
"Tidak,,,"!! Refan belum mati, Refan sedang tertidur bu, beri waktu lagi 10 menit lagi dia pasti akan segera bangun," Aku meyakinkan orang - orang disekitarku yang melihatku dengan tatapan iba, aku terus berteriak walaupun mereka tidak mendengarkanku sama sekali, beberapa orang terlihat mengangkat tubuh Refan, membawanya entah kemana, semakin lama semakin mengabur sampai benar - benar hilang dari pandanganku " Aku terbangun dengan deru nafas yang cepat, bulir keringat menetes dari dahiku, Aku bermimpi lagi tentang Mas Refan, Almarhum suamiku.
Setelah menenangkan diri aku berjalan kekamar Ziko, melewati ruang tengah langkahku terhenti, sayup kedengar gelak tawa dari sana. Kupercepat langkahku, penasaran dengan siapa Ziko bermain sepagi ini.
"Apa Kakeknya yang berkunjung?", Atau Paman Hendro?" Aku bermonolog sembari terus mengayunkan langkahku.
~ Ceklek ~
Kubuka pintu perlahan, Kulihat Ziko tergelak dengan mata memicing, dokter Damar duduk dihadapannya dengan boneka dinosaurus.
"Dokter Damar?? sejak kapan dokter disini?" tanyaku pada dokter Damar yang duduk dikarpet berhadapan dengan Ziko.
"Hmm..hampir sejam sih , Ziko yang membukakan pintu katanya kamu masih dikamar," Jawab dokter Damar sembari membenarkan pengait tas punggung Ziko.
"Tadi om dokter sudah lama mengetuk pintu tapi ibu belum keluar jadi Ziko bukain deh," imbuh Ziko.
"Oh..Maaf yah dok, maaf yah Ziko tadi ibu tidak dengar, " jawabku.
Aku meraih jemari Ziko dan mengajaknya ke ruang makan, dokter Damar mengikuti kami dari belakang.
Diruang makan sudah menunggu Bi Darmi, kemarin aku memang sengaja menyuruhnya datang lebih awal untuk menyiapkan sarapan, Aku dan Ziko duduk bersebelahan sementara dokter Damar duduk dihadapan kami.
Setelah sarapan kami bertiga berangkat menuju kota M, Aku duduk didepan disamping dokter Damar yang sedang mengemudi sementara Ziko duduk di jok belakang, dokter Damar bahkan sudah menyiapkan sebuah kasur busa untuknya, Ziko nampak nyaman.
Perjalanan kekota M memakan waktu kurang lebih 5 jam dari tempat tinggal kami, kemungkinan kami akan tiba disana sebelum Sore. Sebelum berangkat tadi aku menghubungi Sarah, menanyakan kabar bu Nadira, menurut Sarah kondisi ibunya cukup stabil, tapi sejak tadi malam beliau selalu mencariku, bahkan beberapa kali ia meminta Sarah untuk menghubungiku.
"Huhhh.." kuhela nafasku, entah kenapa bisa jadi seperti ini, padahal aku dan bu Nadira bukanlah orang yang dekat, tapi kenapa beliau begitu terobsesi menjadikanku istri kedua suaminya, aku benar - benar merasa bingung.
"Akira, Kamu tidur saja kalau mengantuk," ujar dokter Damar tanpa melirik kearahku.
"Nanti saja dok, belum ngantuk " jawabku. Kulirik Ziko yang sudah terlelap dikasur busanya.
__ADS_1
"Nanti langsung ke Rumah sakit saja yah?" tanya dokter Damar, tatapannya masih fokus kedepan.
"Terserah dokter saja, tapi apa tidak sebaiknya dokter istirahat dulu ?" Aku menyarankan dokter Damar beristirahat sebelum ke Rumah Sakit, dari tadi aku melihatnya menguap berulangkali, beliau pasti merasa lelah harus bolak - balik dari kota P ke Kota M, ditambah lagi harus memikirkan kondisi istrinya.
"Tidak usah, nanti saya istirahat di Rumah Sakit saja," jawabnya, aku hanya mengangguk menanggapinya.
Perjalanan menuju Kota M sangat lancar, Kami bahkan tiba lebih cepat dari perkiraan, mungkin karena sekarang masih dalam situasi pandemi jadi jalanan lumayan sepi.
Kami bertiga menuju ke ruang rawat bu Nadira, dokter Damar menggendong Ziko dipunggungnya, sebenarnya tadi aku sempat melarangnya tapi dokter Damar berkeras karena kasihan melihat Ziko yang nampak kelelahan.
"Aku hanya takut punggungnya encok, dengan umur segitu pasti dia rawan terkena encok," aku bergumam sendiri.
"Jangan berpikir macam - macam punggungku masih kuat, aku bahkan berani diadu dengan pria umur 20an," dokter Damar memutar tubuhnya menghadapku, "Jangankan Ziko, Aku bahkan masih kuat menggendongmu," tambahnya lagi dengan penuh percaya diri.
aku membulatkan mataku, aku bahkan menganga dengan lebar. "Pria paruhbaya didepanku ini memang benar - benar absurd dan penuh kenarsisan.
********
Kamar rawat ini pasti sangat mahal, kemungkinan tidak ditanggung bpjs , apalagi bpjs untuk ukuran seoarang Pegawai pemerintahan setingkatku.
Aku mendekati bu Nadira yang berbaring di bed, ia tampak lemah dan semakin kurus saja.
"Assalamualaikum bu, " aku meraih jemarinya ,mengusapnya dengan lembut.
Beliau mengerjap, bibirnya membentuk senyuman tipis, matanya berbinar.
"Akira, kau sudah datang,?" tanyanya.
"iya bu, Saya datang bersama dokter Damar dan Ziko," jawabku.
Bu Nadira mengangkat tubuh ringkihnya dibantu oleh Amar, sedang Sarah sedang bermain dengan Ziko disudut ruangan.
__ADS_1
"Sayang kemarilah," Bu Nadira memanggil dokter Damar mendekat dengan kami.
Bu Nadira meraih jemari dokter Damar lalu menautkannya dengan jemariku, " Aku ikhlas jika harus dipanggil sekarang, aku sudah menyatukan kalian," ujarnya.
"Tapi..aku belum bisa bu, bukankah sudah kutegaskan sejak awal," aku menarik jemariku tapi percuma dokter Damar justru menggenggamnya lebih erat.
"Akira, percayalah pria paruhbaya ini akan menjagamu dan Ziko, lagipula ini bukan hanya keinginanku tapi ini juga keinginan Regan, almarhum suamimu, " Jelas bu Nadira dengan nafasnya yang terengah.
"Apa maksud bu Nadira ??" Kenapa bu Nadira membawa - bawa nama Mas Refan??" aku cukup terkejut dengan penjelasan bu Nadira, sebuah fakta baru ,ternyata bu Nadira juga memgenal Mas Refan, almarhum suamiku.
Bu Nadira tersenyum, ia menatap suaminya.
"Sayang, Kau belum memberitahu Akira tentang pesan Refan padamu?" bu Nadira bertanya pada dokter Damar.
Dokter Damar menggeleng lalu menghela nafasnya, ia menatap kearahku, Sarah yang tadi sibuk bermain dengan Ziko kini sudah berdiri didekat kami , Ziko pun menyusul dan memilih berdiri didekat Amar, mereka semua menatapku dengan mata nanar.
"Ada apa ini?" kenapa kalian menatapku begitu?" Ziko, bilang pada ibu apa sebenarnya yang terjadi?" aku menatap lekat pada netra putraku, aku yakin Ziko juga mengetahui sesuatu ,aku bisa melihat itu dimatanya.
"Akira, kita bicara diluar . Aku akan menjelaskan semuanya" tanpa menunggu jawabanku dokter Damar sudah melangkah keluar dari ruang rawat bu Nadira, aku mengikuti beliau dengan dada yang sesak, rasa penasaran ini membuat dadaku seperti ditekan dengan sebuah batu besar, sangat sesak. Aku berjalan dengan cepat menyusuri koridor Rumah Sakit, dokter Damar sudah jauh didepan.
Sebuah Cafe kecil yang tersedia didalam area Rumah Sakit, beberapa orang terlihat sedang menikmati minuman dan makanan ringan, beberapa dari mereka tampak bercanda dengan riang, beberapa yang lainnya nampak lelah dengan mata yang sayu dan penampilan yang lusuh, mungkin mereka lelah menunggui keluarga yang sedang dirawat sedang yang lain lagi nampak sibuk dengan minumannya sambil sesekali menggeser layar gawainya keatas, tampak serius.
Aku melangkah pelan, kulihat dokter Damar sedang duduk dikursi sudut cafe yang agak terpisah jauh dengan meja lainnya, didepannya sudah ada dua gelas minuman.
"Minumlah dulu, kamu masih suka vanilla latte kan?" tangannya menggeser gelas kearahku.
Aku memicingkan mata, darimana dia tahu aku suka Vanilla Latte, dulu sop Iga panas, sekarang Vanilla Latte. Apa selain sebagai dokter dia juga berprofesi sebagai seorang cenayang, kuakui pria paruhbaya didepanku ini memang cukup unik dan sedikit misterius.
************
Hai readers, maaf yah karena baru bisa up sekarang, beberapa waktu ini aku sedang mengikuti ujian, jadi benar - benar sibuk .
__ADS_1
selamat membaca yah, Stay save and healthy 😘