
Pukul 19.00 Wita, saat aku tiba didepan sebuah rumah bergaya modern, disisi kiri rumah terdapat sebuah gazebo dan kolam ikan, beberapa tanaman hias tumbuh subur disamping gazebo,ada aglonema, keladi tikus dan bunga sedap malam. Disisi kanan terdapat garasi ada tiga mobil yang terparkir disana.
Aku masih belum turun, kulirik Ziko putraku yang duduk dikursi penumpang sembari memainkan jarinya dikaca jendela mobil. Malam ini, aku menepati janjiku untuk makan malam dirumah bu Nadira, walaupun awalnya sempat kutolak undangan beliau tapi pada akhirnya kuiyakan juga, setelah berulang kali beliau menelpon dan mengirimiku pesan, "Hadiri saja, tidak baik menolak rejeki" kata Tiya saat kumintai pendapatnya.
"Ibu, sudah sampai yah?" tanya Ziko yang matanya kini menatapku.
"Sudah sayang..ayo ikut ibu" aku turun lalu membuka pintu penumpang, kuraih jemari mungil putraku, Ziko tersenyum menampakkan lesung pipi dikedua ujung bibirnya.
"Ini rumah siapa ibu?" tanyanya penasaran.
"oh, ini rumah teman ibu.. " jawabku seraya melangkah beriringan dengannya memasuki halaman rumah bu Nadira.
"Wah...ada Kolam ikan," Ziko berseru riang saat melihat kolam ikan yang cukup besar.
tok..tok..tok.. kuketuk pintu besar berwarna hitam didepanku berulang kali namun, belum ada sahutan dari dalam.
"bu..ibu..itu ada bell," celetuk Ziko menunjuk kearah bell disamping pintu.
"oh..iya yah.. " Aku tersenyum menyadari kebodohanku.. sepertinya aku benar - benar tidak fokus malam ini, mungkin karena ini kali pertamaku menghadiri undangan makan malam yang bersifat pribadi seperti ini biasanya aku menghadiri acara kondangan rame - rame dengan teman atau keluarga.
Kutekan bell itu sekali,
Ceklek...pintu besar itu terbuka, kami disambut oleh seorang wanita paruhbaya yang tersenyum ramah.
"Bu Akira yah?" tanyanya padaku.
"Iya, Saya Akira" jawabku.
__ADS_1
"Silahkan masuk bu Akira , bapak dan nyonya sudah menunggu didalam" ajaknya sopan.
Kulangkahkan kaki mengikuti wanita paruhbaya itu, tanganku tak lepas menggenggam jemari Ziko yang nampak takjub dengan dekorasi rumah yang serba modern, berbanding terbalik dengan rumah kami yang sederhana.
"Selamat malam Akira," sapa bu Nadira saat Kami sampai diruang makan, disana sudah ada dokter Damar, seorang gadis yang berumur sekitar 17 tahun, dan seorang pria muda berumur kisaran 19 tahun, mereka pasti putra dan putri bu Nadira.
"Silahkan duduk" bu Nadira menarik kursi disampingnya, aku dan Ziko duduk dengan perlahan, dokter damar dan 2 orang lainnya hanya diam, tak menatap apalagi menyapa kami, aku pun memilih mengacuhkan kuperbaiki posisi duduk putraku Ziko yang juga nampak sedikit tidak nyaman.
"Wah.. ini pasti putramu Akira" tanya bu Nadira.
"Iya bu, ini Ziko putra ku" jawabku datar .
"Ayo silahkan dimakan.. nanti keburu dingin makanannya" lanjut bu Nadira lagi.
Kamipun makan dengan tenang, aku hanya makan capcai sayur dengan sedikit nasi dan udang goreng tepung sedang Ziko memilih ayam goreng kecap dan nugget sapi tanpa nasi. Dia memang tidak terlalu suka makan nasi , Ziko lebih suka makan kentang atau roti, entah menurun dari siapa padahal dikeluarga kami semuanya orang asli Indonesia yang sangat mencintai Nasi sebagai Bahan Makanan pokok, tapi tak apalah yang penting putraku sehat dan bahagia.
Amar adalah putra sulung bu Nadira dan dokter Damar, sedang berkuliah semester 4 disebuah universitas Negeri di kota M , sedang Sarah adalah Putri bungsu mereka juga berkuliah di Kota M tapi berbeda jurusan dengan Amar, mereka berdua menjalani kuliah online, jadi untuk sementara mereka lebih banyak menetap disini , Amar dan Sarah adalah anak - anak yang ramah walaupun tadi sempat terlihat begitu pendiam tapi ternyata mereka berdua sangat supel dan cerewet, Ziko bahkan terlihat sangat akrab dan nyaman dengan keduanya.
"Silahkan dicicipi Akira, ini kuenya enak , kesukaan Bapak" terang bu Nadira, tangannya dengan sigap menyodorkan sepiring kue kearahku.
"iya, Makasih bu.." kuraih piring tersebut, dan menyendok kuenya sedikit, " terlalu manis" batinku saat lidahku menyentuh kue berwarna cokelat yang disiram dengan lumeran gula jawa.
"Enak kan? itu kue favorit bapak.." terang bu Nadira lagi , kini ia melirik kearah suaminya yang duduk diam tak merespon," betah sekali dokter Damar ini tak bicara, dari tadi beliau hanya makan, minum dan bernafas saja, tak berkomunikasi sama sekali, mungkin dia sodaraan sama limbad" gumamku dalam hati, aku tersenyum membayangkan wajah magician Limbad yang tak pernah pernah berbicara.
"iya bu " jawabku merasa sedikit aneh, sudah dua kali bu Nadira menjelaskan tentang kue favorit suaminya itu padaku.
Setelah basa basi tentang kue favorit, tak terdengar lagi suara diantara kami, Dokter Damar nampak acuh dengan wajah yang sedikit tegang, bu Nadira yang asyik menatapku seolah menyelidik dan aku yang duduk gelisah karena tak nyaman dengan situasi tegang ini.
__ADS_1
"Hmm.. Akira, sudah berapa tahun kamu hidup berdua dengan ziko?" tanya bu Nadira memecah kesunyian diantara kami.
"Lebih dari 4 tahun bu" jawabku singkat.
"Kamu tidak ada niat untuk menikah lagi?" tanya bu Nadira lagi, aku sempat kaget dengan pertanyaannya yang cukup privasi menurutku.
"Belum kepikiran bu, masih fokus ngurus Ziko dulu," terangku agak sedikit kikuk.
"Hmm.. Begini Akira, saya sebenarnya ingin meminta bantuan Kamu" ujar bu Nadira pelan, matanya melirik sebentar kearah suaminya.
"Bantuan apa bu?" tanyaku penasaran, jika aku bisa dan sanggup aku pasti akan membantu beliau, tak ada ruginya memudahkan urusan orang lain,pikirku.
"Ibu ingin Kamu menjadi istri untuk suami ibu, dokter Damar" Bu Nadira berucap dengan tegas tanpa basa basi, beliau bahkan terlihat sangat yakin dengan ucapannya.
Aku membelalak, mataku seperti akan copot saja, menatap kearah dokter Damar dan Bu Nadira bergantian, ah..sepasang suami istri didepanku ini pasti sudah gila, atau jangan - jangan aku sedang dikerjai, bisa-bisanya Bu Nadira memintaku menjadi istri suaminya didepan mata suaminya sendiri, benar - benar konyol.
"Maaf bu, jika ibu berniat mengerjai saya, ini benar - benar tidak lucu sama sekali" aku pun berucap tegas, kulihat dokter Damar meraih tangan istrinya, menggenggam jemarinya erat.
"Bukan begitu Akira..saya..saya serius, saya ingin kamu jadi istri suamiku, " Kali ini bu Nadira sudah berurai air mata, kristal bening itu meleleh dipipinya.
Kutatap mata bu Nadira, maniknya terlihat menyimpan kesedihan yang dalam, bahunya terguncang menahan isak tangis, tangannya bahkan bergetar, dokter Damar berulang kali mengusap pipi istrinya dengan tissue.
"i..ibu serius?" kini kupelankan suaraku, kesedihan yang terpancar dari kedua insan didepanku membuat hatiku melunak.
"Iya, saya serius Akira.. Kamu mau kan?" Kulirik dokter Damar sejenak mata kami bertemu, manik itu sama kelamnya dengan manik bu Nadira, menyimpan kesedihan yang teramat dalam .
Aku masih terdiam, tak mampu lagi berkata - kata, ada banyak hal yang ingin kutanyakan tapi lidahku kelu, kulihat bu Nadira masih terisak dalam pelukan suaminya, kemeja abu dokter Damar bahkan sudah basah oleh air mata bu Nadira yang terus mengalir.
__ADS_1