Istri Kedua Sang Dokter

Istri Kedua Sang Dokter
Menemui dokter Damar.


__ADS_3

Dua minggu berlalu sejak kehadiranku memenuhi undangan makan malam dirumah bu Nadira, sejak pulang dari sana sampai satu minggu berturut - turut bu Nadira tak pernah absen mengirimiku pesan, tak satupun pesannya kubaca, bahkan berkali - kali juga kutolak panggilan beliau, sebenarnya aku merasa tak enak hati karena aku menghormati beliau sebagai mantan dosenku tapi aku juga harus mempertahankan keputusanku, tanpa perlu bertanya alasan dibalik tawarannya aku sudah menolak pinangan beliau saat itu juga.


Kulajukan mobilku dengan kecepatan sedang, hari ini aku dan putraku akan mengunjungi salah satu pantai yang jaraknya tak terlalu jauh dari rumah kami, hanya 10 menit berkendara. Aku benar - benar bersyukur karena tinggal di daerah yang strategis, jarak dari rumah kekantorku, kesekolah anakku dan ketempat - tempat publik lainnya , seperti pasar, rumah sakit , dan tempat wisata sangat dekat semuanya bisa ditempuh kurang lebih 15 menit berkendara, sangat strategis bukan.


Dari arah rumah , kami melewati satu lampu merah lalu berbelok kearah kiri, berkendara sebentar dan tibalah kami disini, disebuah pantai yang berpasir putih.


"yeii...sampai," sorak Ziko saat mobil sudah diparkir sempurna, kulihat matanya berbinar terang, dipakainya tas punggung berwarna biru kesukaannya.


"yeii..siapa yang sudah siap berenang?" Aku menimpali seruannya.


"Ziko..ziko..." putraku mengangkat tangannya tinggi - tinggi.


"Let's goooo... " Aku membuka pintu penumpang dan menggandengnya menuju tepi pantai.


Aku meletakkan tikar kecil yang kubawa dari rumah lalu menyusun rapi barang - barang kami diatasnya, tas punggung Ziko, sebuah rantang berisi makanan, tas bahuku, dan beberapa botol air mineral.


"Ayo bu, " ajak Ziko sudah tak sabar.


"oke..oke.." Kuraih tangannya , kami berlari kecil merasakan geli ditelapak kaki saat menyentuh pasir berwarna putih, senyum terkembang sempurna diwajah mungil Ziko.


"Byuur... " Kami melompat kedalam air laut yang terasa hangat dipagi hari ini, beberapa orang disekitar kami juga terlihat menikmati suasana yang sama.


Kami semakin jauh dari bibir pantai, sekarang air sedang surut jadi kami memilih berenang agak jauh bahkan melewati bendungan kayu yang sengaja dibuat untuk memecah ombak sebelum sampai kebibir pantai.


"Ziko senang?" tanyaku.


"iya..ibu, " jawab Ziko masih asyik berenang kesana kemari, Ziko memang sudah pandai berenang, dia sudah ikut les renang sejak TK jadi tak heran jika sekarang ia sudah ahli berenang ditempat yang lumayan dalam.


Hampir 30 manit kami berenang, kulihat Jemari Ziko sudah mulai mengkerut, Aku mengajaknya ketepian.. " Makan dulu nak, " ajakku, Ziko menurut kami berdua berenang ke tepian.

__ADS_1


Kami duduk bersisian menikmati bekal yang tadi dibawa dari rumah, nasi goreng sosis untukku dan roti lapis untuk Ziko.


Tak jauh dari kami juga terlihat sebuah keluarga yang sedang menikmati makanan, dua orang anak kecil beserta Ayah dan ibunya, tawa renyah terdengar dari mereka saat yang sang Ayah menjahili putranya dengan merebut makanan putranya dari piring, tak lama kemudian putri mereka bangkit menggelitik sang Ayah yang tak henti menjahili kakaknya, mereka saling menggelitik dan tak henti tertawa, kulihat Ziko menatap mereka lekat, bola matanya berembun, Aku tahu putraku pasti merasa iri melihat anak - anak lain yang bisa bermain bersama Ayahnya. Kuhela nafasku pelan, " Apakah aku egois , memilih untuk tidak menikah lagi, sedang Ziko putraku pasti menginginkan kehadiran seorang Ayah?" Apa sekarang sudah saatnya untuk kembali menjalin hubungan?" Apa aku siap mencintai orang lain, sedang bayang - bayang suamiku yang menghembuskan nafas terakhirnya dipelukanku masih terpatri jelas dikepala?". Ah, tiba - tiba saja aku merasa sesak dan ingin menangis jika mengingatnya.


Kami pulang setelah puas berenang dan bermain pasir, matahari juga semakin terik menusuk. Setelah sampai dirumah kami membersihkan diri dan beristirahat, Ziko tertidur dikamarnya, dia pasti kelelahan.


*******


Aku merebahkan diri dikasur, seharian bergelut dengan pekerjaan rumah membuatku sangat mengantuk, angin sepoi dari jendela kecil disisi kiri kamar membuat mataku semakin sayu.


drtt...drtt.... ponselku berdering, kugeser tombol hijau keatas tanpa melihat dengan jelas si penelpon,


"Assalamualaikum.." sapaku.


"Walaikumsalam " jawab suara dari seberang, suara bariton yang tegas.


"Maaf ini dengan siapa?" aku memperbaiki posisiku bersandar diujung tempat tidur.


Aku menghela nafas berat, berniat memutuskan sambungan namun suara parau yang terdengar kemudian membuatku mengurungkan niat.


"Apakah itu Akira?" terdengar suara parau dari seberang, itu pasti bu Nadira.


"Iya sayang, ini Akira" Jawab dokter Damar pada bu Nadira.


"Maaf sekali lagi Akira, tapi saya mohon dengan sangat agar Anda mau mendengar penjelasan saya terkait tawaran istri saya waktu itu " dokter Damar kembali bersuara dari seberang.


"Saya kira tidak ada yang perlu dijelaskan dokter, Saya secara tegas menolak tawaran istri anda," jawabku dengan nada setegas mungkin agar dokter Damar bisa menangkap dengan jelas penolakanku.


"Saya mohon sekali ini saja dengarkan permintaan terakhir istri saya," dokter Damar kini berujar lirih, suara tegasnya berganti lembut dan pelan.

__ADS_1


Aku memicingkan mata, berusaha mengingat kembali kalimat dokter Damar barusan, " apa katanya permintaan terakhir, Apa aku tidak salah dengar, memangnya mau kemana bu Nadira, batinku.


"Akira..Akira..anda masih disana?"


"eh..iya, baiklah saya akan menemui bapak, tapi tolong bawa salah satu anak bapak sebagai pendamping agar tidak terjadi fitnah diantara kita nantinya," tegasku pada beliau.


"Baiklah ..Sampai bertemu nanti malam , saya akan mengirimkan lokasinya segera, terima kasih sekali lagi Akira, Assalamualaikum" dokter Damar menyudahi panggilan kami. Kuletakkan ponselku didalam laci, semoga ini adalah keputusan yang benar.


********


Aku, dokter Damar dan Sarah putrinya, kini duduk bersisian didalam ruangan private disalah satu restoran ternama dikota P, Aku duduk dengan gelisah , Sarah pun tak banyak bicara , gadis itu tadi hanya menyapaku lalu kembali sibuk dengan gadget ditangannya.


Tak lama pelayan datang membawakan pesanan kami, tadi dokter Damar sudah memesankan makanan sebelum Aku tiba, beliau sempat mengirimiku pesan lewat what's up untuk menanyakan menu apa yang ingin kupesan untuk makan malam, " Samakan saja pesanannya " jawabku tadi tak ingin repot, toh tujuanku kesini bukan untuk makan tapi untuk mendengar penjelasan beliau.


Kami makan dengan hening, hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring, Aku mempercepat makanku, ingin situasi ini segera berakhir, sedang dokter Damar makan dengan tenang, Sarah hanya mengambil sedikit sekali makanan , sepertinya dia tidak berselera.


" Jadi, apa maksud dokter menemuiku?" tanyaku tak sabar setelah menghabiskan makanan dipiringku.


Dokter Damar melirik kearahku, beliau sebenarnya masih mengunyah tapi melihatku yang sudah tidak sabar beliau meletakkan sendoknya dan menelan makanannya dengan kasar.


"Ini..." ucapnya setelah meneguk segelas air putih, tangannya menyodorkan amplop berwarna cokelat kearahku, aku bergeming menatap kearah dokter Damar dan Sarah bergantian, kulihat bola mata bapak - anak didepanku berembun, Sarah bahkan mengusap ujung matanya dengan jari.


"Apa ini" tanyaku.


"Bukalah," jawab dokter Damar .


Kuraih amplop tersebut, kutarik satu persatu kertas didalamnya, Aku terkejut melihat tulisan berhuruf tebal pada kertas ketiga.. " Kanker Otak Stadium IV" kubaca tulisan itu berulang, mataku mendelik melihat lagi dengan jelas Nama yang tertera di sebelah atas kertas " NADIRA RAHMAWATI" tanganku gemetaran, kertas yang kupegang luruh keatas meja, aku menatap kearah Sarah, gadis itu sudah beruarai air mata, ia terisak pelan. Kulirik sekilas dokter Damar, beliau mengalihkan pandangannya kebawah, menolak bersitatap denganku.


*********

__ADS_1


haii..readers, Maafkan keleletan author update bab yah... Jangan lupa memberi like , saran dan kritik yang membangun, semoga kita semua tetap sehat dan bahagia, selamat membaca yeorubun 😘


__ADS_2