
Peluh menetes dari wajahnya, matanya kemerahan, beberapa kali dia menggigit bibir bawahnya, satu botol air mineral dingin sudah tandas isinya.
"Ayah tuh kalau pakai cabe ga kira - kira, kepedesan kan sekarang," Sarah mengomeli ayahnya yang terlihat kewalahan dengan rasa pedas dari sop iga dimangkuknya.
"Padahal tadi naroh sambelnya dikit kok," Kilah dokter Damar.
"Sedikit apanya, 3 sendok makan tuh banyak Yah, kalau ibu tahu ayah makan cabe banyak - banyak ibu pasti marah, " Amar menimpali ucapan ayahnya lalu kembali menikmati nasi goreng seafood pesanannya.
Aku hanya menggeleng melihat tingkah mereka bertiga, aku merasa kagum dengan kedekatan dokter Damar dan anak - anaknya, bagaimana dokter Damar bisa menenangkan Amar dan Sarah dalam situasi seperti ini. Tidak mudah membuat suasana hati seseorang membaik dan dokter Damar terlihat berhasil membangun mood anak - anaknya, mereka bahkan terlihat sangat menikmati menyantap makan siang padahal beberapa saat yang lalu mereka menangis dan panik menyaksikan kondisi ibunya.
"Tante Akira ga makan,?" tegur Amar padaku yang belum menyentuh makanan sama sekali.
"Nanti Sop iganya dingin, kata Ayah Tante Akira ga suka Sop iga dingin," timpal Sarah.
"oh..iya, ini tante baru mau makan," ujarku seraya menyendok Sop iga dari mangkuk.
"Tante makasih yah udah mau nemanin kita disini," Sarah menyentuh punggung tanganku.
"Sama - Sama sarah, hanya ini yang bisa tante lakukan buat kalian," balasku.
"Tante masih belum setuju dengan permintaan ibu ,?" tanya Amar tiba - tiba, kulirik dokter Damar sekilas.
Aku meletakkan sendok dari tanganku lalu menatap Amar dan Sarah bergantian.
"Amar, Sarah.. sekarang kita fokus dulu untuk pengobatan ibu kalian, tante yakin bu Nadira pasti akan pulih," aku berujar pelan , mencoba meyakinkan mereka bahwa kondisi bu Nadira akan membaik.
"Ibu koma tante, " Sarah menahan isaknya, suaranya serak, aku menatap dokter Damar meminta penjelasan.
"Pertumbuhan sel Kankernya sudah meluas hingga menekan sistem saraf pusat, sekarang tim medis berfokus untuk memulihkan kesadaran bu Nadira, dan menjaga kondisinya tetap stabil selama koma," terang dokter Damar panjang lebar seperti sedang memberi kuliah pada mahasiswa kedokteran.
"Lalu kemoterapinya bagaimana,? apa bu Nadira tidak bisa dioperasi,? bu Nadira bisa sadar lagi kan,?" tanyaku beruntun, aku bahkan terlihat lebih panik dari Amar dan Sarah yang hanya terdiam, mungkin tadi kedua anak ini sudah mendapat pencerahan dari Ayahnya.
"Operasi tidak bisa dilakukan, terlalu beresiko.., sekarang yang terpenting bu Nadira sadar dulu," dokter Damar kembali menjawab pertanyaanku.
Amar dan Sarah melirik kearah dokter Damar lalu memberi kode dengan tangan mereka, dokter Damar berdehem lalu menyerahkan amplop putih panjang padaku, " itu surat yang ditulis ibu kemarin, sebenarnya ibu ingin menyerahkannya langsung pada tante," Kata Amar saat amplop sudah ditanganku.
Aku bergerak ingin membuka amplopnya, namun dicegah oleh dokter Damar, " bukanya dirumah saja Akira," cegahnya.
__ADS_1
"oh..baiklah," aku memasukkan amplop ke dalam tasku.
Setelah menyelesaikan makan siang, Kami kembali ketempat bu Nadira dirawat, namun karena hanya satu orang yang diperbolehkan untuk menemani , maka diputuskan aku, Sarah dan Amar kembali kerumah sedang dokter Damar menemani beliau.
*******
Hampir tengah malam tapi mataku masih belum terlelap, aku menuju balkon kamar menikmati angin malam yang bertiup sepoi, hawa dingin menusuk kulitku, kuhirup oksigen sebanyak - banyak dengan harapan udara yang segar bisa sedikit mengurangi denyut dikepalaku .
drrtt...drrtt.., aku berjalan menuju meja kecil tempat tadi kuletakkan ponselku..
"Nomor baru," aku kembali menatap layar ponselku lalu menggeser tanda hijau keatas.
"Assalamualaikum,, " jawabku.
"Wa'alaikumsalam," suara berat menjawab dari seberang sana.
"Maaf ini dengan siapa yah?" tanyaku, masih dengan posisi berdiri disamping meja kecil tadi.
"Dokter Damar, " Jawabnya. " Bisa ketemu sebentar, aku menunggu diruang tamu," imbuhnya, lalu memutus sambungan telpon.
"Wah..lagi - lagi dia menutup telpon tanpa menunggu jawaban, benar - benar tidak sabaran," aku terus mengomel karena sudah kesekian kalinya dokter Damar memutus sambungan telpon denganku tanpa menunggu jawaban atau sekedar basa - basi mengucapkan kata terima kasih atau " sudah dulu yah".. ah, dasar pria tua yang absurd.
" ini Oma dan Kakek," Jelas Damar menunjuk pada sepasang pria dan wanita yang memang terlihat sudah tua.
"Ini tante Dina dan suaminya, Om Rudi " Kini lanjut Sarah yang memperkenalkan , hanya tersisa satu orang lagi wanita yang umurnya tidak jauh beda denganku, " itu Tante Mila, dia adiknya ibu," tambah Damar menutup sesi perkenalan mendadak ini.
"Hmm..Perkenalkan ini Akira, " dokter Damar mengawakiliku memperkenalkan diri, mereka menatapku lalu memberi senyuman tipis, kecuali Mila yang terlihat acuh seolah tak peduli.
"Jadi dia istri kedua Mas Damar,?" tanya Mila seraya melempar tatapan sinis padaku.
"Kami belum menikah," Jawabku tegas.
"Benarkah,?" Aku curiga kau memang mengincar Mas Damar dari dulu, lalu sekarang pura - pura hadir ditengah keluarga mereka," tuduhnya lagi tanpa perasaan.
"Jaga bicaramu Mila, aku menghargaimu sebagai adik iparku tapi aku tidak akan membiarkanmu melewati batas," dokter Damar bersuara tegas , matanya menatap tajam kearah adik iparnya Itu.
"Hmm.. lebih baik kalian duduk , Nak Damar, Nak Akira, silahkan duduk dulu," Pria tua yang dikenalkan Amar sebagai Kakek menengahi perdebatan dokter Damar dan Mila, aku mengikuti langkah dokter Damar dan memilih duduk disamping Sarah.
__ADS_1
"Sebelumnya, Kami minta maaf karena perkataan anak kami Mila yang sudah menyinggung perasaanmu," Ujarnya, "
"kedatangan Kami semua disini adalah untuk berterima kasih padamu karena mau menemani cucu kami selama beberapa hari ini," lanjutnya.
"Untuk apa meminta maaf padanya, dia pelakor yang berkedok jadi wanita baik," Mila kembali menyela.
Aku masih diam, bersabar menunggu kelanjutan ucapan Kakek tanpa menghiraukan suara sumbang Mila.
"Kami sudah mendengar dari Damar dan juga cucu - cucu kami tentang wasiat Nadira untuk menikahkanmu dengan Damar ,"
"tapi aku belum memutuskan apapun," potongku cepat menyela ucapan kakek yang kutahu adalah Ayah dari bu Nadira setelah mendapat bisikan dari Sarah tadi.
"Keadaan Nadira semakin memburuk, penyakitnya semakin meluas dan menyebar, besar kemungkinan Nadira tidak akan kembali sadar," lanjut kakek lagi.
" Kami dengan setulus hati meminta jawaban darimu Akira tentang keinginan Anak kami Nadira, Hal ini tidak bisa lagi ditunda," Kakek menghela nafasnya yang berat, lalu meraih tangan istrinya yang sudah menangis pelan.
"Tapi, saya tidak ingin jadi orang ketiga Pak, saya tidak ingin jadi madu bagi bu Nadira atau bagi perempuan manapun, " ujarku tegas. "Sebelum bu Nadira koma saya sudah menegaskan perihal ini dan beliau menyetujuinya, " ujarku lagi menguatkan pernyataanku sebelumnya.
"Jadi, maksudmu Kamu hanya akan menikah jika Nadira sudah..." Kakek menjeda ucapannya.
"Jika bu Nadira benar - benar sudah tidak bisa mendampingi dokter Damar sebagai istri," aku menyambung kalimat kakek yang terjeda.
"Cih, jadi maksudmu Kau mendoakan kakakku mati hah,??!, Kau sudah tidak sabar menikahi mas Damar,? bilang saja, dasar perempuan jablai," lagi - lagi wanita berlidah racun itu menimpali, mulutnya benar - benar tidak pernah disekolahkan.
"Tidak, aku justru menjaga posisi bu Nadira sampai beliau sembuh, tidak akan ada yang bisa mengisi posisi bu Nadira sebagai istri dokter Damar sekarang, bukan aku bukan juga perempuan lainnya," aku memberi penegasan seraya tersenyum sinis pada Mila, aku curiga adik bu Nadira itu menaruh hati pada dokter Damar, aku bisa melihat tatapan penuh damba dimatanya setiap menatap dokter Damar, perempuan ini sepertinya adalah serigala berbulu domba, batinku.
Tiba - tiba aku merasa bersemangat, mendapatkan tuduhan dan hinaan dari orang lain membuatku tertantang, baiklah aku memutuskan akan meladeni perempuan satu ini, kita lihat saja sejauh mana dia mampu menghadapiku.
"Cih..dia belum tau saja siapa Akira, setiap hari aku berhadapan dengan para pelanggar hukum, dari penjahat kelas teri sampai penjahat kelas kakap, dari pencuri sendal dimesjid sampai perampok toko perhiasan, dari pelaku tawuran antar gang sampai pembunuh bayaran berdarah dingin.." . Kepalaku tiba - tiba dipenuhi dengan bayangan orang - orang berwajah sangar, tanpa senyuman dan bertatto diseluruh tubuh tapi dengan tangan membuka halaman demi halaman kitab suci dipangkuannya dengan begitu lembut" Senyumku terkembang mengingat para Warga Binaanku.
"Hehh..kenapa Kau tersenyum, sepertinya Kau sudah membayangkan menjadi nyonya Damar, iyakan?" tuduh Mila lagi.
"Mila, hentikan, Kau sudah keterlaluan," bentak Om Rudi, yang tadi hanya diam.
" Oh, jadi kalian semua membelanya, membela perempuan yang tidak jelas ini,?" Mila menunjuk - nunjuk kearahku, aku yang tadi berusaha sekuat tenaga untuk bersabar semakin terpancing emosi.
Hawa Panas semakin terasa diruang tamu minimalis ini, padahal penyejuk ruangan sudah disetel pada angka paling dingin.
__ADS_1
Aku menatap tajam perempuan berlidah racun itu, sembari menimbang pelajaran apa yang akan kuberikan padanya, aku punya begitu banyak trik untuk melumpuhkannya, dan sepertinya aku akan memulainya secara perlahan dan lamban.. hehhe, semakin lamban semakin lama sakitnya, iya kan???!!