Istri Kedua Sang Dokter

Istri Kedua Sang Dokter
Pria paruhbaya yang absurd


__ADS_3

Dari Cafe Kami langsung menuju Rumah sakit, Sarah dan Amar juga sedang dalam perjalanan, mereka sudah menyelesaikan urusannya dikampus.


Dari kejauhan aku melihat Amar dan Sarah sedang berdiri didepan ruang rawat bu Nadira, Amar memeluk adiknya seraya mengelus punggungnya dengan lembut, kupercepat langkahku menyusul dokter Damar yang sudah berlari kesana. Pikiranku mulai tak fokus segala kemungkinan terburuk terlintas dibenakku.


"Amar, Sarah.. ada apa,?" tanya dokter Damar kepada kedua anaknya.


"Tadi ibu mengalami kejang Yah," jawab Damar.


"Ayah, Sarah takut yah..ibu terlihat sangat kesakitan," ujar Sarah disela isak tangisnya.


"Kalian tunggu disini, Ayah masuk dulu," dokter Damar masuk kedalam ruang rawat bu Nadira.


Aku melangkah dan ikut mengelus punggung Sarah, tak terasa air mataku luruh melihat Sarah yang terisak.


"Amar, Sarah..kita duduk disana yah," ajak ku pada kedua anak itu.


"Tante Akira...ibu, ibu...," Sarah mengurai pelukannya dari Amar dan beralih padaku.


"Tenang sayang, Kita do'akan ibu sama - sama yah," Aku meraih tubuh mungil Sarah, kuusap puncak kepalanya lembut.


"Ayo sayang..Kita ke musholla doain ibu, percayakan dokter untuk menangani ibu dulu," Kami bertiga berjalan bersisian menuju mosholla rumah sakit, setelah berwudhu kami menjalankan sholat sunnah berjamaah, Amar mengimami kami.


Dipenghujung sholat Kami berdo'a dengan khusuk, disertai isakan tangis kami memohon Kepada kepada Dzat yang Maha penyayang untuk memulihkan kesehatan bu Nadira.

__ADS_1


Aku merasa de Javu , kejadian empat tahun lalu seperti terulang, saat itu ba'dha ashar ketika Almarhum suamiku sedang berjuang dimasa kritisnya, aku mengangkat tanganku memohon kesembuhannya, namun ternyata Tuhan berkehendak lain, kuusap wajahku, pipiku basah dengan air mata, kulirik Sarah disampingku .


"Sabar sayang," ujarku lalu meraihnya dalam dekapanku, menyalurkan segenap ketulusanku padanya.


*******


Kami bertiga berdiri dengan wajah tegang didepan sebuah ruangan dengan pintu kaca yang tertutup rapat, beberapa perawat dan dokter terlihat masuk kesana dengan tergesa,


"Bagaimana ibu saya dok," tanya Amar kepada salah seorang dokter yang melintas didepan kami.


"Tetap do'akan beliau, Amar.. Kami akan berusaha semaksimal mungkin," ujarnya dan berlalu kedalam ruangan tersebut.


Hampir satu jam kami menunggu dengan hati yang kalut, Aku memilih duduk dibangku panjang dengan memeluk Sarah yang tak henti menangis, sementara Amar mondar - mandir didepan pintu yang bertuliskan ICU ( Intensive Care Unit ) itu.


"Bagaimana keadaan ibu Yah,?" tanya Amar dengan wajah panik.


"Kita bicara disana," dokter Damar menarik tangan kedua anaknya, sementara aku berdiri mematung, ingin ikut tapi ragu , dokter Damar tidak mengajakku, bahkan melirik saja tidak. Mungkin mereka akan membicarakan hal yang bersifat rahasia, hanya untuk keluarga saja, sementara aku bukanlah bagian dari keluarga mereka. Aku memilih kembali mendudukkan tubuhku pada bangku panjang tempatku dan Sarah tadi.


Pikiranku melayang, bu Nadira dan dokter Damar bukanlah keluargaku, bukan juga teman dekatku, mereka hanya kenalan biasa yang tidak begitu akrab, tapi sekarang aku justru ada disini terjebak dalam ujian kehidupan rumah tangga mereka, "Huuhh...benar - benar takdir yang aneh" keluhku lirih.


"Akira, Kau sudah makan,?" Suara dokter Damar membuyarkan lamunanku.


Aku tak menjawab pertanyaan dokter Damar, pertanyaan yang tidak pada tempatnya menurutku, dalam keadaan tegang dan panik seperti ini mana ada orang yang masih berpikir untuk makan, tadi pagi dia mengajakku "ngopi", sekarang dia bertanya tentang " makan" benar - benar pria paruh baya yang aneh.

__ADS_1


"Terima Kasih," ujarnya, lalu ikut duduk didekatku.


"Terima kasih untuk apa,?" tanyaku.


"Terima kasih karena menemani kami menghadapi ujian berat ini," jawabnya.


"Tidak masalah..aku juga bingung kenapa aku memilih berada disituasi ini," aku mengangkat kepalaku, melirik dokter Damar sekilas.


"Takdir mungkin,, " ujarnya datar ,


"Ada banyak hal yang terjadi dalam hidup tanpa direncanakan, kita tidak pernah membayangkannya tapi kemudian tanpa sadar kita sudah menjalaninya," lanjutnya.


dokter Damar menoleh padaku, wajah pria ini terlihat lelah namun matanya memancarkan aura yang kuat, seolah menegaskan bahwa ia akan menghadapi semuanya dengan penuh keyakinan.


"Takdir.. ?? bukankah takdir adalah hasil akhir dari semua keputusan - keputusan yang sudah kita ambil,?" aku kembali menatapnya, Netra hitam legamnya membalas tatapanku, tatapan itu seperti mengulitiku , mengoyak tirai - tirai pertahanan yang selama ini kubangun dengan kokoh, aku tidak pernah membiarkan orang lain menilaiku dengan matanya tapi netra itu seakan mengunciku, dan aku membiarkannya, aku menyukai netra hitam legamnya.


"Kita makan dulu, pertanyaanmu terlalu sulit, aku jadi semakin lapar, " kembali dia meruntuhkan suasana yang sudah sangat serius ini dengan tingkahnya yang absurd.


"Apa susahnya sih tinggal jawab saja , " ketusku.


"Sop iganya keburu dingin, Kau kan tidak suka sop iga yang dingin," Ujarnya lalu melangkah cepat , meninggalkanku yang lagi - lagi dibuat terkejut dengan tingkahnya.


"Tunggu..dari mana dia tahu aku suka sop iga,?" apa dia bisa membaca pikiran orang,? kemarin Tiramisu cake, sekarang Sop iga,? besok apalagi yah,?" ah, sepertinya aku sudah mulai menikmati takdir ini.

__ADS_1


Aku menyusul dokter Damar, hak sepatuku yang berbenturan dengan lantai selasar rumah sakit menghadirkan bunyi nyaring yang beraturan, aku menatap punggungnya dari belakang, bahunya lebar, kakinya panjang, tubuhnya tegap, langkahnya berwibawa.. oh, Tuhan, aku mungkin sudah gila, mana mungkin aku mengagumi tubuh seorang pria paruhbaya yang terpaut 20 tahun dariku, apa kata teman - temanku nanti jika mereka tahu Kalau aku lebih memilih pria berumur 52 tahun ketimbang pria muda yang energik, atau pria pertengahan dewasa yang seumuran denganku, beberapa kali mereka mendekatiku dan aku menolak mereka mentah - mentah tanpa ampun.


__ADS_2