Istri Kedua Sang Dokter

Istri Kedua Sang Dokter
Siasat Tante Ratih.


__ADS_3

Pagi menjelang, Matahari memancarkan sinarnya, menelisik lewat celah jendela yang terbuka bagian atasnya. Aku membolak - balik badan, rasa pegal baru terasa sekarang. Perjalanan jauh yang kami tempuh kemarin terbilang lancar dan nyaman tapi, tetap saja karena jarak tempuh yang jauh membuatku merasakan lelah yang lumayan. Aku beranjak menuju kamar mandi, Ziko masih terlelap dengan nyaman dibalik selimut tebal yang lembut. Aku akan membersihkan tubuh terlebih dahulu sebelum menyiapkan sarapan, walaupun kemungkinan Bi Uti sudah lebih dulu menyiapkannya.


Setelah bersiap, aku mengayun langkah kearah dapur, samar terdengar suara peralatan masak yang saling beradu, suara kompor dipantik, suara air mendidih dari panci dan suara minyak diwajan yang mulai panas.. "Wah, Bi uti pasti sedang bekerja keras sendirian," aku mempercepat langkah, berharap bisa segera memberikan bantuan kepada wanita paruhbaya itu. Tak butuh waktu lama aku sudah berdiri diruang dapur yang bernuansa merah muda, namun niatku melangkah lebih jauh terhenti, mataku menangkap sosok yang tidak asing, aku terkejut melihatnya, bukan hanya karena tampilannya yang menggunakan apron dengan motif bunga mawar tapi, juga pada apa yang sedang pria itu lakukan disana. Pria paruhbaya itu terlihat sedang sibuk memasukkan potongan sayur kedalam panci yang airnya sedang mendidih, lalu secepat kilat ia menuangkan telur yang telah dikocok lepas kedalam wajan, walaupun ia terlihat sangat santai tetap saja menurutku ini bukanlah sesuatu yang biasa ia lakukan dirumah.


"Apa Kau hanya akan berdiri disana,?" sebuah suara menyadarkanku yang masih mematung.


"Oh.. Apa yang bisa kubantu,?" tanyaku kemudian saat pikiranku sudah kembali sepenuhnya.


"Tolong balik telurnya, aku akan membuat kopi dan teh ," dokter Damar menyodorkan spatula putih padaku.


"Baik," jawabku singkat lalu mengambil alih benda itu dari tangannya.


" Akira, Kau mau teh atau kopi,?" tanya dokter Damar.


"Teh saja," jawabku " tanpa gula " jelasku lagi, tanganku sibuk membolak - balik telur diwajan, padahal sebenarnya sekali balik saja sudah cukup ,tapi rasa gugup mengingat kejadian semalam antara aku dan dokter Damar membuatku kehilangan fokus.


"Baiklah, Kopi untukku, Cokelat hangat untuk Ziko dan Teh untukmu," gumam dokter Damar lirih, ia terlihat sibuk dengan gelas didepannya.


Telor dadar dan sup wortel sudah matang, aku menatanya diatas meja, disamping panci berisi nasi putih yang terlihat menguarkan asap tipis. Dokter Damar juga meletakkan Kopi, Teh dan Cokelat hangat disamping piring yang baru selesai kutata.


"Beres..sekarang bangunkan Ziko, kita sarapan bersama," dokter Damar melihat padaku.


"Baik dok, Aku akan membangunkannya ".


Setelah membangunkan Ziko dan membantunya bersiap kami berjalan ke ruang makan, disana sudah ada Dokter Damar dan Bi uti yang menyambut kami dengan senyum merekah seperti bunga yang sedang indah - indahnya.


"Selamat pagi bu, Selamat pagi den.." Sapa Bi uti pada kami .


"Selamat pagi Bi, oiya Ziko , Kenalkan ini Bi Uti," Jawabku sembari mengenalkan Bi Uti pada Ziko .


"Selamat pagi Bi Uti," Sapa Ziko lalu melangkah kearah kursi dokter Damar.


"Selamat pagi Ayah," Sapa Ziko lagi membuat jantungku berdegup cepat, aku panik dan menahan malu . Pantas saja perasaanku tidak enak sejak tadi, ternyata ini yang akan kulihat.

__ADS_1


Aku mengalihkan pandang kearah dokter Damar yang terlihat tenang tapi bibirnya menyunggingkan senyum yang lebar.


"Selamat pagi juga Jagoan Ayah," balas dokter Damar, " Bagaimana tidurmu,?" lanjutnya.


"Sangat nyenyak Ayah, hanya saja aku sedikit terganggu dengan gerakan ibu, dia seperti sangat gelisah dan membuat suara - suara berisik " Keluh Ziko dengan ekspresi cemberut, ingin rasanya kubungkam bibir mungilnya itu.


"Benarkah?? wah, pasti ibu sedang mengingat sesuatu yang membuatnya gugup hingga sulit tidur, " Ujar dokter Damar, matanya melirik kearahku dengan senyum tipis yang penuh makna.


Aku menarik nafasku lalu melirik Ziko dengan tajam "Ziko, cepat duduk dikursimu ," perintahku .


"Baik ibu," Jawab Ziko dan berpindah kekursi kosong didekatku.


Kami bertiga makan dengan lahap, kuakui masakan dokter Damar terbilang enak, walaupun menu sederhana tapi tetap saja terasa sangat nikmat, Ziko bahkan meminta tambahan nasi dipiringnya.


"Hari ini kita tidak perlu ke Rumah Sakit , Amar dan Sarah juga akan kesini siang nanti," jelas dokter Damar saat ia selesai dengan makanannya.


"Lalu siapa yang akan menemani bu Nadira,?" tanyaku, akupun sudah menghabiskan makanan dipiringku.


"Ada Oma dan Ratih, mereka akan menggantikan Amar dan Sarah ". Ujarnya.


*********


Disebuah ruangan VVIP Rumah Sakit, empat orang sedang duduk berhadapan sedangkan seorang yang lainnya duduk bersandar pada bed rumah sakit.


"Kenapa kalian membiarkan mereka menginap bersama ?" sebuah suara wanita terdengar memecah kebisuan diantara mereka.


"Tante Ratih, mereka disana tidak hanya berdua ada Ziko , pak Aswin dan Bi Uti," Sarah menanggapi pertanyaan wanita itu yang ternyata adalah Tante Ratih, adik bu Nadira.


"Tetap saja itu tidak baik. Kalian kan tahu dia itu wanita yang tidak jelas, jika dia wanita baik - baik mana mau dia menginap dirumah orang lain," balas Tante Ratih dengan sedikit nada emosi.


Amar dan Sarah menghela nafasnya, mereka berdua berpikir tak ada gunanya menjelaskan pada Tante Ratih, dari awal dia sudah terang - terangan tidak suka pada Tante Akira. Mereka memilih diam tak lagi bersuara.


"Aku sendiri yang memberi mereka ijin untuk menginap, lagipula sebentar lagi mereka akan menikah ," Suara lemah bu Nadira membuat mereka semua berpaling.

__ADS_1


"Tetap saja Kak, Aku masih tidak bisa menerima Akira, dia itu hanya memanfaatkan keadaan Kakak," Tante Ratih masih tak terima.


"Persetujuanmu tidak penting Ratih, yang penting Damar dan anak - anak merasa nyaman dengannya," Suara bu Nadira sedikit meninggi, ia juga sudah merasa lelah dengan sikap adiknya yang seperti ini, sebenarnya ia bukannya tidak tahu alasannya, bu Nadira tahu dengan jelas alasan Ratih keberatan dengan kehadiran Akira, itu karena sedari dulu Ratih sudah menaruh hati pada Damar, bahkan pernah ia secara terang - terangan menggoda kakak iparnya itu, tapi bu Nadira bersyukur suaminya tetap setia dan tidak terpengaruh sama sekali.


"Sudahlah Ratih Kakakmu sudah mengambil keputusan, Ibu lihat Akira juga sangat tulus pada Sarah dan Amar," Oma menengahi


perdebatan diantara mereka.


"Terserah kalian saja tapi jangan harap aku akan berbaik hati pada perempuan itu," Tante Ratih meninggalkan ruangan setelah menyelesaikan ucapannya.


"Nadira, kau beristirahatlah Nak, jangan berpikir macam - macam," Oma mendekati bu Nadira dan membantunya berbaring.


"Ibu, Oma, Aku dan Sarah akan pulang kerumah dulu, nanti kami akan kembali kesini" Pamit Amar pada wanita beda generasi didepannya.


"Hati - hati sayang , jangan lupa pesan ibu yah. Ajak Ayahmu, Tante Akira dan Adik Ziko jalan - jalan , tidak usah cemaskan ibu, ada Tante Ratih dan Oma yang menjaga ," bu Nadira kemudian menangkup pipi putra - putrinya memberi mereka ciuman kasih sayang.


"Siap bu, bye Oma " Sarah dan Amar berjalan keluar kamar rawat setelah berpamitan.


*****


Sementara itu Di kantin Rumah Sakit, seorang wanita duduk dengan gelisah, bibirnya bergumam sejak tadi, ia bahkan belum menyentuh es teh didepannya.


"Pokoknya aku tidak akan membiarkan mereka menikah, aku akan melakukan apapun untuk membatalkan pernikahan itu,"


"Tidak ada yang berhak atas dokter Damar, hanya Aku yang paling tepat untuknya, "


"Aku bahkan rela menunggu sekian lama untuk kesempatan ini, aku tidak akan menyia - nyiakannya."


"Lihat saja Akira, tunggu tanggal mainnya, permainan ini baru dimulai,"


Perempuan itu masih terus bermonolog, tanpa peduli dengan sebagian orang yang menatapnya heran melihat timgkahnya, yang berbicara sendiri dengan ekspresi yang penuh amarah.


******

__ADS_1


Selamat Membaca readers, stay safe and helathy. 😘


__ADS_2