Istri Kontrak Pak CEO

Istri Kontrak Pak CEO
Demi Biaya Operasi


__ADS_3

“Tolong selesaikan berkas ini sebelum jam makan siang,” titah atasan kepada wanita cantik bernama Rima.


“Baik.”


Rima Aisha Maharani, wanita cantik yang bekerja di PT Wijaya sebagai pegawai kelas bawah yang memiliki pendapatan paling rendah. Tugas Rima tidak terlalu susah, dirinya hanya mengerjakan berkas dan terkadang Rima juga disuruh untuk membelikan makanan atau minuman oleh para atasan di kantornya. Meskipun begitu Rima tetap giat bekerja sebab ia adalah yatim-piatu yang tinggal bersama kakak laki-laki dan kedua adiknya.


Rima harus membantu kakaknya mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan biaya pendidikan kedua adiknya. Terkadang Rima juga suka bekerja sampingan seperti menjadi pacar bayaran dan bahkan menjadi ibu pura-pura, semua itu dia lakukan demi mendapat uang.


Tiba-tiba ponsel Rima berbunyi dan muncul sebuah pesan yang dapat Rima baca tanpa membuka isinya.


“Nanti siang kita bisa bertemu? Ada yang ingin aku bicarakan. Aku juga sangat merindukanmu, sayang ...”


Rima hanya membaca pesan itu dan dirinya tidak ada niatan untuk membalasnya karena pesan itu dikirim oleh mantan kekasihnya sewaktu SMA yang memutuskan hubungan mereka karena dia tidak mau berpacaran dengan orang gendut. Saat SMA berat badan Rima mencapai 66 kilogram dengan tinggi badan 155 cm dan semenjak diputusin oleh kekasihnya, Rima bertekad untuk diet dan kini berat badan Rima adalah 46 kilogram.


Rima kembali fokus menyelesaikan berkas tersebut dan mengabaikan ponselnya yang masih berbunyi lantaran pesan dari pria itu.


“Nanti siang kamu harus ikut rapat karena pemimpin ingin menyampaikan sesuatu kepada kita,” tutur Keyla—teman kerja Rima.


“Oke,” sahut Rima.


Rima sudah menyelesaikan berkas tersebut. Kini dirinya harus print berkas tersebut dan memberikannya kepada atasan.


Rima berdiri dan hendak pergi meninggalkan tempat kerjanya. Namun, tiba-tiba ponselnya berdering dan tampak panggilan telepon dari nomor yang bertuliskan Dinda.


“Kenapa enggak dijawab? Jawab dulu biar enggak berisik,” titah Keyla.


Rima menghela napas dan mengambil telepon, lalu Rima menjawab panggilan itu. “Bisa enggak jangan ganggu gue? Gue tuh lagi kerja. Kalau mau cerita bisa nanti malam,” ucap Rima dengan nada sedikit keras.


Rima merasa kesal jika ada orang yang mengganggunya saat jam kerja karena di perusahaannya terdapat peraturan tidak boleh bermain ponsel selama jam kerja.


“Erick kecelakaan dan sekarang kondisinya kritis,” sergah Dinda.


Sontak Rima terkejut, “apa? Di mana lu sekarang?” tanya Rima cemas.


“Di Rumah Sakit Setia Medika. Cepat lu ke sini!” titah Dinda.


Dinda langsung memutuskan panggilan teleponnya, sedangkan Rima bergegas merapikan barangnya dan hendak pergi.


“Lu mau ke mana?” teriak Keyla.


“Kakak gue kecelakaan. Gue harus ke rumah sakit,” jawab Rima.


Rima langsung berlari dan pergi meninggalkan tempat kerjanya, sedangkan Keyla memandang Rima dari kejauhan.


“Mau ke mana Rima? Dia sudah menyelesaikan berkasnya?” tanya atasan yang muncul secara tiba-tiba.


“Katanya kakaknya kecelakaan jadi dia mau pergi ke rumah sakit,” jawab Keyla.


“Seenaknya dia pergi. Dia pikir perusahaan ini punya dia?” Atasan tersebut menggerutu seraya mengambil berkas yang dia berikan kepada Rima, sedangkan Keyla hanya terdiam sembari tersenyum licik.


“Pasti saat Rima masuk, dia akan dimarahi habis-habisan.” Keyla merasa sangat puas dan senang jika Rima dimarahi oleh atasan karena sebenarnya Keyla tidak menyukai Rima. Menurutnya Rima tidak pantas bekerja di perusahaan ini karena Rima hanya lulusan SMA dan Rima masuk perusahaan ini pun karena beruntung.


Rima sudah berada di Rumah Sakit Setia Medika. Rima langsung berlari menghampiri Dinda yang sedang berdiri di depan ruang Instalasi Gawat Darurat.


“Bagaimana kondisi Erick?” tanya Rima.


“Erick masih ditangani dokter,” jawab Dinda.

__ADS_1


“Kenapa Erick bisa kecelakaan? Apa penyebabnya?” tanya Rima.


“Erick mengalami kecelakaan beruntun. Saat lampu merah ada truk yang mengalami rem blong, truk itu menabrak beberapa mobil yang berhenti di lampu merah dan salah satunya adalah mobil Erick.” Dinda menjelaskan tragedi naas yang menimpa Erick.


Seketika air mata Rima menetes, Rima takut Erick akan menyusul orangtua mereka yang meninggal 11 tahun silam.


“Bagaimana jika Erick tidak selamat? Aku tidak bisa hidup tanpa Erick,” tutur Rima.


“Kamu enggak boleh berkata seperti itu. Erick pasti selamat, kita doakan yang terbaik untuk dia.” Dinda merangkul bahu Rima dan menggenggam jari-jemarinya supaya Rima tenang dan berhenti menangis.


Beberapa menit kemudian.


Dokter keluar dari ruang IGD. Rima dan Dinda berjalan menghampiri dokter tersebut.


“Bagaimana kondisi kakak saya?” tanya Rima.


“Pasien berhasil melewati masa kritis tapi cedera otak pasien cukup serius sehingga pasien mengalami koma,” jawab dokter.


“Lalu, kapan kakak saya bisa sadar?” tanya Rima lagi.


“Kami belum bisa memastikan,” jawab Dokter.


Dokter itu melangkah dan pergi meninggalkan Rima, sementara Rima kembali termenung dan menitikkan air mata. Rima tidak sanggup berkata lagi, ia sudah terlalu terpuruk dengan kondisi kakaknya.


“Bagaimana aku melanjutkan hidup tanpa bantuan dari Kak Erick? Kamu tahu kan aku hanya pegawai dengan gaji kecil dan kedua adikku masih sekolah, angsuran rumah pun belum lunas. Bisa mati kelaparan aku tanpa Kak Erick,” ucap Rima.


“Tenang Rim, pasti ada jalan. Gue bakal bantu lu sebisa gue,” ujar Dinda mencoba menenangkan Rima.


Rima melirik Dinda dan termenung sejenak. Rima tidak mau menjadi beban dan selama ini dia terlalu sering merepotkan Dinda.


“Permisi, mohon maaf mengganggu. Saya ingin berbicara mengenai biaya rumah sakit,” tutur bagian administrasi rumah sakit.


“Memangnya berapa, Mbak?” tanya Rima dengan raut lesu.


“Ini totalnya, silakan Mbak baca. Setelah itu Mbak bisa melakukan pembayaran di bagian administrasi,” jawab wanita itu.


Wanita itu pergi meninggalkan Rima, sedangkan Rima langsung melihat total dari biaya operasi Erick.


“Gila, mahal banget. Uang dari mana gue? Mana belum gajian,” ungkap Rima.


Rima mengacak-acak rambutnya seraya berjalan layaknya orang depresi yang mengalami kebuntuan. Rima tidak tahu harus dari mana mendapatkan uang sebanyak itu, bahkan gajinya selama 3 bulan tidak akan cukup untuk membayar operasi tersebut.


“Rim, Papa gue telepon. Gue angkat dulu ya,” ucap Dinda.


Dinda berjalan menjauh dari Rima dan menjawab panggilan telepon Papanya.


“Halo, ada apa, Pa?” tanya Dinda.


“Kamu di mana?” tanya Papa.


“Di rumah sakit,” jawab Dinda.


“Kenapa kamu di sana? Cepat pulang! Papa sudah mengatur kencan untuk kamu malam ini!” titah Papa.


“Apa? Papa gila ya? Dinda enggak mau berkencan dan Dinda juga bisa cari jodoh sendiri. Lebih baik Papa cari jodoh untuk Papa saja,” sahut Dinda.


“Kalau kamu enggak mau, Papa akan blokir ATM kamu dan enggak hanya itu, Papa juga akan suruh orang untuk mencelakakan Rima!” ancam Papanya.

__ADS_1


“Gila, benar-benar gila. Bisa-bisanya lu paksa anak sendiri lu untuk berkencan, memangnya lu mau gue berkencan sama siapa? Sama kakek-kakek atau om-om kaya?” tanya Dinda.


“Enggak sopan kamu, Dinda. Papa ingin kamu berkencan dengan Angga Putra Wijaya, dia adalah anak dari pemilik PT Wijaya. Kamu harus berhasil mendapatkan dia supaya keluarga kita semakin kaya,” jawab Papa.


“Oke, gue mau pergi kencan. Asalkan lu mengizinkan gue untuk memakai saldo black card dan belanja sepuasnya,” ucap Dinda.


“Baiklah, silakan kamu pakai. Asalkan kamu benar-benar pergi berkencan!” tegas Papa.


“Tenang saja, selama ada uang itu bisa diatur.” Dinda memutuskan panggilan telepon dan kembali menghampiri Rima.


“Rima, gue punya kerja sampingan buat lu.” Dinda datang dengan raut bahagia, tapi Rima terlihat begitu menyedihkan. Rambutnya berantakan dan matanya yang sembap membuatnya terlihat seperti mayat berjalan.


“Kerja apa?” tanya Rima.


“Menggantikan gue berkencan,” jawab Dinda seraya tersenyum.


“Sinting! Kakak gue lagi koma dan lu menyuruh gue buat gantikan lu berkencan? Dasar gila!” hardik Rima.


“Papa gue yang minta tapi lu bakal dapat bayaran kok. Lumayan untuk melunasi biaya operasi Erick,” ungkap Dinda merayu Rima.


“Kencan sama siapa? Kakek-kakek atau om-om?” tanya Rima.


“Bukan, sama pemuda bernama Angga Putra Wijaya. Angga adalah putra dari keluarga Wijaya sekaligus penerus perusahaan tempat lu bekerja,” jawab Dinda.


“Berarti dia anaknya Bos gue? Kalau begitu gue enggak mau, gue takut dipecat kalau ketahuan.” Rima enggan menerima tawaran Dinda karena dirinya tidak mau berurusan dengan pimpinan di perusahaannya.


“Enggak akan ketahuan, kan lu akan menyamar sebagai Adinda Kartawiharja. Dia enggak bakal tahu kalau lu adalah pegawai di perusahaannya,” sahut Dinda.


“Tapi—”


“Sudah, demi uang.”


Dinda menarik tangan Rima dan membawanya ke pusat perbelanjaan untuk membeli pakaian dan berdandan sepertinya. Rima tidak mungkin menemui Angga dalam kondisi rambut berantakan dan muka seperti itu, bisa-bisa Angga curiga.


“Pilih apa pun yang lu mau, gue bakal membayar semuanya,” ucap Dinda seraya mengiming-iming black card.


“Iya, kanjeng ratu.”


Rima memilih pakaian yang akan digunakan untuk bertemu dengan Angga, “cocok atau enggak?” tanya Rima seraya menunjukkan dress berwarna putih kepada Dinda.


“Warnanya tidak cocok, cari dress lain.” Dinda ikut mencari dress untuk Rima, sedangkan Rima sudah frustrasi. Rima tidak suka memakai dress, tapi Rima terpaksa memakainya demi mendapatkan uang.


“Rima, ada dress yang cocok buat lu.” Dinda berteriak seraya membawa sebuah dress cantik berwarna merah.


“Coba, gue tunggu di sini.” Dinda memberikan dress tersebut. Rima menerima penuh pasrah dan masuk ke ruang ganti pakaian.


Rima keluar dari ruang ganti dan berdiri di hadapan Dinda. “Bagaimana? Cocok atau tidak?” tanya Rima.


“Cocok, sekarang tinggal tata rambut sama wajah lu supaya enggak pucat,” jawab Dinda.


Dinda kembali menarik tangan Rima dan membawanya menuju salon untuk di dandani. Rima hanya butuh waktu sebentar untuk menata rambut dan wajahnya karena pada dasarnya, wajah Rima sudah cantik dari lahir.


“Lu yakin rencana ini berhasil? Gue takut gagal dan berakhir menyedihkan untuk kita berdua,” ucap Rima.


“Pasti berhasil, Angga enggak mungkin ingat sama wajah gue. Kita terakhir ketemu pas umur 5 tahun jadi dia pasti lupa,” sahut Dinda mencoba meyakini Rima.


“Ya sudah, tapi setelah itu lu harus lunasi biaya operasi Kak Erick dan traktir gue beserta adik-adik gue makan ya!” seru Rima.

__ADS_1


“Tenang saja, lu bebas mau makan apapun. Gue yang bayar semuanya,” sahut Dinda.


Rima dan Dinda berjalan menuju mobil, mereka terlihat ceria karena akan berpesta makanan setelah berhasil menipu Angga.


__ADS_2