Istri Kedua Sang Dokter

Istri Kedua Sang Dokter
Negosiasi Terakhir.


__ADS_3

Sesuai permintaan bu Nadira hari ini kami berlima akan berjalan - jalan, sebenarnya aku sudah menolak saat Amar dan Sarah mengajak kami , tapi mereka berdua berkeras. Lagipula, sekalian mengajak Ziko jalan - jalan karena sejak pandemi ini adalah kali pertama Ziko keluar kota lagi.


"Memang Ziko mau main apa sih,?" tanya dokter Damar saat kendaraan kami sudah melaju di jalan kota yang cukup padat.


"Aku ingin main semuanya Ayah," Jawab Ziko berbinar.


Amar dan Sarah yang mendengar Ziko memanggil dokter Damar dengan s3butan Ayah seketika tertegun, mereka mengira telah melewatkan sesuatu, sejenak mereka saling lirik dari kaca spion.


"Maafkan Ziko, entah siapa yang mengajari dia memanggil Ayah, "Jelasku dengan kikuk saat menyadari perubahan air muka Amar dan Sarah.


"Ah..tidak apa Tante, Kami malah senang kalau Ziko mau menerima Ayah, kami hanya sedikit kaget karena baru pertama kali mendengarnya," Amar menbalas panjang lebar, ia pasti tidak ingin aku salah paham.


"Iya Tante, Kami berdua bahkan sangat berterima kasih karena Tante Akira dan Ziko sudah mau menerima kami dengan baik," tambah Sarah sembari mengelus puncak kepala Ziko.


Dokter Damar hanya diam, ia membiarkan kedua anaknya menjelaskan kepadaku, aku merasa bangga kepada Amar dan Sarah yang bisa bersikap sangat dewasa.


******


Disebuah arena permainan yang ada di dalam pusat perbelanjaan Amar, Sarah dan Ziko tampak asyik bermain sementara Aku dan dokter Damar menunggu mereka disebuah coffeshop tak jauh dari sana.


"Kamu tidak ingin membeli sesuatu," dokter Damar membuka obrolan.


"Hmm..tidak ada," jawabku singkat.


"Atau kau hanya ingin melihat - lihat saja?" lanjutnya kembali bertanya.


"Tidak usah, cukup melihat Ziko tertawa aku sudah senang," Jawabku menanggapi ajakan beliau.


Dari kejauhan aku melihat Ziko bermain dengan riang, Amar dan Sarah pun terlihat sangat menikmati . Aku senang karena akhirnya Ziko bisa tertawa riang walaupun dengan orang yang belum lama dikenalnya.


"Mas Damar," suara seorang wanita mengalihkan fokusku.


"Ratih, Kok bisa disini?" bukannya kamu harus di Rumah Sakit menemani Nadira??" kulihat dokter Damar tampak kaget mendapati Ratih, si perempuan berlidah racun itu kini duduk diantara kami.

__ADS_1


"Oh, tadi aku pamit keluar sebentar, aku kangen dengan Nasi goreng rendang di Mall ini," jawab Ratih dengan nada manja, aku hanya memutar bola mataku menanggapinya.


"Sebaiknya kamu kembali ke rumah sakit, siapa tahu oma membutuhkan bantuanmu," ujar dokter Damar lagi.


"Mereka pasti menelponku jika butuh sesuatu," kilahnya. "Oh,yah.. Mas Damar masih suka minum cappucino disini?" lanjutnya, dia kemudian dengan sigap menyambar gelas milik dokter Damar.


Aku hanya menghitung dalam hati, 1..2..3..


"Stoppp," sebelum bibirnya menyentuh gelas aku sudah mengambil alih gelas itu dari tangannya.


"Sekarang lagi musim Covid, kalau kamu mau minum silahkan pesan sendiri," tegasku lalu mengembalikan gelas kesisi dokter Damar.


"Cih..Aku dan Mas Damar sudah sering berbagi minuman, kami bahkan sering berbagi yang lain juga," balasnya, bibirnya bahkan membentuk senyum licik.


Aku menghela nafas, melirik kearah dokter Damar yang terlihat kikuk.


"Hmm..tadi Mas Damar mau mengajakku kemana,?" tanyaku pada dokter Damar yang terlihat shock dengan ucapanku.


"Hmm.. boleh juga, aku ingin membeli beberapa pakaian," aku berdiri sembari melirik Ratih dengan ekor mataku, perempuan itu pun terlihat sama terkejutnya.


"Baiklah..ayo kita pergi sekarang, aku akan mengirim pesan ke Sarah agar mereka tidak bingung mencari kita ," dokter Damar turut berdiri setelah berhasil menguasai dirinya.


"Aku ikut.." Ratih tiba - tiba ikut berdiri, sepertinya ia sengaja ingin mencari gara - gara denganku.


"Tidak masalah," aku memutar tubuhku lalu menarik tangan dokter Damar, aku tak peduli jika beliau merasa risih atau kaget, aku hanya ingin membuat Ratih kesal saja.


"Ohh...oke " dokter Damar mengiring langkahku, sama sepertiku jemari dokter Damar juga terasa dingin, entah karena suhu yang memang dingin atau karena ini kali pertama kami bergandengan.


"Belum muhrim, tidak usah pegangan segala.. memangnya kalian mau nyeberang," Ratih berlalu mendahului kami, aku dan dokter Damar hanya tersenyum dan saling lirik, tak ambil pusing dengan tingkahnya.


Hampir sejam kami berkeliling, aku hanya membeli sepasang sepatu dan juga sebuah tas sekolah untuk Ziko, sementara Ratih sudah pulang sejak tadi karena bu Nadira tak henti menghubunginya, entah karena apa.


******

__ADS_1


Malam ini kami berencana berkunjung ke Rumah sakit, setelah mandi dan berganti baju kami bergegas menuju kesana.


Beberapa kali bu Nadira menghubungiku katanya dia tidak sabar untuk bertemu dan ada beberapa hal yang harus segera dibicarakan, walaupun cukup penasaran tapi aku memilih untuk menunggu sampai tiba di Rumah sakit.


" Akira, mendekatlah " Bu Nadira melambaikan tangan padaku sesaat setelah kami tiba diruang rawatnya.


"Ada apa bu ?" aku mendekat setelah memastika Ziko berbaring dengan aman disofa, dalam perjalanan ke Rumah sakit tadi Ziko tertidur di mobil mungkin dia kelelahan setelah seharian bermain bersama Amar dan Sarah.


"Lihatlah, disini ada katalog gaun pengantin, pilihlah yang kau sukai " bu Nadira menyerahkan sebuah katalog padaku.


"Maksud bu Nadira?" tanyaku.


"Kau pilihlah gaunnya, terserah kau ingin menikah kapan tapi aku ingin semuanya siap saat aku benar - benar harus pergi " Jawabnya.


"Bu..Aku,"


"Akira , kami sudah membicarakan ini dengan semua keluarga besar kami, juga dengan orang tuamu," jelas bu Nadira memotong ucapanku.


"Maksud Bu Nadira ?"


"Yah..orang tuamu dan orang tua Refan sudah tahu tentang ini dan mereka tidak mempermasalahkannya, mereka justru sangat mendukung " bu Nadira kembali menjelaskan panjang lebar.


"Bu, jika besok atau lusa aku memutuskan untuk menikahi dokter Damar itu kulakukan karena aku memang menginginkannya bukan karena bu Nadira atau siapapun itu, jadi aku mohon jangan membuatku terikat seperti ini," jelasku tegas, aku merasa bu Nadira sudah melewati batas dengan menghubunginl orang tuaku tanpa sepengetahuanku.


"Aku minta maaf Akira, tapi aku harus melakukannya, waktuku tidak banyak, " kilah bu Nadira.


"Kalau begitu, beri aku waktu seminggu.. biarkan aku , dokter Damar dan Ziko menghabiskan waktu seminggu, tanpa gangguan, setelah itu aku akan benar - benar memberi keputusan" tegasku.


"Seminggu terlalu lama, 3 hari saja ,bagaimana? " tawar bu Nadira kini ia memasang wajah penuh permohonan.


Aku dengan berat hati menyetujui tawaran beliau, yah..semua ini memangnharus diperjelas, aku sudah terlalu lama terlibat dengan keluarga mereka tanpa status yang jelas, keberadaanku diantara mereka tanpa status justru bisa menjadi boomerang suatu saat, setidaknya keputusan apapun yang nantinya akan kuambil akan menghindarkan kami dari fitnah.


ini akan menjadi negosiasi terakhir kami, setelah ini semuanya akan menjadi jelas diantara Aku, dokter Damar dan Bu Nadira.

__ADS_1


__ADS_2