita berangkat sama - sama untuk menjenguk bu Nadira," Jawabnya.
"Tapi, Aku belum ijin dikantor dok," Aku sejenak ragu karena baru seminggu yang lalu aku ijin dari kantor, bahkan berkas - berkas Warga Binaan masih menumpuk dimejaku, belum sempat kuselesaikan.
"Jangan Khawatir , Aku sudah meminta ijin pada Bos mu, beliau mengijinkan," dokter Damar melangkah menuju mobilnya padahal Aku masih ingin bertanya bagaimana bisa dia kenal dengan bos ku dan alasan apa yang diberikan hingga bos yang lumayan galak itu bisa memberikan ijinnya.
Aku masuk kedalam rumah setelah mobil dokter Damar menghilang dibalik pagar, kupastikan semua pintu dan jendela terkunci dengan benar. Kuayunkan langkah menuju kamar tak lupa mematikan semua lampu, kecuali lampu kecil dekat dapur, sengaja kubiarkan menyala karena aku terbiasa bangun malam hari, entah karena lapar atau haus .
tring...tring.. Satu pesan masuk ke ruang obrolan WA ku, kuraih ponsel yang sejak tadi kuletakkan dilaci dekat tempat tidur.
" Selamat tidur, mimpi yang indah.. sampai ketemu besok " oh, yah Aku Suka karena tadi pakaian Kita Samaan, Kita memang jodoh sepertinya. 😊
Aku menganga, antara shock dan juga senang, Shock karena tak percaya bagaimana bisa seorang dokter Damar , pria berumur 52 Tahun yang berwibawa dan Karismatik bertingkah seperti anak ABG yang Lebay. Tapi, Aku juga senang karena...karena.. entahlah karena apa , yang pasti Aku merasa senang menerima pesan darinya, bukankah ada beberapa hal yang tak memerlukan alasan. :)
*******
~Terima Kasih untuk readers yang sudah memberi like dan dukungan, Terima Kasih untuk readers yang setia menunggu walaupun up nya agak lama.
Terima Kasih juga untuk Teman, Author lain yang sudah membuat karya secara jujur dan orisinil. Tetap semangat yah teman - teman semua..
__ADS_1
Ingat , No Plagiat, No Bullying.. Selamat Menikmati. ❤❤ enjoy. 😘😘~