Istri Kedua Sang Dokter

Istri Kedua Sang Dokter
Tiramisu Cake.


__ADS_3

Hari ini adalah hari kedua kami di kota M, Amar dan Sarah sudah pergi dari pagi, mereka sedang menyelesaikan beberapa urusan dikampusnya, aku sudah bersiap ke Rumah sakit , kuputuskan berangkat sendiri dengan taksi online jika menunggu Amar bisa jadi malah kesorean.


"Aku berangkat bi Uti, " ujarku setelah sampai diteras.


"Sebentar bu, tadi tuan pesan katanya bu Akira berangkat sama tuan saja," jelas bi uti.


"Loh, bukannya dokter Damar di Rumah sakit bi,?" tanya ku karena setauku beliau memang menginap disana.


"tadi pagi - pagi sekali tuan pulang bu, sekalian mandi dan sarapan," jelas bi uti lagi, wanita paruh baya itu memilih menghentikan sejenak giat beres - beresnya.


Aku kembali melangkah kedalam rumah, " Makasih bi," ujarku.


Hampir satu jam aku menunggu tapi dokter Damar belum terlihat juga, kulirik jam dipergelangan tanganku, Pukul 10.30.


"Hufft..jangan - jangan dia malah tertidur dikamarnya," aku yang bosan mulai berpikir negatif.


"Maaf menunggu lama bu Akira," dokter Damar melangkah cepat sembari memperbaiki kancing bajunya yang belum terpasang sempurna.


"tidak apa - apa dok, belum terlalu lama," kilahku mencoba memasang senyuman.


"Kalau begitu kita berangkat sekarang,"


"Baik.." aku mengikuti langkah beliau kedepan , disana pak Aswin sudah berdiri disamping mobil dengan bi uti.


"Kami berangkat dulu, " kata dokter Damar.


"iya, tuan.." jawab pak Aswin dan bi uti, aku menundukkan kepalaku saat melewati sepasang suami istri itu.


Jalanan Kota nampak lengang hari ini, selain karena masih dalam status PPKM juga karena pada hari libur seperti ini orang - orang lebih banyak menghabiskan waktu dengan berjalan kaki atau bersepeda disekitan pantai, sport center dan alun - alun kota, " Car Free Day" slogan kerennya.


Sepanjang jalan kami membisu, dokter Damar fokus menatap jalanan didepan sedang aku sibuk dengan pikiranku sendiri, kulirik pria paruh baya disebelahku, untuk pria yang sudah berumur 52 tahun beliau masih tampak gagah, rahang tegas, kulit putih, bola mata hitam legam, hidung mancung dan otot - otot tubuh yang kekar, aku yakin beliau pasti menerapkan pola hidup sehat, olahraga dan makan bergizi.


"huhh...aku menghela nafasku, entah apa yang sedang Tuhan persiapkan untukku sehingga kini aku harus ada disituasi seperti ini, aku merasa menjadi pihak ketiga dalam rumah tangga orang lain.


Citt..suara decit ban mobil menyadarkan lamunanku, kulihat dokter Damar sudah membuka pintu dan berjalan mengitar.


"Kita ngopi dulu," aku memicingkan mata bingung ketika dokter Damar juga membukakan pintu mobil untukku, bisa - bisanya dia mengajakku ngopi padahal istrinya sedang dirawat di Rumah sakit.

__ADS_1


"Lebih baik langsung ke Rumah sakit saja , dok..bu Nadira sedang menunggu" tolakku.


"Sebentar saja,"


Tanpa menunggu jawabanku dokter Damar sudah melangkah masuk kedalam sebuah Kafe yang didesain bergaya urban, warna hitam dan abu mendominasi dengan sedikit aksen kayu yang memberi kesan hangat dan homey.


"Silahkan bu Akira," dokter Damar menarik kursi untukku.


"Terima kasih dokter Damar, " ucapku.


"Damar..panggil saja Damar, " tegasnya.


"oh, baiklah..kalau begitu panggil saja aku Akira, tidak usaha pakai embel " bu" ," tegasku juga tak mau kalah.


"hehhe..Baiklah Akira silahkan duduk, " dokter Damar kembali menyuruhku duduk.


Aku dan dokter Damar duduk berhadapan, sebenarnya aku merasa risih, ini adalah kali pertamaku duduk berdua dengan seorang pria yang baru kukenal, biasanya aku pergi dengan teman atau Ziko.


Setelah memesan minuman, kami kembali terdiam, kulihat beliau mengetuk ujung meja dengan kukunya, mungkin beliau juga merasa gugup sepertiku.


"Hmm.. Akira, apa kau benar - benar akan menerima tawaran istriku,?" beliau akhirnya bersuara dengan pertanyaan yang tepat sasaran tanpa basa - basi .


" Panggil senyaman Kamu saja Akira,"


"baiklah.. begini dok, sebenarnya saya masih belum membuat keputusan apapun, masih banyak hal yang perlu dipertimbangkan," ujarku.


"Apa karena usiaku yang terlalu tua,?"ujarnya menatap mataku.


"Hmm.. jujur saja itu juga jadi salah satu poin pertimbangan dok, tapi bukan itu poin utamanya," aku memilih jujur padanya , kadang orang - orang berkata bahwa umur bukanlah masalah tapi perbedaan umur yang jauh pasti akan membuat cara pandang dan sikap orang berbeda sehingga bisa menjadi pemicu masalah nantinya.


"Lalu,?" tanyanya lagi, masih dengan mata tertuju padaku.


"Saya tidak ingin menjadi orang ketiga, saya tidak ingin orang beranggapan bahwa saya menjadi duri dalam rumah tangga dokter dan bu Nadira, " terangku.


"Tidak perlu mendengar kata orang Akira, Kau , aku dan anak - anak tahu yang sebenarnya terjadi " Kilah dokter Damar.


"heh..jika omongan orang hanya sampai pada kita berdua itu tidak masalah, tapi omongan orang pasti juga akan sampai ditelinga Ziko dan orang tuaku, saya tidak bisa mengabaikan perasaan mereka hanya untuk membantu keluarga dokter dan bu Nadira," tegasku . Aku menatap beliau tepat dinetra hitam legamnya, ingin kutegaskan bahwa aku tak akan mengambil resiko menyakiti perasaan putraku.

__ADS_1


"Keadaan bu Nadira semakin menurun, kemarin dia beberapa kali pingsan bahkan tadi pagi saat bangun dia tak lagi mengenaliku," dokter Damar memelankan suaranya, netranya berkaca.


Aku cukup terkejut mendengar penuturunnya, kemarin bu Nadira terlihat masih baik walaupun lemah, tapi bu Nadira masih dalam kesadaran penuh.


"Saya Tahu , Istri saya terlalu egois, dia ingin kamu mengambil tanggung jawab untuk menjaga saya dan anak-anak tanpa mempertimbangkan perasaanmu dan keluargamu," dokter Damar kembali bersuara kini, nada bicaranya sudah terdengar agak santai , tidak formal lagi seperti sebelumnya.


"Maafkan saya, dok" bukannya saya tidak mau membantu, hanya saja saya ingin semuanya dilakukan dengan baik dan secara terbuka , saya tidak ingin orang lain diluar sana memberi penilaian yang buruk terhadap saya dan keluarga saya." aku kembali menegaskan keinginanku.


.


"Itu artinya jika semua dilakukan secara baik dan terbuka , Akira setuju?" tanya dokter Damar, kini matanya menatapku penuh harap, Aku menganggukkan kepala, dalam hati aku berdoa semoga ini adalah keputusan yang tepat.


"Aku akan menghubungi Sarah untuk detailnya, sementara waktu mari kita semua fokus untuk pengobatan bu Akira," aku menyelesaikan ucapanku dan menyesap vanilla latte kesukaanku.


Kulihat dokter Damar tersenyum, bibirnya yang berwarna pink natural membuatku iri, bagaimana bisa seorang pria berumur 52 tahun memiliki bibir yang seksi begitu, bahkan bibirku kalah seksi darinya, dia pasti tak pernah menghisap rokok, batinku.


Kami meninggalkan cafe setelah memesan sekotak "cheese cake" untuk bu Nadira.


"ini ," dokter Damar menyodorkan sebuah kotak kue berukuran mini padaku, aku menatapnya dengan heran karena tadi kulihat beliau sudah meletakkan kotak kue ukuran besar ke kursi belakang.


"apa ini,?" tanyaku padanya.


"Buka saja Akira, semoga tebakanku benar ," jawab dokter Damar semakin membuatku penasaran, Aku membuka kotak kue berwarna putih dengan hiasan pita merah muda dipangkuanku.


"Wowww..." tanpa sadar mataku berbinar, cake berbentuk hati dengan taburan cacao dan 2 buah cherry sebagai pemanis.


"Bagaiamana dokter tahu aku suka Tiramisu cake,?" tanyaku pada dokter Damar yang sedang memasang seat belt.


" Menebak saja, " jawabnya datar..


"Apa Akira tahu apa arti dari Tiramisu,? tanya beliau.


"Hmmm...Coffe,?? jawabku asal, selama ini aku tak pernah penasaran apa artinya , aku hanya sangat suka dengan rasanya.


"Cari di google, nanti malam kirimkan saja jawabannya ke WA ku" Ujar dokter Damar, sudut bibirnya tertarik membentuk senyum yang manis.


Aku mendengus , " Apa susahnya sih tinggal jawab, kenapa harus susah - susah cari digoogle," gumamku lirih walaupun aku tahu dokter Damar pasti mendengarku.

__ADS_1


"Agar Kau punya alasan untuk menghubungiku nanti malam," Ujarnya datar dengan mata yang sudah fokus pada jalanan.


Aku membulatkan mata mendengar ucapannya, sepertinya pria paruhbaya disampingku ini sedang kerasukan, kemarin - kemarin dia bersikap sedingin es dan hemat bicara, sekarang dia justru sangat senang mengerjaiku.


__ADS_2