Istri Kedua Sang Dokter

Istri Kedua Sang Dokter
Tidak ada cerita yang Sempurna


__ADS_3

Sudah seminggu sejak kepulanganku dari kota M menjenguk bu Nadira, saat pamit keadaan bu Nadira masih tak ada perkembangan, masih koma. Aku senantiasa menanyakan kabar beliau melalui Sarah, pernah sekali dokter Damar menghubungiku, sekedar menanyakan kabar dan memberitahu bahwa kemungkinan besar mereka akan memindahkan bu Nadira ke Negara S agar beliau bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik.


" Ngelamun aja bu, " Tiya yang baru masuk keruangan mengagetkanku.


"Eh, Tiya.. iya nih lagi banyak pikiran," jawabku tanpa menoleh padanya.


"Pasti mikiran dokter Damar dan keluarganya kan,?" Tiya memandangku dengan sendu, beberapa hari yang lalu aku memang curhat padanya tentang permasalahanku, Tiya adalah salah satu orang yang bisa kupercaya.


"Hmmm... Menurutmu apa yang harus aku lakukan Tiya,?" tanyaku padanya .


Tiya menggeser kursinya mendekatiku, " Semua keputusan ada ditangan bu Akira, ikuti kata hati bu Akira biar tidak ada penyesalan nantinya,"


"Sebenarnya Aku sangat ingin membantu keluarga dokter Damar, memenuhi tawaran bu Nadira, tapi... " Aku menjeda kalimatku ,menarik nafas dalam .


"Tapi apa bu..," Tiya mencodongkan tubuhnya, menyelidik lewat tatapan tepat di netraku.


"issh..kepo nih, " godaku padanya .


"Ih..bu Akira, apaan sih.. atau jangan - jangan bu Akira udah kecantol nih," goda Tiya seraya menaik turunkan alisnya.


"Kecantol apaan,?"


"Kecantol Pria paruhbaya yang absurd..hahhah.." Tiya menjawab disertai tawa, aku hanya menggeleng.


"udah..ah, serius nih.. ," Ujarku melihat Tiya yang masih saja tertawa.


"Oke..oke..Jadi apa dong bu ?"


"Tapi Aku takut Tiya, orang - orang akan berpikiran buruk padaku, Aku takut suatu saat Ziko mendengar cerita yang salah," lanjutku.


"Hmm..iya juga sih, jaman sekarang kan banyak netijen yang bertingkah sok tahu, " Tanggap Tiya.


*********


Pukul.11.30 siang, Aku menepikan mobilku didepan sebuah gedung sekolah berlantai dua, hari ini aku memutuskan untuk menjemput sendiri Ziko kesekolahnya, kebetulan pekerjaanku dikantor tidak terlalu banyak sehingga waktu istirahat bisa agak longgar.


"Ibu....," Ziko berlari keluar kelas seraya memanggilku.


"Halo Sayang.. ," Aku meraihnya kedalam pelukanku , lalu membukakan pintu mobil.

__ADS_1


"Hari ini Kita makan siang di restoran xx ya bu, " Katanya saat sudah duduk di jok samping kemudi.


"Boleh..memangnya Ziko mau makan apa,?"


"Pizza bu, kata Asyifa Pizza direstoran xx sangat enak ada toping jamurnya," jawab Ziko penuh semangat, Asyifa adalah teman sekelas Ziko dari mereka TK.


"Oke baiklah..let's go.." Ujarku .


Kami tiba direstoran xx, sebuah restoran berlantai tiga, lantai 1 khusus untuk ruang private, setiap ruangan dibatasi sekat kaca sehingga terkesan pribadi dan tertutup. Lantai 2 lebih terbuka , meja dan kursi disusun secara rapi tanpa sekat. Sedangkan lantai 3 dibuat khusus untuk mereka yang ingin menikmati suasana santai, makan dengan lesehan diatas karpet - karpet bertema tropis, sangat sejuk dan adem. Aku dan Ziko memilih duduk dilantai 2 , menikmati makanan sambil mengagumi pemandangan sawah yang terbentang, lantai 2 memang dikelilingi oleh dinding kaca.


Kami memesan Pizza ukuran medium dengan toping jamur dan jagung, segelas jus Alpukat untuk Ziko dan Segelas es jeruk untukku.


"Gimana, Ziko suka Pizzanya,?" tanyaku pada Ziko yang sedang mengunyah Pizza.


"Suka bu, enak.." jawabnya seraya menaikkan jempolnya.


"Syukurlah.. Kalau begitu makan yang banyak biar Ziko cepat besar,"


"Siap..ibu Sayang..."


Kami menikmati makanan sambil bercanda, Ziko tak berhenti mengunyah, Aku senang melihat putraku yang makan dengan lahap.


"dokter Damar ,?? Ujarku kaget, melihat dokter Damar disini karena setauku beliau sedang ada dikota M.


"Iya, apa kabar Akira,?" tanya dokter Damar, memilih duduk tepat di meja sebelah kami.


" Baik dok, kenapa dokter ada disini ? bukannya lgi dikota M?" tanyaku cukup penasaran.


"Oh..itu kebetulan kemarin aku mengantar Kakek dan Oma Sarah pulang, jadi sekalian memperpanjang Cuti di Rumah sakit," jawabnya.


"ohhh..bagaimana bu Akira,?"


"Keadaan bu Nadira stabil, tapi belum ada tanda - tanda dia akan sadar," Jawab dokter Damar dengan sendu.


"Hmm..Sabar yah dok, banyak - banyak berdoa untuk bu Nadira,"


"Hai.. Ziko apa kabar,?" dokter Damar mengalihkan pandangan pada putraku yang tengah asyik menyesap jus Alpukat.


"Baik om, Om dokter apa kabar,?" tanya Ziko balik.

__ADS_1


"Alhamdulillah baik, Ziko suka makan pizza yah,?" tanya dokter Damar lagi, ia menggeser kursinya hingga kesamping Ziko.


"Iya..enak, om dokter mau coba,? tawar Ziko, tangannya mengulurkan potongan pizza kepada dokter Damar.


"Wah..terima kasih Ziko," dokter Damar melahap Pizza dari Ziko.


Hampir satu jam kami menghabiskan waktu direstoran xx, satu porsi Pizza ukuran medium dan sepiring mie goreng jawa pesanan dokter Damar sudah ludes, beberapa kali Ziko dan dokter Damar saling menyuapi makanan, aku senang melihat dokter Damar yang tak canggung saat berhadapan dengan Ziko, beliau yang sehari - hari tampak berwibawa berubah menjadi begitu hangat dan humoris didepan Ziko, hmm.. nilai plus lagi untuk pria paruhbaya itu, Kami sama - sama melangkah keluar dari restoran, dan berpisah untuk pulang kerumah masing - masing.


"Hmm..Akira, sudah baca surat dari bu Nadira," tanya dokter Damar saat kami tiba diarea parkir.


"Waduh..belum sempat dok, sepulang dari kota M Akira sibuk ngurusin Ziko dan kerjaan yang tertunda," Sesalku, Aku benar - benar lupa dengan surat bu Nadira, " Nanti Akira akan baca suratnya setelah sampai dirumah," Lanjutku.


"Hmm..baiklah, Sampai ketemu lagi Ziko, ingat pesan om dokter yah," dokter Damar mendekati Ziko, berbisik sesuatu lalu ber-high five.


"Oke, om dokter.. Ziko siap," Jawab Ziko.


"Siap apa sih,?" tanyaku menatap mereka bergantian.


"Rahasia," Jawab mereka berbarengan.


*******


Cucian beres, Lantai kinclong, Dapur clingg, belanjaan dari pasar sudah tertata rapi didalam kulkas, " hahh.. bisa Me Time nih mumpung Ziko lagi tidur siang," Aku segera berlari kearah kamar setelah memastikan semua pekerjaan rumah tangga selesai, maklum 2 hari ini aku harus mengurus semuanya sendiri karena bi Darmi sedang ijin sampai 3 hari kedepan, sebenarnya aku berniat memanjakan diri dengan berendam dibak mandi sembari menonton drama Korea terbaru tapi, Aku teringat surat dari bu Nadira, kuraih amplop putih dari dalam tas bahuku dan membuka isinya perlahan,


-Teruntuk Akira-


MAAF, mungkin itu kata yang paling tepat untuk Aku sampaikan padamu karena sudah melibatkanmu dalam kehidupan keluargaku, sekali lagi maafkan Aku yang tidak tahu diri ini. Akira, sebelum kamu mengambil keputusan, Aku hanya ingin kamu tahu beberapa hal tentang dokter Damar.


Akira, dokter Damar dan Aku bersahabat sejak Sekolah Menengah namun Kami menikah bukanlah atas dasar saling mencintai, dokter Damar saat itu hanya berniat membantuku, Kami menikah saat Aku sudah memiliki Amar dan Sarah, Mantan suamiku adalah seorang pria yang kasar dan ringan tangan bahkan dia ketahuan berselingkuh saat aku mengandung Sarah, tak tahan dengan prilakunya Aku menggugat cerai setelah Sarah lahir namun, dia tidak terima dan justru menuduhku dan dokter Damar yang berselingkuh. Menerima tekanan yang begitu besar aku sempat depresi dan dokter Damarlah yang menemani sampai aku kembali pulih, Merasa kasihan dengan keadaanku dan kedua anakku yang masih kecil dokter Damar memutuskan untuk menikahiku. "Cinta akan hadir karena sering bersama," itu Jawabnya, saat Aku bertanya apakah dia mencintaiku atau tidak.


Akira, dokter Damar adalah pria baik, pria paling baik yang aku kenal, terimalah dia dalam hidupmu dan dia tidak akan pernah menyia-nyiakanmu dan anakmu.


- Dari Nadira, perempuan yang tidak tahu diri -


Air mataku luruh, setiap fakta yang terkuak dari surat bu Nadira membuatku sadar bahwa tidak ada cerita yang sempurna, setiap orang, setiap keluarga memiliki bahagia dan deritanya masing - masing. Seseorang yang hidupnya terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang dalam, pun sebaliknya. Apa yang terlihat dengan mata belum tentu adalah sebuah kebenaran, ada banyak cerita yang tersembunyi lalu, mengapa sekarang justru banyak orang yang merasa tahu segalanya hanya dari sosial media saja.."Hmmm.. Netijen Mahabenar," gumamku, kuletakkan kembali surat bu Nadira dan berjalan menuju kamar Ziko, Me Time nya ditunda dulu, entahlah saat ini Aku hanya ingin memeluk putraku erat, sangat erat karena memeluknya membuatku merasa kuat menghadapi berbagai cerita yang ada.


*********


Hai readers yang baik hati, jangan lupa like dan dukungannya, sekali lagi maafkan keterlambatan othor up bab, othor hanya ingin memberi cerita yang baik walaupun belum cukup baik, mungkin alurnya akan sedikit lambat, tapi othor benar - benar ingin menulis dengan tenang sehingga readers bukan hanya mendapat cerita yang menarik tapi juga mendapat hikmah dan pelajaran dari setiap bab.. Terima Kasih 😘😇

__ADS_1


***////*****


__ADS_2